Hipotalamus

Hipotalamus
Kok Jadi Gini?


__ADS_3

"Dih, ribet deh lo, Met! Sekarang lo maunya apa?" tanya Jong Woo menepikan motornya dan menoleh ke arah Meta yang duduk di belakangnya.


"Dih, ngapain lo bawa gue berhenti di sini? Mana tempatnya gelap banget. Lo mau ngapain?!" teriak Meta.


"Mau gue jedotin kepala lo di sini! Sumpah gregetan gue sama lo, Met! Iiihhh!" Jong Woo hendak meremas wajah Meta namun gadis itu menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Iiihhh!! Jangan gitu dong! Katanya mau anterin balik! Ya udah anterin balik aja sekarang! Jangan kayak gini! Dih, gue takut, Kak!!" teriak Meta.


Secepat kilat Jong Woo melajukan motornya menuju rumah Meta. Di sini ia bisa melihat rumah mewah pemilik Gibi. Regi membuka pagar rumah mereka begitu mendengar bunyi motor berhenti di sana.


"Buru balik aja! Bokap gue bakalan ngomel!" perintah Meta namun Jong Woo malah memilih untuk turun dari motornya.


"Kak-Kak! Lo mau ngapain, Gila!" omel Meta yang takut dimarahi oleh sang ayah.


Regi membuka pintu pagar dan hendak memarahi Meta. Terlebih-lebih anak gadisnya itu pulang bersama seorang laki-laki.


"Pa, aku bisa jelasin. Dia ini kakak kelas aku di sekolah. Namanya Lee Jong Woo. Kita habis bikin surprise buat Yura soalnya dia berangkat ke Jepang, besok! Kita juga ngumpulnya di Gibi. Nggak berdua doang kok, ramai-ramai gitu sama anak yang lain!" oceh Meta yang langsung menjelaskan tanpa dimintai penjelasan.


"Selamat malam, Om," sapa Jong Woo sambil membungkuk hormat.


"Kamu kakak kelasnya Meta?" tanya Regi.


"Iya, Om. Saya ngefans sama Om. Saya boleh minta foto bareng nggak, Om? Saya udah baca novel Om yang judulnya Lolita For Angga-kun!" ucap Jong Woo dengan begitu antusias.


"Hah?!" Meta malah mengernyitkan dahinya mendengar pernyataan kakak kelasnya tersebut.


"Oh, boleh-boleh!" jawab Regi dan melakukan foto selfie bersama Jong Woo.


"Makasih banyak, Om!" ucap Jong Woo sambil membungkuk girang.


"Iya, santai aja. Kamu udah baca Lolita For Angga-kun yang mana?" tanya Regi.


"Semuanya saya baca, Om! Cuma menurut saya, yang season pertama 'kan pernah booming dulu. Saya pengen deh lihat novelnya dijadiin film," jawab Jong Woo.


Regi malah terkekeh mendengar hal tersebut.

__ADS_1


"Kok malah bahas novel sih?" tanya Meta.


"Ya udah, kamu pulang dulu ya, Lee Jong Woo. Udah kelewat malam. Besok-besok kamu boleh ke sini lagi, mampir gitu. Sekalian ngobrol. Meta juga punya abang, siapa tahu kamu bisa temenan sama abangnya Meta," ucap Regi.


"Baik, Om. Saya pulang dulu," ucap Jong Woo dan benar-benar pergi dengan motornya.


"Itu kakak kelas kamu? Waduh, masih ada ya yang baca novel itu jaman sekarang?" ucap Regi sambil tersenyum-senyum berjalan memasuki rumah bersama anak gadisnya.


"Dih, Papa kenapa sih?!" omel Meta.


"Kenapa apanya?" Regi balik bertanya.


"Kenapa nggak ngomel? Biasanya kalau aku pulang malem sama Yura, marah-marah, ngomel-ngomel! Kok ini nggak marah?! Nggak ngomel juga?! Kenapa?!" tanya Meta.


"Lah, masa Papa mau marahin fans. Nanti jadi jelek nama Papa di mata fans," jawab Regi.


"Dih, padahal tadi aku jatoh dari motor sama dia! Sakit banget jari aku!" ucap Meta mencari perhatian ayahnya.


"Cuma sakit dikit itu. Paling besok sembuh!" respons Regi begitu melihat jari Meta yang lecet.


"Dih, kok Papa gitu sih?! Papa nggak sayang ya sama aku?!" bentak Meta.


"Dih, Papa!" teriak Meta.


"Loh kenapa?!" balas Regi.


"Nggak tahu ah!" ucap Meta dan berjalan menuju kamarnya dengan perasaan kesal.


***


Malam ini, sebelum Yura menuju lelap. Ia membuka semua kado yang diberikan oleh teman-temannya. Semua kado itu terdapat surat dan ia membacanya. Namun, satu-satunya sueat yang membuat Yura terkejut adalah isi surat dari Vio.


"Gue nggak tahu nantinya bakalan kayak gimana tanpa lo, Ra. Lo bener. Gue pernah naroh hati dan berharap sama Jong Woo. Gue juga udah pernah nyatain perasaan gue ke dia. Tapi dia nolak gue. Sekarang, gue malah harus diam waktu ngelihat dia godain Meta. Sementara lo bakalan pergi ke Jepang. Gue nggak tahu bakalan berbagi kisah sama siapa lagi. Jangan lupa balik ke sini ya, Ra! Jangan lupa temuin gue dan jangan lupain gue!" Isi surat dari Vio.


"Kok lo baru ngomong sih, Vi?!" ucap Yura bermonolog.

__ADS_1


"Coba aja lo bilang dari kemaren-kemaren! Mungkin masih ada kesempatan. Lagian Meta juga nggak mau sama Jong Woo! Selera dia tuh Oppa-oppa boyband! Bukan Oppa-oppa Jawa!" lanjutnya.


Yura mengambil surat dari Meta dan membacanya.


"Jangan lupa telepon gue ya, Ra! Kalau libur sekolah, nginep rumah gue! Gue mau jujur dikit nih ke lo. Kayaknya gue mulai suka sama Kak Jong Woo. Janji jangan bilang ke siapa-siapa ya!" Yura tertegun membaca isi surat yang pendek tersebut.


"Jadi, Meta juga suka sama Jong Woo?! Dih! Iih! Geli gue. Yang model kayak Jong Woo direbutin?!" Yura kembali bermonolog.


Belum semua surat dibaca oleh Yura. Ia terlalu lelah untuk hari ini. Hingga ia memilih untuk melanjutkan membaca surat-surat itu besok saja dan memilih untuk tidur.


***


Pagi ini Yura memasukkan semua surat dan hadiah kenang-kenangan dari teman-temannya ke dalam koper dan siap berangkat ke Jepang bersama sang ayah.


"Neng Yura, jangan canggung sama kita ya kalau balik ke sini lagi, Neng!"


"Dih, bakalan kabgen deh sama Yura!"


Semua asisten rumah tangga menangis begitu Yura berpamitan kepada mereka.


Sementara itu, Putri tak keluar dari kamarnya. Yura yang hendak berpamitan jadi mengurung niatnya karena ibunya tak berkeinginan untuk mendapat perlakuan seperti itu. Menurut Yura.


Tepat di pukul 08:35 pesawat menuju Jepang yang ditumpangi oleh Yura dan Angga memulai perjalanan.


"Nenek!!" teriak Yura begitu sampai di rumah keluarga Angga.


"Aahh!! Yura!!" Ibu Angga langsung memeluk cucunya tersebut. "Yura? Honto ni?" tanyanya.


Yura memulai kehidupannya yang baru di negara sakura itu. Ia mulai bersekolah di sebuah sekolah khusus Indonesia di sana.


***


Sementara Vio dan Meta malah merasakan kamar asrama mereka yang mendadak sepi. Bangku kelas di sebelah Vio mendadak kosong tanpa kehadiran Yura. Ia dipaksa untuk menikmati kemesraan Meta dan Jong Woo setiap saat dengan matanya sendiri. Ia juga dipaksa untuk berpura-pura terlihat biasa saja meski Marc mengetahui apa yang Vio rasakan.


Sekolah terasa damai tanpa si biang onar. Itu yang dirasakan oleh para murid lain. Tapi, Vio, Meta, Vin dan Kim Tae Young tidak merasa seperti itu.

__ADS_1


"Gue denger-denger sih, katanya bakalan ada murid baru buat gantiin Yura," ucap Jong Woo.


"Masa sih?" ucap Vin.


__ADS_2