Hipotalamus

Hipotalamus
Prethayata


__ADS_3

"Kalau lo pacarnya Yura. Kenalin, gue temen berantemnya Yura dari SD." Vin hendak menyalami pria itu.


Yura sedikit terkejut mendengar respons Vin tersebut. Apa yang membuat Vin seberani itu membalas kalimat Kim Tae Young? Begitu bunyi batin Yura.


***


Malam ini acara penyambutan murid di asrama kembali dilakukan oleh anggota OSIS. Kali ini dilakukan dengan sangat berkelas. Menunjukkan seberapa tinggi kasta anak-anak yang bersekolah di sana.


Rafa juga mendapatkan berita itu dari pihak sekolah. Ia mengirimkan pakaian dengan harga yang fantastis untuk keperluan Vin dalam acara tersebut.


Saat acara itu dimulai pada malam hari, di sana semua mata tertuju pada Vin yang mengenakan pakaian dengan merek ternama. Vin sendiri tidak mengetahui merek apa yang ia kenakan. Tapi itu sangat bagus dan nyaman digunakan.


"Hasil sumbangan?" ejek beberapa murid yang melihat Vin berjalan bersama ke dua temannya yang memang terlahir di keluarga kaya raya.


"Annyeong haseyo!" balas Jong Woo sambil tersenyum pada anak yang mengejek Vin tersebut.


"Nggak usah sok Korea! Lo itu orang Jawa!" ejek Marc pada temannya itu.


"Gue blasteran!" bantah Jong Woo.


"Udah Vin, jangan didengerin. Mereka bakalan kaget kalau tahu lo putra tunggal GG ... Aw!" pekik Jong Woo yang berbisik dan tiba-tiba mendapatkan cubitan kuat dari Vin.


"Jangan ngobrolin itu!" tegas Vin.


"Sakit!!" pekik Jong Woo lagi.


***


Dalam acara itu, Vin menemui Yura dan melihat gadis itu masih sama saja dengan celana jeans san baju kaos oblongnya. Tapi tentunya pakaian itu bukan pakaian murah. Mata Yura yang tajam juga mempertegas bahwa gadis itu tomboi.


Yura menghampiri Vin terlebih dulu. "Kok lo cakep?" ejeknya.


"Vin emang cakep!" bantah Marc.


"Lo temenan sama cowok yang suka ngintipin siswi di toilet ini?!" tunjuk Yura pada Marc sambil menarik ujung bibirnya.


"Kapan gue ngintipin siswi di toilet?!" bantah Marc.


"Seluruh murid di sini juga tahu. Lo Marc, siswa kelas 2 yang suka koleksi foto cewek model majalah dewasa. Umur lo delapan belas tahun, tapi otak lo dua puluh satu tahun ke atas. Seluruh siswi di sekolah, kenal sama lo!" jelas Yura.


"Itu termasuk aib nggak sih?" tanya Jong Woo yang langsung mendapat pukulan dari Marc di kepalanya.

__ADS_1


Sayangnya, di tengah acara tersebut, Yura tiba-tiba dibawa oleh Prethayata ke arah sekolah. Di sana Prethayata dan ke dua temannya berhasil menampar wajah Yura dan membuat gadis itu merasa kesal.


"Jadi ini sosok si anak durhaka itu?" ejek Prethayata pada Yura yang sudah dipegangi oleh dua kakak kelasnya.


"Kemaren lo bisa pingsan gegara gue. Apa hari ini lo mau mati?" balas Yura.


Prethayata kembali menampar wajah Yura. Kali ini Yura benar-benar sudah habis kesabaran menghadapi mereka bertiga. Ia menghempas tangan kakak kelasnya itu dan menendang perut Prethayata hingga gadis itu terjatuh.


Vin melihat kejadian itu dan berlari menghampiri.


Yura berhasil memukuli wajah Prethayata. Gadis berdarah campuran Indo-Thailand itu memukul kepala Yura dengan sebongkah batu. Saat hendak mengelak, Prethayata berhasil membuat baju kaos yang Yura kenakan menjadi robek dan batu itu mengenai kepala Yura.


Vin berlari melepas jasnya dan menutupi tubuh Yura. "Lo nggak apa-apa, Ra?" tanya Vin.


"Nggak apa-apa," jawab Yura cepat. Tapi kepalanya benar-benar terasa pusing dan gadis itu jatuh pingsan di pelukan Vin.


Vin bersama ke dua temannya membawa Yura ke klinik sekolah. Yura sedang diobati oleh dokter.


"Yura kenapa?!" pekik Meta di depan pintu dan mengejutkan semua orang.


"Berantem sama Pret! Kepalanya berdarah ditimpuk pakai batu sampai jatuh pingsan," jawab Vin.


"Siapa yang pingsan? Pret?" tanya Meta lagi.


"Yuraaa!!" panggil Meta sambil menangis memasuki bilik klinik dan langsung memeluk Yura.


"Met! Udah Met! Kepala gue lagi sakit, jangan bikin gue makin sakit!!" teriak Yura.


Vio memasuki klinik dan melirik ke dua teman Vin.


"Violin?" tebak Marc.


Vio tak menghiraukan pria itu dan ikut masuk ke dalam bilik.


"Lo kenapa, Ra?" tanya Vio.


"Biasalah, Kutu Kupret," jawab Yura.


"Harusnya lo pukulin aja mukanya sampai mati!" balas Vio.


"Iya, nggak ada lo. Nggak ada yang bantuin gue. Dia bertiga sama temennya," ucap Yura.

__ADS_1


Sementara Marc, Vin dan Jong Woo masih duduk di kursi panjang tempat menunggu.


"Lo kenal sama cewek tadi, Marc?" tanya Jong Woo.


"Adek kelas gue di SMP," jawab Marc.


Meski sebenarnya Vio bukan hanya sekedar adik kelas Marc. Tapi dia pernah menjadi wanita satu-satunya yang mengisi hati pria itu. Tapi semuanya usai setelah Marc ketahuan berselingkuh dengan seorang wanita bertubuh lebih indah dan cantik dari Violin. Sehingga Vio memilih untuk berdamai dengan masa lalu dan menganggap semuanya sudah berlalu.


***


Pagi ini Marc benar-benar kehilangan arah untuk membawa ke mana kakinya melangkah. Wajah Vio masih saja melekat diingatannya. Dia memang telah meninggalkan Vio tanpa rasa bersalah di waktu dulu, tapi kini semuanya terasa semakin sulit. Sementara Vio sudah berdamai dengan rasa sakit, Marc malah terkubur bersama kesalahan yang pernah ia perbuat dulu.


"Gimana, Marc?" Kalimat itu menyadarkan Marc dari lamunannya. Ia menoleh ke arah Jong Woo yang sedari tadi mengobrol dan tak dihiraukan darinya.


"Menurut gue sih, iya," lanjut Jong Woo lagi.


Marc yang tak mengerti hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.


"Menurut lo gimana?" tanya Jong Woo.


"Hah?! Menurut gue?" tunjuk Marc pada dirinya sendiri.


"Iya, menurut lo gimana?" tanya Jong Woo lagi.


"Iya, menurut gue juga iya." Marc asal menjawab saja.


"Nah, gimana kalau sekarang kita umumin ke sekolah kalau Vin anak orang kaya!" tegas Jong Woo dan membuat Marc terbelalak.


"Lo gila?! Vin 'kan udah bilang. Itu rahasia!" bantah Marc.


"Tadi lo bilang iya!" Jong Woo ikut membantah.


"Aduh, gue lagi pusing, Jong. Jangan ganggu gue dulu!" ucap Marc dan berjalan menuju kelasnya.


Di sana lagi-lagi ia melihat Vio yang baru datang bersama Meta. Entah muncul ide dari mana, tiba-tiba Marc duduk di tengah-tengah perkumpulan para gadis dan mengobrol bersama mereka. Vio juga melihat kehadiran pria itu di sana.


"Kalau lo jijik nggak, Met?" tanya Vio.


"Sumpah sih, gue pengen muntah rasanya," jawab Meta yang juga melihat kejadian itu.


Mereka berlalu menaiki tangga menuju kelasnya yang berada di lantai atas.

__ADS_1


"Gue lihat sendiri tadi dia jalan mau masuk ke kelas. Eh, pas dia ngelihat ada kita langsung pura-pura ngobrol gitu sama cewek-cewek. Itu mah ketara banget bukan playboy, tapi sok doang!" gerutu Meta.


__ADS_2