Hipotalamus

Hipotalamus
Bukti


__ADS_3

Mereka sempat mengejutkan kedua orang tua Angga dengan datang secara tiba-tiba tanpa memberitahukan terlebih dahulu. Di sana Kayuki ikut menginap, karena lokasi rumah ya yang terlalu jauh.


Pagi itu juga, Angga dan keluarganya mendatangi sebuah rumah dan terdapat seorang anak kecil yang menyambut kedatangan Angga dengan gembira.


Ibu dari anak itu juga menyambut mereka dengan ramah dan menawarkan minum teh. Namun Nenek langsung menanyakan kebenaran tentang anak perempuan yang duduk di sebelah wanita itu dengan berbahasa Jepang.


Putri, Kayuki dan Yura yang tidak mengerti malah menoleh satu sama lain.


Angga berhasil membuktikan bahwa wanita itu adalah temannya sewaktu kuliah dan sudah memiliki seorang anak. Temannya juga seorang janda dan ia sering meminta bantuan Angga untuk menjaga anaknya di rumah produksi tempat mereka bekerja.


***


Tak cukup sampai di sana. Masalah keluarga Yura malah semakin bertambah begitu Putri tetap ingin bercerai karena setelah mengetahui bahwa Angga masih berhubungan dekat dengan Ayumi. Rasa cemburu itu sudah bertahun-tahun Putri pendam.


Putri tak diam saja. Ia pernah mengatakan rasa tidak sukanya pada Ayumi itu kepada Angga. Tapi, Angga sama saja. Rasa kasihannya tak bisa mendorongnya untuk menjauh dari Ayumi.


Ayumi juga masih memanfaatkan rasa iba dari sosok Angga. Sebelum mereka pulang ke Indonesia. Angga sempat mengajak Ayumi untuk bertemu. Di sana Angga mabuk berat karena mengikuti tradisi dengan perasaan yang tercampur aduk.


Begitu Ayumi sampai di sana, ia menghampiri Angga dan mencoba menghentikan pria itu agar tak lagi meneguk minuman beralkohol tersebut.


"Angga! Stop!" pekik Ayumi.


"Gue capek, Yum," ucap Angga sambil terbaring di atas meja.


"Apa yang Anda bicarakan?" ucap Ayumi jika diterjemahkan.


"Gue yang idiot! Putri tulus ke gue! Tapi gue yang bego," ucap Angga lagi.


"Angga! Saya akan mengantar Anda pulang!" ucap Ayumi.


"Putri nggak pernah nuntut apa-apa ke gue! Gue wibu, dia suka. Gue ilang ingatan, dia usaha bikin gue ingat lagi. Gue ke sini, dia susul. Guenya yang nggak tahu diri!"


"Angga!" Ayumi berusaha menghentikan ocehan Angga.


"Dia cuma minta gue buat jauhin lo. Gitu doang, gue nggak bisa!" lanjut Angga.

__ADS_1


***


Begitu mereka telah kembali ke Jakarta, Yura berniat untuk berhenti sekolah. Ia juga sering pergi dan tak betah berada di rumah. Tak sanggup melihat kedua orang tuanya. Yang ada hanya akan membuatnya semakin kesal.


Malam ini, Yura berdiri di atas gedung. Ia melihat kelap kelip lampu rumah dan jalanan.


"Kalo gue mati, mungkim semuanya bakalan kelar," ucap Yura dan mendekati pinggiran gedung. Tak butuh waktu lama, orang-orang sekitar melihat kejadian itu dan menyiarkannya di media sosial.


Vin melihat berita tersebut dan menyadari bahwa dirinya sedang berada di gedung yang sama dengan gadis itu.


Vin berlari ke luar gedung dan melihat ada begitu banyak orang hang berdiri dan mendongak ke atas gedung. Vin kembali berlari menuju puncak gedung untuk menyelamatkan gadis itu.


Secepat kilat ia menarik tangan gadis yang hendak bunuh diri itu ke arahnya.


"Lo gila ya?!" teriak Vin di hadapan wajah gadis itu.


"Iya! Gue gila! Gue mau mati!" balas Yura.


"Yura?! Ini udah ke dua kalinya gue liat lo kayak gini, Ra!" bentak Vin.


"Ini terakhir kalinya! Lepasin gue!" teriak Yura mencoba membebaskan tangannya dari genggaman Vin.


"Lepasin gue, Viiinnn!!" teriak Yura semakin menjadi. Suaranya juga bergema akibat ruangan tangga yang hampa.


"Kenapa lo kayak gini? Lo ada masalah sama siapa?" tanya Vin.


"Lo kenapa sih, Vin?! Lo kenapa selalu datang di saat-saat kayak gini?! Lo mau nyiksa hidup gue?! Lo mau gue hidup lebih lama di dunia yang kayak gini?!" teriak Yura.


Vin malah memeluknya dengan erat. "Gue ... gue nggak mau lo mati!" ucap Vin yang sempat berpikir sejenak.


"Gue capek, Vin," ucap Yura yang kini menangis.


"Lo capek kenapa? Cerita sama gue!" balas Vin.


"Keluarga gue ...." Yura tak melanjutkan kalimatnya karena rasa sesak di dada semakin mendominasi.

__ADS_1


Begitu Vin membawa Yura ke luar dari gedung, ia melihat ada banyak sekali orang termasuk wartawan. Mereka juga mengambil foto sebanyak-banyaknya.


"Ini ada apa ya?" tanya Vin.


"Putra Tunggal GG Group, bagaimana keadaan di atas tadi? Ini gadis yang mau bunuh diri tadi ya?! Mbak! Mbak! Apa alasan Mbak nekat melakukan ini?! Apa benar Mbak dan Putra Tunggal GG Group menjalin sebuah hubungan?"


Vin langsung menarik Yura untuk masuk ke dalam mobil. "Mbak! Mbak! Jawab satu pertanyaan aja, Mbak!" pekik para wartawan tersebut.


***


Berita Vin menyelamatkan Yura dari tindakan bunuh diri itu menghebohkan media masa. Semua murid di International High School dikejutkan akan berita itu. Pasalnya mereka menyebutkan bahwa Vin adalah putra tunggal pemilik GG Group. Kini, semua murid tahu bahwa Vin adalah anak dari donatur terbesar di sekolah mereka.


Angga dan Putri juga memilih berdamai akan semua masalah yang terjadi demi Yura. Tepat di hari ini, libur semester 2 dimulai. Angga mengurus kepindahan sekolah Yura kembali ke International High School. Pasalnya ia akan bekerja di Indonesia bersama keluarga kecilnya.


Saat sekolah kembali dimulai. Yura datang kembali ke hadapan Vio dan memperkenalkan diri layaknya murid baru pada umumnya.


"Halo, nama gue Yura, he he!" Yura terkekeh. Begitu juga teman sekelasnya yang ikut tertawa. Pasalnya mereka pernah sekelas di tahun ajaran yang lalu. "Ya segitu aja sih, perkenalan dari gue," lanjut Yura dan memilih untuk duduk di sebelah Vio.


"Murid baru nih, kenalan dong!" goda Vio.


Yura tersenyum ramah. "Mau gue tempeleng, nggak?" balas Yura dan terkekeh bersama sahabatnya itu.


"Lo bakalan sekamar sama gue lagi 'kan, Ra?" tanya Vio.


"Emangnya lo tahan, berantem sama gue lagi?" Yura balik bertanya.


"Dari pada gue lihat Jesika tiap hari!" balas Vio dengan kencang agar terdengar oleh wanita yang memiliki nama tersebut.


Jesika menghampiri mereka. "Kok lo bisa ke sini lagi?!" tanyanya.


"Kenapa?" tanya Yura pada gadis yang berdiri di hadapannya itu.


"Kok bisa?! Ngapain lo di sini?!" bentak Jesika.


"Harusnya gue yang nanya. Lo siapa? Murid baru?" balas Yura sambil tersenyum.

__ADS_1


"Lo yang murid baru di sini!" bantah Jesika.


"Gue kasih waktu lo buat nanya ke semua anak yang ada di kelas ini. Mereka lebih kenal lo atau gue?" Yura dengan sengaja memancing emosi seorang gadis bernama Jesika. "Gih! Tanyain aja satu-satu," lanjutnya.


__ADS_2