Hipotalamus

Hipotalamus
Ini Siapa?


__ADS_3

Vin tengah duduk termenung menatap ruang kelasnya yang sepi. Ini adalah kali pertama Rafa menunjukkan rasa kecewa pada anaknya itu. Ia tak bisa berpikir jernih. Vin juga tidak bisa membayangkan, ke mana ia harus pergi untuk menghindari masalah ini.


Untuk meminta maaf kepada Jong Woo, tentunya ia tidak mau melakukan hal tersebut. Vin tak melakukan kesalahan apa pun. Justru Jong Woo yang bersalah atas semua ini. Begitu pikir Vin sekarang.


Tidak ada alasan untuk Vin meminta maaf pada pria berdarah campuran itu. Jelas-jelas bahwa Jong Woo yang mencoba untuk menyakiti Meta. Sebagai sosok sepupu pria yang dekat dengan Meta, pastinya Vin mengambil peran untuk masalah tersebut.


"Kenapa lo, Vin?" tanya Marc menghancurkan semua lamunan yang sedang Vin lakukan.


"Nggak kenapa-kenapa," jawab Vin. Meski begitu otaknya masih memikirkan soal Meta yang trauma berat akibat Jong Woo.


***


Di waktu yang sama, Putri sedang terduduk lemas di dalam kamarnya. Meski mulut terdiam, Putri mencari tahu soal Yura melalui ibu mertuanya di Jepang.


"Yura sehat kok di sini, Put. Kamu nggak usah mikirin Yura dulu. Yang harus kamu pikirin sekarang itu Angga. Ibu sih mau secepatnya kalian baikan jangan kayak gini terus, kasihan Yura," ketik ibu Angga dalam sebuah pesan singkat yang ia kirimkan kepada menantunya tersebut.


"Iya, Bu," balas Putri dan kembali berbaring.


***


Sementara Yura sibuk dengan urusan Kayuki. Angga malah dipusingkan akan urusan rumah tangganya yang kacau. Angga sedang duduk menatap kertas-kertas komik yang menjadi projek belum selesai di atas meja kerjanya.


Ayumi datang dan menawarkan kopi dengan berbahasa Jepang. Angga mengiyakan tawaran tersebut karena ia tak boleh mengantuk sebelum pekerjaannya selesai hari ini.


Di sana, mereka berbincang mengenai Yura dan Putri. Tercetus dari bibir mungil yang Ayumi miliki tentang keluarga Angga yang sedang tidak baik-baik saja. Ia juga memberikan usulan untuk menceraikan Putri yang dinilainya tak bisa menjadi sosok istri yang penurut bahkan tak bisa menjadi sosok ibu yang baik untuk Yura. Angga diam saja dan mulai mengerjakan projek kerjaannya.

__ADS_1


Setelah Ayumi meninggalkan ruangan itu, Angga mengambil ponselnya dan menelepon sang istri. Putri menjawab pesan tersebut.


"Besok aku akan pulang dan mengurus perceraian kita!" Itu kalimat yang Angga ucapkan.


***


Tak ada satu kata pun yang mampu Putri ucapkan. Pria yang bertahun-tahun ia kejar. Kini pria itu kembali menghindar. Angga yang biasanya pergi hanya sebentar, kini memilih untuk pergi dan tak kembali ke pelukan yang sama.


Putri terdiam menatap ponsel yang masih menghubungkan panggilan antara dirinya dan Angga. Air mata Putri menetes tanpa suara. Dadanya begitu sesak. Kehilangan Angga di waktu dulu tak pernah sesakit kehilangan Angga di masa sekarang.


Kembali terbayang masa-masa SMA mereka.


Angga menutup panggilan tersebut. Putri menangis sejadi-jadinya. Ia dan Angga akan berpisah. Sementara Yura pastinya akan dimiliki secara utuh oleh Angga dan keluarganya.


"Ya, Angga nggak salah kalau dia marah. Kalaupun Ayah di posisi Angga saat ini dan lihat tingkah ibu kamu kayak kamu sekarang, Ayah mungkin bisa berlaku lebih dari itu! Apa pun untuk anak!" ucap sang ayah mencoba menasihati Putri.


"Tapi, Aku cuma mau kerja, Yah! Masa nggak boleh! Aku kerjanya sama Regi loh! Bukan sama orang lain!" bantah Putri.


"Tapi, sekarang kamu tahu 'kan kalau perintah suami itu lebih penting. Lagian 'kan benar kata Angga, ngapain juga kamu kerja? 'kan uang dari dia juga ufah cukup bukan keperluan kamu sama Yura dan lain-lain! Dari pada kamu bayarin asisten rumah tangga, mending uangnya dipake buat jalan-jalan bareng Yura sama Angga. 'kan biar keluarga makin harmonis!" Ibunya menimpali kalimat tersebut.


"Jadi ini gimana?!" jerit Putri sambil menangis tersedu-sedu.


"Ya nggak gimana-gimana. Kenapa baru cerita? Harusnya kalau kamu cerita dari dulu, 'kan bisa diomongin baik-baik," balas ibunya.


"Kamu maunya gimana sekarang, Put?" tanya sang ayah.

__ADS_1


"Aku nggak mau cerai sama Angga!" jawab Putri sambil tersedu-sedu.


"Ya udah bilang ke Angga, kamu nggak mau cerai. Mulai sekarang kamu mau ngurusin Yura. Kamu juga berhenti kerja sesuai apa yang Angga mau! Kalian terlalu egois. Makanya berantem! Kamu juga nggak dengerin apa maunya suami!" ucap sang ayah.


"Sini denger Ibu, Put. Dulu Ibu juga mau kok kerja, bantuin Ayah nyari duit buat keluarga. Tapi Ayah nggak bolehin ibu kerja. Ibu nggak nuntut apa-apa. Ibu nurut. Padahal waktu itu Ibu diterima kerja di tempat yang Ibu mau. Ibu sampai diteleponin dari pihak sana. Mereka maksa Ibu harus kerja di sana. Ibu juga kepengen banget. Tapi, Ibu sadar diri. Sekarang status Ibu adalah istri. Apa pun masalahnya, Ibu harus tetap dengar kata Ayah. Demi apa? Demi keluarga. Ya, waktu itu Ibu kesel. Ibu jujur, Ibu keseeeel banget sama Ayah. Ibu sampai bilang Ayah nggak ngerti apa yang Ibu mau. Tapi sekarang Ibu baru ngerti, Ayah nggak mau Ibu capek. Toh buktinya, Ibu selalu ada buat kamu sama Regi. Ngurusin kalian dan lain-lain," jelas sang Ibu sambil mengingat-ingat kejadian di masa lalu.


Putri hanya bisa terdiam dan menangis. Ibunya benar, ayahnya juga. Seandainya saja Putri mengalah untuk Yura seperti apa yang Angga inginkan. Semua kekacauan ini tak akan terjadi. Tak banyak yang Angg inginkan. Hanya Putri yang berhenti bekerja dan menjadi sosok ibu nyata untuk Yura, bukan malah mempekerjakan para asisten rumah tangga dan membuat Yura menjadi jauh dari dirinya.


Yura juga tak membutuhkan banyak orang di rumahnya. Ia hanya butuh sosok Putri. Terkadang ia merasa iri pada keluarga yang Vin miliki. Ia juga menginginkan keluarga hangat seperti sosok Feno dan Nurul. Putri dan Yura selalu terlibat cekcok mulut dan pendapat. Mereka tak mengerti satu sama lain. Padahal mereka sama saja. Sama-sama tak mencoba mengalah dan tak mencoba mengerti.


***


Hari ini adalah pertama kali Vin dibawa oleh Rafa ke sebuah pertemuan penting para investor perusahaan dalam rangka memperingati kenaikan harga saham. Pertemuan ini berlangsung secara tertutup di sebuah bar hotel bintang lima yang sudah disewa oleh Rafa bersama investor lain.


Di sana Vin terpaksa menjalani kehidupan mewah dan berlagak seperti seorang putra mahkota. Semua orang menyanjungnya. Tersenyum ramah seolah Vin adalah tokoh utama di hari ini.


"Halo, Vin!" sapa Tuan Kim alias pemilik kedudukan investor teratas di perusahaan GG Group.


Vin tersenyum ramah padanya. Namun, tiba-tiba senyum itu memudar karena ia mendapatkan sosok Kim Tae Young di sebelah Tuan Kim.


"Halo, Vin!" Pria itu ikut menyapa.


"Ngapain lo di sini?" tanya Vin.


"Kalian mengenal?" tanya Tuan Kim.

__ADS_1


__ADS_2