Hipotalamus

Hipotalamus
Ujian Wibu


__ADS_3

"Buat apa kamu nyari tahu?! Kamu mau hilangin buktinya?!" teriak nenek lagi.


Yura sampai mendengar teriakan kencang tersebut.


"Aku perlu tahu siapa yang bilang gitu ke Mama!" bantah Angga.


"Oke, kamu bisa ceraikan Putri sekarang! Jangan jadikan pekerjaan Putri dan Yura sebagai alasan kamu buat bercerai. Karena memang kamu pantas ditinggalkan anak-istri kamu!" tegas nenek dan menutup panggilan tersebut.


"Nenek nelepon siapa?" tanya Yura di depan pintu kamar yang tak tertutup sepenuhnya.


"Oh ini, nenek nagih hutang," jawabnya terpaksa berbohong demi menutupi kesalahan yang diperbuat oleh anak laki-lakinya tersebut.


"Bosan di rumah terus," ucap Yura.


***


"Oke di pertandingan kali ini. Arnold dan Vin harus menjawab beberapa pertanyaan gue tentang wibu! Skor menang yang paling banyak, boleh chat Yura. Dengan adanya pertandingan ini, kita semua bersaing secara adil," ucap Vio yang kini menjadi juri di antara 2 kubu yang berusaha merebut perhatian Yura.


"Kayaak orang nggak waras," ucap Jesika yang melihat kejadian itu dari kejauhan.


"Soal pertama. Siapa nama pemeran utama Anohana?!" ucap Vio.


"Gue!" Kim Tae Young mengangkat tangannya.


"Siapa ya, gue lupa," ucap Vin.


"Siapa?" tanya Vio pada Kim Tae Young.


"Menma," jawabnya.


"Seratus poin untuk Kim Tae Young!" pekik Vio.


"Nama gue Arnold!" bantah Kim Tae Young yang tak suka dipanggil dengan nama aslinya.


"Iya! Seratus poin buat Arnold!" bentak Vio.


"Soal ke dua! Siapa nama bapak gue?" tanya Vio.


"Bapak lo wibu?!" bantah Jong Woo.


"Iya!" tegas Vio.


"Ya mana kita tahu nama bapak lo siapa!" omel Vin.


"Iya, nanya yang bener dong!" Kim Tae Young ikut mengomel.


"Yang ini poinnya seribu," ucap Vio sambik terkekeh.


"Ya nggak tahu, Burhan kali," ejek Vin.

__ADS_1


"Enak aja lo! Bapak gue bukan Burhan!" omel Vio.


"Hendri!" jawab Marc. Jelas saja dia tahu, dia mantannya.


"Seribu poin untuk Marc!" pekik Vio.


"Kan Marc nggak ikutan!" omel Vin lagi.


"Lo aja deh Marc yang jadi juri! Lama-lama gue gampar juga nih cewek!" Kim Tae Young ikut mengomel.


"Mulut lo, gue gampar!" balas Vio.


Marc menjadi pengganti Vio. Dia berada di tengah-tengah Vin dan Kim Tae Young.


"Oke, siap?" tanya Marc.


"Siap!" jawab Kim Tae Young dan Vin bersamaan.


"Dari negara manakah Naruto berasal?" tanya Marc.


"Gue!" Vin mengangkat tangannya. "Jepang!"


Marc menepuk jidat mendengar jawaban tersebut. "Bukan negara filmnya, Bodoh! Negara naruto lahirnya di mana, gitu!" omel Marc.


"Gue!" Kim Tae Young. "Konoha gakure!"


"Seratus poin untuk Arnold," ucap Marc dengan lemas.


"Soal selanjutnya, apa nama clan para penghianatan di anime Naruto?!"


"Gue!" Vin kembali mengangkat tangannya. "Clan Akatsuki!"


"Seratus untuk Vin!" jerit Marc. Akhirnya si wibu amatir itu mendapatkan poin.


Setelah berlomba untuk mendapatkan poin, Kim Tae Young memenangkan pertandingan tersebut. Vio memberika nomor ponsel Yura yang baru kepada pemenang. Di saat itu juga, Kim Tae Young langsung mengirimkan sebuah pesan.


"Kok gitu pesannya, Nold?" tanya Vio.


"Lah suka-suka gue lah!" bantah Kim Tae Young.


"Tahu nih, hai dulu kek apa kek gitu," Vin ikut mengomel.


"Ini cara gue biar cepet dibalas dari Yura!" bantah Kim Tae Young lagi.


Kembali ia menatap pesan yang telah ia kirimkan kepada Yura yang berisi, "Ra, gue udah jadi wibu. Putusin pacar lo sekarang!" tulisnya.


***


Nenek terdiam menatap ponselnya yang masih berada di dalam genggaman. Kembali ia mengingat beberapa kalimat yang Ayumi sampaikan kepadanya.

__ADS_1


"Angga memiliki anak yang lain selain Yura." Itu kalimat yang Ayumi sampaikan dan mengakibatkan Angga bertengkar dengan ibunya.


Sesak kini dirasakan oleh nenek. Ia membayangkan bagaimana Yura nantinya jika mengetahui apa yang terjadi pada sang ayah selama berada di Jepang.


"Nenek," panggil Yura yang tadinya sedang bermain ponsel. "Nenek kenapa?" tanyanya.


"Kenapa apanya, Sayang?" balas sang nenek.


"Semenjak Tante Ayumi ke sini, kenapa Nenek kayak aneh gitu," ucap Yura.


"Nggak kenapa-kenapa kok, Nenek cuma nggak suka aja lihat dia ke sini," balas nenek lagi.


***


Tak lama setelah kejadian itu, Angga pulang dan menemui ibunya.


"Siapa yang bilang gitu ke Mama?" tanya Angga yang baru saja menginjakkan kakinya di rumah.


"Harusnya Mama yang nanya ke kamu. Kenapa kamu ngelakuin ini semua?! Sudah berapa lama kamu rahasiain ini?!" tegas sang ibu.


"Mama salah paham, Ma! Aku nggak ada ngerahasiain apa pun! Anak itu, anaknya temenku! Bukan anak aku! Anakku cuma satu, Yura!" tegas Angga.


"Kamu keterlaluan, Angga!! Mama nggak pernah ngajarin kamu jadi anak kayak gini! Kamu nggak mikirin nasib Yura sama Putri gimana?! Putri sendirian di Indonesia! Kamu maksa dia buat berhenti kerja! Kamu mikirin nggak, kalau dia itu kesepian! Cuma dengan kerja bikin dia sibuk! Sampai dia lupa, udah berapa bulan kamu nggak pulang!! Kamu cuma tahunya Yura sama Putri berantem mulu! Kamu nggak tahu yang Yura butuhin itu kalian berdua! Sekarang kamu mau cerai sama Putri?! Harusnya Putri yang ceraiin kamu!! Suami kurang ajar!" teriak ibunya.


"Ma! Itu bukan anak aku! Ini cuma salah paham aja! Itu temen aku waktu kuliah dulu! Dia udah nikah dan punya anak! Suaminya kerja jadi awak kapal! Pulangnya lama! Dia cuma minta tolong ke aku—"


"Anak apa maksudnya?" tanya Yura yang mendengar perdebatan ayah dan neneknya tersebut.


"Angga punya anak lain, selain kamu," ucap sang nenek sambil menangis.


Yura terdiam sejenak. Otaknya terlalu kering untuk mencerna kalimat yang neneknya sebutkan. "Maksudnya?" tanya Yura lagi.


"Ini urusan orang dewasa, Yura. Masuk ke kamar kamu!" perintah Angga.


"Nggak! Tadi Papa bilang anak, nenek juga. Anak apa maksudnya? Anak siapa?" bantah Yura.


"Papa kamu punya anak lain dari istri lain," ucap sang nenek.


Yura kembali terdiam. Kini matanya berkaca-kaca.


"Kenapa Papa lakuin itu ke Mama?!" teriak Yura sambil menangis.


"Ini bukan masalah besar Yura. Kamu—"


"Papa nggak pulang berbulan-bulan, tapi Mama masih tetap di rumah! Papa yang pergi, tapi kenapa Papa yang kayak gini?!" teriak Yura lagi dan memotong kalimat sang ayah.


Yura membanting pintu kamar dan menangis di dalam sana sendirian.


"Ma—" Ia mencoba menjelaskan kepada sang ibu, tapi tak ada yang mau mendengarkannya. Nenek malah memilih untuk masuk ke dalam kamar dan meninggalkan anaknya itu di ruang tamu.

__ADS_1


Ada begitu banyak rasa kecewa yang harus nenek rasakan. Angga adalah anak yang baik. Ia tak pernah mengajarkan segala sesuatu yang buruk kepada anaknya tersebut. Tapi, Angga memilih untuk menjadi anak yang nakal di usia sedewasa ini. Akan ada banyak korban atas apa yang ia lakukan. Termasuk Yura dan Putri.


__ADS_2