
Di sana Yura mengerti, betapa hangat keluarga Vin yang sederhana tersebut. Pantas saja Vin tidak mudah melepaskannya meski Rafa bergelimang harta.
"Kayaknya Vin nggak pulang. Dia lebih suka tinggal di asrama kayaknya," ucap Nurul dan memulai makan malam tanpa Vin.
Yura disajikan makanan rumahan yang sudah sangat lama tak ia nikmati. Sayuran dan tempe goreng yang sering ia makan di rumah neneknya, kini ia menikmatinya lagi setelah belasan tahun lidahnya asing dengan makanan tersebut. Yura meneteskam air mata begitu tempe goreng itu menyentuh lidahnya. Dengan cepat ia mengelap air mata itu.
"Kenapa, Yura?" tanya Feno.
"Nggak enak ya? Apa Yura mau makan yang lain? Tante Nurul masakin. Yura mau makan apa?" tanya Nurul yang langsung panik begitu melihat Yura menangis.
"Nggak, Tante. Ini enak kok. Aku inget makanan di rumah nenek. Jadi kangen nenek sama kakek," ucap Yura sambil terus mengusap air matanya yang menetes tanpa henti.
Feno menghela napasnya. Ya, Feno juga merindukan suasana di rumah kedua orang tua Putri. Sebagai pria yang pernah tinggal di sana, Feno juga bisa merasakan apa yang Yura rasakan saat ini.
"Ow, kangen nenek sama kakeknya?" ucap Nurul ikut menghela napas pertanda Yura menyukai makanan yang ia masak.
"Untung nggak ada Vin. Kalau ada Vin, mungkin kamu udah diejekin dari dia, Yura. Sebenarnya Om juga kangen sama kakek dan nenek kamu. 'kan dulu Om pernah tinggal di sana. Om juga pernah naksir sama ibu kamu," goda Feno dan membuat Nurul mencubitnya.
"Dulu aku sering nginep di rumah nenek sama kakek. Makanannya kayak gini. Sayangnya waktu itu nginepnya cuma bentar. Habis itu aku nggak pernah ke sana lagi," ucap Yura.
"Gimana kalau besok kita ke sana?" usul Feno membuat Yura dan Nurul menoleh padanya.
__ADS_1
"Emangnya Om nggak kerja?" tanya Yura.
"Semenjak di renovasi, Gibi buka sampai hari Sabtu aja, Ra. Gimana? Mau nggak?" tanya Feno lagi.
"Aku sih mau-mau aja. Tapi, Tante Nurul gimana? Nanti cemburu ngelihat rumah nenek aku," ejek Yura sambil terkekeh bersama Feno.
"Dih, siapa yang cemburu! Biasa aja tuh! Besok kita ke sana!" ucap Nurul.
Yura merasa sangat beruntung bisa mengenal keluarga Vin. Tak pernah ia bayangkan seperti ini rasanya makan bersama ayah dan ibu sambil mengobrol, menggoda yang lain, dan tertawa bersama di meja makan. Rasanya tak bisa dibayarkan dengan apa pun. Uang yang dicari dan dikumpulkan oleh Putri dan Angga, tak bisa membeli kebahagian seperti rasa bahagia yang ada di dalam rumah sederhana milik Feno dan Nurul.
***
Yura meminta izin untuk menginap pasalnya ia tak tahu harus bermalam di mana. Meta yang disibukkan dengan urusan Jong Woo dan rumahnya yang sedang memanas tak bisa didiami sebagai tempat tidur yang nyaman. Asrama juga terasa sangat menyiksa untuk saat ini dan beberapa hari belakangan.
"Neneeekkk!!" teriak Yura begitu turun dari angkutan umum dan disambut oleh nenek dan kakeknya di depan rumah.
"Yuraa!!" balas neneknya yang langsung memeluk gadis kecil itu. Rasanya baru kemarin Putri melahirkan anak ini, tapi sekarang tingginya hampir menyamai sang nenek. "Loh, sama Feno? Mama kamu mana?" tanyanya.
"Putri sibuk kayaknya, Bu," jawab Feno yang memberikan beberapa kasdus cemilan untuk kedua orang tua angkatnya tersebut.
"Vin mana? Kok malah bawa Yura ke sini? Vinnya nggak diajak!" omel ibu angkatnya itu.
__ADS_1
"Udah, ayo masuk! Masuk!" ucap sang kakek yang mempersilakan mereka untuk masuk.
Seketika, Feno mengenang semua masa yang pernah terjadi di rumah itu. Putri yang terus mengejar cinta Angga, si wibu pedofil. Putri yang selalu bertengkar dengan Regi dan juga Putri yang selalu membuat Feno jatuh pingsan dan mendadak tremor karena phobianya.
Feno terkekeh begitu melihat pintu kamar yang masih terdapat ukiran kayu bertuliskan "Maulidia Saputri" itu.
"Kenapa ketawa-ketawa?!" bentak Nurul pada suaminya itu.
"Nggak! Siapa yang ketawa? Cuma lucu aja ngelihat Yura sama neneknya udah sama gede!" alibi Feno agar sang istri tidak marah.
Minggu ini Putri benar-benar sedang kacau. Angga lama tak pulang ke rumah. Sementara suaminya itu hanya menelepon ketika Yura mendapatkan masalah. Terkadang Putri berpikir, apa masih ada cinta di antara mereka berdua. Mengapa semuanya terasa berbeda saat mereka memiliki seorang anak. Pagi itu, Angga kembali menelepon.
"Kirim Yura ke sini! Biar aku yang ngurusin dia kalau kamu nggak bisa ngurus anak!" Itu adalah kalimat pertama yang Angga ucapkan saat Putri menjawab telepon tersebut.
Putri terdiam. Kalimat yang menyatakan akan mengirim Yura ke Jepang hanyalah sebuah gertakan dan ancaman untuk putrinya itu. Tapi kini semuanya dibuat nyata oleh Angga.
"Nggak," ucap Putri pelan.
"Kenapa? Kamu 'kan yang mau dia dikirim ke sini?! Sekarang kenapa kamu nggak mau?! Aku 'kan udah bilang ke kamu, Put! Kamu berhenti kerja! Urusin Yura aja di rumah! Tapi kamu maksain, demi Regi, demi toko buku, demi ini, demi itu! Sekarang Yura kayak gini. Kamu malah nyalahin dia! Kamu nggak ngaca! Kamu lebih dulu salah ke dia! Kenapa kamu nggak bisa jadi sosok ibu buat dia?!" omel Angga yang jauh di negeri seberang.
Bersamaan dengan itu, air mata Putri menetes tanpa suara.
__ADS_1
"Sekarang baru kamu mau nyalahin aku, nyalahin Yura, nyalahin ART di rumah? Sama aku, Yura fine-fine aja. Sama ART, Yura biasa aja. Cuma sama kamu dia kayak gini. Berarti masalahnya ada di kamu! Tapi kamu nggak sadar diri! Kamu malah nyalahin orang lain, buat nutupin kesalahan kamu yang udah bikin Yura kayak gini! Sekarang kamu baru mau nyesel? Kemarin-kemarin kamu ke mana, Put? Yura nangis, kamu ke mana? Yura ketakutan tidur di kamarnya, kamu ke mana?! Terbukti 'kan sekarang? Yura lebih care sama ART dari pada sama ibunya sendiri!" Angga benar-benar mearasa penat untuk menutupi semua ini kepada Putri. Apa yang ia ucapkan adalah apa yang ia rasakan saat ini.
"Fungsinya aku di hidup kamu apa sih, Put? Aku nyari duit buat kamu, tapi kamu malah kerja. Aku bilang ngurusin Yura aja, kamu nggak dengerin. Maunya kamu tuh aku jadi apa di dalam keluarga kita? Atau kamu maunya aku yang ngurusin Yura di rumah? Okey! Pecat semua ART! Biar aku balik ke Indo, sekarang! Biar aku yang ngurus rumah sama Yura!" tegas Angga memnuat air mata Putri semakin membanjir.