
Yura sarapan pagi itu dan melihat ibunya yang terburu-buru membawa begitu banyak kertas nota dan memasukkannya ke dalam map plastik. Putri melahap roti panggang dan perfi begitu saja.
Yura menghela napasnya. "Kayak hantu," ucap gadis itu yang menyamakan dirinya pada sosok yang tak terlihat. Begitulah keadaan yang ia rasakan. Ia berada di sana, tapi ibunya acuh saja.
Yura mengambil tas dan berangkat sekolah. Sebelum sampai di sekolah, ia mendapatkan panggilan telepon dari ayahnya.
"Halo, Yura!" panggil Angga.
"Pa, kapan pulang?" Yura langsung menanyakan hal tersebut.
"Bulan depan kayaknya, Ra. Kamu gimana sekolahnya? Ada yang gangguin kamu, nggak? Sekolahnya gimana? Pelajarannya? Ada yang susah dimengerti? Apa mau ditambahin les?" Angga selalu berhasil membuat Yura bersemangat.
Mendengar pertanyaan tersebut, Yura langsung menceritakan semua yang terjadi di sekolah. Termasuk tentang Vin dan Kim Tae Young yang membuli Vin. Mereka sangat asyik mengobrol.
"Pa, aku sekolah dulu ya," ucap Yura begitu mobilnya terparkir di depan pagar sekolah.
"Iya, Sayang. Jangan lupa ya bilangin ke Vin-nya!" ucap Angga.
"Iyaaa, bye Pa!" ucap Yura dan mengakhiri panggilan tersebut.
Yura menghempas ponselnya dan menutup pintu mobil. "Pak, nanti jemput jam dua-an ya?"
"Iya," jawab supir dan pergi meninggalkan Yura.
Hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan untuk Yura karena ia baru saja mendengar suara pria cinta pertamanya yakni sang ayah. Namun, semuanya berubah saat Kim Tae Young dan ke dua temannya duduk di bangku kelas milik Yura. Teman sekelas Yura juga merasa heran, ada masalah apa di antara Yura dan ke tiga kakak kelas mereka itu?
Yura menghela napasnya begitu melihat pria berwajah Korean itu duduk di sana. Ia berjalan menghampiri Kim Tae Young. "Minggir," ucap Yura.
"Annyeong, Yura!" sapa Kim Tae Young sambil tersenyum dan melambaikan tangan pelan.
__ADS_1
"Muka lo kayak Ganyong!" bentak Yura. Murid sekelas Yura ikut terkejut melihat gadis itu memperlakukan kakak kelasnya dengan tidak sopan.
"Gue mau tanya. Lo pacarnya Vin?" tanya Kim Tae Young.
Yura tak menjawabnya, melainkan menendang bangku yang diduduki oleh Kim Tae Young agar pria itu terjatuh. "Annyeong, Kim Tae Young yang mukanya kayak King Kong. Mending lo jangan berurusan sama gue, karena gue males ladenin orang kayak lo," ucap Yura menirukan gaya bicara Kim Tae Young.
"Wah, kurang ajar nih bocah!" Edo hendak memberi balasan kepada Yura, tapi Edo menahannya.
Kim Tae Young berdiri di hadapan Yura. Pria itu memang lebih tinggi dari Yura dan membuatnya menenggak saat menatap mata Kim Tae Young. Mata mereka bertemu. Pertanda bahwa peperangan akan segera dimulai.
"Gue tuh males ngurusin lo, tapi kayaknya ngurusin lo lebih asik. Gue tunggu di asrama sekolah, ya, Adek Kelas yang cantik!" ucap Kim Tae Young menepuk kepala Yura sambil tersenyum kecut dan pergi bersama teman-temannya.
Setelah kejadian itu, Yura dihampiri seorang gadis bernama Prethayata Moshesepet. Gadis keturunan Thailand-Indosesia yang sudah sedari semester pertama mengejar cinta Kim Tae Young. Mendengar bahwa pria itu kini bermasalah dengan Yura, dia hendak melabrak Yura. Pret menarik tangan Yura ke jalan menuju asrama sekolah. Di sana ia mengancam adik kelasnya tersebut.
"Gue cuma mau ngingetin, lo jangan tebar pesona sama Arnold! Kalau lo masih berani cari perhatian sama dia! Gue pastiin nggak bakal tenang hidup lo di asrama nanti!" ancamnya.
Yura malah mengernyit tak mengerti akan apa maksud dan tujuan dari tindakan perempuan tersebut.
"Gue tahu kalau lo itu sengaja nyari masalah sama dia, biar lo diperhatiin 'kan sama Arnold?! Caper banget sih lo jadi cewek!" bentak Pret.
"Harusnya gue yang bilang gitu. Lo ngancam gue kayak gini, caper sama gue?" balas Yura.
***
Hari ini Yura baru saja menikmati jam istirahat. tapi lagi-lagi ia diganggu oleh Kim Tae Young dan ke dua temannya.
"Sebagai adek kelas yang baik, nurut sama kakak kelas. Duduk sini!" perintah Edo.
Yura melirik semua tempat di kantin dan satu-satunya bangku yang tersisa memang yang di sebelah Kim Tae Young. Gadis itu berjalan menghampiri mereka dan duduk di sana.
__ADS_1
Yura tak menghiraukan kakak kelashya yang menyebalkan itu, namun saat ia hendak menyuap baksonya, tiba-tiba Kim Tae Young menuang 3 sendok makan cabai ke dalam mangkuk Yura.
"Selamat menikmati makan siang," ucap Kim Tae Young.
Yura mengaduk bakso itu dan nyaman saja memakannya tanpa hambatan. Yura memang menyukai makanan yang pedas. Gadis itu juga menambahkan satu sendok cabai lagi.
Kim Tae Young dan teman-temannya saling menatap dan menelan air liur mereka masing-masing.
"Nggak pedas?" tanya Kim Tae Young.
Yura mengangkat sendok dan menyuapi kuah bakso kepada kakak kelasnya itu. Dalam hitungan detik, tiba-tiba wajah Kim Tae Young memerah. Bibirnya juga mendadak jontor. Kalang kabut Kim Tae Young mengipasi lidahnya yang kepedasan.
"Yaaa!! Neo micheosseo?! Oo! Nae hyeoga bulthago-ittda! Mol juseyo! Mol!! Mol!!" teriak Kim Tae Young meminta air kepada teman-temannya.
Karena kejadian itu, Kim Tae Young harus dilarikan ke klinik sekolah karena ia tidak diperbolehkan dokter untuk mengonsumsi makanan pedas. Lambung Kim Tae Young sudah terlalu tipis untuk menambahkan makanan yang bisa memicu asam lambung menjadi lebih aktif.
"Cabe doang kok lemah," gerutu Yura yang berjalan melewati klinik sekolah.
Pihak sekolah terpaksa mengirimkan surat panggilan kepada Putri atas perbuatan anaknya tersebut. Putri sudah banyak mengalami tekanan atas pekerjaannya yang terbengkalai. Dia juga harus mengurusi ekspedisi yang tenggelam di lautan.
Pihak penerbit tidak mau tahu alasan kesalahan ekspedisi. Regi terpaksa menutupi kesalahan itu dengan mengganti kerugian kepada pelanggan. Perkembangan toko buku Gibi juga menyita fokus seorang Putri. Kali ini, kesabarannya benar-benar telah habis menghadapi Yura yang tak mau mengerti akan kesibukannya yang bekerja.
Saat Yura baru saja pulang sekolah, Putri langsung menghempas surat panggilan itu di hadapan anak gadisnya tersebut.
"Mengganggu teman dan membuatnya masuk klinik sekolah?! Begini caramu bersosialisasi di sekolah, Yura?! Bagaimana jika keluarganya menuntut kita?! Kau tidak berpikir sejauh itu?!" teriak Putri.
Emosi Yura langsung menanjak ketika ia ditanyakan hal tersebut. "Dia yang menggangguku!" bantah Yura yang ikut berteriak.
"Sampai kapan aku harus datang ke sekolah hanya karena masalahmu, Yura?!" teriak Putri semakin menjadi.
__ADS_1
Yura malah menganggap kalimat itu seolah Putri tidak ingin menjadi wali murid untuk dirinya. Yura mengambil surat panggilan tersebut dan merobeknya dengan kesal. "Jangan datang ke sekolah! Biar ayahku yang melakukannya!" teriak Yura melempar serpihan kertas itu ke lantai dan pergi.