Hipotalamus

Hipotalamus
Jangan Ngurusin Gue!


__ADS_3

"Ra, udah!" Vin terus berusaha menghentikan Yura agar tak mendapatkan masalah yang lebih dari perkelahian yang terjadi di antara dirinya dan gadis itu.


Kom Tae Young mulai marah-marah dengan berbahasa Korea sambil menunjuk ke arah Yura. Gadis itu malah menghampirinya dan memukul kepala Kim Tae Young.


"Nold!" teriak teman-teman Kim Tae Young sambil berlari menghampiri temannya.


"Yaa!!" teriak Kim Tae Young di hadapan Yura. "Neon michyeosseo?!" Kim Tae Young mendorong Yura hingga tubuh gadis itu terhuyung.


"Gue nggak pernah ngurusin keluarga orang lain. Tapi kalau lo mau gue urusin, gue bisa nyari tahu seluk beluk keluarga lo yang kaya. Siapa tahu kita bisa jadi rekan bisnis," ucap Yura.


"Yaa!! Neo jinjja michyeosseo?! Nae sone juggo sipheo, hah?!" teriak Kim Tae Young lagi.


Vin langsung memungut semua bola-bola itu sembari Kim Tae Young dan Yura bertengkar.


"Udah, Nold. Dia cewek!" ucap Edo dan Dewa berusaha mengakhiri perkelahian tersebut.


"Dia punya mulut harus dijaga!" teriak Kim Tae Young.


"Bisa tolong jagain, nggak? Soalnya gue nggak tahu cara jaga mulut!" balas Yura.


Kim Tae Young hendak memukul Yura. "Arnold!! Udah-udah, 'ntar kita kena masalah!" ucap Dewa yang langsung menarik temannya itu untuk pergi.


"Ra! Jangan nyari masalah sama Arnold!" bentak Vin.


"Arnold? Bukannya nama dia Tae?" tanya Yura.


"Urus aja urusan lo sendiri!" tegas Vin membawa keranjang bola dan meninggalkan gadis itu di lapangan.


***


Yura mengingat kejadian kemarin saat Nurul menghampirinya dan berkata, "Yura, Tante minta maaf ya kalau Vin suka gangguin kamu. Tolong jagain Vin di sini. Soalnya kamu tahu sendiri Vin kayak gimana. Jangan sampai dia digangguin orang lain. Kalau dia berantem sama kamu, Tante nggak masalah. Emang udah kayak gitu dari dulu. Tapi kalau orang lain yang gangguin, Tante nggak terima. Tante minta tolong sama kamu ya, Ra!" ucap Nurul kemarin.


Yura berjalan mengikuti Vin ke ruang Olahraga.


"Lo ngapain sih ngikutin gue, Ra?!" bentak Vin.


"Serah kaki gue dong mau ke mana!" bantah Yura.

__ADS_1


"Ya iya terserah lo mau ke mana! Tapi jangan ngikutin gue juga!" bentak Vin lagi.


"Udah berapa lama lo dibuli dari anak-anak?" tanya Yura.


"Siapa yang dibuli?" balas Vin.


"Ya elo lah!" tegas Yura.


"Jangan ngurusin gue!" tegas Vin dan pergi.


"Vin!" teriak Yura mengejar pria itu.


"Gue kakak kelas lo!" tegas Vin sambil terus berjalan.


"Kita cuma beda setahun!" bantah Yura.


"Tetap aja gue kakak kelas lo!" tegas Vin. "Kelas lo ada Bu Tyas," lanjut Vin.


"Mampus gue!" ucap Yura dan berlari memasuki kelasnya.


***


Yura berjalan hendak ke luar sekolah, tapi sosok Vin menarik perhatiannya. Vin tengah menyapu di dalam kelas. Yura memasuki kelas itu dengan memanjat jendela.


"Lo mau maling?!" sindir Vin pada gadis itu.


"Lo piket?" Yura malah balik bertanya.


"Iya," jawab Vin.


"Ya udah gue tungguin lo sampai kelar piket," ucap Yura dan berbaring di atas meja.


"Dalam rangka apa nih lo baik bener!" bantah Vin.


"Lo sibuk banget sih, Vin? Gue jadi bosen nggak ada lawan berantem," ucap Yura.


Yura tetap menunggu Vin membersihkan kelas. Hingga akhirnya ia tertidur. Supir pribadi Yura datang ke sekolah dan mencari gadis itu. Vin terpaksa menggendong Yura untuk membawanya ke mobil. Vin juga diantar pulang oleh Supir pribadi Yura yang sudah lama mengenal keluarganya.

__ADS_1


Saat Yura terbangun, ia sudah berada di kamar dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuh. Gadis itu bangun dari tidurnya dan berjalan ke dapur. Beberapa asisten rumah tangga sedang mengobrol di sana.


"Kolam karet yang ada di belakang itu kayaknya dibuang aja deh, Kak Rum. Biar bisa buat naroh barang-barang lain," ucap Minnah kepada Rumi.


"Jangan! Itu kolam karetnya Yura pas masih kecil! Dia suka mandi di kolam itu sama Pak Angga! Jangan dibuang!" balas Rumi yang didengar oleh Yura.


"Iya! Lagian itu mahal! Mending dijual aja ya 'kan, Kak Rum?" goda ART yang lain sambil terkekeh.


"Hush! Kalian nih! Itu banyak kenangannya!" tegas Rumi.


ART lebih paham perasaan orang lain dari pada orang tua sendiri. Kalimat itu terbesit di benak Yura begitu ia mengingat bahwa sang ibu tak memiliki satu pun kenangan indah bersama dirinya.


"Kak Rum!" panggil Yura dan membuat mereka terkejut.


"Iya, Ra!" jawab Rumi.


"Lagi ngomongin apa nih?! Ngegibahin aku ya?" ucap Yura yang langsung berbaur dengan ART di rumahnya itu tanpa membeda-bedakan dalam hal apa pun.


"Ini si Minnah mau ngebuang kolam karetnya Yura yang di belakang itu!" Rumi memulai perdebatan di antara sesama ART.


"Nggak kok, Ra! Cuma ngasih saran!" bantah Minnah.


"Mumpung ngumpul-ngumpul gini, mending bikin apa kek gitu. Bakso, cilok atau apa kek, kue," ucap Yura.


"Yuk bikin kue!" ajak Rumi yang sudah bekerja di sana lebih dari 16 tahun. Dia juga yang mengasuh dan menemani Yura bermain sedari kecil.


Mereka semua membuat kue cangkir yang enak dengan bentuk yang lucu-lucu. Saat malam hari, Yura menaruh satu kue itu di atas meja kerja ibunya sebagai permintaan maaf atas sikapnya selama ini. Yura ingin mengakhiri semua perkelahian antara dirinya dan Putri.


Namun, hingga pagi hari dan esok paginya lagi, Yura masih mendapatkan kue itu tanpa bergerak dari tempatnya. Kotak bening kue itu juga mulai berdebu. Hingga akhirnya Yura membuang kue tersebut dan merasa kecewa.


Putri sedang berada dalam suatu masalah. Salah satu ekspedisi pengiriman via cargo jalur kapal laut mengalami karam. Semua buku yang harus Putri kirimkan kepada pelanggan tenggelam bersama kapal tersebut. Putri sedang disibukkan akan hal itu. Dia juga harus membalas pesan pelanggan yang menanyakan pasal buku yang mereka beli. Sehingga Putri tak sempat bekerja di rumah. Ia harus mengkoordinasikan semuanya kepada Regi sebagai selaku pemilik toko buku Gibi.


Setelah kejadian itu, Yura semakin membenci sosok ibunya. Ia menganggap mungkin dirinya bukan anak kandung Putri sehingga Putri membiarkan anaknya itu hidup dan tumbuh bersama ART dari pada dirinya sendiri. Terkadang Yura juga berpikir bahwa dirinya tak ubah seorang piatu yang tak memiliki ibu.


***


Keesokan harinya, Putri kembali disibukkan oleh orderan buku ditambah lagi Regi hendak memperbesar toko bukunya menjadi sebuah tempat percetakan. Putri semakin sibuk hingga ia mempercayakan semua kebutuhan Yura kepada asisten rumah tangganya.

__ADS_1


__ADS_2