
Yura pergi dari rumah menuju Gibi. Di sana ia melihat kehadiran Vin yang sedang menutup wajahnya di atas meja. Yura hanya berdiri dan memerhatikan pria itu. Vin tak menyadari kehadiran Yura. Bisa Yura lihat saat Vin nenyeka air matanya dan kembali membaringkan kepala di atas meja. Yura mendekat dan duduk di hadapan pria itu.
Vin langsung menoleh ke arahnya. "Ngapain lo ke sini?" tanya Vin.
"Kenapa lo nangis? Digangguin Arnold?" ejek Yura.
Vin hanya berdiam diri.
"Gue mau cerita," ucap mereka serempak.
"Mau cerita apa lo?" tanya Yura.
"Lo? Mau cerita apa?" balas Vin.
"Lo aja duluan!" tegas Yura.
"Bokap sama nyokap gue berantem gegara gue," ucap Vin.
"Sama," balas Yura.
"Kalau lo sih, gue nggak heran," ejek Vin.
"Pasti lo nggak pernah balik 'kan? Lo terlalu nyaman hidup sama Om Rafa!" ucap Yura.
"Kalimat pertama itu, benar. Tapi gue bukannya nyaman di rumah ayah gue. Gue dipaksa buat mengenal perusahaan sampai nggak ada waktu buat pulang," ucap Vin. Kini mimik wajahnya berubah menjadi sedih.
"Masih enak jadi lo. Punya orang yang selalu kangen sama lo dan maksa buat lo balik," ucap Yura.
"Lah, emangnya bokap lo, nggak?" tanya Vin.
"Minggu depan gue berangkat ke Jepang," jawab Yura sambil tersenyum.
"Hah?! Kok mendadak?" tanya Vin lagi.
"Ya gitulah. Gue berasa jadi kayak anak broken home, tau nggak sih?" ucap Yura sambil terkekeh kecil. "Kadang dipihak Mama. Kadang dipihak Papa. Bunuh diri, enak kali ya?" ucap Yura sambil bercanda.
"Lo lahir di keluarga yang jelas, mau bunuh diri? Gimana gue yang anak haram?" balas Vin ikut terkekeh.
"Sakitnya, didewasakan oleh keadaan," ucap Yura yang ikut membaringkan kepala di atas meja.
Mata Vin masih melekat di tubuh gadis itu. Wajah Yura tertutupi oleh rambutnya yang lumayan panjang.
"Pasti lo bakalan kangen sama gue, kalau ke Jepang!" ucap Vin.
"Dih!" balas Yura yang mengubah posisinya menjadi duduk.
"Ya, pastinya lo bakalan nyari orang yang bisa lo pukulin. Lo pasti kangen berantem sama gue!" balas Vin.
Yura malah menaikkan sebelah bibirnya. "Lucu lo!" ucap gadis itu.
"Tapi, tenang aja! Kalau lo libur, lo balik ke sini. Lo bisa pukulin gue sepuas lo!" ucap Vin sambil terkekeh.
"Demi apa? Gue jijik dengernya, Vin!" tegas Yura sambil tertawa.
"Pokoknya kalau lo ke Jepang, jangan nyari orang lain buat lo pukulin! Gue harus jadi satu-satunya cowok yang berantem sama lo!" tegas Vin.
__ADS_1
Yura kembali menarik ujung bibirnya. "Terdengar kayak 'Yura, jangan nyari cowok lain ya di Jepang. Nanti aku cemburu!' suer kayak gitu!" ucap Yura sambil terbahak-bahak.
"Ya, mungkin lo nggak bakalan kangen sama gue. Tapi gue kangen sama lo! Hidup gue pasti bakalan damai tanpa lo. Gue nggak suka kedamaian. Gue mau berantem setiap hari kayak waktu kita SD sama SMP," ucap Vin sambil terkekeh.
Tiba-tiba Yura terdiam menatap Vin. "Makasih ya, Vin," ucapnya.
"Makasih buat apa?" tanya Vin.
"Nggak tahu kenapa, kalau ketemu lo rasanya beban gue berkurang. Padahal tadi gue mau nangis. Tapi pas lihat lo nangis di sini, gue jadi kaget," ejek Yura.
"Kapan gue nangis?!" bantah Vin menutupi kelemahannya.
"Tadi lo nangis di sini! Gue lihat sendiri lo ngusap mata gitu pake jari!" teriak Yura.
"Kapan?! Itu kelilipan doang! Di sini banyak debu!" bantah Vin lagi.
"Dih kelilipan? Gue colok mata lo! Biar tahu rasanya kelilipan!" balas Yura sambil terkekeh.
Vin ikut menertawakan kebohongannya itu. "Jadi kapan lo berangkat?" tanyanya.
"Minggu depan," jawab Yura.
"Masih bisalah, lo habisin waktu sama gue. Sebelum lo kangen sama gue," ucap Vin sambil memperbaiki rambutnya agar terlihat lebih keren.
"Dih, demi apa sih. Gue tuh jijik lihat lo kayak gitu, Vin!" omel Yura.
"Gue lebih jijik lihat lo sok lemah di depan Nenek!" Vin ikut mengomel.
"Ya, emang gue manja kok sama nenek gue!" teriak Yura.
Yura mengernyitkan dahinya. "Ngapain lo catet?" tanya Yura.
"Ya serah gue lah! Apa urusannya sama lo, kalau gue mau nyatet!" tegas Vin.
"Apa sih, Vin?! Lo jadi nggak jelas tahu nggak?" balas Yura.
***
6 hari menuju keberangkatan Yura. Vin mendatangi Yura di kelasnya.
"Hai!" sapa Vin.
"Hai?" Yura dan teman-temannya malah terkejut melihat tingkah Vin.
"Ra, lo mau bakso?" tanya Vin.
"Hah?! Bakso? Lo kenapa sih? Mabok?" Yura balik bertanya.
"Pokoknya, sebelum lo berangkat ke Jepang, kita harus baikan," ucap Vin.
"Ya, baikan tapi nggak gini juga kali, Vin!" bantah Meta.
"Iya! Demi apa coba lo kayak gini?!" balas Yura.
"Demi baikan sama lo! Gue cuma nawarin bakso, apa salahnya? Lo nggak terima niat baik gue?!" omel Vin.
__ADS_1
"Iya-iya! Serah lo!" bentak Yura.
Vin kembali berlari menuju kantin dan teman-temannya.
"Jadi ke kantin nggak, Ra?" tanya Vio.
"Jadi! Gue mau makan! Mendadak laper gue lihat muka Vin," gerutu Yura.
Sesampainya Yura, Vio dan Meta di kantin, Vin langsung menarik Yura untuk duduk di kursi depan teman-temannya. Vio dan Meta mengikuti Yura.
"Ini bakso lo," ucap Vin.
"Gue mau pesen sendiri!" bentak Yura.
"Ya apa bedanya?!" omel Vin.
"Gue nggak suka bawang goreng!" bentak Yura mencari alasan.
Vin langsung mengambil semua bawang goreng yang berada di dalam mangkuk bakso tersebut dan memindahkannya ke dalam mangkuk bakso miliknya.
"Udah nggak ada bawangnya!" bentak Vin.
"Gue nggak suka pake mecin!" bentak Yura lagi.
"Bakso tanpa mecin? Lo nggak waras?! Mana ada rasa kalau nggak pake mecin!" omel Vin.
"Udahlah, Ra! Makan aja kenapa sih? Biasanya juga lo beli nggak ada pantangannya!" Vio ikut mengomel karena di hadapannya terdapat Marc yang sedari tadi diam saja.
"Ngerjain gue ya lo?!" omel Vin.
"Ya ampun, lo kenapa sih Vin? Gue nggak biasa tahu nggak diginiin! Gue maunya kita berantem!" ucap Yura.
"Nggak!" tegas Vin dengan cepat. "Seminggu menuju keberangkatan lo, kita harus baikan!" lanjutnya.
"Ih, gue nggak suka! Gue maunya berantem!" tegas Yura.
"Gue maunya baikan!" tegas Vin lagi.
"Baikan aja lo sama nenek buyut lo sana!" teriak Yura.
"Mending kalian jadian aja deh." Ide itu diucapkan dari mulut indah milik Jong Woo.
"Hah?!" Yura dan Vin menoleh padanya.
"Gue setuju," ucap Vio.
"Gue juga!" Meta ikut mengangkat tangannya.
"Gue sih, nggak peduli lo berdua mau ngapain," ucap Marc.
"Gila kali lo semua! Gue sama Vin itu harusnya berantem! Kita 'kan musuh abadi!" tegas Yura meminta persetujuan dari Vin.
"Nggak! Mulai sekarang kita baikan!" balas Vin.
"Berantem, nggak?! Kalau nggak berantem, gue tonjok nih!" ancam Yura.
__ADS_1