
"Kenapa aku dilahirin di kondisi keluarga yang kayak gini?" tanya Vin lagi dan membuat ibunya terdiam. "Aku bahagia di rumah kecil yang hangat sama Mama sama Papa. Tapi, Papa Feno bukan ayahku! Berapa tahun Mama bohongin aku sampai aku tahu semuanya? Aku ketemu Ayah pertama kali, waktu sebelum masuk ke sekolah ini. Aku ketemu Ayah saat Ayah udah sakit-sakitan! Kenapa Mama nggak jujur dari dulu? Kenapa Mama selalu nutupin soal Ayah?! Apa Mama kira itu nggak sakit? Atau aku nggak seharusnya tahu siapa ayahku yang sebenarnya? Apa kalau Ayah nggak bawa kita ke rumahnya waktu itu, aku nggak bakalan tahu siapa ayahku sampai Ayah meninggal?"
Kini Vin balik mengungkapkan semua isi hatinya.
"Aku nggak pergi, Ma. Aku di sini. Aku cuma nginep di rumah Ayah. Aku masih di sekolah setiap hari. Apa yang Mama khawatirin ke aku? Apa aku bakalan lupa sama Mama kalau nginep di rumah Ayah? Aku cuma mau semuanya cepat selesai, Ma. Aku belajar bisnis, ngelola perusahaan, kenal klien dari negara sana-sini, aku mau semuanya cepat selesai. Aku capek!" ucap Vin.
***
Beberapa hari kemudian, Putri sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya. Namun, satu hal mengejutkan tersampaikan kepada wanita itu.
"Kemaren Pak Angga ngasih tahu ke kita, Bu. Kalau Neng Yura mau berangkat ke Jepang minggu depan. Itu beneran, Bu?" tanya Rumi.
"Pak Angga bilang gitu ke kalian?" Putri balik bertanya.
"Iya, Bu. Kita jadi gimana gitu rasanya kalau nggak ada Neng Yura lagi di rumah ini. Lagian 'kan Neng Yura, saya yang nemenin dari kecil. Pasti bakalan kangen banget," ucap Rumi.
"Kamu yakin, Pak Angga bilang minggu depan?" tanya Putri lagi.
"Iya, Bu," jawab para ART di rumah itu, serempak.
"Kalian ada lihat Bapak bawa berkas-berkas nggak?" tanya Putri.
"Saya lihat, Bu, kemaren. Pak Angga juga nanyain akta kelahiran Neng Yura ke saya," jawab Rumi.
"Terus, kamu kasih?" tanya Putri lagi.
"Iyalah, Bu. Masa nggak saya kasih. 'kan Pak Angga majikan saya," jawab Rumi.
"Aduh, Rumiii! Kenapa kamu kasih?! Angga bakalam bawa Yura ke Jepang! Jadi gimana ini?! Kalau ngurus pindahan ke luar negeri gitu, bisa dibatalin nggak sih?" tanya Putri yang mulai panik.
"Nggak tahu juga, Bu. Kita nggak ada yang pernah ke luar negeri. Sekolah aja nggak tamat SMA," jawab Rumi.
Putri berdiri dari duduknya dan menyalakan ponsel. Ia mencoba menghubungi Yura.
"Halo," ucap Yura begitu menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Yura. Papa ada bilang apa sama kamu?" tanya Putri.
***
__ADS_1
"Bilang? Bilang soal apa?" Yura malah balik bertanya sambil berbaring di atas kasur kamar asramanya.
"Papa bilang ke Rumi, kalau kamu bakalan pindah ke Jepang, minggu depan," ucap Putri.
"Hah?!" pekik Yura yang ikut terkejut mendengar hal itu. Meta dan Vio yang berada di sebelahnya juga ikut terkejut karena mendengar pekikan tersebut. "Tapi, Papa nggak bilang apa-apa ke aku!" bantah Yura.
Meta dan Vio mendekat ke arahnya dan ikut duduk di atas kasur milik gadis itu.
"Kenapa, Ra?" tanya Vio dan tak mendapatkan jawaban apa pun dari sahabatnya tersebut.
***
"Papa kamu juga udah ngurus berkas-berkas buat kamu pindah!" tambah Putri membuat Yura semakin terperangah.
"Tapi 'kan ngurus pindah negara itu nggak cepet, Ma! Aku juga nggak pernah bikin Paspor. Gimana mau ke luar negeri tanpa Paspor?" bantah Yura lagi.
"Iya juga sih. Tapi, kalau semuanya udah diurusin sama Papa kamu, gimana?!" tanya Putri.
"Ya, jangan dong!" bantah Yura lagi.
"Mau 'jangan' gimana?! Masa Papa kamu nggak bilang apa-apa ke kamu?!" Kini Putri yang membantah.
"Jadi ini gimana?!" Putri kembali diserang kepanikan.
"Kok nanya aku? Mama yang mau aku dikirim ke Jepang. Sekarang Papa udah ngurus semuanya. Malah nanya aku gimana," bantah Yura.
"Sekarang nggak ada waktu buat berdebat, Yura! Mending kamu telepon Papa kamu tanyain soal ini!" perintah Putri.
***
Yura langsung mengakhiri telepon tersebut dan mencoba untuk menghubungi Angga. Namun, nomor telepon Angga tak bisa dihubungi sama sekali. Keberadaan Angga pun mereka tak tahu di mana.
"Ada apaan sih, Ra? Siapa yang mau pindah ke luar negeri?" tanya Meta.
"Bokap gue udah ngurus semua berkasnya! Katanya gue bakalan pindah ke Jepang minggu depan!" jerit Yura yang ikut panik karena nomor ponsel ayahnya mati.
"Hah?! Serius lo?!" teriak Vio.
"Emangnya ada tampang becanda nih muka gue?!" balas Yura.
__ADS_1
"Tapi 'kan ngurus pindahan sekolah itu lama, Ra! Apa lagi beda negara. Gue yang pindahnya cuma beda kabupaten aja, ngurusnya lama. Apa lagi lo!" bantah Vio.
"Gue juga nggak paham soal beginian. Tapi gimana kalau gue beneran dipindahin ke Jepang?!" pekik Yura membuat kedua bola mata Meta membulat sempurna.
"Lo nggak boleh pindah!" jerit Meta memeluk sepupunya itu.
"Iya! Lo nggak boleh pindah, Ra!" tegas Vio.
"Ya, gue juga nggak mau pindah!" bantah Yura.
"Ya udah, lo bilang aja ke Om Angga buat batalin pindahannya!" tegas Meta.
"Ini gue neleponin bokap gue dari tadi, nggak bisa!" ucap Yura.
"Kalau gitu, lo kabur aja!" Ide itu tercetus dari mulut seorang Meta.
Yura menarik sedikit rambut sepupunya itu. "Kalau ngasih ide yang bener dikit!" ucapnya.
"Dih, gue nggak rela lo ke Jepang, Ra! Jepang 'kan sarangnya Wibu! Mending lo request ke bokap lo buat pindah ke Korea aja! Di sana banyak Oppa-oppa ganteng!" ucap Meta.
"Tapi 'kan bokapnya Yura emang wibu. Seluruh Indonesia tahu," ucap Vio.
"Hah?!" jerit Yura dan Meta dengan bersamaan.
Bahkan Yura tak tahu apa itu Wibu dan kini ia baru mengetahui bahwa ayahnya bagian dari kata tersebut.
Yura menggenggam tiket yang diberikan Angga padanya. Air mata terus mengalir membasahi wajah gadis itu.
***
Beberapa jam sebelum kejadian itu, Yura dan Angga sedang berada di dalam perdebatan di ruang tamu.
"Tapi aku nggak mau ke Jepang, Pa!" teriak Yura.
"Sampai kapan kamu mau di sini dan kayak gini? Papa bisa perhatiin kamu setiap saat kalau kamu di sana!" bantah Angga.
"Tapi aku nggak mau!" teriak Yura lagi.
"Jadi, kamu maunya kayak gimana?!" balas Angga yang sudah terpancing emosi.
__ADS_1
Yura melirik ke arah ibunya yang sedang menahan tangisan sedari tadi. Iya, ia memang membenci sosok Putri. Tapi bukan berarti ia harus meninggalkan ibunya itu sendirian di sini.