Hipotalamus

Hipotalamus
Begini Cara Kamu Sekolah?!


__ADS_3

"Raaa!!" teriak Meta berusaha menerobos kerumunan dan menarik Yura untuk melepaskan Pret dari sepupunya itu. "Raaa!! Yuraaa!!" teriak Meta lagi karena Yura masih hendak memukuli kakak kelasnya tersebut.


"Lo gila ya?! Aduh! Lo pasti kena masalah lagi, Ra!!" oceh Meta.


"Dia yang nyebarin rumor tentang Vin!" balas Yura.


"Iya, udah! Biar pihak sekolah yang ngurus! Kalau kayak gini, lo juga kena masalah, Yura! Lo pasti dapat surat panggilan lagi! Atau lo bisa dikeluarin dari sekolah!" oceh Meta yang benar-benar sudah kehabisan cara untuk menghentikan Yura.


"Woi, tolong bawa dia ke klinik sekolah!" pinta Meta sambil memijat jidatnya karena Prethayata sudah jatuh pingsan akibat dipukili Yura di toilet.


Karena kejadian itu, Yura diberikan surat panggilan kembali. Kali ini tak akan diberikan kepada Yura, melainkam pihak sekolah yang mengirimnya langsung kepada wali murid tersebut. Surat itu adalah surat peringatan keras, mengingat bahwa pelanggaran yang Yura lakukan juga bukanlah hal yang sepeleh.


Untungnya ada seseorang yang melihat kejadian itu dan Meta yang menghentikannya. Jika mereka tidak ada, mungkin Yura sudah membunuh gadis darah campuran Indo-Thailand tersebut.


***


Vin mendapatkan teror dari seseorang tak dikenal dengan mengirimkan kata-kata hujatan dan hinaan melalui sebuah kertas yang selalu dimasukkan ke dalam tasnya. Teror itu semakin bertambah parah. Vin menemukan banyak sekali kertas-kertas yang diselipkan di mana-mana.


Saat ia membuka kertas tersebut, ia mendapatkan tulisan, anak haram, anak pelacur dan lain-lainnya yang menjelekkan Nurul yang berstatus sebagai ibu dari Vin.


"Kayaknya Arnold deh yang ngirim-ngirim beginian!" tuduh Marc tanpa basa-basi.


"Nggak! Menurut gue bukan dia! Soalnya mana mungkin Arnold tahu kosa kata kayak ginian!" bantah Jong Woo.


"Bisa aja 'kan dia dikasih tau temen-temennya!" ucap Marc.


"Nggak Marc! Gue tau tulisannya Arnold kayak gimana. Ini bukan tulisannya dia," ucap Vin.


"Lah, terus siapa? Emangnya lo punya masalah sama siapa lagi kalau bukan sama dia?" tanya Marc.

__ADS_1


"Ya nggak ada sih, cuma sama dia doang," jawab Vin.


"Temen-temennya Arnold gimana? Lo tahu nggak tulisannya gimana?" tanya Jong Woo.


"Nggak tahu juga sih gue. Gue tahu tulisannya Arnold gegara pernah ngerjain tugasnya dia. Kalau yang lain gue lupa bentuk tulisannya kayak gimana," jelas Vin.


***


Agar Vin tidak terlalu memikirkan soal teror tersebut, Jong Woo dan Marc selalu menyembunyikan kertas-kertas teror itu dari pandangan Vin.


Vin hendak memasuki kelas, Marc lebih dulu mengambil kertas teror itu dari laci meja Vin dan membuangnya. Saat Vin hendak pulang sekolah, Jong Woo juga menemukan kertas teror itu di dalam tas Vin dan membuangnya.


Kali ini, Putri kembali datang ke sekolah karena pertengkaran Yura dan Prethayata. Putri juga bertemu dengan ibu dari gadis itu dan mengucapkan maaf atas perbuatan anaknya yang sangat tidak layak disebut sebagai manusia.


Putri sudah kehabisan cara untuk mendidik Yura. Saat anak gadis itu berdiri di hadapannya. Putri langsung menamparnya dengan sekuat tenaga. Kejadian itu disaksikan oleh Vio dan Meta.


"Tante—"ucap Meta yang langsung menutup mulutnya.


Vio dan Meta tak mampu berkata-kata karena Putri benar-benar terlihat sangat marah.


"Begini cara kamu sekolah?!" teriak Putri di hadapan Yura.


Kini air mata menetes ke lantai dari mata Yura yang sedang tertunduk menahan sakit hati dan sakit di pipinya itu.


"Aku akan mengirim kamu ke Jepang, Yura! Biar papa kamu yang mendidik kamu. Aku capek ngelihat kamu kayak gini! Kamu nggak pantas diajarin jadi manusia!" tegas Putri.


"Lebih nggak pantas kalau aku lahir ke dunia ini! Aku nggak pernah minta dilahirin kayak gini dan punya keluarga kayak gini!" teriak Yura.


"Ra, udah!" ucap Meta agar semuanya tidak bertambah parah.

__ADS_1


Kejadian Yura yang memukuli Prethayata hingga membuat gadis itu harus dilarikan ke rumah sakit akibat kekurangan darah, berujung pada sanksi skorsing yang harus Yura jalani selama satu minggu. Yura pulang bersama ibunya dan kamar asrama itu tersisa dua orang saja yakni Vio dan Meta.


***


"Vin!" Meta berlari menghampiri Vin di koridor kelas dan membawa pria itu ke tempat yang sepi. "Yura di skors seminggu!" lanjutnya.


"Gara-gara Prethayata?" tebak Vin.


"Iya, dia juga digampar dari Tante Mput tadi! Dia nangis, Vin!" oceh Meta.


"Kok bisa digampar? Emangnya dia kenapa?" tanya Vin lagi.


"Nggak tahu. Mungkin Tante Mput capek bolak-balik ke sekolah cuma ngurusin ginian. Apa lagi 'kan kemaren Prethayata sampai pingsan, sampai masuk rumah sakit!" jawab Meta dengan penuh ekspresif.


"Yura sampai nangis? Lo lihat?" tanya Vin lagi dan lagi.


"Iya! Soalnya dia digampar di depan gue sama Violin, Vin! Dih, kesian sama Yura! Tante Mput juga bilang kalau Yura mau dikirim ke Jepang biar dia bisa diurusin sama Om Angga!" Meta terus mengoceh soal sepupunya itu.


"Emangnya dia kenapa sih sampai mukulin Prethayata?!" tanya Vin lagi.


"Ya itu gegara lo! Dia belain lo! Si kutu kupret yang nyebarin rumor soal lo itu anak haram atau apalah itu! Makanya Yura kelewat kesel. Kalau gue seberani Yura, juga udah gue gamparin itu cewek! Tapi gue nggak berani," jawab Meta.


"Prethayata yang nyebarin rumornya?" tanya Vin tak percaya. Dari mana gadis itu mengetahui seluk beluk soal Vin?


Vin harus menjaga rapat rahasia keluarganya. Ia tak ingin berita itu terdengar hingga ke telinga Feno, selaku pria yang ia anggap ayah sedari kecil. Ia tak ingin Feno bersedih jika mengetahui bahwa Vin harus tinggal bersama Rafa nantinya. Bagaimanapun Vin adalah anak kandung Rafa. Meski Feno menolak kenyataan itu, tapi tidak akan mengubah apa yang terjadi.


Meski sebenarnya Vin tidak ingin tinggal bersama pria yang telah membuat hidup ibunya menderita. Tapi, Vin juga tidak ingin menjadi anak yang durhaka seperti yang sering ia jadikan ejekan untuk Yura.


Juga untuk kasus Yura yang hingga mendapatkan sebuah tamparan dari ibunya. Vin tak menyangka jika gadis itu sampai menangis di hadapan Meta dan Violin.

__ADS_1


Sejak kecil, Yura memang jarang bicara. Ia hanya merasa lebih dekat dengan suster dan asisten rumah tangganya. Vin mengetahui hal itu, karena semasa kecil mereka sering bertemu di toko buku Gibi. Vin terbiasa membantu ibunya di kantin, sedangkan Yura hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama susternya.


Apa yang membuat Yura sampai sebenci itu pada sosok Putri? Kenapa Yura bertingkah seperti ini hanya kepada ibunya?


__ADS_2