Hipotalamus

Hipotalamus
Lo Yakin, Vin?


__ADS_3

Sepulang sekolah, mereka semua berjalan menuju asrama. Di sana, Vin dan Marc terkekeh menyusun rencana untuk membalas perbuatan Kim Tae Young. Sementara Jong Woo merasa heran melihat mereka berdua. Ia mulai merasa sendirian di kamar tersebut. Akibat dari perbuatannya sendiri.


Jong Woo tahu bahwa semua yang ia lakukan adalah salah. Termasuk membuat Meta berhenti sekolah dan melakukan home schooling karena merasa takut pada dirinya. Marc lebih dekat dengan Vin. Jong Woo tak memiliki teman semenjak kejadian itu semua.


"Lo yakin, Vin? Kalau dia lapor ke Kepala Sekolah gimana?" tanya Marc.


"Donatur terbesar di sekolah ada di belakang gue. Santuy!" ucap Vin yang disambut kekehan dari temannya tersebut.


"Anak donatur nih bos, senggol dong!" ejek Marc sambil tertawa.


"Anak Tuan Rafa nih bos, senggol dong!" balas Vin yang ikut tertawa.


"Bisa aja lo, pantat panci!" ucap Marc sambil memukul pelan kepala temannya tersebut.


***


Sementara itu, Rafa masih memikirkan soal Vin dan Jong Woo.


"Ini bukan masalah yang besar, Tuan Rafa. Cuma masalah anak-anak," ucap Tuan Lee.


"Iya, saya tahu soal itu. Saya hanya ingin mengasah tanggungjawab Vin. Bagaimana dia bisa menjaga pertemanan antar rekan bisnis, jika pertemanan sekelasnya saja ia tak bisa menjaganya," balas Rafa.


"Anak-anak wajar bertengkar. Lalu mereka akan berteman kembali. Semua hanya butuh waktu. Kita yang sudah dewasa pun masih berkemungkinan untuk bertengkar. Terutama tentang bisnis," ucap Tuan Lee sambil tersenyum dan menyeruput minuman yang disediakan.


"Apa menurut Anda Vin dan Jong Woo tidak akan berteman lagi?" tanya Rafa.


"Mereka akan berteman lagi. Kita tunggu waktunya saja. Jangan dipaksa karena anak-anak tidak suka hal itu. Mereka akan melakukan hal yang sebaliknya jika kita memaksa untuk melakukan sesuatu," ucap Tuan Lee.


"Anda sangat baik dalam mengurus dan mengerti anak-anak," ucap Rafa sambil tersenyum.


"Di Korea anak-anak belajar terlalu keras. Sebisa mungkin orang tua mematok angka nilai yang tinggi untuk dicapai sang anak. Berbeda dengan di Indonesia yang membebaskan anak-anaknya. Saya lebih setuju cara didik orang Indonesia. Karena kesehatan mental anak-anak adalah hal yang penting dan tidak bisa dibeli menggunakan uang. Nilai, bisa saja kita menyogok pihak sekolah. Tapi bagaimana dengan mental anak-anak? Nilai bisa membawa mereka ke tempat pekerjaan yang baik. Tapi jika mental mereka tidak kuat untuk menghadapi dunia kerja, sama saja tidak ada gunanya," jelas Tuan Lee. Rafa mengerti lebih banyak tentang menghadapi Vin dari beliau.


"Anda yang terbaik, Tuan Lee," ucap Rafa sambil menawarkan minuman kembali untuk rekan bisnisnya tersebut.


Tuan Kim baru saja datang ke pertemuan santai tersebut. Rafa dan Tuan Lee langsung menyambutnya untuk ikut bergabung bersama.


"Halo, Tuan Kim!" sapa Rafa begitu ramah.


"Kami baru saja membahas anak-anak," ucap Tuan Lee.

__ADS_1


"Ya, membahas penerus adalah hal yang tak pernah ada habisnya," balas Tuan Kim.


"Bagaimana dengan Kim Tae Young?" tanya Rafa.


Tuan Kim tersenyum. "Dia jarang bicara di rumah," jawabnya.


"Wah, mungkin dia ingin jalan-jalan, Tuan Kim. Belikan dia tiket liburan bersama teman-temannya! Ha ha!" goda Tuan Lee.


"Arnold tidak boleh berlibur sebelum mendapatkan ranking satu di sekolahnya," jawab Tuan Kim.


Hal itu membuktikan betapa sempurnanya sebuah nilai di mata orang asli negara ginseng tersebut.


"Bagaimana dengan anak Anda, Tuan Rafa?" tanya Tuan Kim.


"Vin dan Jong Woo sedang bertengkar. Kami ingin mereka berteman kembali karena mereka teman sekelas dan sekamar di asrama," jawab Rafa.


"Wah, bukankah anak-anak harusnya mempersiapkan ujian tahun depan? Teman bisa dicari di mana saja," balas Tuan Kim sambil terkekeh membuat Rafa dan Tuan Lee saling menoleh.


"Ya, kami sudah tidak mempermasalahkan nilai. Tuan Rafa mengirim Vin ke International High School agar anaknya bisa mempelajari bisnis. Dia juga sudah mengajak anaknya itu untuk terjun langsung ke perusahaan. Soal pekerjaan, kami akan mewariskan perusahaan kepada mereka," imbuh Tuan Lee.


"Jika di keluarga kami. Perusahaan akan diwariskan pada siapa yang pantas. Kami tidak memanjakan anak-anak," balas Tuan Kim.


"Semuanya tergantung pada perspektif masing-masing," ucap Rafa menengahi perdebatan tersebut.


Sepulang dari pertemuan tersebut, Rafa kembali mengirimkan pesan kepada Vin.


"Ingat Vin, kau adalah putra tunggal pemilik GG Group. Ayah harap kamu bisa menjaga nama baik keluarga dan perusahaan," tulisnya pada pesan tersebut.


Vin membacanya dan langsung membalas, "Iya."


"Bagaimana soal kamu dan Jong Woo?" tanya Rafa.


"Sama saja," balas Vin.


"Apa kamu sudah pernah meminta maaf padanya?" tanya Rafa lagi.


"Tidak," jawab Vin singkat.


"Kenapa? Apa kamu tidak ingin berteman dengannya lagi?" Rafa kembali bertanya.

__ADS_1


"Aku tidak bersalah. Dia yang harus meminta maaf atas perbuatannya terhadap Meta. Apa Ayah tahu? Tante Debi sedang mengurus pemberhentian Meta dari sekolah ini dan dia akan melakukan home schooling. Dia mengalami trauma berat karena Jong Woo," tulis Vin.


Rafa membaca pesan itu dan menutup ponselnya. Ada dua hal yang ia tangkap dari penjelasan Vin tersebut. Mungkin Vin benar, Jong Woo yang bersalah pada kasus ini. Mungkin juga ia tidak menceritakan semua ini kepada Tuan Lee. Seharusnya mereka meminta maaf kepada Debi karena telah membuat anaknya seperti itu.


Rafa mendadak kesal pada anak rekan kerjanya tersebut. Bagaimana pun, Meta adalah keponakan yang Rafa miliki. Mungkin Debi juga tidak mengetahui pasal ini.


Rafa menelepon Tuan Lee dan mengajaknya untuk melakukan pertemuan di lain kesempatan. Tuan Lee harus mengetahui perbuatan anaknya. Karena jika tidak, sampai kapanpun Meta tetap akan menjadi korban.


***


Jauh di negeri sakura. Yura dan Kayuki kembali berlari kocar-kacir akibat kejaran beberapa pria.


"Kenapa nggak dilawan aja sih?! Dari pada kabur-kaburan kayak gini?!" omel Yura yang sudah lelah berlari sedari pulang sekolah.


Kayuki hanya terdiam sambil mengatur napas. Ia pun meeasa lelah karena tak hanya melindungi dirinya, ia juga harus melindungi Yura yang kini bersamanya.


"They already know your face!" tegas Kayuki.


"So what?" balas Yura.


"They will kill you!" balas Kayuki dan berjalan memasuki sebuah gubuk kosong. Meski begitu, gubuk tersebut tak tampak seram sama sekali karena bersih dan terawat.


"Maybe you will drop out of school because of this!" ucap Kayuki sambil memhuka pintu gubuk tersebut.


"Drop out? Kenapa? Gue nggak ada masalah apa-apa!" bantah Yura.


Kayuki kembali berdiam diri.


"Yuki!" panggil Yura menunjuk pria yang mencari mereka sedang berjalan menuju gubuk tersebut.


Kayuki membuka sebuah papan dari lantai rumah tersebut dan terdapat tangga menuju ruang bawah tanah. Ia menarik tangan Yura untuk segera masuk dan menutup kembali papan tersebut.


Yura menutup hidungnya karena aroma debu langsung menusuk indera penciumannya. Begitu Kayuki menyalakan lampu, mata Yura tertuju pada foto-foto yang melekat di dinding ruangan tersebut.


"My family is a mafia group. They stop by Japan to transit drug shipments," jelas Kayuki menjelaskan apa yang terjadi pada Yura.


Yura mengangguk perlahan sebenarnya ia tak mengerti akan apa yang Kayuki katakan. Mungkin foto-foto yang berada di sana adalah foto para mafia narkotika, begitu pikir Yura.


"Did your family become their target?" tanya Yura.

__ADS_1


"Target? What are you talking about? Instead they forced me to participate in the illegal activities. I'm too tired of dealing with drugs every night. I always feel sleepy in the morning. That's why I always sleep in school and your talkative mouth is depriving me of sleep!" omel Kayuki dengan begitu fasih dalam berbahasa Inggris.


"Hah?! Jadi keluarga lo bandar narkoba gitu?! Jadi yang ngejar kita tadi itu polisi?!" balas Yura yang belum juga mengerti.


__ADS_2