
"Selain kamu, siapa lagi yang lihat kejadian itu?" tanya Rafa.
"Marc, Vio, semua murid di kelas aku lihat kejadian itu karena kita lagi praktek renang. Arnold/Kim Tae Young alias anak Tuan Kim juga ngelihat kejadian itu. Vio juga sampai nonjok muka Jong Woo karena dia udah keterlaluan. Meta nangis sambil meluk Vio karena takut tenggelam," jawab Vin lagi.
"Berarti Meta nggak pingsan tenggelam terus dibawa ke rumah sakit?" tanya Rafa lagi.
"Nggak. Dia cuma takut. Terus dia sakit di asrama. Vio bilang ke aku kalau Meta pingsan di sana. Jadi aku lapor pengawas asrama buat bawa Meta ke rumah sakit. Terus, pihak sekolah nelepon Tante Debi buat kasih tahu kejadian itu," jelas Vin sesuai apa yang sebenarnya terjadi.
"Tunggu-tunggu! Ayah masih nggak habis pikir. Motif Jong Woo ngelakuin ini semua buat apa?" Rafa masih mencari tahu pokok permasalahan hal tersebut demi kesehatan mental sang keponakan yang sudah dirusak akibat perundungan yang dilakukan oleh anak rekan bisnisnya itu.
"Awalnya sih, dia bilang suka sama Meta. Selebihnya, aku nggak tahu," jawab Vin.
"Kira-kira kalau Ayah lapor masalah ini ke Tuan Lee, gimana?" Pertanyaan itu membuat Vin membesarkan kedua bola matanya ke arah sang ayah.
"Jangan! Kayaknya Jong Woo juga nyesal karena kejadian ini. Tapi dia nggak pernah ngomong lagi. Mungkin dia lagi ada masalah!" cegah Vin.
"Tapi Tuan Lee harus tahu kelakuan anaknya di sekolah seperti apa, Vin!" bantah Rafa.
"Tapi, kalau misalnya Jong Woo lagi ada masalah sama ayahnya, gimana? Ditambah Ayab ngomong masalah ini ke Tuan Lee. Yang ada masalah Jong Woo makin rumit," ucap Vin.
"Itu konsekuensinya, berani berbuat harus berani bertanggungjawab," ucap Rafa.
"Nggak semudah itu, Yah. Jong Woo bisa berhenti sekolah kalau ada masalah keluarga. Soalnya dia nggak pernah cerita soal keluarganya. Dia nggak terbuka sedalam itu. Meskipun aku sama Marc, teman sekamarnya di asrama," ucap Vin lagi.
"Jadi, menurut kamu harusnya gimana?" Rafa tak mengerti akan apa yang seharusnya ia lakukan saat ini.
Meski begitu, ia merasa cukup senang karena bisa berdiskusi bersama anaknya. Mungkin inilah yang dirasakan oleh Feno selama bertahun-tahun. Seandainya Rafa bisa memiliki kesempatan emas ini sedari Vin masih kecil. Begitu yang terlintas di otak Rafa saat melihat wajah Vin.
"Kita tunggu dulu sampai Jong Woo yang mengakui kesalahannya," ucap Vin.
__ADS_1
"Tapi kita tunggu sampai kapan, Vin?!" bantah sang ayah.
"Sampai Jong Woo ngaku dan minta maaf ke Meta," jawab Vin.
"Meta nggak mau ketemu Jong Woo, dia pasti ketakutan. Jong Woo juga tidak akan mengakuinya kalau tidak didesak. Lalu kita menunggu lebih lama, dan selama itu juga Meta menderita," ucap Rafa.
"Jadi Ayah maunya gimana? 'Kan Ayah sendiri yang bilang kalau aku harus minta maaf ke Jong Woo. Aku harus menjaga hubungan antar teman sebagai anak rekan bisnis perusahaan. Kenapa sekarang malah mau mendesak Jong Woo?" tanya Vin.
"Ya, karena waktu itu Ayah nggak tahu apa yang terjadi sama kalian," jawab Rafa.
"Sekarang?" ucap Vin.
"Sekarang Ayah ngerti kenapa kamu kayak gitu. Kenapa kamu sampai rela langgar permintaan Ayah. Ternyata Jong Woo emang sudah keterlaluan, sangat-sangat keterlaluan menurut Ayah. Meta itu keponakan Ayah loh. Ayah nggak terima loh lihat Meta digituin. Tadi siang aja, pas Ayah ke rumah Tante Debi dan lihat kondisi Meta di sana, Ayah sedih!" jelas Rafa yang berusaha menahan air matanya begitu mengingat ekspresi Meta yang terlihat selalu waspada pada apa yang berada di sekelilingnya.
"Jadi Ayah maunya gimana?" tanya Vin.
"Ayah mau laporin Jong Woo ke Tuan Lee. Tuan Lee harus tahu kelakuan anaknya di sekolah! Kita punya korban, keponakan Ayah sendiri. Kita juga punya saksi, kamu dan anak Tuan Kim. Jong Woo nggak bisa ngelak kalau kita semua jujur," jawab Rafa.
"Maksudnya? Rumit kayak gimana?" Rafa balik bertanya.
"Tuan Lee itu rekan bisnis Ayah. Kalau dia cabut semua sahamnya dari perusahaan Ayah gimana?" tanya Vin.
"Ayah butuh rekan kerja yang profesional!" jawab Rafa.
"Ya, kalau gitu, terserah Ayah. Aku ikut aja," ucap Vin.
***
Setelah kejadian itu, Rafa menghubungi Tuan Lee dan menceritakan masalah tersebut.
__ADS_1
"Halo, apa kita bisa bertemu malam ini, Tuan Lee?" ucap Rafa pada panggilannya tersebut dan melakukan pertemuan bersama Tuan Lee.
Di sana Rafa membahas banyak hal bersama rekan kerjanya tersebut. Termasuk mengenai Jong Woo dan Meta.
Jong Woo benar-benar berada di dalam sebuah masalah. Setelah berita pasal Meta itu tersampaikan ke telinga ayahnya. Tuan Lee tak mampu membendung rasa sabar untuk menghadapi Jong Woo.
"Kamu yang benar-benar aja, Jong Woo! Kamu bikin malu keluarga! Bikin malu saya! Kamu tahu 'kan Tuan Rafa itu pemimpin GG Group! Dengan gampangnya kamu bikin keponakannya sampai trauma kayak gitu?! Tuan Regi juga investor di GG Group, Jong Woo!! Kamu dengar ini baik-baik! Kamu sudah mencoreng nama baik keluarga saya!"
Masih terdengar jelas kalimat yang Tuan Lee sampaikan di telinga Jong Woo. Kamar asrama yang hening kini benar-benar terasa sepi. Marc dan Vin pulang hari ini. Jong Woo terlalu takut untuk menghadapi keluarganya setelah ia membuat semua ini terjadi kepada Meta.
Jong Woo berbaring di kasurnya dan mengingat kejadian ia yang selalu menjahili wanita yang ia sukai tersebut.
"Gimana caranya bikin lo tertarik sama gue, Met? Sampai gue berlaku jahat cuma buat lo suka sama gue," ucap Jong Woo bermonolog.
"Sekarang semuanya kacau! Cuma karena gue suka sama lo!" teriak Jong Woo di dalam kamar asramanya tersebut.
***
Sementara di Jepang, matahari baru saja menjelang sore. Yura tersenyum melihat perubahan yang terjadi pada Kayuki. Ia sudah mengurangi jam tidurnya di kelas. Ia juga sudah mau mengerjakan tugas.
"Suer demi apa pun! Gue nggak percaya itu Kayuki apa malaikat nyamar! Kenapa semenjak ada lo di sini, dia jadi berubah? Jangan-jangan dia suka sama lo, Ra!" ucap Zahra sambil berjalan menuju gerbang sekolah.
"Gue juga suka sama dia," balas Yura.
"Aduh, gue rada ngeri kalau lo ngomong gitu! Tapi ini seriusan. Kayuki yang biasanya molor! Sekarang jadi murid normal! Ya, walaupun kadang dia masih tidur juga. Tapi nggak lama! Cuma bentaran doang! Dia juga bikin tugas 'kan sama lo?!" tanya Zahra.
"Yup!" jawab Yura sambil tersenyum.
"Dih, anak Yakuza loh itu, Ra! Anak Yakuza! Mafia! Lo yang bener aja! Masa bikin anak Yakuza jatuh cinta! Dih, nggak masuk akal!" Zahra mulai mengomel.
__ADS_1
"Lo mau tahu sesuatu nggak?" tanya Yura sambil tersenyum-senyum.