
"Kayaknya Meta trauma," ucap Vio di perjalanan.
"Dia emang trauma tenggelam dari kecil," ucap Vin.
"Lo kenal dia dari kecil?" tanya Vio.
"Iya! Kita pernah main pakai kolam karet gitu. Tiba-tiba dia tenggelam. Makanya dia jadi takut sampai sekarang!" jelas Vin.
"Main bareng? Keluarga lo deket sama keluarganya Meta? Bukannya lo orang biasa aja ya?" tanya Vio
Vin terkejut mendengar pertanyaan tersebut. "Hmm, itu ... 'kan orang tua gue kerja sama bokapnya Meta di Gibi." Untungnya ia memiliki alibi.
"Oh iya ya, kok gue lupa," balas Vio.
Sesampainya Vin dan Vio di sekolah bertepatan dengan jam istirahat hari ini. Mereka menjumpai Jong Woo yang duduk termenung di depan kelasnya. Jong Woo mulai memikirkan soal Meta. Perasaan itu masih ada untuk adik kelasnya tersebut, namun Jong Woo tak bisa mengutarakannya.
"Lo harus ke rumah sakit, minta maaf sama orang tuanya Meta! Gegara lo anaknya sampai trauma kayak gitu! Manusia 'kan lo? Kalau masih punya hati. Ya kalau lo udah jadi setan sih terserah lo aja!" ucap Vio berlalu di hadapan Jong Woo menuju lantai atas.
Vin memilih untuk masuk ke dalam kelas tanpa memerdulikan pria itu.
"Jadi gimana? Meta baik-baik aja?" tanya Marc.
"Trauma kayaknya. Menurut gue sih, mungkin dia bakalan pindah sekolah demi ngehindarin Jong Woo." Vin membereskan mejanya yang berantakan.
***
Sedangkan yang terjadi di Jepang, Yura masih dibuat risih akan sikap Kayuki (pria yang duduk sebangku dengannya). Hampir semua jam mata pelajaran Kayuki hanya menghabiskan waktu untuk tidur.
"Emangnya lo di rumah, nggak tidur?" tanya Yura.
Kayuki menoleh padanya sambil berbaring.
"Ngapain sekolah? Tidur di rumah lebih enak!" sindir Yura lagi.
Kayuki malah memilih untuk memejamkan matanya dengan posisi masih menghadap ke arah gadis tersebut.
"Jangan diajak ngobrol!" bisik Zahra sambil memperagakan kata tidak dengan kedua tangannya.
"Kenapa?" tanya Yura tak mengerti.
__ADS_1
"Dia nggak bisa bahasa Indonesia," jawab Zahra.
"Hah?! Nggak bisa bahasa Indo tapi sekolah di sini? Gimana ceritanya?" tanya Yura lagi.
"Ceritanya panjang! Pokoknya jangan diajak ngobrol!" bisik Zahra pada teman barunya itu.
"Emangnya kenapa sih?" tanya Yura lagi dan lagi karena penasaran terhadap sosok yang menjadi teman sebangkunya tersebut.
Kayuki kembali membuka mata karena merasa terganggu akan obrolan Yura. Ia menatap lurus ke wajah gadis itu dengan ekspresi datar.
"You can sleep in your house! this is school! come here if you want to study, not to sleep!" omel Yura dengan berbahasa Inggris.
"Stop talking with your noisy mouth!" tegas Kayuki dengan suara yang amat berat.
"Noisy mouth? Who are you? Is this school yours? Emangnya ini sekolah punya bapak lo?! Kalau mau tidur, di rumah aja!" tegas Yura.
"Stop talking about me!" tegas Kayuki menendang bangku yang sedang Yura duduki. Gadis itu menarik napasnya dalam pertanda bahwa ia harus menahan emosi yang bergejolak.
Tak sampai di sana saja, Yura malah semakin berpikir bahwa Kayuki memiliki sesuatu yang ditakuti oleh pihak sekolah. Buktinya, tak ada pihak sekolah yang berani memberikan sanksi Drop Out kepada murid tersebut.
***
"Lo buat apa sih nyari tahu tentang dia, Ra?" tanya Zahra.
"Ya gue pengen tahu aja. Kenapa dia bisa seenaknya kayak gitu di sekolah!" jawab Yura santai sambil menyantap makan siangnya di kantin.
"Mending lo jangan ngusik Kayuki, Ra! Seluruh sekolah juga tahu dia siapa! Mending biarin aja dia mau ngapain di sini!" ucap Zahra.
"Ya nggak bisa gitu dong! Masa dia seenaknya di sekolah tidur. Tugas nggak dibikin. Guenya gimana kalau ada tugas kelompok? Mana sekelompoknya sama temen sebangku! Lo mah enak dikerjain sama-sama! Lah gue ngerjain sendiri!" balas Yura yang sudah merasa kesal akan tingkah Kayuki.
"Udah, nggak apa-apa, Ra! Ikhlasin aja! Cuma nilai doang kok!" ucap Zahra.
"Nggak! Justru karena nilai! Masa gue ngerjain sendirian setengah mati ampe bagadang malah dia ikutan dapet nilai! Pokoknya gue mau tahu kenapa dia bisa seenaknya kayak gini dan kenapa nggak ada satu pun pihak sekolah yang berani negor dia!" omel Yura.
"Ra! Lo juga bakalan kaget kalau tahu dia siapa! Kayuki itu emang kayak gitu! Dia juga katanya udah tiga kali nggak naik kelas! Jadi biarin aja, Ra! Lo jangan ikut campur ke dalam masalah hidupnya dia!" ucap Zahra lagi.
"Gue mau nyari tahu soal dia!" tegas Yura dan kembali ke kelasnya.
"Raa!! Yuraa!!" panggil Zahra dan tak mendapatkan respons apa pun dari Yura.
__ADS_1
***
Pagi itu, Yura berangkat ke sekolah dengan menggunakan bus sekolah. Di sana ia bertemu dengan Kayuki yang juga berangkat dengan bus. Seperti biasa pria itu duduk di kursi penumpang dan tertidur.
Yura melihat leher Kayuki yang terluka akibat sayatan sesuatu. Gadis itu memilih untuk duduk di sebelah Kayuki sebelum bangku itu diduduki oleh orang lain. Lagipula hanya Yura yang berani duduk bersebelahan dengan pria itu.
"I saw the wound on your neck." Yura ikut bersandar di kursi bus.
Kayuki menoleh padanya dan menyentuh leher yang terasa sakit sedari malam tadi. Ia mencoba menutupinya dengan kerah baju seragam sekolah.
Hingga sampai sekolah, mereka tak mengeluarkan sepatah kata pun. Kejadian itu disaksikan oleh Zahra yang melihat Kayuki dan Yura datang ke sekolah bersama menaiki bus. Zahra malah menggelengkan kepalanya melihat itu semua.
***
Sementara itu yang terjadi di malam kepulangan Vin ke rumah ayahnya. Rafa memang sudah menunggu kedatangan Vin untuk membahas suatu masalah yang tersampaikan di telinganya sejak beberapa hari yang lalu.
Vin baru saja hendaj berbaring di kasur kamarnya. Tiba-tiba Rafa membuka pintu kamar dan mengejutkan Vin.
"Ada apa sama kamu, Vin?" tanya Rafa yang terdengar seperti marah.
"Apa?" Vin malah balik bertanya karena tak mengerti.
"Kenapa kamu berantem sama anaknya Tuan Lee?" tanya Rafa lagi.
"Tuan Lee? Jong Woo?" balas Vin.
"Kan kemaren Ayah udah bilang ke kamu kalau kamu itu harus menjaga pertemanan kamu dengan anak-anak para investor besar di GG group!" omel Rafa.
Vin pun tak terima karena memang Jong Woo yang memulai semuanya. "Begini! Jong Woo yang duluan gangguin Meta!" bantah Vin.
"Itu urusan dia dan Meta. Kenapa kamu malah ikut?" balas Rafa sambil memijat kepalanya.
"Meta itu anaknya Tante Debi! Gimana aku nggak ikut campur kalau dia sampai bikin Meta tenggelam di kolam renang sekolah!" bantah Vin lagi.
"Meta? Meta adiknya William?!" tanya Rafa.
"Iya! Kalau aku nggak kenal, ngapain juga aku ikut campur!" balas Vin dengan kesal.
"Kamu harus perbaiki hubungan sama Jong Woo, Vin. Kalau perlu kamu yang minta maaf duluan ...."
__ADS_1