Hipotalamus

Hipotalamus
Aku Ibumu


__ADS_3

"Nggak. Kenapa?" Yura balik bertanya sambil terus membersihkan lokernya.


"Lo harus janji sama gue!" tegas Vin.


"Janji apa? Gue nggak ada waktu buat becanda, Vin," ucap Yura.


"Lo harus janji ke gue. Apa pun yang terjadi, lo jangam kepikiran buat bunuh diri lagi!" tegas Vin.


Yura hanya terdiam dan hendak pergi. Tapi Vin menahannya.


"Gue tahu itu nggak benar. Jadi lo jangan pikirin soal itu. Lo bebas bisa mukulin mereka yang ngejekin lo," ucap Vin.


"Sejak kapan lo jadi bawel gini?" tanya Yura.


Vin juga tak mengerti mengapa ia melakukan ini semua. Ia hanya merasa takut Yura berpikir untuk bunuh diri lagi seperti kemarin.


"Gue nggak bawel. Gue cuma nggak mau aja lo kepikiran kayak kemaren!" bantah Vin.


"Terus kenapa kalau gue kepikiran kayak kemaren?" tanya Yura lagi.


Vin menggaruk tengkuknya. Ia tak memiliki alasan untuk hal ini.


"Gue cuma nggak mau aja lo kayak gitu. Emangnya salah?" Vin malah balik bertanya.


"Nggak salah sih, tapi kenapa?" tanya Yura.


"Nggak kenapa-kenapa. Gue cuma nggak suka aja!" tegas Vin.


"Kenapa lo nggak suka?" tanya Yura lagi.


Ini benar-benar terasa aneh. Vin tidak seperti ini. Yura tahu betul seperti apa pria yang berada di hadapannya itu. Vin malah akan mengejekhya di saat semua orang mengejek Yura. Tapi kali ini berbeda. Vin benar-benar berbeda.


"Ya, gue nggak mau aja lo mati sebelum gue siksa. Ntar gue berantem siapa kalau lo mati?" ucap Vin.

__ADS_1


"Emangnya lo nggak bisa berantem sama orang lain, selain gue?" tanya Yura.


"Nggak ada! Gue cuma mau berantem sama lo!" tegas Vin yang hendak pergi.


"Lo suka ya sama gue?" tanya Yura membuat Vin terdiam.


Sabtu ini Yura pulang ke rumahnya. Vin mengikuti gadis itu hingga ke kediaman Putri dan anak semata wayangnya tersebut. Setelah melihat Yura memasuki rumah, Vin juga pulang ke rumah ayahnya.


Yura menghempas tasnya ke atas kasur dan mencoba untuk menghubungi Angga lagi. Namun, pria itu tak juga menjawab panggilannya. Hingga Yura menyerah untuk menghubungi ayahnya dan tertidur.


Hari yang begitu melelahkan untuk Yura. Ia bermimpi bahwa Putri bukanlah ibu kandungnya.


"Anda siapa?" tanya Yura pada sesosok wanita paruh baya.


"Aku ibumu," jawab wanita itu dan hendak pergi. Tapi, Yura menahannya.


"Ibu? Maksudnya apa? Ibu saya adalah Maulidia Saputri. Anda siapa?" tanya Yura lagi.


"Aku ibumu. Ibu kandungmu ...." Belum selesai mimpi itu, Yura terbangun dengan air mata yang berlinang.


Saat Yura terbangun, ia mendengar suara Putri yang tengah marah-marah. Gadis itu ke luar kamar untuk mencari tahu penyebab ibunya marah-marah. Ia mendapati Putri yang sedang menelepon seseorang di balik jendela kamar Yura.


"Untuk apa aku menyuruhnya? Aku bisa meneleponmu jika aku mau! Bukankah dia memang selalu mengganggu? Iya, terus saja kau manjakan anakmu itu, Angga! Sampai dia membuatmu masuk penjara karena memukuli anak orang atau mempermalukanmu di depan orang banyak, karena semua orang tahu kalau anakmu itu seorang pembunuh!" ucap Putri dengan nada kesal.


Yura langsung mengetahui bahwa Putri sedang menelepon Angga.


Putri memutus panggilan itu dan berjalan memasuki kamar Yura.


"Ada apa denganmu, Yura? Apa kamu ingin papa kamu yang datang ke sekolah, sekarang?! Apa seperti ini caramu menyusahkan kami?! Bertengkar dengan siapa lagi kamu, Yura?!" bentak Putri di depan pintu kamar anaknya itu.


Yura yang tadinya merasa senang karena ia bisa menghubungi Angga, kini dadanya kembali sesak setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh ibunya. Menyusahkan? Kata itu tersemat paling atas di dalam otak Yura.


"Siapa yang menyusahkan?" ucap Yura.

__ADS_1


"Tentu saja, kamu, Yura! Apa kamu benar-benar ingin bersekolah di Jepang? Kalau kamu seperti ini setiap saat. Aku tidak punya pilihan lain, selain mengirimmu ke Jepang dan tinggal bersama papa kamu! Jujur saja, aku sudah tidak sanggup mengurusimu di rumah ini!" teriak Putri.


"Mengurusi aku? Sejak kapan Anda mengurusi saya!" balas Yura dengan ikut berteriak.


Putri menampar anak gadisnya itu karena Yura menggunakan kata yang sopan namun tak pantas untuk dirinya. "Apa aku pernah mengajari kamu seperti ini, Yura?!" teriak Putri yang sudah kehabisan kata sabar.


Yura menggeram setengah mati. Ia mengepal tangannya dan membalas untuk menampar Putri dan membuat ibunya itu terdiam dengan air mata yang menetes tanpa suara.


"Mama yang ngajarin aku buat nampar orang kayak gitu," ucap Yura yang juga sudah menangis sedari tadi.


Ia mengambil tas dan pergi dari rumah itu menuju Gibi. Tak ada tempat pelarian yang lain untuknya. Di rumah bergitu menyiksa dengan berhadapan dengan sang ibu. Di sekolah pun sama saja saat semua orang mengejek ayahnya.


Di sana, Yura duduk menyendiri dan merebahkan kepalanya di atas meja. Ia menatap rak buku yang menjulang tinggi. Terlintas di benaknya untuk bunuh diri. Yura melirik pisau yang pernah dibuang Vin ke dalam sela rak.


"Aku bisa berkelahi dan bertengkar dengan semua orang, kecuali ibuku. Aku terlalu kurang ajar untuk menanggapinya. Tapi, jika aku pergi dan mengabaikan, semuanya seperti pedang yang kubiarkan untuk membunuhku." Yura bermonolog di dalam benaknya.


"Yura!" panggil Feno dan gadis itu menoleh ke arahnya. "Om mau kunci Gibi. Kamu masih mau di sini?" tanya Feno.


"Kunci aja, Om," jawab Yura dan kembali menyandang tasnya ke luar.


"Oh iya, Vin kayaknya pulang juga hari ini. Kamu mau makan malam di rumah Om? Sekalian Om mau minta maaf soal Vin yang bikin kamu berantem terus sama dia," ucap Feno sambil tersenyum.


"Boleh, Om. Tapi aku sama Vin udah nggak pernah berantem lagi kok," jawab Yura membuat Feno merasa lega.


Yura dibonceng oleh Feno menuju rumahnya. Ini adalah kali pertama Yura melihat dan mengunjungi rumah pria yang selalu bertengkar dengannya itu. Rumah sederhana tanpa pagar berdiri di tengah lapangan tumput yang sangat luas. Beberapa anak kecil bermain dan berlarian di sana.


"Om Feno!" jerit anak-anak itu begitu mereka melewati lapangan tersebut.


"Jangan nendang bola ke arah rumah, ya! Nanti kacanya pecah lagi," ucap Feno menanggapi panggilan anak-anak itu.


"Siap, Om!" jawab mereka serempak.


Yura merasakan masa kecilnya yang bahagia, begitu melihat anak kecil yang bermain di sana. Yura, William dan Meta yang selalu bermain di rumah neneknya. Yura merindukan suasana itu.

__ADS_1


Yura memasuki rumah sederhana milik Nurul dan Feno. Nurul membuka pintu dan menyambut kedatangan mereka.


"Yura! Masuk, Ra!" ucap Nurul.


__ADS_2