
Vin menatap Nia yang sedang menyombongkan kedekatan mereka di hadapan teman-temannya. Vin ikut tersenyum saat Nia tertawa padanya.
"Lo mau sampai kapan di situ?" tanya Nia.
"Oh iya, gue balik dulu!" jawab Vin yang menyadari bahwa waktu berlalu begitu cepat.
Adegan Nia bersama teman-temannya itu masih tergambar jelas di otak Vin. Ia tertawa begitu di jalanan dan bersiap untuk mengejek Nia saat gadis itu pulang sekolah nantinya.
***
Sedangkan yang terjadi di rumah Kim Tae Young dan Yura, rumah itu terlihat sepi. Kim Tae Young telah berangkat kerja di usia mudanya tersebut. Sementara Yura berbaring di sofa ruang tamu sambil memakai masker wajah dan bermain ponsel.
"Non, saya boleh pulang sekarang, nggak? Soalnya anak saya masuk rumah sakit," ucap asisten rumah tangga mereka dan mengejutkan Yura.
"Masuk rumah sakit? Sakit apa?!" pekik Yura yang langsung membasuh masker kering di wajahnya tersebut.
"Demam berdarah, Non," jawabnya.
"Loh, kok nggak bilang?! Kalo ada apa-apa, bilang aja, Mbak! Kan bisa libur kerja dulu," omel Yura yang bergegas ke kamarnya.
"Ya, saya nggak mau ntar Nona kerepotan ngurus rumah," balas ART tersebut.
"Ya udah, aku antar ke rumah sakit ya, Mbak? Biar sama aku aja! Sekalian kita belanja buat keperluan di rumah sakit," ucap Yura bergegas memanggil sopir pribadinya yang disediakan oleh Kim Tae Young.
***
Sesampainya di rumah sakit, Yura malah bertemu Vin. Tanpa ragu wanita itu menghampiri Vin dan memukul pundaknya.
"Tuan Muda!" ejek Yura sambil terkekeh.
Vin menoleh padanya. Baru saja ia berhasil mengalihkan rasa sakitnya pada Nia, tapi Yura kembali datang dan membuatnya teringat kembali pada rasa sakit itu. "Oh, hai, Ra," sapa Vin.
"Lo ngapain di sini?" tanya Yura.
"Lo sendiri ngapain?" Vin balik bertanya.
"Gue abis jengukin anak ART gue," jawab Yura.
"Ooh," balas Vin.
"Lo ngapain di sini? Gue nanya nggak dijawab!" omel Yura.
"Bokap gue masuk rumah sakit," jawab Vin.
"Hah?! Om Feno?!" pekik Yura.
"Bukan," jawab Vin singkat.
"Om Rafa?!" pekik Yura lebih tak percaya lagi. "Gue mau liat, boleh nggak?" lanjutnya.
"Nggak boleh!" Vin langsung menjawab.
"Kenapa?" tanya Yura.
__ADS_1
"Ya serah guelah! Kan bokap gue!" balas Vin.
"Om Rafa itu adeknya Tante Debi! Tante Debi itu nikah sama Om Regi! Om Regi itu abangnya nyokap gue!" jelas Yura.
Vin langsung meraup wajah gadis itu agar ia tak melanjutkan omelannya tersebut dan berlalu.
"Gue mau liat!" ucap Yura dan mengikuti ke mana arah Vin melangkah. "Lama nggak ketemu, kok lo makin tinggi, Vin? Tanam tulang tambahan ya lo?" oceh Yura.
"Ngapain gue tanam tulang? Kalo bisa dibagi, gue donasiin buat lo!" balas Vin.
"Udah lama nggak berantem sama lo, Vin. Jadi gatel tangan gue mau mukulin," ucap Yura yang berjalan di belakang pria itu sambil terkekeh.
Tiba-tiba Vin berbalik dan membuat langkah Yura terhenti. Gadis itu mendongak demi melihat wajah Vin.
"Lo kenapa sih, Ra?!" omel Vin.
"Kenapa? Gue kenapa?" Yura juga menanyakan hal yang sama.
"Berisik banget mulut lo!" tegas Vin.
"Lah, serah mulut gue lah! Lo bisa tutup kuping kalo nggak mau denger," balas Yura.
"Lo juga bisa tutup mulut!" bantah Vin.
"Tapi gue maunya ngomong terus," balas Yura lagi.
"Sejak kapan lo jadi banyak omong kayak gini?" tanya Vin.
Hormon? Apa itu maksudnya Yura sedang hamil? Mengandung anak Arnold? Begitu bunyi batin Vin.
"Kenapa?" tanya Yura yang menyadari bahwa wajah Vin mendadak berubah.
Vin tak memberikan komentar apa pun. Ia kembali berjalan dan membawa Yura masuk ke dalam kamar rawat inap ayahnya.
"Om Rafa?" ucap Yura yang langsung menghampiri Rafa.
"Yura?" balas Rafa dengan napas ngos-ngosan.
"Om sakit apa?" tanya Yura.
"Komplikasi," jawab Vin cepat agar ayahnya tak perlu menjawab apa pun.
***
Yura dan Vin mengobrol cukup lama hingga Yura tak menyadari bahwa langit sudah tak sebiru saat ia ke luar rumah. Bias oranye menyapu awan-awan indah di balik jendela rumah sakit.
"Jadi lo ngurus perusahaan sekaligus kuliah?" tanya Yura yang tak percaya akan cerita-cerita Vin.
"Ya mau gimana lagi?" balas Vin.
Tiba-tiba ponsel Yura berbunyi. Ia segera menjawabnya karena panggilan tersebut berasal dari sang suami.
"Aku di depan rumah sakit!" tegas Kim Tae Young dan menutup telepon tersebut sebelum Yura menypaikan sepatah kata pun.
__ADS_1
Yura masih terdiam dan tak mempercayai apa yang Kim Tae Young katakan.
"Kenapa, Ra?" tanya Vin.
"Gue balik dulu, Vin," jawab Yura dan bergegas ke luar dari ruangan itu dan ia mendapati sosok suaminya di Ruang Tunggu.
"Ngapain ke rumah sakit?" tanya Kim Tae Young begitu menyadari kehadiran istrinya itu.
"Anaknya Mbak Je masuk rumah sakit, kena demam berdarah. Sekalian nganterin Mbak Je juga ke sini. Gue nggak nyetir kok! Dianterin Pak Mamat tadi!" jelas Yura yang langsung menjelaskan apa saja yang akan dicurigai oleh suaminya tersebut.
"Sampe sore?!" tegas Kim Tae Young.
"Iya, tadi ngobrol. Nggak ngeh kalo udah sore. Baru sadar pas lo nelepon," jawab Yura.
"Aku sampai nelepon Ibu! Kirain kamu ke sana!" ucap Kim Tae Young sambil mengusap pipi istrinya itu.
"Oh iya, mumpung di rumah sakit nih. Bisa Konsultasi kehamilan nggak ya?" tanya Yura berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Mana bisa? Udah sore gini! Biasanya dokter spesialis itu sampai jam 2an," jawab Kim Tae Young.
"Ya udah deh, besok-besok aja," ucap Yura.
***
Berpapasan dengan Yura dan Kim Tae Young, Nia berlalu menuju ke ruang rawat inap milik Rafa.
"Halo Kak Vin, My Bestie!" ucap Nia yang bersiap untuk mengejek Vin.
Vin menoleh pada gadis itu tanpa sepatah kata terucap.
"Ada yang jengukin ya?" tanya Nia begitu melihat dua buah gelas berisi minuman yang telah habis.
Nia duduk di sebelah Vin dan tiba-tiba gadis itu berbaring di pangkuan tuan mudanya tersebut. Nia mengambil ponselnya dan memotret dirinya bersama Vin. Nia terkekeh dan menggeliat geli sambil bermain ponsel.
Foto itu ia kirimkan ke sebuah grup kelasnya. Dalam hitungan sepersekian detik, grup itu menjadi ramai.
Vin berdiri dan membuat Nia hampir terjatuh. Pria itu ke luar ruangan. Nia kembali merasa bingung akan sikap Vin tersebut.
"Kenapa lagi sih? Padahal tadi pagi santuy-santuy aja," ucap Nia.
"Tadi ada Yura ke sini," ucap Rafa.
"Kak Yura?! Pantesan! Kenapa Kak Yura ke sini, Tuan?" tanya Nia.
"Vin yang bawa ke sini," jawab Rafa.
"Waduh, capek-capek gue bikin Kak Vin mood. Malah Kak Yura yang bikin mood Kak Vin hancur lagi," gerutu Nia.
***
Beberapa hari telah berlalu dan Nia akan menghadapi ujian nasional. Gadis itu meminta cuti demi memfokuskan diri untuk belajar. Sebagaimana yang pernah Nia katakan pada Vin, bahwa ia bersekolah dengan beasiswa dan pihak yang memberikan beasiswa tersebut mengharuskan Nia untuk mendapatkan ranking pertama di setiap ujian.
Cutinya Nia selama dua minggu itu membuat Vin linglung dan kesepian. Biasanya Nia akan selalu berisik dan bertengkar dengannya. Ia baru menyadari bahwa Nia adalah satu-satunya yang bisa mengalihkan rasa sakit hati yang ia derita akibat Yura.
__ADS_1