
Nia kembali menjadi pusat perhatian di sekolah setelah namanya menduduki peringkat nomor satu. Kesehatan Rafa memburuk saat diinfokan oleh dokter bahwa komplikasi kembali terjadi hingga menyerang jantung.
Vin tak bisa berpikir dengan jernih. Hari itu ia menangis sejadi-jadinya di toilet rumah sakit. Ia bingung. Tak ada tempat yang nyaman untuknya. Jujur saja, kehilangan sosok orang tua, bukanlah hal yang diinginkan oleh Vin. Meskipun Rafa pernah berlaku jahat pada dirinya dan sang ibu.
Vin duduk di sofa rumah sakit sambil memandangi Rafa yang terbaring lemas dengan alat tambahan untuk mendeteksi detak jantungnya. Air mata Vin kembali menetes, dengan cepat ia mengusapnya.
Malam itu terasa menyakitkan. Mungkin Rafa akan mati dalam waktu dekat dan Vin akan kehilangannya di saat yang bersamaan. Vin merasa tak becus menjadi seoramg anak. Ia tak mampu mencarikan pendonor ginjal untuk sang ayah.
***
Di saat yang bersamaan, Feno baru saja pulang dari rumah Regi. Diketahui bahwa pria itu baru saja membantu Regi menjual sebuah saham perusahaan yang baru saja Regi dirikan. Karena kejeniusan Feno untuk meyakinkan para petinggi-petinggi perusahaan lain untuk meyakinkan mereka untuk menjadi investor. Feno tersohor sejak pertama kali perusahaan itu didirikan.
Namun, bukan berarti ia tak terbebas dari masalah. Makin banyak orang yang berusaha menjatuhkan dan mengadu domba dirinya dengan Regi. Untungnya mereka telah mengenal cukup lama. Regi juga sudah menganggap Feno sebagai adiknya sendiri. Sehingga, hal-hal kecil seperti itu, mudah untuk diatasi bagi mereka berdua.
Feno mengendarai mobil yang diberikan Regi untuk dirinya menuju rumah. Di sebuah jalanan sepi, satu buah mobil mengikuti pria itu. Tiba-tiba ia dicegat dan beberapa pengendara bermotor dengan senjata tajam menghancurkan kaca mobil. Mereka menancapkan sebuah pisau beramai-ramai di tubuh pria itu.
***
Namun, keesokan paginya tepat pada pukul 4 pagi. Di tengah kegalauan Vin. Nurul menelepon hingga puluhan kali dan membuat pria berusia 21 tahun itu mendapatkan berita bahwa sang ayah yang menjaga dan merawatnya sedari kecil, meninggal dunia pada jam 3 dini hari karena kecelakaan.
Untungnya Feno sempat dilarikan ke rumah sakit yang sama dengan tempat di mana Rafa menjalani proses rawat inap.
Air mata Vin tak lagi menetes. Sudah terlalu berat rasa sakit yang ia hadapi. Ia melihat Feno terbujur kaku dan ditutupi kain putih dengan bercak darah di mana-mana. Diinfokan oleh dokter forensik bahwa otopsi akan dilakukan siang ini, sebelum jenazah korban pembunuhan itu diantarkan pulang ke rumahnya dan dikuburkan.
Vin terdiam. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia mengkhawatirkan akan kehilangan Rafa yang sakit-sakitan. Tapi, Feno terlebih dulu meninggalkannya. Nurul menangis tak henti-hentinya di sebelah Vin. Mau tidak mau, Vin menenangkannya meski dirinya sendiri sedang hancur bersama.
__ADS_1
Vin sibuk mengurusi banyak hal. Proses otopsi, menunggu hasilnya beserta mengurusi perusahaan dan kuliahnya.
"Lo nggak capek, Kak?" tanya Nia yang sedang berdiri menemani Vin menunggu hasil otopsi.
Vin berdiam diri tak memberikan jawaban. Mulutnya mendadak kaku. Berbicara bukan lagi hal yang harus Vin lakukan. Meskipun ia menceritakan rasa sakit itu, tak kan ada satu orang pun yang bisa ikut merasakannya.
Yura dan keluarganya termasuk nenek dan kakek beserta sang suami ikut datang ke rumah sakit di siang itu. Nenek Yura terus menangis dan memeluk Nurul. Tak pernah mereka bayangkan ini semua akan terjadi. Mereka semua mengetahui seberapa dekat Feno dengan keluarga mereka. Bahkan mereka tak pernah mendengar Feno menceritakan tentang keluarganya. Yura menepuk pundak Vin sebagaimana mereka saling menguatkan di waktu dulu.
"Gue mau ngomong sesuatu ke lo, Vin. Tapi nggak di sini," ucap Yura.
"Ngomong apa?!" Kim Tae Young yang menjawab pertanyaan tersebut.
Yura hanya menatap ke arah suaminya itu agar pria itu mencoba untuk mengerti apa yang terjadi. Bukan saat yang tepat untuk mencurigai apa pun di saat-saat seperti ini.
Yura membawa Vin ke luar dari ruangan itu. Vin tak mengucapkan sepatah kata pun untuk membuka obrolan dengannya. Setelah ia merasa tersakiti akan pernikahan Yura, kini ia menyadari bahwa ada yang lebih menyakitkan dari hal itu, yakni kehilangan anggota keluarga untuk selamanya.
"Semua udah takdirnya. Kita tinggal berusaha aja, apa yang bisa kita perbaiki saat ini," lanjut Yura.
***
Bertepatan dengan itu, Vin menemukan pendonor ginjal untuk Rafa. Mereka semua pulang dengan keadaan yang membaik. Namun, Rafa tak memgetahui apa yang terjadi di balik transplantasi ginjal yang ia dapatkan.
Setelah berbulan-bulan Vin menyembunyikan kisah tranplantasi tersebut, akhirnya Rafa mengetahui semuanya.
"Harusnya kamu pulang ke sana, Vin! Itu Mama kamu! Dia sendirian sekarang!" omel Rafa begitu mengetahui bahwa Feno meninggal dunia beberapa hari yang lalu sementara Vin terus berada di sebelahnya untuk setia menemani di rumah sakit.
__ADS_1
Vin juga tak bisa memberikan pembelaan apa pun.
"Kamu bayangin sekarang Mama kamu sendirian di rumah! Biasanya dia ngeliat Feno di sana! Sekarang nggak ada lagi! Suaminya meninggal dunia dan dia sendirian?!" omel Rafa lagi.
Hal pertama yang Rafa lakukan adalah menemui Nurul untuk memastikan keadaan wanita yang sempat mengisi hatinya itu. Sangat terlihat jelas, bahwa rumah kediaman Vin semasa kecil itu mendadak semak dan tampak seperti tak berpenghuni.
Hal itu cukup mengejutkan Rafa untuk kunjungan pertama kali ke sana. Ia sempat berpikir bahwa Nurul pindah rumah. Namun, dugaan itu dibantah saat ia mendengar suara tangisan kecil di dalam rumah tersebut. Rafa mengetuk pintunya.
Nurul membukakan pintu dengan wajah dan mata yang sembab. Mata wanita itu membengkak akibat tangisannya. Nurul terdiam menatap kehadiran Rafa di hadapannya. Tiba-tiba air matanya kembali menetes. Kesedihan itu tak bisa ia sembunyikan dari siapa pun.
"Feno udah nggak ada, Fa," ucapnya dengan suara yang hampir habis.
Air mata itu menjadi bukti betapa Nurul merasakan kehilangan. Rafa sampai ikut berkaca-kaca, dengan cepat ia menyeka air mata itu agar tak menetes.
"Padahal dia nyuruh aku nunggu di rumah," ucap Nurul lagi dan semakin menangis.
"Udah," balas Rafa agar wanita itu menghentikan ucapannya.
"Dia masih di sini kok, waktu itu! Dia juga bilang perginya nggak lama!" tangisan itu pecah. Saat Nurul menyadari bahwa kini Feno pergi untuk waktu yang sangat lama.
Rafa mendekapnya dan membiarkan wanita itu menangis di sana hingga tersedu-sedu.
"Maafin aku, Nur," ucap Rafa yang berusaha menahan air matanya untuk tidak menetes.
"Sekarang aku mau ke mana? Vin udah bareng sama kamu! Aku sama siapa?" ucap Nurul sambil menangis.
__ADS_1
"Sama aku," jawab Rafa sambil mengusap kepala wanita itu.
Namun, sosok Feno belum bisa tergantikan untuk seorang Nurul.