Hipotalamus

Hipotalamus
Gue Jemput


__ADS_3

"Lo di mana?! Gue jemput sekarang! Lo jangan bikin gue panik, Ra!" omel Kayuki.


"Panik kenapa? Gue nggak kenapa-kenapa!" bantah Yura.


"Sekarang bilang ke gue, lo di mana!" tegas Kayuki.


"Gue jauh!" jawab Yura.


"Jauh di mana?! Lo harus balik! Gue jemput sekarang!" balas Kayuki.


"Cari aja kalau lo bisa nemu." Yura malah terkekeh mendengar setiap kalimat yang Kayuki katakan.


"Lo di mana?! Jangan sampai gue minta bantuan bokap gue buat nyari lo! Ketemu sama gue, lamgsung gue seret lo pulang!" tegas Kayuki membuat Yura tertawa. "Ngapain lo ketawa?! Gue serius!" lanjut Kayuki.


"Cari aja!" balas Yura sambil tertawa dan memutus panggilan itu.


***


"Ra!!" teriak Kayuki di dalam mobil dan membuat para ajudannya terkejut.


Dengan cepat ia menelepon sang ayah. "Halo, Pa! Yura hilang! Aku boleh minta bantu cari, nggak?" tanya Kayuki. Ia menutup panggilan tersebut setelah mendapatkan jawaban iya dari sang ayah.


Beberapa jam kemudian, sebuah pesan dari Saigi tersampaikan ke ponsel Kayuki.


[Papa dapat info dari pihak bandara, Yura berangkat ke Indonesia kemarin siang.]


"Aku berangkat!" balas Kayuki.


Sesampainya di rumah, Kayuki mengemasi barang-barangnya dengan sebuah koper. Hilma melihat anak tirinya itu sedang berbenah. "Kamu mau ke mana?" tanyanya.


Kayuki tak meladeni pertanyaan tersebut.


"Mau kabur-kaburan lagi?" ejek Hilma.


"Bacot!" balas Kayuki dan menarik kopernya ke luar kamar.


"Ow, mau pindah ke rumahnya cewek kemaren?" ejek Hilma lagi.


"Kelihatan banget ya, orang yang cuma mau ngabisin harta dan nggak ada kerjaan. Cuma bisa ngurusin hidup orang lain!" balas Kayuki dan memesan tiket pesawat untuk penerbangan 2 jam lagi. Kayuki berangkat ke bandara bersama beberapa ajudan yang dipekerjakan oleh sang ayah.


Hilma langsung melaporkan hal tersebut kepada suaminya. Saigi yang sudah mengetahui itu semua, memilih untuk diam saja dan tak menanggapi laporan sang istri.


***


Saigi sampai di Indonesia pada jam 3 sore lebih beberapa menit. Di sana ia mencoba menelepon Yura.


"Jemput gue di Bandara!" perintah Kayuki.


"Bandara?! Gue nggak di Jepang!" bantah Yura.

__ADS_1


"Gue di Jakarta sekarang! Jemput gue!" tegas Kayuki.


"Hah?! Lo gila ya, Kayuki?! Coba kirim foto!" Yura masih dikejutkan akan kedatangan Kayuki yang mendadak. Pria itu benar-benar mencari Yura dengan sangat baik.


Yura melihat foto yang Kayuki kirimkan. "Lo serius?!" pekik Yura yang bangkit dari tempat tidurnya.


"Buru! Panas banget ini!" omel Kayuki.


Yura tak menjemput Kayuki, ia malah memesankan ojek online agar Kayuki semakin kepanasan di jalan dengan berkendara motor menuju kediaman Yura.


"Mama!!" teriak Yura berlari ke dapur dan melihat Putri yang sedang memberitahukan hal penting kepada para asisten rumah tangga di sana.


"Uangnya udah dapet semua 'kan?! Jadi, untuk kontrak yang belum selesai, itu biar saya yang ngurus. Jadi, nanti malam kalian udah bisa pulang. Terima kasih banyak udah bantuin saya bertahun-tahun," ucap Putri.


"Ini kenapa, Ma?" tanya Yura.


"Mama udah pikirin ini matang-matang. Mama mau ngurus rumah sendiri. Lagian kamu udah gede. Kamu bisa ngurus diri sendiri. Beberapa hari ini Mama udah nelajar banyak hal sama mereka," jawab Putri.


"Mama mecat semuanya?!" tanya Yura lagi.


Putri menghela napas. "Iya," jawabnya.


Ia tahu bahwa ini akan terasa berat karena memulai sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Tapi, ini semua demi keluarga yang mungkin sebentar lagi akan hancur. Mungkin semua ini untuk pembelajaran Putri di masa depan. Jika nanti ia bercerai dengan Angga, setidaknya dia bisa melakukan semua ini untuk keluarga selanjutnya.


"Kak Rum!" rengek Yura memeluk pengasuhnya sedari kecil tersebut.


Rumi menangis melihat perlakuan Yura terhadapnya. "Jangan nangis, Ra!" omel Rumi sambil mengusap air matanya sendiri.


"Kan ada Ibu!" jawab Rumi mencoba menenangkan anak majikannya tersebut. "Sekarang Ibu udah bisa ngerjain semuanya, Ra. Jadi semuanya sesuai apa yang Yura mau dari dulu, 'kan?" lanjutnya.


Yura hanya bisa menangis sambil memeluk Rumi.


***


Siang itu, Putri membawa Yura, Kayuki dan para asisten rumah tangganya untuk jalan-jalan. Mereka juga mengunjungi sebuah mall. Di sana Yura dan Kayuki terus berdebat akan banyak hal.


"Nggak! Lo 'kan udah lama tinggal di Jepang, harusnya lo bisa bahasa Jepang! Kalau lo nggak bisa, berarti lo bohong dong soal keluarga lo itu!" bantah Yura begitu mendengar bahwa pria yang berdiri di sebelahnya tersebut tidak bisa berbahasa Jepang.


"Gue emang tinghal di Jepang dari umur 15 tahun! Tapi gue nggak pernah belajar bahasa Jepang! Gue sekolah di sekolah Indo. Di rumah pun gue masih ngomong pakai bahasa Indo. Pelayan sama pengawal bokap gue, semua ngomong bahasa Indonesia," jelas Kayuki.


"Ya, 'kan lo kabur-kaburan dari bokap lo! Harusnya lo kenal orang Jepang dan ngobrol sama mereka dong!" bantah Yura lagi.


Tiba-tiba perdebatan itu terhenti karena kehadiran Vin dan Kim Tae Young di hadapan Yura.


"Vin? Arnold?" tunjuk Yura pada kedua pria yang mendadak berkacamata tersebut.


"Ini siapa?" tanya Kayuki.


"Yura!!" Vin langsung memeluk Yura setelah memastikan bahwa gadis itu benar Yura.

__ADS_1


Kim Tae Young menarik Vin untuk menjauh dari Yura.


"Bukannya lo di Jepang? Kapan balik? Atau nggak jadi ke sana?" tanya Vin.


"Gue balik kemaren," jawab Yura sambil tersenyum. "Lo berdua ngapain? Kok nggak berantem?" tanya Yura.


"Kita lagi nyari komik," ucap Kim Tae Young membuat Yura terbelalak.


"Komik?! Lo berdua nyari komik?!" pekik Yura.


"Iya, kenapa? Lo terpesona ya?" goda Vin.


Kayuki menarik Yura untuk mendekat ke tubuhnya. "Ingat pacar!" bisik pria itu ke telinga Yura.


Yura masih tersenyum menatap Vin dan Kim Tae Young.


"Lo wibu?" tanya Vin tanpa basa-basi.


"Nggak," jawab Kayuki membuat Kim Tae Young dan Vin merasa heran.


"Kata Yura pacarnya itu wibu," ucap Kim Tae Young.


"Woi udah! Gue nggak tahan sama semua ini! Vin, sebenarnya gue nggak pacaran sama wibu! Gue malah geli ngeliat lo berdua kayak gini! Iih ngapain coba lo berdua pakai kacamata kayak gini?!" omel Yura sambil menunjuk wajah Kim Tae Young dan Vin.


"Ini penampilan wibu! Kemaren lo bilang kalau lo suka sama wibu!" bantah Kim Tae Young.


"Woi! Idiot!" umpat Yura dan mengontrol napasnya. "Oke, gue bohong! Gue nggak pernah suka sama semua wibu!" ucapnya.


"Semua wibu?" tanya Vin.


"Iya!" tegas Yura dan menghempas tangan Kayuki agar pria itu juga ikut menjauh. "Ini lagi, apaan sih?!"


"Tapi Om Angga juga wibu!" bantah Vin.


"Termasuk bokap gue! Gue nggak suka!" teriak Yura.


"Tapi kemaren lo bilang lo suka wibu, Ra! Makanya gue berusaha jadi wibu biar lo suka sama gue!" Vin ikut berteriak.


Yura terdiam mendengar kalimat tersebut. Kenapa Vin menyukainya? Padahal sedari kecil mereka sering bertengkar.


"Jangan ganggu Yura!" tegas Kayuki.


"Lo juga, lo siapa sih?! Lo pacarnya Yura?! Apanya yang lo lihat dari dia, Ra?! Kenapa lo bisa suka sama cowok kayak gini?!" omel Vin.


Yura menghela napasnya lagi. "Bukan urusan lo!" ucap Yura dan mengajak Kayuki pergi namun Kim Tae Young segera menahannya.


"Yura!" panggil Kim Tae Young.


"Apa lagi?" tanya Yura.

__ADS_1


"Kita nggak pernah putus," balas Kim Tae Young.


"Aduh, Nold. Makin pusing kepala gue!" omel Yura dan pergi bersama Kayuki.


__ADS_2