Hipotalamus

Hipotalamus
Lo Maling ....


__ADS_3

"Dia suka sama Meta!" ucap Vin memotong kalimat Yura.


"Suka? Kok bisa?!" tanya Yura lagi.


"Dia sengaja pura-pura belum sembuh, biar Meta nempel terus sama dia. Lo jangan ember ya?!" tegas Vin.


"Sayangnya, gue ember, Vin. Gue harus laporin ini ke Meta!" Yura mengambil ponselnya dari dalam tas.


"Ra! Ra!! Woi jangan!" teriak Vin merampas tas milik Yura.


"Masa Jong Woo mau ngebudakin Meta terus?! 'kan dia udah sembuh! Kalau dia suka sama Meta, ya bilang aja. Nggak usah pakai acara pura-pura masih sakit!" omel Yura.


"Lo nggak ngerti, Ra! Jong Woo nggak punya alasan lain, selain pura-pura sakit biar bisa deket sama Meta!" bantah Vin.


"Meta itu sepupu gue, Vin. Sepupu lo juga! Masa lo tega sih ngelihat Meta digituin dari temen lo sendiri!" Yura berusaha mengambil kembali tasnya. Tapi Vin malah melempar tas itu ke lantai dua. "Vin! Lo bener-bener ya! Mau gue pukulin?!" teriak Yura.


Vin kembali berlari ke lantai dua demi mendapatkan tas tersebut. "Pukul aja kalau lo bisa!" ejek Vin.


"Vin!!" teriak Yura yang ikut berlari mengejarnya.


Vin mengambil ponsel Yura.


"Woi, maling!" teriak Yura berusaha mengambil kembali ponselnya.


"Gue nggak maling! Gue cuma ngambil!" bantah Vin.


"Tetap aja lo maling! Itu ponsel gue!" teriak Yura.


"Lo juga maling!" bantah Vin lagi.


"Maling apaan? Baju ini? 'kan gue minjem! Besok gue balikin!" Yura ikut membantah.


"Lo maling ...." Vin menarik tangan Yura menaruh tangan gadis itu di dadanya. Pertanda bahwa yang dicuri oleh Yura adalah hati.


Pagi itu Yura menemukan begitu banyak sampah di dalam lokernya. Ia tahu, seseorang sedang merundung dirinya. Tapi siapa? Mengapa meteka melakukan itu kepada Yura?


"Ra!! Ikut gue!" teriak Vio menarik tangan Yura ke depan papan pengumuman sekolah.


"Apaan sih?" tanya Yura.


Vio menunjuk sebuah pengumuman yang terdapat foto Angga di sana. Seketika, berita itu heboh karena sebagian murid telah melihat pengumuman tersebut.


Poster yang tertempel di sana merupakan poster pemenang kontes BxB yang dulu pernah Angga lakukan di masa SMA.

__ADS_1


"Bokap lo 'kan, Ra?" tanya Vio.


Dada Yura mendadak sesak. Napasnya tak beraturan. Yura merobek selembaran kertas itu dan melihat ke arah majalah dinding yang juga terdapat poster tersebut. Yura berlari dan kembali merobeknya. Poster itu telah tersebar ke seluruh sudut sekolah.


"Ini fitnah atau apa, Ra?" tanya Vio yang membantu Yura mengumpulkan semua poster itu.


"Gue nggak tahu!" bentak Yura kesal.


"Bokap lo gay, Ra?" Anak-anak yang lain mulai mengejek Yura.


"Pantesan rada macho. Anak laki sama laki ternyata."


"Nggak heran sih rada tomboi."


"Apa jangan-jangan lo juga suka sama cewek, Ra?"


"Lo sengaja tinggal di asrama biar sekamar sama cewek lain ya, Ra?"


Yura mencoba menahan amarahnya. Tapi ejekan itu semakin menjadi dan membuatnya semakin kesal.


"Apa jangan-jangan lo sama Violin juga GxG?"


Tanpa basa-basi Yura menarik kerah baju pria yang mengejeknya itu dan hendak memukulnya.


"Ra! Jangan!" teriak Vio menghentikan gerak Yura.


Yura menghempas tubuh pria itu dan pergi dengan kesal. Vio berlari mengejarnya.


Apa yang salah dari Yura? Kalaupun Angga pernah mengikuti kontes tersebut, tapi pada akhirnya Angga menikahi Putri yang menandakan bahwa Angga tidak memiliki gangguan daya tarik seksual seperti yang dirumorkan.


Yura mencoba untuk menghubungi Angga. Tapi panggilan itu tak mendapatkan jawaban sama sekali. Angga masih disibukkan akan anime yang sedang kejar tayang bulan ini. Angga sampai begadang hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


***


"Oh ini hasil kawin silang?" ejek beberapa orang di depan pagar sekolah. Yura mencoba menghindari semua itu. Ia ingin mendengar penjelasan dari ayahnya terlebih dahulu.


Yura juga tidak mau terkena masalah lagi hanya karena rumor ini.


Yura kembali ke kelasnya dan duduk di sana. Ia mengirimkan pesan yang bertuliskan agar Vio dan Meta langsung ke asrama dan jangan menunggunya.


Bertepatan dengan itu, Marc sedang piket kelas dan melihat Yura yang sedang duduk termenung di dalam kelas. Marc sengaja berdiri di depan pintu agar Yura menyadari kehadirannya. Tapi gadis itu masih tetap melamun.


Marc bergerak sedikit lebih maju, tapi Yura masih menatap satu arah ke papan tulis sambil memikirkan banyak hal hingga tak menyadari kehadiran kakak kelasnya tersebut.

__ADS_1


"Woi!" teriak Marc dan mengejutkan Yura. "Kesambet setan sekolah lo?" ejek Marc.


"Gue lagi males," ucap Yura dan menyandang kembali tasnya, hendak pergi namun Marc menahannya.


"Gue cuma mau nanya," ucap Marc.


"Nanya apa?" Yura balik bertanya.


"Sebenarnya lo suka sama Vin?" tanya Marc.


"Suka sama Vin? Lo waras 'kan?" balas Yura.


"Lo sengaja berantem terus sama dia, karena lo suka sama dia!" ucap Marc.


"Udah ya, Marc. Gue lagi pusing!" balas Yura dan pergi begitu saja.


***


Hampir setiap hari Yura berusaha menelepon ayahnya yang berada di negeri sakura, Jepang. Namun, Angga tetap saja sibuk dan mengabaikan panggilan masuk dari anaknya tersebut.


"Bapak lo gay, Ra?"


"Dih posternya ada di mana-mana!"


"The winner of BxB kontes!"


"Bapaknya suka laki-laki. Jadi anaknya juga mirip laki-laki!"


... dan banyak lagi hinaan dan ejekan yang Yura terima namun ia memilih untuk tetap diam dan menerima semuanya hingga Angga memberikan kejelasan kepadanya. Yura terus berusaha menelepon Angga.


***


Sedangkan yang terjadi di Jepang di waktu yang sama.


"Manga wa kensei shinashita ka?" tanya produser di sebuah rumah produksi Manga/komik yang berada di Tokyo, Jepang.


Angga tengah disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaannya di sana.


Ponsel milik pria itu ditinggalkan di atas meja kerjanya. Seorang gadis Jepang bernama Ayumi (teman kuliah Angga yang kini telah menjadi teman kerjanya) menolak panggilan tersebut dan mematikan ponselnya agar Yura tak lagi menelepon.


***


Yura benar-benar tak habis pikir akan semua ini. Bagaimana cara me hentikan ini semua? Yura ingin semuanya cepat berakhir. Ia hanya butuh satu kalimat saja dari Angga mengenai hal ini. Tapi, menghubungi ayahnya itu terasa cukup sulit di saat-saat seperti ini.

__ADS_1


Setiap kali Yura membuka lokernya, selalu terdapat sampah di sana. Yura membuang semua sampah itu dan membersihkan lokernya dengan menggunakan tisu basah dan tisu kering. Ia juga menyemprotkan minyak wangi agar bau sampah itu cepat menghilang.


"Ra!" panggil Vin yang juga baru saja memasuki ruang loker. "Lo nggak apa-apa?" tanya Vin.


__ADS_2