
"Bersihin gudang," jawab Vin santai. Karena memang menurutnya pekerjaan seperti itu tidak ada artinya. Bersih-bersih sudah menjadi hal yang biasa di rumah kedua orangtuanya.
"Siapa yang nyuruh kamu bersihin gudang?!" tegas Rafa karena anaknya diperintahkan untuk bekerja seperti itu di rumahnya merupakan sebuah penghinaan bagi Rafa.
Bertepatan dengan itu Chika dan Desi datang untuk menghadap Rafa dan meluruskan kesalahpahaman tersebut. Chika sempat menangis. Matanya juga sembab, pastinya Desi sudah memarahi dan memukuli gadis itu sedari tadi.
"Dia yang menyuruh Tuan Muda untuk membersihkan gudang, Tuan," ucap Desi.
"Pelayan baru?" tanya Rafa yang mengubah nada bicaranya.
"Minta maaf!" teriak Desi sambil mendorong Chika hingga terduduk di hadapan Vin dan Rafa.
Vin mulai mendorong kedua alisnya melihat perlakuan tersebut.
"Maafkan saya, Tuan," ucap Chika dan kembali menangis.
"Saya tidak keberatan jika dia dipecat hari ini, Tuan," ucap Desi lagi.
Rafa menoleh pada Vin yang terlihat kesal. "Saya serahkan semuanya kepada Vin," ucap Rafa sambil tersenyum dan berharap agar anaknya itu terbiasa akan kehidupan seperti ini.
"Bagaimana kalau Anda yang saya pecat?" balas Vin dengan tatapan tajam ke arah Desi.
"Hah?!" Desi terkejut bukan main. Semua pelayan juga mengintip dan menguping kejadian tersebut dari jarak yang lumayan jauh.
"Apa seperti ini Anda memperlakukan pelayan di sini?!" tanya Vin lagi.
"Tidak, Tuan Muda. Maafkan saya," jawab Desi sambil membungkuk.
"Saya tahu Anda lebih tua dari saya. Tapi memperlakukan pelayan seperti ini, tidak pantas disebut manusia. Dia hanya salah paham dan saya juga tidak keberatan membersihkan gudang. Karena saya menunggu di sini dan merasa bosan. Saya mengerjakan sesuatu agar saya bisa mengatasi rasa bosan itu. Lalu apa yang salah di sini?" bantah Vin.
Rafa tersenyum puas melihat respons Vin seperti itu.
"Tapi, Tuan Muda—"
"Saya Tuan Muda di sini, apa yang ingin saya lakukan, saya lakukan!" tegas Vin.
Rafa dikejutkan oleh kalimat tersebut, karena itu sebagai pertanda bahwa Vin bersedia untuk tinggal bersamanya.
***
Hari pertama Vin menjadi Tuan Muda, yang ia lakukan adalah memuji-muji rumah yang mewah itu termasuk kamarnya yang sangat berkelas dan mahal. Vin sedang melakukan panggilan video bersama kedua temannya dan menceritakan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Marc dan Jong Woo tak berhenti tertawa mendengar cerita tersebut.
"Jadi, lo disuruh bersihin gudang? Ha ha!" ejek Jong Woo.
"Muka lo kayak tukang kebun sih, Vin! Makanya mumpung lo di rumah bokap lo, lo harus ubah penampilan lo. Pakai pakaian yang branded!" ucap Marc.
"Kayaknya tuh pelayan jadi takut sama gue," ucap Vin.
"Lebih tepatnya sih, Kepala Pelayan yang jadi takut sama lo! Ha ha!" Jong Woo kembali tertawa bersama Marc.
"Oh iya, duit rumah sakitnya gimana, Vin?" tanya Marc.
"Udah ditransfer ke rumah sakit," jawab Vin.
"Tapi lo nggak bakalan tinggal di sana selamanya 'kan, Vin?" tanya Jong Woo.
"Nggak. Senin gue balik ke asrama," jawab Vin lagi.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Vin. "Eh, woi. Ntar kita ngobrol lagi." Vin langsung mengakhiri panggilan videonya dan membuka pintu kamar yang besar itu.
Chika membawa makan malam dengan tangan yang gemetar saat Vin membuka pintu tersebut. Air yang berada di dalam gelas sampai hendak tumpah. Vin langsung mengambil alih nampan tersebut.
"Sa—saya disuruh Tu—tuan Rafa," ucap Chika tergagap.
"16 tahun, Tuan," jawab Chika dan membuat Vin mengernyitkan dahinya.
"Kamu nggak sekolah?" tanya Vin lagi.
"Nggak, Tuan. Saya cuma lulus SD," jawab Chika sambil membungkuk.
"Kamu kerja di sini dapat gaji berapa?" tanya Vin.
"Tiga juta per bulan, Tuan." Chika semakin membungkuk lebih dalam.
"Bawa ini ke dapur!" perintah Vin memberikan kembali nampan berisi makan malam tersebut.
"Tapi, Tuan Rafa menyuruh Anda untuk makan malam," bantah Chika.
"Saya bisa ambil sendiri. Dan juga katakan padanya, saya tidak suka diperlakukan seperti ini. Saya ingin hidup biasa-biasa saja. Jika saya diperlakukan seperti ini, mungkin saya tidak akan betah," ucap Vin.
"Baik, Tuan Muda," ucap Chika hendak pergi.
__ADS_1
"Dan!" Vin membuat kaki gadis itu terhenti dan menoleh padanya. "Khusus kamu, jangan panggil saya Tuan Muda," lanjutnya.
"Kenapa?" tanya Chika.
"Ya, biar saya merasa ada teman di sini," jawab Vin dan menutup pintu kamarnya.
Tiba-tiba jantung Vin berdetak lebih cepat hingga terdengar ke telinganya. Untuk kali pertama ia bertemu seorang gadis seperti Chika. Pertemuan yang lucu dan Vin menyukai kejadian itu. Ia tersenyum-senyum mengingat bahwa pelayannya itu pernah menyuruhnya membersihkan gudang. Tapi, Desi juga memukul gadis itu di hadapan Vin.
Melihat Chika yang bekerja di usia 16 tahun, membuat Vin sadar bahwa dia termasuk orang yang beruntung di dunia ini. Meski banyak rumor yang tersebar di sekolah membuatnya dihina dan dicibir. Juga orang tuanya yang membuat batin tersiksa, tapi itu semua tidak sepadan dengan penderitaan orang lain. Setidaknya Vin tak pernah dipaksa oleh orang tuanya untuk bekerja. Vin masih diwajibkan sekolah.
***
Pagi Minggu ini dimulai dengan terbangunnya Vin dari tidur dan dikejutkan akan penampakan 5 orang pelayan mengelilingi kasurnya.
"Ada apa ini?!" bentak Vin.
"Selamat pagi, Tuan Muda!" sapa mereka serempak.
"Siapa yang menyuruh kalian memasuki kamar ini?!" teriak Vin.
"Tuan Rafa," jawab mereka.
... dan banyak kejadian-kejadian lain yang membuat Vin terkejut di dalam rumah tersebut.
Hari Senin ini Vin diantar oleh Rafa ke sekolah, tapi Vin tidak ingin diketahui oleh anak-anak yang lain. Ia meminta Rafa untuk memberhentikannya dari jarak sejauh lima ratus meter dari sekolah dengan alasan bahwa ia menunggu Yura untuk pergi bersama.
Pagi itu, Vin melihat Kim Tae Young yang sedang menganggu Yura di kelas. Vin berdiri di jendela kelas Yura dan melihat semua yang terjadi.
"Kenapa lo nggak suka gue?" tanya Kim Tae Young.
"Udah ya, Nold. Gue capek! Gue lagi kesel. Jangan sampai gue nonjok muka lo!" ancam Yura.
Vin masuk ke dalam kelas tersebut dan duduk di hadapan Yura. Melihat kehadiran Vin, Kim Tae Young langsung meludah ke arah lain.
"Mau ngapain lo?" tanya Yura.
"Mau ngeliatin lo. Kangen gue sama lo," jawab Vin menopang dagunya dengan kedua tangan.
"Lo berdua kenapa sih?!" teriak Yura.
"Lo nggak malu? Kangen sama pacar gue?" balas Kim Tae Young menarik kerah baju Vin.
__ADS_1
"Plis ya, kalau lo berdua mau ribut, di lapangan aja. Jangan di depan gue, gue lagi pusing!" tegas Yura.