
Kim Tae Young masih memerhatikan Yura. Ada sebuah rasa ingin menjahili gadis itu. Yura terlalu menarik untuk menjadi seorang wanita menurut Kim Tae Young. Harusnya ia tak dipertemukan dengan gadis seperti Yura. Itu hanya akan mengalihkan perhatiannya pada sesuatu yang harus ia urusi bersama ibunya di Indonesia.
Sialnya pria itu kini dia malah tertarik pada pesona Yura yang biasa saja. Yura tak pernah mencoba mendekati Kim Tae Young, tapi entah mengapa ada saja alasan untuk tidak bisa lepas dari memerhatikan gadis itu.
***
Malam itu, Vin kembali diganggu oleh Prethayata di tengah acara penyambutan murid kelas 1 mendiami asrama.
"Gue mau lo bikin Arnold sama Yura putus! Gue nggak mau tahu caranya kayak gimana!" tegas Pret.
"Mereka nggak pacaran!" bantah Vin.
"Tapi Arnold sendiri yang bilang ke gue!"
"Dia cuma mau gangguin Yura aja!" bantah Vin lagi.
Bertepatan dengan itu, Kim Tae Young juga menghampiri mereka.
"Gue nggak ada urusan sama lo! Jadi berhenti buat gangguin Yura!" tegasnya pada Prethayata.
"Tapi, Nold—"
"Gue udah bilang, jangan gangguin Yura!" tegas Kim Tae Young lagi.
"Tapi lo juga gangguin dia!" balas Vin membuat pria itu menoleh padanya.
"Gue nggak ganggu dia!" bantah Kim Tae Young.
"Lo bilang ke semua orang bahwa dia itu pacar lo, dan pada nyatanya, nggak kayak gitu! Lo juga gangguin dia di kelasnya! Lo kira gue nggak tahu—" Satu pukulan mendarat di wajah Vin dan membuat pria itu menghentikan kalimatnya.
"Vin!" teriak Yura yang melihat kejadian itu sambil berlari menghampiri Vin. Meta juga ikut bersamanya.
"Vin, lo nggak apa-apa?" tanya Meta.
Yura juga melayangkan satu pukulan untuk membalas perbuatan Kim Tae Young hingga membuat pria itu terhuyung ke belakang.
"Cuma gue yang boleh mukul Vin," ucap Yura.
***
__ADS_1
Siang itu di Presidential Internasional High School sedang menyebar sebuah berita yang menghebohkan.
"Anak haram?"
"Fiks sih ini, nyokapnya ngelontay!"
"Iya, buat biaya sekolah!"
"Udahlah miskin, setidaknya nyari duit yang bener kek!"
"Ih, bau-bau anak nggak punya bapak nih!"
... dan banyak lagi kalimat-kalimat yang Vin dapatkan di sepanjang koridor sekolah menuju ruang kelasnya.
Vin duduk di tempatnya yang tertulis dengan jelas di atas meja "Anak Haram". Vin menghapusnya dengan perasaan kesal.
Berita itu juga terdengar hingga ke telinga Yura.
"Siapa yang nyebarin berita itu?" tanya Yura pada Meta.
"Nggak tahu! Satu sekolah bahas itu!" jawab sepupunya itu.
"Gu—gue ... mama gue ... gue nggak bisa ceritain ini ke elo, Ra," jawab Meta sambil tergagap dan kalimat yang terpenggal.
"Kenapa nggak bisa?! Lo juga tahu 'kan alasan Vin bisa masuk ke sekolah ini?! Gue udah dari awal curiga sama dia! Kenapa dia masuk sekolah elite?! Sedangkan lo juga tahu sendiri keadaan Tante Nurul sama Om Feno kayak gimana!" teriak Yura yang kesal karena tak kunjung mendapatkan kebenaran pasal berita yang tersebar di sekolah itu.
"Vin itu anaknya Om Rafa," ucap Meta dan membuat Yura terkejut. "Tapi lo janji sama gue! Jangan bilang ke siapa-siapa, Ra! Gue bisa dimarahin mama gue gegara ini, Ra! Gue mohon!" Meta menyatukan telapak tangannya dan memohon kepada Yura.
"Om Rafa? Kok bisa?!" tanya Yura.
"Tante Nurul pernah nikah dulu sama Om Rafa. Tapi cerai pas Vin umur 3 bulan. Nggak lama setelah itu, Tante Nurul nikah lagi sama Om Feno," jelas Meta.
"Lo tahu dari mana?" tanya Yura lagi.
"Om Rafa sekarang lagi sakit, Ra. Dia minta Vin buat siapin diri karena semua harta warisan termasuk perusahaannya bakal dikasih ke Vin. Makanya dia dikirim ke sini buat belajar bisnis dari sekarang!" jelas Meta lagi.
"Jadi, Vin itu anaknya Om Rafa?!" Yura masih tak percaya akan apa yang terjadi.
"Lo pasti pernah mikir 'kan. Kenapa gue sama Vin bisa sepupuan? Padahal cuma lo satu-satunya sepupu gue. Ya, itu karena Vin anaknya Om Rafa, makanya dia jadi sepupu gue." Meta hendak menangis karena terlalu banyak bicara tentang Vin dan rahasia keluarganya kepada Yura.
__ADS_1
Ia tahu bahwa masalah ini tidak boleh dibicarakan pada siapapun. Debi juga sudah memperingatinya akan hal itu. Tapi, kali ini ia malah menceritakan semua itu kepada Yura yang entah bisa dipercaya atau tidak.
"Jadi, Vin gimana? Dia juga tahu soal ini?" tanya Yura.
"Harusnya sih udah tahu, soalnya dia udah dikirim ke sini. Om Rafa juga bilang kalau dia mau Vin tinggal sama dia sebelum dia meninggal. Tapi ... tapi Vin nggak mau. Gue kesian sama Om Rafa, Ra!" Akhirnya air mata yang Meta tahan sedari tadi, bisa ke luar dengan bebasnya. Mengalir dan membasahi wajah gadis itu.
Ini memang terlalu sensitif untuk dibahas, tetapi Yura ingin mengetahuinya. Tanpa sadar dia mengorek luka yang sedang ditutupi oleh orang lain. Sakit, itu yang Meta rasakan. Di satu sisi ia merasa kasihan terhadap Vin yang menjadi korban atas perbuatan kedua orang tuanya. Tapi, di sisi lainnya, ia juga merasa kasihan terhadap Rafa mengingat penyakit yang Rafa alami dan keinginannya untuk Vin tinggal bersamanya sebelum ajal menjemput.
***
Siang itu, Yura mendatangi Kim Tae Young di kelasnya yang sepi.
"Maksud lo apa, Hah?!" teriak Yura sambil menendang meja yang berada di hadapan Kim Tae Young dan membuat perut pria itu terhimpit.
"Ya!! Ah apha!" ringis Kim Tae Young memperbaiki posisinya sambil menahan sakit.
"Maksud lo apa nyebarin rumor soal Vin?!" teriak Yura lagi.
"Bukan gue!" bantah Kim Tae Young.
"Lo bisa nggak sih, nggak usah jadi setan?!" teriak Yura pada Kim Tae Young.
"I just wanna protect you from Prethayata!" teriak Kim Tae Young.
"Gue nggak butuh! Kenapa lo sebarin rumor itu?!" balas Yura.
"Prethayata yang menyebarkan rumor tentang Vin! Biar lo marah soal itu!" Kim Tae Young benar-benar sudah tidak tahan akan sikap Prethayata kepada Yura. Dia menganggap ini terlalu kekanak-kanakan.
"Pret?" tanya Yura dan mendapatkan jawaban sebuah anggukan dari kepala Kim Tae Young.
Yura berjalan mencari keberadaan Prethayata dari ujung sekolah ke ujung yang lainnya. Akhirnya ia menemukan gadis itu di toilet perempuan.
Tanpa basa-basi Yura menjambak gadis itu dan menghempas tubuhnya ke dalam toilet. Yura benar-benar sudah kesetanan akibat apa yang terjadi hari ini.
"Lo mau mati di tangan gue apa gimana?!" teriak Yura dan membuat Pret melawan dengan menyemprotnya menggunakan jet shower. Air itu menbasahi seragam sekolah Yura.
Yura semakin terbakar api emosi. Dia menjambak rambut Pret dan memukul wakah gadis itu.
Kejadian tersebut diketahui oleh beberapa gadis yang hendak memasuki toilet.
__ADS_1
"Tolooonggg!! Ada yang berantem!!" jerit gadis itu dan membuat banyak orang mengerumuni toilet perempuan.