Hipotalamus

Hipotalamus
Feno Mana?


__ADS_3

Vin tak tahu harus melakukan apa. Tak mungkin ia memeluk Yura agar gadis itu berhenti menangis. Tak mungkin pula ia mengeluarkan kata-kata bijak, karena ia juga sedang berada di dalam keluarga yang tidak baik-baik saja.


Yang hanya bisa Vin lakukan hanya mengusap kepala Yura. Tapi gadis itu malah menepis tangan Vin dan mengusap air matanya sendiri.


"Sekarang lo udah lihat gue nangis! Lo boleh ngejekin gue! Terserah lo mau ngapain! Lo juga udah tahu masalah gue!" tegas Yura.


"Gue nggak sejahat itu, Ra," balas Vin. "Gue juga punya masalah. Gue juga punya aib, ya meski udah kebuka dan semua orang tahu. Gue juga tahu rasanya diejekin soal keluarga itu gimana. Nggak mungkin gue lakuin ke lo!" bantah Vin.


"Tapi lo ngejekin gue durhaka!" Yura ikut membantah.


"Ya, gue cuma bercanda. 'kan gue juga nggak tahu soal keluarga lo! Gue cuma mikir, lo sering bikin masalah di sekolah," jelas Vin.


Yura kembali bersandar ke rak buku.


"Sekarang lo mau ngapain?" tanya Vin.


"Ya jaga Gibi!" jawab Yura.


"Ngapain lo jaga Gibi? Bokap gue mana?" tanya Vin lagi.


"Om Feno sama Tante Nurul lagi di rumahnya Meta. Gibi mau digedein. Jadi, karena gue nganggur di rumah, gue disuruh Om Regi buat jaga toko," jawab Yura.


"Terus lo malah mau bunuh diri?" Vin mulai mengejeknya lagi.


"Ya, mumpung sepi!" balas Yura.


Setelah kejadian itu, Vin memutuskan untuk menemani Yura menjaga Gibi. Di sana mereka berbagi rahasia. Vin juga menceritakan tentang Rafa kepada Yura dan meminta gadis itu untuk merahasiakan sosok ayahnya itu dari teman-teman sekolah mereka. Karena, Kim Tae Young pasti akan memanfaatkan hal itu untuk kembali mengejeknya. Terlebih lagi Vin belum mengetahui siapa orang yang menerornya di sekolah dan asrama.


***


Malam itu saat Vin hendak pulang dari toko buku Gibi, ia kembali mendapati sosok Rafa di depan rumahnya. Mobil hitam terparkir bersama beberapa penjaga bertubuh kekar.


Rafa menyadari keberadaan anaknya itu dan langsung menghampiri. "Vin," ucapnya.


"Mau apa lagi? Saya sudah bersekolah di Presidential Internasional High School. Saya pulang karena besok hari Minggu," balas Vin.

__ADS_1


"Vin, justru karena besok hari Minggu, 'kan kamu nggak sekolah. Ayah mau ngajak kamu nginep di rumah," ajak Rafa.


Tak hanya Vin, Rafa pun merasa aneh dengan sebutan Ayah tersebut.


"Nggak, saya mau di sini," ucap Vin membuat kecewa perasaan Rafa.


"Tapi, di sana kamu bisa dapat semua, apa pun yang kamu mau." Rafa mencoba meyakinkan.


"Semua? Kenapa saya harus mendapatkannya?" tanya Vin.


"Karena kamu putra tunggal GG Group," jawab Rafa.


"Mohon maaf, Om. Saya mau di rumah ini karena saya nggak mau menyakiti perasaan Papa saya. Dia yang membesarkan saya dan Mama. Hal ini pasti akan menyakiti perasaannya," ucap Vin dan bergegas masuk ke dalam rumahnya.


Rafa hanya menatap kepergian anaknya tersebut. Memang sebuah kesalahan untuk meninggalkan Nurul dan Vin di waktu itu. Tapi, apa dia tak pantas untuk memperbaiki semuanya?


"Apa perlu kami bawa paksa, Tuan?" tanya penjaga Rafa.


"Jangan! Dia akan membenciku," jawab Rafa dan memilih untuk kembali masuk ke dalam mobil.


Sepanjang jalan, Rafa hanya melamun. Tak bisa diterima oleh hatinya jika Vin sebegitu mencintai Feno yang notabenenya hanya ayah tiri.


***


Vin menghampiri Feno dan membantunya untuk mengganti kaca jendela.


"Biar Papa aja, Vin. Nanti kamu luka. Ini tajam," ucap Feno.


Vin memilih untuk mengambil sapu lidi dan menyapu halaman rumah mereka hingga bersih. Tak ada satu daun maupun sampah di sana.


Vin cukup menikmati kehidupan sederhana mereka. Ia tak butuh rumah mewah milik Rafa. Di rumah ini saja, ia bisa mendapatkan kebahagiaan. Ia juga tak perlu sosok Rafa. Sosok Feno saja sudah cukup untuk menjadi ayahnya. Begitu pikir Vin.


Saat Vin kembali ke sekolah, ia bercerita tentang masalah keluarganya kepada Jong Woo dan Marc. Tapi, Jong Woo dan Marc malah memaksa Vin untuk tinggal bersama Rafa agar tidak lagi dihina oleh murid-murid di sekolah.


"Seriusan, Vin?! Bokap lo yang punya GG Group?!" pekik Jong Woo. Kedua orang tua Jong Woo juga merupakan rekan kerja Rafa. Jong Woo sudah mengenal Rafa sedari kecil. Ia begitu tak percaya saat mendengar cerita Vin itu.

__ADS_1


"Tolong jaga rahasia gue," ucap Vin.


"Kenapa lo rahasiain, Vin?! Lo bisa bungkam mulutnya Arnold pakai duit bokap lo!" omel Marc.


"Karena ada banyak aib," ucap Vin.


"Aib apaan, Vin?! Bokap lo kaya, itu bukan aib!" Jong Woo ikut mengomel.


"Karena perasaan bokap tiri gue juga harus dijaga," ucap Vin dan membuat kedua temannya itu mengubah ekspresi menjadi datar.


"Susah juga sih, jadi buah simalakama. Ikut bokap asli, kaya tapi perasaan nggak bahagia. Ikut bokap tiri, susah tapi bahagia," ucap Marc.


"Gue juga bingung," ucap Vin merebahkan tubuhnya ke atas kasur.


***


"Ini kuncinya, Wil," ucap Feno memberikan kunci toko buku Gibi pada William.


"Oh iya, Om. Kata Papa, besok tokonya udah harus dikosongin. Soalnya tukang yang mau renov besok datang sama Papa ke sini. Besok Om berdua sama aku aja beresinnya," ucap William.


"Hm, iya, Wil," balas Feno dan bergegas untuk pulang.


Sayangnya, kepulangan itu malah membuat Feno tertabrak sebuah mobil dengan kecepatan tinggi. Banyak sekali orang-orang yang mengerumuni pria itu di jalanan. Darah segar juga mengalir di atas aspal. Kejadian itu menyebabkan kemacetan di jalan.


Rafa menjadi salah satu korban kemacetan tersebut. Penjaga Rafa terpaksa turun ke jalanan tersebut untuk memeriksanya. Saat ia kembali ....


"Feno kecelakaan, Tuan!" ucap penjaga tersebut pada Rafa.


"Feno?!" Rafa dikejutkan oleh berita itu. "Bawa dia ke rumah sakit!" perintah Rafa pada pengawalnya.


Setidaknya mereka butuh tiga orang penjaga untuk membawa Feno ke dalam mobil tersebut. Feno dilarikan ke rumah sakit terdekat.


Orang pertama yang diinfokan tentang kejadian itu adalah Nurul. Rafa juga sadar diri bahwa Nurul masih berstatus istri sah pria yang terbaring di ruang IGD tersebut.


"Di mana Feno?!" tanya Nurul yang berlari kalang kabut menghampiri para penjaga Rafa.

__ADS_1


Wajah wanita itu sangat kumal. Matanya juga sembab akibat air mata yang menepik sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Kini, air matanya kembali menetes saat melihat kondisi Feno yang tak sadarkan diri.


Nurul tak mengucapkan kalimat apa pun. Yang mendominasi otaknya saat ini adalah bagaimana keadaan suaminya tersebut. Tak bisa ia bayangkan jika harus kehilangan Feno di waktu yang sebentar ini. Belum banyak hal yang mereka nikmati bersama.


__ADS_2