Hipotalamus

Hipotalamus
Mau Pulang


__ADS_3

"Nggak bisa tidur! Tadi udah ketiduran nungguin Papa. Sekarang malah melek," jawab Yura.


"Sekarang kamu maunya apa? Makan? Atau nonton?" tanya Angga lagi.


"Aku mau pulang," jawab Yura dengan nada hendak menangis.


"Pulang? Ke mana? Ini udah di rumah," bantah Angga.


"Ke rumah Mama," jawab Yura yang kini benar-benar menangis.


Angga langsung menghampiri anaknya tersebut. "Loh kenapa nangis, Sayang?" tanya Angga.


"Nggak tahu! Mau nangis aja," jawab Yura mengusap air matanya. Yang sebenarnya Yura rasakan adalah rasa rindu terhadap sang ibu. Hanya saja ia meras malu mengakuinya.


"Kenapa mau pulang ke Indonesia? Kamu nggak betah di sini? Ada yang gangguin di sekolah?" tanya Angga sambil mengusap kepala Yura.


"Nggak ada! Cuma mau pulang aja! Tiba-tiba mau pulang," ucap Yura.


"Loh gimana mau pulang? Udah tengah malam gini. Minggu depan deh pulangnya. Sekalian Papa minta izin ke sekolah kamu dulu," ucap Angga menenangkan anaknya tersebut.


"Minggu depan?" tanya Yura.


"Iya, minggu depan. Udah sekarang tidur dulu. Minggu depan kita balik ke Indo," jawab Angga dan Yura menyetujuinya.


***


Keesokan harinya, Yura kembali ke sekolah dan menemui Zahra.


"Minggu depan gue balik ke Indo," ucap Yura begitu duduk di bangkunya. Hal itu didengar oleh Kayuki, tapi ia memilih untuk fokus mengerjakan tugas yang belum ia selesaikan.


"Loh, kok balik? Ke sini lagi, nggak?" tanya Zahra.


"Iya, cuma bentar. Paling seminggu," jawab Yura.


"Mau ngapain lo ke Indo?" tanya Zahra lagi.


"Nggak tahu, mau balik aja ke sana. Kayaknya ada yang belum bayar hutang," ucap Yura bercanda.


"Terus itu gimana?" tunjuk Zahra ke arah Kayuki menggunakan bibirnya.


"Kayuki," panggail Yura sambil menoleh ke arah pria itu sambil tersenyum. "Minggu depan gue balik ke Indo. Lo jangan kangen gue ya! Karena yang boleh kangen, cuma gue!" lanjutnya sambil terkekeh.


Zahra yang melihat kejadian itu malah merasa jijik. "Demi apa lo ngomong gitu ke dia, Ra?!" omel Zahra.


"Apaan sih, itu cara berpamitan dengan gaya," ucap Yura.


"Gaya apaan kayak gitu?! Ingat, dia anak Yakuza!" bisik Zahra.


"Santuy, Zah. Dia nggak ngerti bahasa Indonesia," ucap Yura.


"Do you understand, Kayuki?" tanya Yura pada pria yang duduk di sebelahny itu.

__ADS_1


"Whatever you say. I don't care," jawab Kayuki.


"Kok bisa gitu ya, lo ngomong dan direspons dari dia? Kok bisa?!" ucap Zahra.


"I don't know," balas Yura.


"Satu sekolahan ini nggak ada yang berani ngomong sama dia! Lo satu-satunya makhluk bumi yang nyentrik abis!" ucap Zahra lagi.


"Nah, sembah gue! Gue satu-satunya makhluk bumi yang bisa melakukan hal semacam ini! Gue pawang mafia! He he," ucap Yura sambil terkekeh.


"Awas lo! Ntar kedengeran sama Kayuki!" ucap Zahra yang masih was-was.


"Santai, dia nggak paham bahasa Indo! Mau lo katain dia mesum, jelek, idiot, botak, jin, iblis, setan. Dia nggak bakalan marah," ucap Yura.


"Nih, ya. Kayuki, lo kayak monyet!" ucap Yura di hadapan Kayuki.


"I don't fvcking care!" balas Kayuki.


"Tuh 'kan!" ucap Yura.


"Tahu-tahunya dia bisa bahasa Indonesia cuma pura-pura nggak tahu, gimana? Mampus lo!" balas Zahra.


"Nggak mungkin!" ucap Yura.


***


Hari demi hari berlalu. Setiap pulang sekolah, Yura selalu mengatakan, "Gue suka sama lo!" Kepada Kayuki. Tapi, pria itu malah pergi dan tak mau tahu pasal apa yang Yura katakan.


"Kayuki!" panggil Yura dan membuat pria itu menoleh. Belum sempat Yura berpamitan, Kayuki memberikan gadis itu aebuah ikat rambut lucu berwarna biru.


"What's this?" tanya Yura.


"For you," jawab Kayuki singkat.


"Gue suka sama lo," ucap Yura lagi dan lagi setiap harinya.


"Oke," jawab Kayuki.


"Oke? Gue suka sama lo. Do you know what that means?" tanya Yura.


Kayuki mengangguk dan membuat Yura terkejut. "What does it mean?" tanya Yura sambil menutup mulutnya.


"Gue suka sama lo. Jangan tanya kenapa gue bisa bahasa Indonesia," ucap Kayuki membuat Yura terbelalak. "Gue lahir dan besar di Indonesia. Ya semenjak umur gue 15 years old,


I have to go with my parents abroad and visit several continents," lanjutnya.


"Ja—jadi lo paham apa yang gue omongin selama ini?!" tanya Yura.


"I think yes," jawab Kayuki.


Berarti selama ini ....

__ADS_1


"Berarti selama ini lo paham gue ngomong apaan?" tanya Yura lagi.


Kayuki malah tersenyum. "Lo nggak takut sama anak Yakuza?" balasnya.


"Apaan sih, nggak lucu!! Kenapa lo nggak kasih tahu kalau lo orang Indo?!" bantah Yura.


"Lo nggap pernah nanya," jawab Kayuki.


"Ya setidaknya lo jangan bikin otak gue mumet dengan harus bahasa Inggris setiap ngomong sama lo!" bantah Yura lagi.


"Lo yang mau ngomong bahasa Inggris," balas Kayuki.


Yura terdiam. Ia melangkah lebih dulu meninggalkan Kayuki. Pria itu menghela napas sambil tersenyum dan berlari menyetarakan langkahnya dengan Yura.


"Gue suka sama lo," bisik Kayuki sambil tersenyum. Ia sedang mengejek gadis itu.


"Apaan sih?! Gue cuma becanda! Gue kira lo nggak paham!" omel Yura.


"Bercanda atau nggak, yang penting gue suka sama lo," balas Kayuki sambil terkekeh.


"Apaan sih?!" omel Yura lagi.


"Ipiin sih?! You who said that you love me. You don't forget that!" ucap Kayuki.


"Gue cuma becanda! Itu cuma buat jokes gue sama Zahra doang! Lo nggak usah baper!" bantah Yura.


"Jokes sama Zahra? Gimana soal Roti itu? 'kan nggak ada Zahra pas pagi-pagi!" Kayuki ikut membantah.


"Ya itu ... itu ...." Yura tak memiliki alibi untuk saat ini.


"Ow, lo baper gegara I gave you a kiss on the train?" tanya Kayuki sambil terkekeh.


"Ih ihh, Mesum!" omel Yura.


"Mesum dari mana? Lo yang meluk gue sambil tidur! Lo juga manggil-manggil nama Vin. Siapa Vin?" tanya Kayuki.


"Vin? Emang gue bilang nama Vin?" Yura balik bertanya.


"Iya! Vin siapa? Mantan lo?" tanya Kayuki lagi.


"Kok lo jadi banyak omong sih?! Kenapa nggak tidur aja di kelas?! 'kan biasanya lo gitu!" bantah Yura berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Sebagai cowok yang lo suka, gue menghargai perasaan lo. Tapi sorry, gue nggak mau pacaran," ucap Kayuki sambil membungkuk.


"Dih dih! Idiiiiih!" balas Yura. "Sejaka kapan gue suka sama lo?! Dih, baper lo sama gue?!" lanjutnya.


"Lah, bukannya lo yang baper? 'kan lo yang bilang suka sama gue! Tiap hari pula ha ha!" ucap Kayuki sambil tertawa.


Yura terdiam, ini adalah kali pertama ia melihat anak Yakuza itu tertawa di hadapannya.


"Atau lo baper gegara tidur bareng gue?" goda Kayuki.

__ADS_1


Tanpa ragu Yura memukul kepala pria itu. Beberapa pria pengawal Kayuki melihat kejadian itu dan langsung mengangkat senjata di balik mobil. Ujung senapan muncul dari sela jendela mobil. Ia hendak membidik kepala Yura. Kayuki menyadari hal itu. Ia memberikan isyarat bahwa dirinya baik-baik saja. Senjata itu kembali disimpan.


__ADS_2