
Malam sebelum keberangkatan Yura. Vin memaksa Yura untuk datang ke Gibi. Anehnya, Gibi malah tutup di hari Sabtu ini.
"Lo di mana?!" teriak Yura pada Vin melalui ponselnya.
"Gue di Gibi!" jawab Vin.
"Kepala lo di Gibi! Gue udah sampe di sini. Gibi tutup! Tumben-tumbenan juga sih Gibi tutup hari Sabtu," ucap Yura.
"Gue di dalam. Masuk aja!" perintah Vin.
Yura latmgsung membuka pintu kaca yang ternyata tak dikunci.
"Seriusan lo di dalam?! Kok gelap banget! Lo aja deh ke sini! Takut gue!" balas Yura begitu melihat keadaan dalam Gibi yang gelap total.
"Gue di dalam ini! Astaga! Ngapain coba takut?!" omel Vin.
"Ya lo ke sini aja! Gue males masuk ke dalam, gelap! Atau nggak lo nyalain dulu lampunya!" balas Yura.
"Tangan gue kotor! Masuk aja!" tegas Vin.
"Hah?! Tangan lo kotor?! Abis ngapain lo? Lo mau bunuh diri ya?!" Yura langsung melangkah memasuki kegelapan dengan bermodalkan senter ponselnya.
"Lo di mana?" tanya Yura lagi.
"Ini gue meja yang kemaren!" balas Vin.
"Mana?!" Yura mencoba menyusuri lorong-lorong rak buku dan menemukan Vin yang duduk sendirian di dalam kegelapan.
"Kata lo tangan lo kotor! Lo ngapain sih di tempat gelap begini?! Mau nyembah setan lo?!" omel Yura.
"Gue bukan Vin," ucap pria itu dan memang suaranya bukanlah suara Vin.
Tiba-tiba jantung Yura berdegup kencang. "Lo siapa?" tanya Yura.
Pria itu mendadak tertawa sekencang-kencangnya. Yura semakin ketakutan dan kabur dari sana. Sayangnya ia menabrak rak buku saat berlari.
"Yuraaa!" teriak orang ramai begitu mendengar suara benturan kepala Yura dengan rak tersebut.
"Woi, nyalain lampunya!" Yura bisa mendengar suara Vin.
Lampu menyala dan menerangi seisi Gibi. Vin dan kawan-kawannya termasuk Vio dan Meta mengerumuni Yura.
"Lo nggak apa-apa, Ra?" tanya Vio.
"Lo sih! Gue 'kan udah bilang, jangan ngeprank-ngeprank! Kan gelap gini bisa nabrak apa aja!" omel Meta pada Vin.
Vin membuka laci di meja kasir dan mengambil plester. "Brisik deh lo!" bentaknya pada Meta.
"Biar apa sih lo semua bikin kayak gini?!" omel Yura sambil menahan rasa sakit di kepalanya.
"Ini rencananya Vin! Besok 'kan lo berangkat ke Jepang. Jadi kita mau bikin surprise, tapi gagal!" ucap Meta.
__ADS_1
Vin memasangkan plester itu di jidat Yura. "Bagus juga, kenang-kenangan dari kita semua. Luka di jidat lo," ucapnya.
"Pengen rasanya gue jedotin kepala lo!" omel Yura.
"Sakit nggak?" tanya Vin sambil mengelus kepala Yura.
"Dih sok ro-man-tish!" sindir Vio dengan sedikit cipratan air liur saat mengucap kosa kata 'tis'.
Vin malah menoleh ke arah gadis itu dengan tatapan datar.
"Kenapa?!" bentak Vio pada Vin.
"Aduh pusing kepala gue!" ucap Yura hendak berdiri.
"Lo nggak apa-apa, Ra? Apa mau pingsan? Apa gimana? Sakitnya denyut-denyut, atau serrrr gitu?! Atau ...." Jong Woo memegang tangan Meta agar gadis itu tidak panik.
Vio melihat kejadian itu dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Duduk dulu, Ra! Bisa berdiri nggak? Apa mau gue gendong?" tanya Vin.
"Najis," cibir Vio.
Tanpa sepatah kata, Yura berdiri dan duduk di salah satu kursi yang disediakan untuk pelanggan.
"Gimana? Apa mau gue bawa ke rumah sakit?" tanya Vin lagi.
Yura menatap pria itu dengan alisnya yang naik sebelah. "Lo kenapa sih, Vin?" tanyanya.
Meta membawa sebuah kue dan beberapa kado dan menaruhnya di hadapan Yura.
"Rencananya kita mau kasih ini buat lo, Ra," ucap Meta.
"Apaan nih? Siapa yang ulang tahun?" tanya Yura.
"Ini kado dari kita semua," jawab Vio.
"Dih, nggak usah repot-repot!" balas Yura.
"Nggak ngerepotin kok!" ucap Meta.
Malam itu, mereka habiskan dengan mengobrol di Gibi.
***
Saat hendak pulang, Jong Woo membawa motornya ke arah Meta. "Gue antar balik," ucapnya membuat semua orang terkejut.
Meta yang juga terkejut mendengar hal tersebut segera menolak. "Nggak! Gue bisa balik sendiri!" ucapnya.
Vio menahan rasa sakitnya di hadapan semua orang. Dada gadis itu mendadak sesak melihat pria yang ia cintai bersama sahabatnya.
"Lo mau diculik om-om di jalan?!" omel Jong Woo.
__ADS_1
"Mohon maaf ya Kak Jong Woo, saya bisa menelepon abang saya dan minta jemput di sini. Terima kasih banyak sudah menawarkan untuk mengantar saya pulang. Tapi, dengan ini saya ucapkan mohon maaf!" tegas Meta sambil berlagak bak seorang tuan putri di hadapan kakak kelasnya tersebut.
"Ya udah, telepon abang lo sekarang!" perintah Jong Woo.
Meta mencibir pria itu dan menelepon William. Sayangnya, panggilan itu tak mendapatkan jawaban sama sekali. Ia juga menelepon kedua orang tuanya, dan hasilnya nihil.
"Kenapa?" tanya Jong Woo yang masih menunggu.
"Nggak dijawab," ucap Meta.
"Ya udah, buru naik! Gue antar balik!" omel Jong Woo.
"Kenapa tiba-tiba maksa mau antar gue balik? Lo mau ngapa-ngapain gue ya di jalan?!" tuduh Meta.
Jong Woo hanya berdiam diri dan menunggu Meta untuk duduk di belakangnya.
"Lo yakin?" tanya Yura yang berdiri di sebelah Vio.
"Soal apa?" Vio balik bertanya.
"Lo yakin nggak pernah suka sama Jong Woo?" tanya Yura memperjelas semua.
Vio tak memberikan jawaban apa pun. Marc melirik wanita yang pernah menjadi masa lalunya itu.
"Mau gue antar balik nggak?" tanya Vin pada Yura.
"Nggak!" teriak Yura di hadapan pria itu dan membuat semua temannya menoleh pada mereka.
"Kenapa?!" tanya Vin.
"Lo mau tahu alamat gue 'kan?! Lo mau ngebom rumah gue ya?! Mau ngerampok?! Ngaku lo!" tuduh Yura.
"Nah iya! Pasti nih Kak Jong Woo juga mau gitu! Mau ngebom rumah gue ya?!" tegas Meta.
"Jadi cewek ribet amat sih?!" omel Jong Woo. "Gue cuma mau anterin lo balik! Malah dituduh mau ngebom!" lanjutnya.
"Ya soalnya nggak biasanya kayak gini!" bantah Meta.
"Terus apa salahnya kalau gue kayak gini? Ntar kalau lo diculik om-om terus bokap nyokap lo lapor polisi. Kita semua pasti bakalan jadi saksi! Sebelum lo diculik, ya gue antisipasi aja!" Jong Woo sangat pandai mencari alibi.
"Ya tinggal kasih keterangan ke polisi, apa susahnya?!" teriak Meta.
"RIBET!!" kesal Jong Woo dan melajukan motornya secepat kilat.
"Lo mau kayak gitu?" tanya Vin pada Yura.
"Ya udah deh. Gue mau hemat duit. Nggak bayar 'kan?!" tanya Yura.
"Nggak! Gratis! Khusus lo!" jawab Vin.
"Nggak ada hutang-hutang budi gitu 'kan?!" tanya Yura lagi.
__ADS_1
"Nggak, Ra. Tenang aja! Buruk amat sih gue di otak lo!" omel Vin.