
Yura menaiki motor Vin. "Gue duluan ya!" ucapnya sebelum pergi dan Vin membawanya pulang.
Vio hendak menghampiri Meta dan mengajaknya pulang bersama, namun tangannya dihentikan oleh Marc. Vio berusaha melepaskan genggaman Marc. Namun, kehadiran Jong Woo yang datang kembali, membuat mereka menatap ke arah pria dengan motor ninja hitam itu.
"Ih, ngapain balik ke sini lagi?!" omel Meta.
"Lo balik sama Jong Woo aja, Met! Violin balik sama gue! Nggak mungkin lo balik sendirian!" ucap Marc.
"Hah?!" Meta meminta konfirmasi hal tersebut kepada Vio.
Vio menoleh ke arah Marc dan kembali memutar kepalanya ke arah Jong Woo. "Iya," jawabnya.
Sakit. Memang itu yang Vio rasakan. Menjadi lilin, menghancurkan diri sendiri untuk memerangi orang lain. Itu yang tengah Vio lakukan saat ini.
Meta dengan muka masam duduk diboncengan Jong Woo. "Nah kalau gini 'kan lebih mudah gue mau anterin ke om-om! Ha ha!" ucap Jong Woo sambil terkekeh.
"Dih! Nggak mau! Gue balik sendiri aja deh!" ucap Meta yang hendak turun dari motor itu.
"Nggak-nggak! Gue cuma bercanda, Met! Astaga!" omel Jong Woo dan mengendari motor ya bersama Meta dengan sangat pelan.
Tinggallah Vio dan Marc di depan Gibi. Vio mehempas genggaman Marc dan berjalan pergi. Marc mengejarnya. "Balik sama gue aja!" perintah Marc.
"Gue bisa balik sendiri!" tegas Vio.
"Ini udah jam sebelas lewat! Jalanan udah sepi!" ucap Marc.
"Peduli apa lo sama gue?!" balas Vio.
"Peduli ya peduli! Balik sama gue aja!" Marc menarik tangan Vio untuk ikut dengannya. Tapi gadis itu malah menghempaskan tangan itu. Vio tetap memilih untuk berjalan.
Marc mencabut kunci motornya dan ikut berjalan di belakamg Vio. Tapi, gadis itu tak sadar bahwa Marc mengikutinya sepanjang perjalanan.
Tiba-tiba Vio menangis sambil terus melangkah. Ia mengusap air matanya berkali-kali hingga terdengar oleh Marc bahwa gadis itu menyedot ingusnya.
Tiba-tiba ponsel Vio berdering. Vio mencoba untuk mengontrol napas.
"Halo!" Panggilan itu berasal dari Meta
"Kenapa, Met?" Vio berusaha untuk menutupi kesedihannya.
"Lo di mana, Vi?! Lo bisa ke sini nggak?! Gue sama Jong Woo kecelakaan!" teriak Meta sambil menangis.
"Hah?! Kecelakaan di mana?!" teriak Vio. Marc ikut terkejut mendengar hal itu.
"Di simpang MEKDI!" jerit Meta sambil menangis.
"MEKDI?! MEKDI yang di depan kantor pos?" tanya Vio.
"Iya, Vi! Cepetan ke sini!" Meta terus menangis.
__ADS_1
Vio membuka aplikasi ojek online. Sementara Marc berlari kembali menuju Gibi dan membawa motornya ke hadapan Vio. "Buru naik!" perintah Marc.
"Marc! Gue lagi mggak ada waktu buat ngurusin lo!" bentak Vio.
"Jong Woo sama Meta kecelakaan di mana?!" Marc ikut membentak.
Tanpa pikir, Vio langsung menaiki jok motor milik mantan kekasihnya itu.
***
Sesampainya mereka di lokasi yang diinfokan oleh Meta.
"Lo nggak apa-apa, Met?" tanya Vio yang langsung melompat dari motor Marc.
"Cuma luka dikit sih, udah diobatin Yura," ucap Meta yang masih menangis.
"Lo nggak apa-apa, Jong?" tanya Marc.
Jong Woo malah menepuk jidatnya. "Kenapa?" tanya Marc lagi.
"Kita cuma jatoh doang dari motor. Soalnya gue jalan terlalu mepet sama trotoar!" jelas Jong Woo sambil kembali menepuk jidatnya lagi.
"Kata lo kecelakaan, Met!" bentak Vio.
"Ya, gue takut aja! Mungkin tulang jari gue ada yang patah! Soalnya gue jatoh ya gini tadi, Vi! Ini aja rasanya masih sakit! Kalau ketahuan sama Mama gue gimana?! Mana gue kecelakaannya bareng cowok!" ucap Meta sambil memperagakan adegan ia terjatuh dari motor.
"Lebay!" ejek Jong Woo pada Meta.
"Sumpah, lo bikin gue panik tahu nggak?!" omel Vio.
"Ya, gue takut aja, Vi!" balas Meta.
"Lo kira gue nggak takut kalau lo kenapa-kenapa?! Kalau tadi gue sama Marc yang kecelakaan gegara kalang kabut nyamperin lo ke sini, gimana?!" Vio terus mengomel.
"Nih! Minum dulu! Untung masih ada warung buka," ucap Yura memberikan dua botol air mineral kepada Jong Woo dan Meta.
"Bukain, Ra. Tangan gue sakit," ringis Meta.
"Perlu gue telepon Bang William nggak?" tanya Vin yang sebenarnya sudah ikut jengkel akan tingkah Meta.
"Eh, jangan! Ntar gue diomelin!" bantah Meta.
"Ada beli plester nggak?" tanya Jong Woo yang membasuh luka di jarinya dengan air mineral.
"Ya, lupa beli tadi! Ya udah tunggu bentar gue beliin!" ucap Yura dan kembali berlari menuju warung yang masih buka.
***
"Mbak, ada plester luka nggak?" tanya Yura.
__ADS_1
"Yura?" Seorang pria berdiri di sebelah Yura dan membuat mata mereka saling menatap. Pria itu adalah Kim Tae Young.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Yura.
"Lo beli plester luka buat siapa?" tanya Kim Tae Young.
"Buat ngobatin mata gue yang mendadak sakit gegara ngelihat lo!" tegas Yura setelah menbayar plester itu dan pergi. Namun, Kim Tae Young menahannya di luar halaman warung. "Apaan sih, Nold?!" tanya gadis itu.
"Lo pindah ke Jepang?" tanya Kim Tae Young.
"Peduli apa sih lo sama gue?!" bentak Yura.
"Lo pindah ke Jepang atau nggak?! Jawab!" tegas Kim Tae Young.
"Iya! Besok!" Yura ikut mempertegas ucapannya.
"Kenapa?!" tanya Kim Tae Young.
"Bukan urusan lo!" bentak Yura hendak pergi dan lagi-lagi ditahan oleh kakak kelasnya tersebut.
"Apa lagi?!" teriak Yura.
Kim Tae Young tak bisa mengucapkan kalimat lainnya. Ia juga tak bisa menjawab pertanyaan yang Yura lontarkan. Satu yang ia rasakan saat ini. Ia tak ingin Yura pergi.
"Aduh capek badan gue! Mana besok berangkat pagi," ucap Yura saat turun dari boncengan Vin.
"Ra!" panggil Vin.
"Kenapa?" tanya Yura.
"Nggak jadi," jawab Vin dan meninggalkan Yura di depan rumahnya.
***
Sementara itu, di perjalanan menuju rumah Meta.
"Gimana kalau Mama gue nanyain 'kok luka-luka, Met?' gue jawab apa?!" oceh Meta sepanjang jalan.
"Ya, lo jawab aja, lo habis akrobat di jalan," ucap Jong Woo.
"Dih, nggak semudah itulah! Pasti gue diomelin! Mana jari gue sakit banget!" bantah Meta.
"Masih untung jari lo nghak copot!" omel Jong Woo.
"Lagian, kenapa sih lo jatohin gue? Lo sengaja ya?!" Meta ikut mengomel.
"Dih, otak lo tuh, kenapa sih? Niat gue tuh baik, mau anterin lo balik. Ya kalau soal jatoh tadi, ya maaf. 'kan gue juga nggak sengaja," ucap Jong Woo.
"Nggak sengaja gimana?! Jelas-jelas lo yang mepetin trotoar, Kak Jong Woo!" tegas Meta.
__ADS_1
"Ya, gue nggak fokus! Lagian gue 'kan udah minta maaf!" omel Jong Woo lagi.
"Emangnya kalau lo minta maaf, luka gue bakalan sembuh?" bantah Meta.