Hipotalamus

Hipotalamus
Nggak Lucu!


__ADS_3

Vin mulai bertanya-tanya.Vin pulang ke rumahnya dan tak terdapat siapa pun di sana. Ia langsung mengendarai motornya menuju toko buku Gibi, tempat di mana orang tuanya bekerja. Di sana, Gibi juga sangat sepi. Vin memasuki toko itu dan mencari papanya (Feno) namun ia tak menemukannya. Ia juga berlari menuju kantin, ibunya juga tak berada di sana. Toko itu buka, namun tak ada yang menjaganya.


Vin memilih untuk duduk di tempat papanya bekerja dan menjaga toko buku itu agar kedua orang tuanya tak terkena masalah akan kejadian ini.


Tiba-tiba, terdengar oleh Vin, sebuah suara isakan di balik rak buku. Ini memang masih sore, tapi tetap terasa menakutkan mendengar suara seperti itu di tempat yang sepi dan sendirian.


Vin berjalan menghampiri sumber suara tersebut dan ia mendapati Yura yang sedang bersandar pada rak buku sambil menangis.


Gadis itu mencoba menahan tangisannya, tapi sesak dan isak itu membuat suara tangisan yang tak ingin Yura lakukan karena ia tak mau diketahui oleh orang lain.


"Ra," panggil Vin pelan.


Yura langsung menghapus air matanya dan mencoba untuk terlihat biasa saja.


"Lo kenapa?" tanya Vin sambil jongkok dan bertumpu pada satu kaki di hadapan gadis itu.


"Nggak apa-apa!" bentak Yura dengan suara parau khas orang sehabis menangis.


"Kalau mau nangis, nangis aja, Ra. Nggak usah sok kuat. Semua orang punya masalah. Lo berantem lagi sama nyokap lo?" tanya Vin.


"Bukan urusan lo!" bentak Yura lagi.


"Ya udah, nangis aja. Gue jagain di sini. Ntar dilihat orang, 'kan malu. Masa seorang Yura nangis di toko buku, gue kira Kuntilanak tadi," ejek Vin sambil ikut duduk di lantai dan bersandar di rak buku.


"Nggak lucu!" bentak Yura sambil mengusap matanya.


"Siapa yang ngelucu? Ya udah nangis aja! Gue jagain di sini," ucap Vin. "Nangis aja, silakan. Nangis!" perintahnya dan membuat air mata Yura tak lagi menepik.

__ADS_1


Awalnya, mereka hanya berdiam diri. Yura tak ingin air matanya dilihat oleh siapa pun termasuk Vin. Tapi, Vin ingin menemani Yura yang sedang tidak baik-baik saja. Vin tahu pasti bahwa sebenarnya Yura tak sekuat yang terlihat di sekolah. Belum lagi masalah Yura yang ditampar oleh ibunya di hadapan Meta dan Vio kemarin. Pastinya itu menjadi luka yang sangat menyakitkan di hati gadis itu.


Yura ikut bersandar di rak buku, bersebelahan dengan Vin.


"Kalau lo mau nangis, nangis aja. Gue pura-pura nggak denger," ucap Vin.


Yura menghela napasnya. "Lo bisa nggak sih, sekali aja kalau ketemu nggak usah ngeselin, Vin?" tanya Yura.


"Kok ngeselin? Niat gue baik loh! Jagain lo di sini. Biar kalau ada orang, gue bisa kasih tahu ke elo! Kan lo nggak mau ada yang lihat lo nangis, 'kan?!" balas Vin.


"Lo ngapain ke sini?" tanya Yura lagi.


"Gue? Gue mau nangis juga di sini. Eh, ternyata lo nangis duluan. Lemah!" ejek Vin.


"Jangan sampai gue tonjok muka lo ya, Vin!" balas Yura.


"Lo nantangin gue, Vin?" balas Yura dengan nada kesal.


"Nantangin apaan sih, Ra? Buru nangis! Gue mau lihat muka lo kalau nangis kayak gimana." Vin terus mengejek Yura dan membuat gadis itu benar-benar merasa kesal.


"Vin!!" teriak Yura.


"Apaa!!" balas Vin yang ikut berteriak.


"Gue capek, Vin!!" teriak Yura lagi.


"Ya udah, istirahat aja!" balas Vin.

__ADS_1


Yura benar-benar terbakar api emosi menghadapi Vin.


"Gue capek sama kehidupan gue! Gue capek ngadepin lo! Gue capek harus berantem terus sama nyokap gue! Gue capek berada di keluarga kayak gini! Gue mau bunuh diri di sini! Tapi lo malah ke sini!" teriak Yura membuat Vin terdiam.


Vin menoleh pada Yura yang sedang menatapnya. Vin juga melirik pisau yang tergeletak di lantai dan Yura coba menyembunyikannya.


"Ya udah, gue rekomendasiin cara mati yang cepet. Lo bisa minum sianida atau lo berdiri tengah jalan raya biar ditabrak truk, atau kalau lo butuh jasa membunuh, gue bisa," ucap Vin.


"Nggak butuh, Vin. Gue udah siapin semuanya. Gue capek," ucap Yura.


Dengan cepat Vin mengambil pisau yang Yura sembunyikan dan melemparnya hingga masuk ke dalam sela rak buku.


"Lo gila ya?!" ucap Vin.


"Iya, gue gila! Gue nggak sanggup hidup kayak gini! Gue mau mati aja! Setidaknya gue nggak bakalan ketemu lagi sama nyokap gue! Gue nggak bakalan ketemu lagi sama lo! Gue—"


"Bokap lo gimana?! Lo nggak mikirin gimana perasaannya Om Angga kalau lo mati?!" teriak Vin memotong kalimat


"Terus sampai kapan gue bakalan kayak gini?! Di sekolah gue ketemu sama lo! Di rumah gue ketemu sama nyokap gue! Setidaknya di kuburan gue bakalan sendirian!" balas Yura.


"Ra!!" teriak Vin sekuat tenaga dan membuat Yura terkejut. "Apa segitunya gue ke elo sampai lo mau bunuh diri gegara gue? Lo yang mukulin gue di sekolah! Apa gue pernah mukul lo? Nggak 'kan? Terus lo mau gue jadi alasan lo buat bunuh diri?" tanya Vin.


"Tapi lo nambahin beban pikiran gue, Vin!" balas Yura.


"Oke! Gue minta maaf kalau gue nambahin beban pikiran lo sampai lo berpikir mau bunuh diri gegara ini, Ra! Lo bisa bilang ke gue baik-baik! Nggak main ambil jalan sendiri! Ini masalah lo sama gue!" tegas Vin yang sudah kehabisan akal untuk menghadapi Yura yang seperti ini.


"Gue capek, Vin! Kayak yang lo bilang! Gue anak durhaka! Gue capek jadi anak durhaka! Gue udah coba buat berdamai sama nyokap gue! Tapi gue nggak dihargain! Gue ditampar! Sedurhaka apa sih gue, Vin?! Kenapa nyokap gue kayak gitu?! Apa karena gue sering dapet surat panggilan dari sekolah? Itu alasan gue jadi durhaka sama nyokap gue?! Terus kenapa dia yang nggak pernah ngurusin gue, kenapa dia nggak ikut durhaka kayak gue?! Kenapa sekarang semuanya salah gue?! Dia yang nyuruh suster buat nemenin gue! Dia yang nyuruh ART buat jadi teman main gue di rumah, di sekolah, di mana-mana! Terus kenapa cuma gue yang durhaka?! Kenapa nyokap gue nggak durhaka?! Padahal dia yang bikin gue kayak gini?! Gue durhaka karena gue nggak jadi anak yang baik buat dia. Terus kenapa dia nggak durhaka karena nggak pernah jadi sosok Ibu buat gue, Vin?!" teriak Yura sambil menangis.

__ADS_1


Vin hanya bisa terdiam melihat Yura menangis di hadapannya. Ia tak begitu mengetahui seluk beluk keluarga Yura. Gadis itu terus menangis hingga tersedu-sedu.


__ADS_2