Hipotalamus

Hipotalamus
Isabel


__ADS_3

Sementara Feno kini menyadari bahwa Rafa benar. Sejahat apa pun seorang Rafa terhadap anak dan istrinya, tidak mengubah status Vin yang masih menjadi anak kandungnya. Bahkan Vin telah memanggil Rafa dengan sebutan Ayah.


Dulu, hanya Feno yang dipanggilnya dengan sebutan Papa. Kini, ada sosok lain yang setara dengan dirinya. Mungkin lebih tinggi kedudukannya di bandingkan Feno. Hanya dalam waktu beberapa saat, kebahagiaan di keluarga kecil mereka, menjadi sebuah hal yang menyakitkan.


Feno pulang dari rumahnya dan melihat teras rumah yang selalu dijadikannya base untuk bermain bersama Feno. Ia juga melihat lapangan rumput gelap malam ini, dia mengingat bahwa tempat itu pernah menjadi tempat Vin dan dirinya bermain bola bersama anak-anak yang lain.


Kini, rasa takut akan kehilangan Vin semakin berakar dan tumbuh subur di dalam hatinya. Jujur saja, Feno takut kehilangan sosok anak tirinya itu. Bagaimanapun, Vin masihlah anak yang ia sayangi. Terlebih-lebih Feno dan Nurul susah untuk mendapatkan keturunan setelah menikah.


"Vin tidak di rumah. Jangan pulang malem-malem. Aku sendirian di rumah," ucap Nurul saat melihat Feno memasuki rumah mereka.


Feno tak mengindahkan kalkmat tersebut. Ia memilih untuk mencuci kaki dan wajahnya lalu berbaring di atas kasur. Nurul menyadari bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pada suaminya tersebut.


"Ada masalah apa?" tanya Nurul yang ikut berbaring.


"Nggak ada," jawab Feno sambil berbalik dan memeluk istrinya itu.


"Yakin nggak ada?" tanya Nurul lagi.


Feno menghela napas. "Iya," ucapnya.


***


Yura terduduk di hadapan ibunya yang belum juga sadarkan diri. Kantung infus sudah lebih dari enam cairan yang masuk ke dalam tubuh Putri.


"Kenapa Papa kayak gitu?" tanya Yura.


"Apa yang bikin Papa sama Mama berantem?" tanya Yura lagi.


Sementara itu, Isabel mendapat kabar bahwa Angga akan pulang ke Indonesia besok. Kepulangan Angga kali ini bukan hal yang menggembirakan karena pria itu akan mengurus kepindahan Yura ke Jepang untuk tinggal bersama dirinya. Isabel segera menelepon Angga dan menanyakan perihal tersebut di kawasan luar rumah sakit.


"Halo," ucap Isabel.


"Halo, Bu," ucap Angga.


"Angga, Ibu mau nanya sesuatu," ucap Isabel.


"Nanya apa, Bu? Gimana keadaan Putri?" tanya Angga.


"Putri masih belum sadar. Ibu mau nanya soal kepindahan Yura ke Jepang," jawab Isabel membuat Angga terdiam sejenak. "Yura kenapa dipindahin ke Jepang?" lanjutnya.

__ADS_1


"Biar aku bisa ngurusin dia, Bu," jawab Angga apa adanya.


"Terus, Putrinya gimana?" tanya Isabel.


"Aku serahin ke Putri aja, Bu. Kalau dia mau ikut pindah ke sini, silakan. Kalau dia nggak mau, ya nggak apa-apa juga," jawab Angga.


"Kalian berantem soal ini? Sampai Putri gini lagi?" Isabel mencoba untuk tidak menanggapi hal ini dengan emosi.


"Nggak ini doang sih, Bu. Putri berantem terus sama Yura. Aku juga dapat info dari Vin kalau Yura hampir mau bunuh diri gegara itu. Aku tanyain ke Putri, tapi Putri nyalahin Yura terus. Sedangkan Yura maunya dia puhya sosok ibu, tapi Putri nggak pernah jadi ibunya. Semua urusan Yura diserahin ke ART. Sekarang dia nggak punya kontak batin sama anaknya, malah nyalahin orang lain. Yura emang nakal, tapi dia nggak pernah ada urusan sama kita berdua. Cuma sama Putri dia kayak gitu. Berarti bukan salah Yura, tapi Putri yang bermasalah. Aku udah nasehatin Putri untuk berhenti kerja dan fokus ngurusin Yura yang nggak pernah dapet kasih sayangnya, tapi dia nggak dengerin aku, Bu," jelas Angga secara panjang lebar.


"Jadi kamu mau bawa Yura ke Jepang gegara itu?" tanya Isabel.


"Iya, Bu," jawab Angga.


"Ibu juga nggak ngerti Putri maunya kayak gimana. Padahal urusan Regi itu bisa digantikan ke orang lain. Tapi dia tetep aja nggak mau berhenti kerja," ucap Isabel.


"Itu dia, Bu. Aku juga nggak tahu dia mau kayak gimana. Sedangkan pas aku arahin, dia nggak mau. Kalau berantem sama Yura, dia terus-terusan nyalahin Yura. Padahal dianya yang nggak tahu Yura maunya apa," ucap Angga.


***


Keesokan harinya. Tepat pada pukul 3 sore. Angga kembali pulang.


Mendengar kalimat tersebut, Angga berangkat ke rumah sakit dan mendapati Yura yang tidak berangkat sekolah sedang duduk termenung di depan ruangan rumah sakit.


Angga menghela napasnya dan menghampiri anaknya itu. Ia duduk di sebelah Yura. Yura enggan menanggapi pria yang duduk di sebelahnya.


Tiba-tiba ponsel gadis itu berdering dan ia menjawab panggilan tersebut.


"Halo, Ra!" teriak Meta di balik speaker ponsel Yura.


"Kenapa?" tanya Yura malas.


"Ini catatan lo udah gue salin sebagian, sama Vio bedua. Mau patah rasanya jari gue," jawab Meta.


"Makasih ya, Met," ucap Yura.


"He he nggak apa-apa, santuy aja. Cuma ini nih, cacatan mata pelajaran Bahasa Mandarin, gue skip ya? Soalnya gue nggak bisa. Vio juga nggak bisa. Bahasa terumit di abad ini," ucap Meta.


"Oh iya, nggak apa-apa. Biar gue aja yang nyalin ntar," ucap Yura.

__ADS_1


"Oke. Besok lo masuk?" tanya Meta.


"Hmm, kurang yakin sih gue. Kayaknya nggak deh," jawab Yura.


"Ya udah deh. Ntar malem kita ke rumah sakit. Lo mau nitip apaan? Lo udah makan?" tanya Meta.


"Nggak nitip apa-apa. Lo berdua ke sini aja gue udah makasih banyak," jawab Yura.


"Hm, oke deh. Gue off duluan ya? Soalnya masih ribet sama Kak Jont Woo," ucap Meta dan langsung menutup panggilan tersebut.


Angga mendengar semua yang Yura bicarakan bersama anak Regi tersebut.


"Kamu nggak sekolah?" tanya Angga.


Yura menoleh padanya. Seketika itu air mata Yura berkump menjadi satu di kelopak mata dan menetes. Ia memluk Angga sekuat tenaga sambil menangis.


"Kenapa?" tanya Angga. "Nggak senang ya liat Papa pulang?" lanjutnya.


"Yura kangen Papa," ucap Yura sambil tersedu-sedu.


"Mama kamu gimana?" tanya Angga lagi.


"Itu di dalam sama Nenek," jawab Yura.


"Terus, ngapain kamu di luar?" tanya Angga lagi.


"Nmau di luar aja," jawab Yura.


Padahal, beberapa jam yang lalu, Putri tersadar dan mendapati Yura di hadapannya. Putri telah menceritakan semuanya kepada Yura.


"Papa kamu mau pulang ke sini dan ngurus semua berkas pindah kamu ke Jepang," ucap Putri waktu itu.


"Kenapa?" tanya Yura di waktu yang sama.


"Karena Mama nggak becus ngurusin kamu," jawab Putri.


"Tapi aku udah sekolah di sini!" tegas Yura.


"Tapi ini yang Papa kamu mau!" bantah Putri dan kini kembali menangis.

__ADS_1


Yura hanya bisa terdiam menatap ibunya berbaring di rumah sakit dengan tangan yang diinfus.


__ADS_2