Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 1 + Prolog


__ADS_3

Prolog


Aku perkenalkan diriku padamu. Aku adalah Nirmala Diantri, wanita berusia 25 tahun. Orangtuaku sudah meninggal dunia sejak aku berusia 15 tahun, sehingga aku hidup berdua bersama saudara laki-laki kandungku yang bernama Braksa Purnama. Setelah lulus kuliah aku langsung dipersunting oleh Rafan Gultara. Tapi pernikahanku hanya bertahan selama 2 tahun, dan setelahnya aku berpindah tangan pada Govano Ravaldi. Kenapa? Alasannya adalah harta.


Harta? Persetan dengan harta! Orangtuaku meninggal karena harta. Aku dicerai karena harta. Aku menjadi istri tuan muda dingin karena harta. Semua masalah dalam hidupnya hanya karena harta.


Percayalah, yang aku butuhkan hanya cinta. Yang mampu membuatku bahagia hanyalah cinta. Tapi apakah aku bisa mendapatkan cinta itu dari tuan muda Vano? Aku hanyalah seorang wanita yang dijadikan jaminan atas hutang suaminya. Aku seperti barang yang tidak berharga, sungguh menyedihkan.


Kisah dimulai


Seiring nafas yang mulai teratur, ia turun dari tempat tidur lalu memakai pakaiannya kembali, meninggalkan wanita yang bersembunyi di balik selimut, wanita itu sudah terlelap ke alam mimpi. Menarik nafas berat berharap semuanya hanya mimpi, jika semua ini nyata, maka malam ini adalah malam terakhir ia tidur dengan istrinya.


Ia tersenyum tipis, tapi hatinya perih. Wajah cantik istrinya tidak akan lagi menghiasi hari-harinya, ia tidak akan bisa menghibur istrinya ataupun memeluk wanita yang ia cintai. Posisinya akan digantikan oleh temannya, yang sebentar lagi akan menjabat sebagai suami dari istrinya.


"Maaf." Hanya kata itu yang terucap sebelum ia berjalan ke balkon untuk menenangkan diri.


Ia biarkan angin malam menyapa kulit tangan dan wajahnya. Seiring hatinya yang semakin perih, air bening menggenang di matanya. Ia mendongak, menatap langit malam yang gelap tanpa bintang. Betapa jahatnya ia, ia menjadikan istrinya sebagai jaminan atas hutang pada temannya. Perbincangan seminggu yang lalu pun teringat kembali olehnya.


"Aku bisa saja membantumu, tapi hutangmu sangat besar, dan dalam satu tahun lagi harus kau bayar karena aku akan sangat membutuhkan uang itu. Aku butuh jaminan bahwa kau akan membayar hutangmu tepat waktu."


Suasana di ruang tamu besar itu menjadi hening, dua pria yang sedang duduk berhadapan di sofa king size sama-sama diam, bingung harus mencari solusi seperti apa.


"Vano, aku tahu kau teman yang sangat peduli padaku, apakah kau tidak bisa membantuku lebih dalam lagi? Sungguh, aku tidak memiliki apapun untuk dijadikan jaminan. Rumah yang sekarang aku tempati pun bukan milikku, itu milik orangtuaku."


Pria yang dipanggil Vano itu memperbaiki posisi duduknya. Sebelum berbicara ia menarik nafas berat. Matanya menatap mata pria yang duduk di hadapannya. "Aku tahu Rafan, tapi aku juga tidak bisa membantu lebih jauh. Jika kau ingin meminjam uangku, maka kau harus memberiku jaminan. Sesuatu yang sangat berharga bagimu, agar kau bersemangat untuk membayar hutang padaku."


Keduanya diam lagi, mereka sama-sama memandang gelas teh hangat sambil berpikir bersama. Tak lama kemudian terdengar nafas berat.


"Hanya ada satu harta yang kumiliki selain perusahaan, dan harta itu sangat berharga bagiku."


"Apa itu?" tanya Vano.


"Nirmala."


Vano menegakkan badannya dan menegakkan kepalanya menatap lurus pada Rafan. "Apa kau bilang? Istrimu itu?" Vano tidak percaya apa yang telah ia dengar. Dengan menyebutkan nama istrinya, berarti Rafan menawarkan istrinya sebagai jaminan.

__ADS_1


"Apa kau sudah gila?"


Rafan menggebrak meja. "Aku tidak gila! Hanya saja aku butuh uang itu untuk membangun perusahaanku yang bangkrut. Tanpa uang, aku hanya akan membuat Nirmala sengsara. Aku tidak ingin itu terjadi."


Vano diam tidak berbicara, ia tahu maksud temannya itu sangat baik, yaitu tidak ingin membuat istrinya sengsara dan hidup susah, tapi semua itu tidak dapat membenarkan bahwa istri bisa dijadikan sebagai jaminan.


"Maaf, aku tidak bisa menerima jaminan itu," ucap Vano.


Tanpa diduga, Rafan berjalan ke samping Vano lalu bersimpuh di kakinya. "Aku mohon, hanya kau saja yang bisa membantuku. Aku berjanji, aku akan mengambil istriku setelah perusahaanku sukses, aku akan membayar hutangku secepat mungkin. Aku yakin kau bisa menjamin ekonominya selama dia bersamamu, aku mohon."


"Tapi bagaimana aku bisa membuatnya menjadi jaminan? Jika dia tinggal bersamaku, apa kata keluarga dan orang-orang nanti mengenai dirinya?" tanya Vano.


Rafan belum bangkit dari kaki Vano. "Kau bisa menikahinya, jika kau menikahinya, dia bisa memiliki pelindung."


Rafan bangkit dari kaki Vano lalu duduk ke tempat semula. Dengan cepat ia menarik satu kertas yang sudah sedari tadi tersedia di atas meja. Dengan cepat pula ia menulis sesuatu lalu menandatanganinya.


"Sudah sah, surat perjanjian ini menyatakan bahwa Nirmala sebagai jaminan. Aku mohon transfer uangnya besok." Setelah itu Rafan berdiri karena hendak pergi.


Vano sempat terperangah dengan tindakan Rafan, tapi apa boleh buat, temannya itu butuh bantuan dan ia harus membantu. Uang 50 milyar bukanlah uang yang sedikit, menjadikan istri Rafan sebagai jaminan adalah hal yang cukup setimpal walaupun menurutnya ia tidak membutuhkan istri Rafan itu.


Rafan berbalik ketika langkahnya dihentikan.


"Aku berjanji akan menjaga istrimu dengan baik, dan aku tidak akan menyentuh nya sampai kau mengambilnya kembali."


Janji yang diucapkan oleh Vano cukup membuat ia merasa lega dan tenang, tapi sampai detik ini ia belum berbicara dengan Nirmala, ia tidak memiliki keberanian untuk mengatakan kesepakatan yang telah ia buat dengan Vano.


"Apakah dia bisa bahagia bersama Vano? Dia tidak mengenal Vano, bahkan bertemu saja belum pernah, aku harap dia mau menuruti apa kataku."


Sebenarnya ada rasa penyesalan dan ragu, tapi semuanya sudah terlanjur, uang yang diberikan oleh Vano enam hari yang lalu telah ia gunakan untuk menutupi kerugian, hutang pada perusahaan lain, hutang ke bank dan juga sebagai modal perusahaan.


"Maaf Nirma, aku sudah menyakiti hatimu."


Air bening akhirnya berhasil meloloskan diri dari mata Rafan.


Sesuatu yang tidak dapat diraba namun bisa dirasakan menyapa kulitnya, hangat dan bercahaya terang. Perlahan Rafan membuka matanya. Belum sempurna ia membuka mata, ia merasakan tangan halus nan lembut membelai wajahnya.

__ADS_1


"Selamat pagi, Sayang."


Suara lembut yang selalu berhasil menyihirnya kini menyapa nya di hari yang sudah pagi. Ia menarik sudut bibirnya ke atas membentuk senyuman manis. Tangan kanannya dengan refleks menarik pinggul istrinya untuk ia peluk.


"Selamat pagi juga, Sayang," jawab Rafan.


Nirmala melepaskan pelukannya. "Mengapa kau tidur di balkon? Apakah kau tidak suka tidur satu ranjang dengan ku?" kata Nirmala sambil cemberut.


Melihat wajah imut istrinya, Rafan jadi gemas, ia pun mencubit pipi dan hidung istrinya dengan gemas dan manja. "Bukan begitu Sayang. Aku ketiduran di sini, tadinya setelah menghirup udara malam, aku akan kembali ke kamar, tapi ternyata aku malah tertidur di sini."


Nirmala tidak menggubris jawaban suaminya, ia malah sibuk memperhatikan mata dan wajah Rafan.


"Ada apa ini? Mengapa wajahmu kusam dan matamu bengkak?" tanya Nirmala setelah selesai memperhatikan wajah Rafan.


Rafan meraba wajahnya sendiri. "Apa iya? Sepertinya biasa saja. Ah, mungkin karena semalaman terkena angin malam," jawab Rafan diakhiri dengan senyuman indah.


"Baiklah, aku percaya padamu. Sekarang mandilah, aku akan menyiapkan pakaian kerjamu."


Nirmala berdiri lalu pergi ke dalam kamar. Sementara Rafan, ia memperhatikan punggung istrinya dengan uraian air mata. "Maafkan aku, Nirma. Aku akan menodai kepercayaanmu padaku."


Di ruang makan, Nirmala sedang menemani suaminya sarapan pagi. Hari ini hanya ada nasi dan goreng tempe saja, dompet dan rekening mereka memang sedang sangat kering.


"Nirma."


"Hm?"


"Semua hutang sudah aku bayar dan modal perusahaan juga sudah dipenuhi," kata Rafan yang mulai akan jujur.


Nirmala menghentikan kunyahan sejenak. "Dari mana kau bisa mendapatkan uang sebanyak itu hanya dalam waktu singkat? Bukankah uang 50 milyar tidak sedikit?" tanya Nirmala heran.


"Aku meminjam uang dari temanku, dia pemilik perusahaan terbesar di kota ini. Tapi sayangnya satu tahun kedepan dia sangat membutuhkan uang yang aku pinjam. Dengan itu dia memberikan syarat agar aku bisa memberikan dia jaminan." Jantung Rafan sudah berdetak diluar batas normal, ia tidak sanggup melihat istrinya terkejut dan terpukul.


"Memangnya kita punya jaminan apa? Perusahaan milik ayah mertua, dan itu saja dia sudah mengamuk karena perusahaan bangkrut, dan rumah ini, rumah ini juga bukan milik kita." Nirmala semakin bingung, entah apa yang dijadikan jaminan oleh suaminya.


"Kamu." Rafan langsung menunduk. "Aku menjadikanmu sebagai jaminan."

__ADS_1


"Apa?" Nirmala menjatuhkan sendok ke atas piring.


__ADS_2