Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 12 (S2)


__ADS_3

Reno menginjak pedal rem. Ia menggeram sambil mengumpat. "Bodoh."


Ara meringis karena siku, telapak tangan dan juga lututnya lecet dan sedikit berdarah. Ia kesal pada Reno yang tidak langsung mengerem saat ia berlari ke arah depan mobil. Yang sekarang ia harapkan adalah Reno turun, menanyakan kondisinya, meminta maaf, lalu memapahnya masuk ke dalam mobil. Ya seperti di beberapa drama yang pernah ia tonton.


Namun, alangkah terkejutnya ia ketika mobil hitam itu mundur satu meter, lalu berbelok ke arah kanan. Mobil hitam itu maju melewatinya begitu saja. Ara sampai terperangah dibuatnya.


"Apa?"


Ara melihat mobil hitam yang menjauh dengan tatapan kosong tak percaya. Dan beberapa detik kemudian ....


"Rennnnoooooo!!"


* * * *


Pagi ini Nirmala tidak menyiapkan keperluan Vano. Dan Vano sendiri memaklumi itu. Lagi pula sejak awal ia tidak pernah menuntut Nirmala melakukan itu.


Sambil menunggu sopir dan Farhan datang, Vano memperhatikan Nirmala yang sedang sibuk mengganti perban untuk Ara.


Ya, tadi malam Ara tidak pulang ke rumah. Saat ia berteriak, ternyata teriakannya itu sampai terdengar ke lantai dua walaupun tidak terdengar begitu jelas. Mendengar teriakkan Ara. Nirmala langsung datang. Nirmala pun merawat lukanya dan meminta Ara untuk bermalam di kamar tamu.


"Selesai." Nirmala meletakkan gunting di dalam kotak P3K.


Ara tersenyum dan melihat perban yang terpasang baik dan rapi. "Terima kasih, Nyonya Besar. Maaf sudah merepotkan Anda."


Vano diam saja melihat keakraban dua wanita itu. Ia memang sudah sering melihat Nirmala tertawa dan tersenyum. Akan tetapi ia belum pernah melihat Nirmala tersenyum bersama seorang temannya. Mungkin selama ini ia sudah terlalu ketat menjaga Nirmala.


Nirmala belum pernah keluar jalan-jalan sejak terakhir kali mengunjungi rumah sakit jiwa. Sebab itulah Nirmala tidak memiliki teman lain selain dirinya. Dan sekarang ia berpikir mungkin Ara bisa menjadi teman baik untuk Nirmala.


"Sayang, mengapa masih belum berangkat?" Nirmala menyadari sedari tadi Vano hanya duduk diam di sofa.


Vano tersenyum manis. Ya senyuman yang hanya Vano keluarkan untuk Nirmala seorang. "Aku masih ingin melihat istriku tercinta."


Ara tersenyum, padahal di hatinya tertawa terbahak-bahak. "Sungguh menggelikan. Pria dingin yang tegas sedang mengeluarkan kata-kata lebay."


Nirmala menghampiri suaminya kemudian duduk di sampingnya. "Sayang, jangan lupa apa yang aku katakan tadi malam. Ok?"


Vano mengangguk lalu mencium kening istrinya. "Oke Sayang."

__ADS_1


'Kling'


Vano melihat layar ponselnya. "Sayang, aku berangkat dulu ya. Jaga diri baik-baik, dan jaga bayi kita juga." Vano mengelus perut Nirmala dengan lembut.


Nirmala tersenyum. "Baiklah. Hati-hati ya."


Nirmala mengantarkan Vano sampai teras rumah. Di sana ia mencium punggung tangan suaminya. Begitu juga dengan Vano yang tidak lupa untuk mencium kening serta kedua pipi putih milik istrinya.


Tidak ada pelayan yang berani melihat adegan mesra antara tuan dan nyonya mereka. Semuanya menunduk, termasuk sopir yang sudah stand by di dalam mobil.


Setelah memastikan Vano berangkat dengan dikawal oleh delapan bodyguard, Nirmala langsung kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat. Bukannya naik ke dalam kamar, ia malah kembali masuk ke dalam kamar yang Ara tempati.


"Nyonya Besar? Anda datang kembali?"


Ara ingin bangkit dan berdiri menyambut Nirmala. Akan tetapi lututnya masih terasa ngilu dan kulitnya juga masih terasa perih.


"Duduk saja di sana." Nirmala meminta agar Ara tetap berada di atas tempat tidur. Ia yang duduk di tepi ranjang.


"Aku penasaran, mengapa dia begitu tega meninggalkan kau dalam kondisi terluka. Apalagi kau terluka karena dia," ucap Nirmala yang benar-benar ingin tahu.


Ara semakin mengerucutkan bibirnya saat teringat kejadian tadi malam.


Nirmala menepuk bahu Ara. "Jangan putus asa, Ra. Justru kau harus semakin tertantang untuk menaklukkan hati batu itu."


Kemudian Nirmala berdiri. "Hari ini kau boleh beristirahat. Jika kau sudah benar-benar pulih, baru kau boleh bekerja lagi. Istirahatlah di sini. Aku pergi ke kamar dulu."


Ara mengangguk saja. Toh ia memang sedang tidak bisa mengawal Nirmala kemana-mana. Dan tidak buruk juga jika ia beristirahat di kamar yang sangat nyaman ini.


'Tok-tok-tok'


"Masuk," ucap Nirmala ketika melihat layar kecil di samping nakas. Di sana ia melihat Reno berdiri di depan pintu kamar.


Reno membuka pintu kamar. "Selamat pagi menjelang siang, Nyonya Besar. Saya ingin memastikan apakah Anda sudah makan pagi dan sudah beristirahat?"


Reno menanyakan hal itu karena ia memang diperintahkan oleh Vano. Jika tidak, mana mungkin ia peduli.


Nirmala diam sejenak. Entah apa yang ia pikirkan di dalam kepalanya. Tapi tak lama kemudian ia berbicara sambil menggeleng.

__ADS_1


"Belum," jawabnya singkat.


Mendengar jawaban Nirmala, Reno menarik nafas dalam. Ia pikir ini akan menjadi masalah jika Nirmala belum sarapan. Vano pasti akan marah-marah nanti.


"Saya akan meminta pelayan membawakan makanan."


Belum sempat Reno pergi, Nirmala menggelengkan kepala dan menolak.


"Tidak, aku tidak ingin makan. Dan aku tidak akan mau istirahat," jawab Nirmala.


Reno mengangkat sebelah alisnya di balik topi. Ia menangkap nada merajuk saat Nirmala berucap tadi. Ia pikir ini akan menjadi rumit. Sungguh ia malas mengahadapi seorang wanita. Salah satunya karena ia tidak pernah bisa memahami wanita.


"Mengapa, Nyonya?" Reno bertanya.


Nirmala melipat tangan di depan dada. "Aku ingin ditemani oleh Ara. Akan tetapi sekarang ia sedang terluka dan tidak bisa menemani ku. Tadi malam ia jatuh di halaman depan, dan sekarang ia tidak dapat berjalan. Ia hanya bisa beristirahat di kamar tamu. Sekarang aku merasa kesepian."


Nirmala pura-pura bersedih agar Reno percaya bahwa ia sedang merasa kehilangan.


"Aku tidak tahu apa yang membuatnya bisa terluka separah itu. Mungkin aku akan mengecek penyebabnya dari rekaman CCTV," lanjut Nirmala.


"Apa? Terluka separah itu? Apakah dia benar-benar terluka parah?" Reno menggaruk hidungnya yang tidak gatal. "Bisa gawat jika nyonya besar memeriksa CCTV dan melihat aku yang menabraknya dan pergi begitu saja. Pasti dia akan melapor pada tuan besar dan merengek meminta tuan besar menyuruhku melakukan sesuatu untuk gadis itu."


Sebenarnya ia tidak takut pada Vano, akan tetapi kesetiannya membuat ia tidak bisa membantah perintah kakaknya itu. Dan jika Nirmala yang meminta, ia yakin Vano akan langsung mengabulkan permintaannya.


"Hmm, aku sudah bisa menebak semuanya. Aku harus bertindak cepat."


Reno berdeham. "Ekhm, maaf Nyonya Besar. Saya mohon makanlah. Pikirkan calon tuan muda yang sedang Anda kandung. Soal Ara, biar saya yang mengurusnya." Reno terpaksa berbicara panjang lebar.


Dalam hati Nirmala bersorak gembira, akan tetapi ia tetap memasang wajah cemberut.


"Saya akan meminta pelayan membawakan makanan untuk Anda." Setelah itu, Reno undur diri.


Setelah Reno menutup pintu, Nirmala tertawa, bahkan hampir tertawa terbahak-bahak. "Ahahaha, akhirnya berhasil. Pasti dia akan meminta maaf pada Ara. Dan yang paling romantis adalah dia akan merawat Ara. Ya walaupun bukan karena merasa bersalah, setidaknya ia takut jika aku memeriksa CCTV."


Tanpa Nirmala tahu, pria bertopi tersenyum miring. "Oh, ternyata itu rencana Anda, Nyonya Besar. Baiklah, aku akan mengikuti permainan ini."


Reno menekan earpiece yang terpasang di telinganya, maka berakhirlah suara Nirmala yang tertawa di balik kamar.

__ADS_1


__ADS_2