Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 31 (S2)


__ADS_3

"Sekarang aku akan mengobati luka di wajahmu. Setelah selesai kau harus menceritakan apa yang terjadi padamu."


Ara menurunkan kemeja Reno. Setelah itu ia duduk lurus menghadap Reno. "Jika terlalu sakit, kau bisa menghentikan aku. Mengerti?"


Reno masih tidak menjawab.


"Ish, kau ini. Walaupun sudah aku bantu, masih saja dingin padaku." Ara cemberut lalu tangannya mengambil kapas baru.


Reno melamun saat Ara membersihkan luka di pelipisnya. Rasa sakit tidak terasa karena terlalu kuat memikirkan hal yang menggangu pikirannya. Dan sekarang Ara sudah beralih ke sudut bibirnya.


"Shh ...." Reno baru meringis karena luka sobek itu terasa sangat perih.


Ara menghentikan gerakannya dan merasa bersalah. "Apakah aku terlalu kasar?" tanya Ara dengan serius dan penuh perhatian.


Reno mengalihkan matanya ke arah mata Ara. Dari mata Ara ia bisa melihat sebuah ketulusan. Ia tidak berkedip saat melihat mata indah itu. "Apakah ini rasanya mendapatkan perhatian dan ketulusan dari seseorang? Apakah seorang ibu juga akan mengobati luka anaknya seperti ini?"


Mengingat ibunya, hati Reno yang tidak pernah tersentuh tiba-tiba terenyuh. Sejak lahir ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua. Ia tidak pernah dipeluk. Saat ia meraih prestasi, ia tidak pernah mendapatkan usapan di kepala. Saat ia terluka, tidak ada orang tua yang mengobatinya dengan penuh kasih sayang.


Jangankan mendapat pelukan, ciuman, dan kasih sayang dari orang tua, saat lahir saja ia tidak pernah melihat wajah ibunya. Bahkan saat mengandung dirinya, ibunya dalam kondisi gila. Saat sudah besar, ia melihat ayahnya, akan tetapi ayahnya juga gila, tidak mengerti bahwa ia memiliki anak selain Vano.


Mengingat itu, matanya yang menawan tidak sanggup untuk menahan jatuhnya air mata. Bagaimanapun juga ia adalah manusia yang memiliki hati. Sekaras apa pun ia berusaha membuat hatinya seperti batu, hatinya akan tersentuh juga.


"A-a-apa sangat sakit?" Ara meniup-niup luka Reno dengan perasaan bersalah. Ia pikir luka itu sangat sakit hingga Reno mengeluarkan air mata.


Reno menatap Ara cukup lama. Kemudian ia meraih tengkuk Ara dan ....


'Cuuuuppp'


Ara membulatkan matanya karena terkejut, sedangkan Reno memejamkan mata. Berusaha menyalurkan perasaan sakit dihatinya.


Sepuluh detik kemudian Reno melepaskan Ara. "Ini lebih baik."


Pipi Ara bersemu mewah. Saking merahnya mungkin akan terlihat seperti merah tua. Tidak tahu apa yang ia rasakan, yang jelas pipinya memerah bukan karena marah.


"Ka-kau, bisa-bisanya kau menciumku saat ujung bibirmu terluka." Ara berusaha bersikap biasa saja, akan tetapi siapa pun yang melihat nya, sudah pasti tahu bahwa ia sedang salah tingkah.


Reno baru tersadar atas apa yang baru saja ia lakukan. Ia langsung berbalik dan mengusap air matanya. "Kau pergilah. Aku ingin sendiri."


Karena ia sendiri malu, Ara memilih untuk menuruti perintah Reno. "Baiklah. Tapi nanti sore aku akan kembali untuk mengobati lukamu lagi."

__ADS_1


Reno tidak menjawab. Rasanya malu sekali jika harus berbicara pada Ara sekarang ini.


Ara sendiri berjalan meninggalkan kamar lama Vano sambil menutup mulutnya, pipinya kembali merona.


Setelah Ara pergi, Reno menoleh ke arah pintu yang sudah ditutup. Ia tersenyum tipis ketika mengingat bagaimana ekspresi Ara setelah ia menciumnya. Ia juga menyentuh bibirnya sendiri. Bibir lancang itu sudah membuatnya mati kutu karena malu.


"Ternyata kau tahu apa yang membuatku tenang." Reno berbicara sendiri pada bibirnya seolah-olah bibirnya hidup terpisah dari kendalinya.


'Ceklek'


Reno masuk tanpa permisi kemudian kembali menutup pintu. (OMG! Sely bingung cara bedain nama mereka 😱)


Reno yang tadinya tersenyum langsung memasang wajah datar kembali. "Mau apa kau kemari?" tanya Reno.


Reno adik sepupunya Vano duduk di samping, Reno. Biasanya ia akan merangkul bahu lawan bicara, akan tetapi mengetahui tubuh Reno penuh luka cambukan, ia tidak melakukannya kali ini.


"Gadis tadi baru saja keluar dari kamarmu dengan pipi yang merona. Apakah kau sudah berubah menjadi pria normal?" tanya Reno adik sepupu Vano.


Reno berdecak kesal. Ia sangat malas bertemu dengan adik sepupunya ini karena adik sepupunya akan mengejeknya dengan topik 'G*y'. Karena ia tidak pernah menyukai wanita, jadi Reno sepupu Vano selalu menuduh Reno menyukai sesama jenis.


"Berhentilah berbicara omong kosong, Af." Reno berbicara dengan nada ketus.


"Pipinya jelas-jelas sangat merona. Apa yang telah kau lakukan pada nya? Memeluk? Mencium? Atau jangan-jangan kau sudah ...."


"Hentikan omong kosong kau itu! Aku akan membunuhmu jika kau berani berbicara lagi!" sergah Reno kesal.


Afid tertawa lebih keras lagi. "Mana mungkin kau berani membunuhku," ucap Afid dengan percaya diri.


Reno menatap tajam pada Afid lalu tersenyum miring. "Jika kau mati, tentu saja hanya ada satu Rareno Ravaldi. Dengan begitu aku tidak akan membebankan dirimu dengan identitasku yang kak Vano titipkan padamu, bukan?"


Afid menelan ludah dengan susah payah. "Hahaha, aku hanya bercanda. Baiklah, aku tidak akan berbicara omong kosong lagi." Afid tertawa garing.


Walaupun ia sudah berusaha untuk berani, akan tetapi tetap saja ia tidak bisa melawan seorang pemilik nama Rareno Ravaldi yang asli.


(Supaya gak bingung tentang nama mereka yang sama, yuk Sely jelasin dulu. Afid dan Reno memiliki nama yang sama agar Raisa dan antek-anteknya gak bisa nemuin Reno yang sebenarnya mereka cari.)


Afid berdiri bersiap untuk pergi. Tapi sebelum melangkah, ia berbicara lagi. "Tapi jika kau butuh bantuanku untuk menaklukkan hati wanita, kau bisa minta bantuanku. Aku adalah ahlinya."


Reno tidak menanggapi, sepertinya kepalanya akan segera pecah jika Afid masih terus ada di kamarnya.

__ADS_1


* * * *


Awan mendung mulai menutupi matahari sore yang beberapa jam lalu masih bersinar cerah. Angin mulai menyapa apapun yang menghalangi jalannya. Suara guntur samar-samar dari tempat yang jauh. Semua rumah yang menjemur pakaian sibuk mengangkat pakaian yang sudah sibuk menari-nari diterpa angin. Tidak terkecuali dengan pelayan di rumah keluarga Ravaldi.


Ara mengangkat pakaiannya sendiri. Melihat mendung yang luar biasa, Ara cepat-cepat masuk ke dalam rumah. Begitu pula dengan para pelayan. Semuanya sibuk menutup pintu serta jendela.


Di luar angin bertiup sangat kencang, berbeda dengan di dalam rumah. Di dalam sangat tenang seolah-olah tidak ada yang tanda-tanda akan hujan. Hanya saja udara yang mulai dingin.


Ara meletakkan pakaian bersihnya di atas tempat tidur. "Hah, aku sedang malas. Nanti malam saja aku lipat."


Ara berjalan ke meja rias, ia berniat untuk menyisir rambut. Sehabis mandi tadi ia belum sempat menyisir rambut karena ia langsung mengangkat pakaian. Selesai menyisir rambut, Ara teringat akan sesuatu.


"Oh ya, sudah waktunya Reno mengganti perban." Ara buru-buru keluar dari kamar.


'Ceklek'


Ara memasukkan kepala terlebih dahulu untuk melihat kondisi kamar. Di atas tempat tidur ada Reno yang tidur sambil duduk. Pria itu belum mandi dan ataupun berganti pakaian. Melihat itu Ara langsung masuk ke dalam.


Ia duduk di samping Reno. Tangannya terangkat untuk menggoyangkan tangan pria itu. "Hei, bangun."


Karena dasarnya Reno tidur dalam kondisi tidak nyaman, cukup dipanggil saja ia sudah langsung bangun. Saat membuka mata, yang ia lihat pertama kali adalah wajah cantik Ara.


"Mengapa kau ada di sini lagi?" tanya Reno sambil mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.


"Seharusnya aku yang bertanya, mengapa kau tidur dalam posisi duduk?" tanya Ara. Ia terlihat sangat khawatir.


Reno meringis karena kembali merasakan lukanya yang perih. "Punggungku penuh luka, akan sangat sakit jika aku berbaring. Bahkan jika aku tidur menyamping pun, lenganku juga ada luka."


Mengetahui tubuh Reno benar-benar penuh luka, Ara merasa sangat iba. Pria tangguh itu sampai meringis, itu artinya luka-luka tersebut memang sangat parah. Tapi untuk sekarang ia tidak ingin bertanya sebabnya, yang paling penting adalah mengobati luka-luka itu.


"Kau belum mandi sejak pagi, maka mandilah dulu." Ara mengambil kotak P3K di atas nakas. "Aku akan menyiapkan obatnya."


Reno tidak beranjak. "Mana mungkin aku bisa mandi sendiri."


Ara menoleh ke arah Reno. "Lalu?"


"Mandikan."


'Deg'

__ADS_1


Aduh gimana ini? Reno minta dimandiin. Diantara kakak-kakak semua, siapa nih yang mau mandiin dia? Oh ya, karena hari ini hari Minggu, Sely kasih bonus dah satu episode lagi. Eits, tapi kasih like dan komen dulu dongπŸ‘πŸ˜


__ADS_2