
Setir mobil dipukul keras berkali-kali. Di dalam mobil sport hitam Reno tengah melampiaskan amarahnya dengan memukul setir mobil. Ia melihat ke arah bangunan tiga tingkat yang sangat besar. Di bagian depan hanya ada dua penjaga, namun ia sudah tahu bahwa di dalam sana sudah ada banyak penjaga yang siap meringkus dirinya jika ia masuk.
"Sial, sial, sial!" Reno melepaskan earpiece lalu membantingnya ke sembarang arah depan kuat. "Mengapa aku tidak tahu tentang markas Paul yang satu ini!"
Ia pikir markas Sain dan Paul hanya ada satu. Padahal ia sudah mempersiapkan rencana dengan memperhitungkan keadaan di markas yang ia intai sejak beberapa tahun lalu. Namun semuanya sia-sia bahkan gagal, kini dirinya yang masuk ke dalam perangkap Sain.
Reno merogoh saku celananya dan mengeluarkan earpiece warna putih. "Kirimkan informasi tentang gedung besar di jalan **X*X, nomor gedungnya 124 ... Bagus, aku tunggu sepuluh menit."
Reno kembali menatap gedung yang ada di seberang jalan.
Sepuluh menit kemudian. "Bagaimana?"
"Gedung itu adalah tempat perkumpulan jasa bodyguard. Biasanya orang yang menyewa bodyguard di sana adalah para mafia dan mantan narapidana. Jumlah bodyguard yang diketahui berjumlah 145 orang. Berdiri sejak sepuluh tahun yang lalu. Pemilik pertama bernama Dhani Rukano, lalu beralih tangan pada putra keduanya, Paul Rukano."
Reno mendengarkan penjelasan dari tangan kanannya dengan seksama. Matanya tetap fokus ke depan.
"Setiap lantai memiliki lima ruang latihan yang besar. Sedangkan di lantai tiga tempat istirahat pelatih dan ruang pertemuan. Gedung itu memiliki 20 penjaga dengan kemampuan bela diri tingkat tinggi. Ada--"
"Tidak usah bercerita panjang lebar. Segera kirimkan denah ruangan gedung itu." Reno menutup sambungan.
Ia mengambil earpiece yang tadi ia buang lalu memakainya sebentar. "Aku akan bergerak sekarang. Jangan khawatirkan aku, Kak." Reno memutus sambungan dengan kakaknya.
'Kling' Denah sudah diterima. Reno mengambil topi hitam, pistol, pisau, peluru cadangan, dan terakhir cairan biru yang seharusnya ia gunakan untuk melumpuhkan Ara.
Reno menatap cairan itu. "Seharusnya kau aku gunakan untuk melumpuhkan Ara, tapi sekarang aku akan menggunakannya untuk menyelamatkan Ara."
Di lain tempat Vano dan Farhan sedang khawatir. Apalagi setelah Reno memutuskan sambungan dengan mereka.
__ADS_1
Vano membanting earpiece ke tanah. Ia terlihat bingung dan pusing. Sedari tadi ia terus mondar-mandir di depan teras. Sedangkan Farhan hanya diam berdiri di belakangnya.
Tak lama kemudian Vano berhenti dan menatap Farhan. "Tidak ada cara lain. Kerahkan semua yang kita miliki."
Farhan mengangguk dan langsung menghubungi seseorang.
Vano menunggu Farhan selesai, setelah sekretarisnya selesai, ia pun langsung bertanya. "Tidak apa-apa kah kita bertindak tanpa pihak berwenang?"
Farhan menarik nafas berat. "Tidak ada waktu untuk mengurus ini dengan polisi, Tuan Besar. Setelah semuanya selesai, barulah kita urus masalah ini dengan polisi."
Vano menunduk. Sungguh kali ini ia benar-benar pusing. Masalah yang ia hadapi tidak semudah mengurus ular licin seperti Raisa. Jika tidak ia tuntaskan sekarang, maka masalah-masalah akan terus terseret ke masa yang akan datang.
Keluarga Rukano bukan orang yang mudah diatasi. Mereka memiliki sifat pendendam yang mengalir turun-temurun. Jika tidak diberantas, itu artinya keturunan keluarga Ravaldi akan terus mendapatkan masalah. Ia tidak ingin keturunannya menghadapi masalah yang diakibatkan oleh kejadian di masa kini.
Vano mengangkat wajah dan melihat ke lantai dua. Dari bawah ia bisa melihat ke balkon kamarnya. "Aku ingin pergi ke sana, namun aku juga harus menjaga istriku."
Mendengar ucapan Farhan, Vano tersenyum kecil. "Ya, dia si pembunuh berdarah dingin."
"Si pembunuh berdarah dingin yang tidak mampu mencubit seorang seorang tuan besar Vano sedikit pun," tambah Farhan.
Keduanya tersenyum mengingat bagaimana seorang Reno yang dingin dan keras melebihi Vano bisa patuh dan tidak berani menyakiti Vano seujung kukupun.
Kembali pada markas Sain, Reno sudah siap masuk ke dalam gedung markas. Pakaian serba hitam yang ia kenakan memudahkan dirinya menyelinap di malam hari yang gelap itu. Reno memakai sarung tangan yang di dalamnya tersembunyi pisau lipat andalannya.
Langkah kakinya terus maju tanpa takut dan ragu. Begitu memasuki gerbang, ia dihadang oleh dua penjaga. Tanpa basa-basi, Reno menekan telapak tangannya, lalu mengayunkan kedua tangannya secepat kilat ke arah leher penjaga itu.
'Sret' Dua penjaga itu langsung jatuh ke tanah dengan darah yang mengalir di lehernya.
__ADS_1
Reno melanjutkan langkahnya dengan aura pembunuh yang kuat.
Di ruang santai, Sain bertepuk tangan setelah melihat aksi Reno yang sanggup melenyapkan dua nyawa sekaligus hanya dalam hitungan tiga detik. Ia mengalihkan matanya dari laptop ke arah Ara.
"Sayang, lihatlah suamimu yang hebat itu. Dia mampu membunuh dua orang dalam sekali kedip. Tidak kah kau takut kalau-kalau dia bosan dengan mu lalu membunuhmu?" ucap Sain tersenyum mengejek.
Ara menatap tajam Sain. "Setidaknya dia tidak sejahat itu," ucap Ara dalam dan tajam.
Sain menatap layar laptop lagi. "Oh, dia sudah masuk ke dalam gedung dan kembali dihadang oleh 10 bodyguardku. Apakah dia masih mampu?"
Ara mengepal kuat. Jika tidak dibius, tidak mungkin Sain bisa membawanya dengan mudah. Sekarang tangannya terikat kuat, jika tidak, wajah pria itu sudah habis dibuatnya.
"Waw, dia sudah menumbangkan empat orang di detik ke lima belas. Aku tidak sabar melihat dia masuk ke ruangan ini dan ... booomm, dia akan mati berdiri."
Ara tidak mengerti maksud dari ucapan Sain. Ia tidak mengetahui apa rencana yang ia siapkan untuk Reno. Dalam hati ia berdoa semoga Reno pergi saja, jangan masuk ke dalam ruangan ini.
"Wah, wah, wah, dia menghabiskan semuanya dalam waktu lima menit." Sain kembali bertepuk tangan.
"Kau masih bisa bertepuk tangan, tapi aku yakin jantungmu berdetak kencang karena takut melihat keganasannya. Kau sudah salah cari musuh, Sain," ucap Ara mengejek Sain.
Sain menoleh cepat ke arah Ara. Tawa dan senyumnya langsung hilang seketika. "Kau masih bisa berbicara sekarang, tapi nanti, kau hanya bisa menangis."
Ara diam tak berbicara. Diam-diam ia mengeluarkan pisau lipat dari lengan baju panjangnya. Dengan pisau lipat kecil itu ia memotong tali sedikit demi sedikit. Ia tetap berpura-pura terikat padahal satu persatu talinya mulai lepas.
Aksinya semakin lancar saat Sain fokus memperhatikan pergerakan Reno dari layar laptop. Hingga tinggal satu lagi, ia menghentikan gerakannya tangannya karena Sain kembali menatapnya.
"Apa yang kau lakukan, Sayangku?" tanya Sain dan menatap tajam pada Ara.
__ADS_1
Gak terasa udah hari Minggu lagi ya. Cuss sely buat 2 episode.