Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 19


__ADS_3

Walaupun sudah tersedia banyak makanan di atas meja makan, belum ada satupun orang yang menyentuh makanan itu. Baik Vano, Nirmala, dan Raisa, semuanya masih diam. Sebenarnya Raisa merasa malam makan di meja makan, akan tetapi pelayan mengatakan bahwa Vano ingin membicarakan hal yang penting.


"Cepat bicaralah, Vano. Aku ingin segera makan."


Vano mengangkat pandangan melihat ke arah ibunya.


Dipandang seperti itu, sebenarnya Raisa jengkel setengah mati. Vano selalu berkuasa di atas segalanya. Posisinya sebagai nyonya besar tidak ada apa-apanya untuk Vano. "Menyebalkan," gerutu Raisa dalam hati.


Nirmala diam saja dan kepalanya menunduk. Di hadapan nyonya besar dan tuan muda, Nirmala bukanlah apa-apa.


"Aku akan menyelenggarakan resepsi pernikahan pada hari Minggu."


Suara Vano akhirnya mengisi keheningan.


Raisa mengerutkan keningnya. "Apa? Kau ingin menyelenggarakan resepsi pernikahan? Itu artinya kau akan memberitahu publik bahwa kau sudah menikah." Raisa tertawa bingung sambil mendengus.


"Vano, kau ini sudah gila? Istrimu ini hanya bahan jaminan. Kau tidak bisa menjadikan dia sebagai istrimu selamanya. Dia harus dikembalikan pada suami pertamanya. Lagi pula dia sedang mengandung anak Rafan, kan? Yang paling berhak atas Nirmala dan anaknya adalah Rafan."


Sorot mata Vano menajam. Hanya dengan tatapan tajamnya, ia mampu membuat Raisa berhenti berbicara tanpa memerintahnya.


"Aku tidak meminta persetujuan Anda," ucap Vano tegas.


Raisa tersenyum masam. "Lalu mengapa kau membicarakan hal ini dengan ku?"


"Aku tahu, jika ada acara apapun, Anda harus berbelanja sebanyak mungkin, lalu melakukan perawatan agar tetap terlihat cantik. Wanita seperti Anda tidak bisa pergi ke pesta secara mendadak, Nyonya Besar." Ada nada sindiran di sana.


"Ada apa ini? Baru kali ini aku mendengar percakapan antara Vano dan ibunya. Mengapa Vano berani berbicara seperti itu pada ibunya? Apakah dia tidak pernah dididik dengan baik? Percuma sekolah tinggi, jabatan tinggi, dan harta melimpah jika perilakunya seperti itu. Tapi aku tidak heran, dia kan pria kutub es."


Raisa tidak berbicara lagi. Jika ia berbicara, yang ada ia yang akan semakin tersudut. Vano sangat ahli dalam menyudutkan nya. Ia memilih untuk mengambil makan. Tapi belum sempat mengambil piring, Vano membuka suara.


"Apa yang Anda lakukan di kantor WerG, Nyonya Besar?"


Seketika tangannya seakan kaku, pertanyaan Vano sungguh mengejutkan. Pada hari ia menemui Rafan, ia sangat yakin tidak ada satupun orang-orang Vano yang mengikuti dan memata-matai dirinya. Lalu dari mana Vano tahu?


"Ka-kau tahu dari mana?" tanya Raisa sedikit gugup.


Vano tersenyum sinis. "Tidak perlu Anda tahu, Nyonya Besar. Aku ini bukan orang bodoh."


Raisa kembali ke posisi duduk. Ia memandang Vano dan Nirmala secara bergantian. "Aku tidak ada maksud lain. Aku hanya memberitahu Rafan bahwa Nirmala sedang mengandung anakmu."

__ADS_1


Dari bawah meja, tangan Vano mengepal kuat. Itulah alasan mengapa tadj Rafan sampai memukul sopir pribadinya.


"Aku hanya berniat baik saja," lanjut Raisa.


Vano diam membiarkan ruang tengah itu hening sejenak. "Apa pun yang Anda sebut kebaikan, itu kebaikan untuk Anda sendiri. Aku peringatkan, jangan pernah ikut campur dengan urusanku, terutama urusan aku dan Nirmala," ucap Vano tegas.


Suara tegasnya menguasai ruang tengah hingga para pelayan yang berjaga di depan pintu mulai merasa takut.


"Mengapa kau selalu berbicara seperti itu pada ibumu? Jangan hanya karena wanita ini." Raisa menunjuk Nirmala dengan tangan lurus. "Kau jadi semakin berani pada ibumu. Dia tidak pantas kau jadikan istri."


Nirmala menunduk, bersiap mendengarkan hinaan yang Raisa lontarkan sebentar lagi.


"Wanita janda, miskin, yatim-piatu, murahan, materialistis, dan-"


'Brak!' 'treng' Semuanya terkejut, terutama Raisa.


Vano menggebrak meja dengan kuat hingga piring, gelas, dan sendok di atasnya bergetar.


"Tutup mulutmu, Nyonya Besar!" Vano meninggikan nada bicaranya. Pada pelayan yang berada cukup jauh menunduk takut.


Vano berdiri. "Sekali lagi Anda menghina nyonya muda, maka aku tidak akan segan-segan untuk memberi perhitungan pada Anda," ucap Vano sambil menunjuk Raisa.


'Brak!'


Vano menutup pintu dengan keras. Setelah itu ia berjalan menuju jendela besar dan berdiri di sana sambil menatap keluar.


Nirmala masih berdiri di dekat pintu. Sebenarnya sedari tadi ia menahan air matanya ketika Raisa menghinanya. Namun ia berusaha untuk kuat.


"Van--"


"Diamlah."


Nirmala pikir Vano sudah keterlaluan, walaupun ibunya begitu, ia tidak pantas menggebrak meja dan meninggikan suara di hadapan ibunya.


"Tidak Vano, aku tidak bisa diam. Kau tidak bisa berbuat seperti itu pada ibumu. Mau bagaimana pun juga dia tetap ibumu."


Vano tidak menjawab, ia tetap memandang keluar jendela.


"Vano kau harus meminta ma--"

__ADS_1


"Aku perintahkan dirimu untuk berhenti berbicara." Kali ini ucap Vano lebih tegas dan lebih seperti memberikan peringatan.


"Vano aku--"


Vano berbalik, tampak wajahnya sedang sangat marah. "Aku bilang diam!" bentak Vano dengan keras.


Nirmala langsung menunduk. Ini adalah kali pertama Vano membentaknya. Akhirnya ia tidak kuasa lagi menahan air mata.


"Aku tidak ingin marah padamu Nirmala, tapi sepertinya kau selalu memancing emosiku." Vano masih berbicara dengan nada tinggi. "Dia sudah menghinamu, untuk apa kau masih membelanya?"


Wajah Vano kembali tajam dan dingin. Ia berjalan mendekati Nirmala, dengan satu gerakan ia mencengkram rahang Nirmala lalu mengangkat wajah istrinya untuk bertatapan langsung.


"Jika kau masih membela wanita itu, aku tidak akan segan-segan melemparmu keluar dari rumah ini," ucap Vano dengan nada dingin dan tajam.


Air mata Nirmala semakin deras. Ia tidak bisa menunduk selain harus menatap wajah Vano dengan mata yang bergenangan air mata.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Silahkan lempar aku keluar dari rumah ini," ucap Nirmala sambil menahan sakit di rahangnya.


"Yang dikatakan ibu memang benar. Aku tidak pantas untukmu. Aku hanyalah seorang janda, aku wanita rendahan, aku miskin. Aku sama sekali tidak pantas dijadikan sebagai istrimu." Nirmala memejamkan matanya ketika ia menangis terisak.


Ia harus menahan beban hidupnya sendirian tanpa ada tempat untuk mengadu. Kedua orangtuanya telah tiada, kakak laki-lakinya sama sekali tidak peduli.


Maka dari itu sekarang ia merasa sangat terpukul sekali. Ia pikir ia bisa mendapatkan tempat berlindung di bahu Vano, tapi sepertinya itu tidak mungkin.


Saat menutup mata, tiba-tiba ia merasa benda kenyal dan lembab menempel pada bibirnya. Ia membuka mata perlahan, dan didapatnya Vano tengah menciumnya.


Vano menciumnya dengan lembut seolah tadi Vano tidak marah padanya sama sekali. Ke mana perginya Vano yang mencengkram rahangnya dengan kasar.


Cukup lama akhirnya Vano melepaskan Nirmala. Ibu jari Vano mengusap air mata di pipi Nirmala.


"Maafkan aku. Aku terbawa emosi."


Nirmala kebingungan dalam hati. "Tatapan apa ini? Mengapa mata Vano yang selalu memancarkan kedinginan hatinya kini menatap hangat?"


Setelah itu Vano mundur satu langkah. "Aku akan meminta pelayan membawakan air hangat untuk mengompres rahangmu."


"Itu tidak perlu," ucap Nirmala.


"Menurutlah." Kembali nada merajai itu terdengar dari mulut Vano.

__ADS_1


__ADS_2