Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 41 (S2)


__ADS_3

"Afffiiiiddd ...!" Ia menggeram kesal.


Sambil berdiri ia menendang dua koper itu hingga melayang jauh. "Jika aku menemukan mu, aku akan membunuhmu."


Ara menatap Reno sambil mengangkat sebelah alisnya. "Jadi bukan kau yang memilih pakaian ini?" tanya Ara.


Reno menoleh ke arah Ara. "Apa aku terlihat bodoh?" Ia menunjuk wajahnya. "Aku tidak suka digoda wanita." Kemudian ia melihat baju yang berserakan di lantai. "Aku yang mengeluarkan uang, dan Afid yang berbelanja sendiri."


Ara menghela nafas panjang. Ia pikir Reno yang sengaja membelikan pakaian itu. Akhirnya ia tidak jadi marah pada suaminya.


"Lalu sekarang bagaimana? Baju lamaku aku tinggalkan di rumah kak Nirmala," tanya Ara bingung. Tadi saat di rumah Nirmala, Reno melarangnya membawa baju lama.


Reno menghela nafas berat. "Mungkin untuk sementara kau bisa memakai pakaianku. Nanti malam aku akan pergi membelikan baju untuk mu."


"Baiklah," ucap Ara.


* * * *


Di kamar yang sangat mewah, Ara duduk santai di sofa kamar. Reno sudah keluar berbelanja baju sejak satu jam lalu. Ara merasa sangat bosan karena tidak ada yang bisa ia lakukan. Tidak ada televisi maupun hiburan lainnya. Memainkan ponsel pun lama-kelamaan bosan.


Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Reno tidak bosan tinggal di rumah yang berada di bawah tanah. Memang kamar yang sekarang ia tempati sudah berada di permukaan, namun tetap saja ia merasa sedang berada di bawah tanah. Tidak ada satupun pelayan dan teman selain pak Tua yang sama-sama kaku seperti Reno.


"Hoaam, bosan sekali." Ara menggeliat merentangkan seluruh ototnya.


Selesai merentangkan badan, matanya melihat ke arah meja yang terletak di sudut kamar. Di sana ada bingkai foto yang tersimpan rapi. Di samping kanan kirinya ada mawar merah yang masih segar.


Ara mengerutkan keningnya. "Mengapa aku baru sadar ada foto itu?"


Ia berdiri ke arah meja tersebut. Semakin dekat semakin jelas pula foto yang ada di dalam bingkai itu. Wanita yang sangat cantik tengah tersenyum manis dan ceria ke arah kamera. Ara meraih foto itu dan memandanginya dengan lebih dekat.


Tiba-tiba jantungnya seakan ditusuk oleh pisau tajam ketika matanya melihat tulisan 'I love you' serta tanda tangan Reno di ujung foto itu. Ara tidak tahu ada apa dengannya, yang jelas sekarang ia ingin mencakar wajah suaminya hingga puas.


"Aku sering membaca kisah pria dingin dan keras kepada wanita karena dulunya sang pria disakiti oleh sang wanita, atau sang wanita menghilang begitu saja sedangkan cintanya pada sang wanita tidak pernah luntur. Aku yakin yang menjadikan Reno dingin dan sadis itu adalah wanita ini, bukan karena masa lalu kelam keluarganya. Berarti Reno masih mencintai wanita ini."


Ara meletakkan foto itu ditempat asalnya, kemudian mengambil salah satu bunga mawar merah. "Masih segar, berarti dia rutin mengganti bunga ini."


Ara merasakan dadanya semakin sesak dan panas. Entah mengapa ia tidak terima jika Reno masih mencintai wanita yang ada di foto itu. Dan inilah kenyataannya, Reno masih mencintai wanita itu.


"Kau jahat Reno." Ara menghempaskan bunga itu ke lantai.

__ADS_1


Jika Reno pulang nanti, ia berjanji tidak akan berbicara dengan suaminya itu, tidak akan mau melihat wajahnya, dan tidak akan mau menjawab pertanyaan suaminya jika suaminya bertanya.


"Aku benci kamu Reno." Ara berlari ke tempat tidur dan membantingkan diri ke atas kasur dengan posisi telungkup.


Setengah jam kemudian.


'Ceklek'


"Ara aku ...." Reno menghentikan ucapannya. "Ternyata dia sudah tidur."


Reno meletakkan semua belanjaan yang ia bawa di atas meja. Sebelum duduk di sofa, ia melihat ke arah istrinya yang tidur telungkup dan menyembunyikan wajahnya di antara dua bantal.


"Kaosku sangat longgar untuknya." Kemudian ia duduk.


Menurutnya, hanya dengan memakai kaos hitam miliknya saja istrinya itu sudah sangat cantik. Kaos hitam ukuran pria itu sangat panjang untuk Ara. Ara tidak memakai celana lagi karena kaos itu sudah cukup untuk menutupi pahanya.


"Hiks ...."


Reno mengernyitkan dahi. Ia yakin telah mendengar suara seseorang terisak. Walaupun sangat samar namun pendengarannya sangat tajam. Ia yakin suara itu berasal dari istrinya.


"Kau belum tidur?" tanya Reno.


"Ara, aku tahu kau belum tidur. Coba kau lihat dulu pakaian yang aku belikan. Aku juga membelikan beberapa camilan," ucap Reno lagi karena Ara tidak menjawab.


Akhirnya ia berjalan ke arah tempat tidur. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap punggung istrinya. "Mengapa kau tidak mau bangun?"


Ara tidak menjawab.


Sudah mulai kesal, Reno membalikkan tubuh istrinya dengan paksa. Terlihatlah mata istrinya yang sembab, dan bibir istrinya yang mengerucut. Ia yakin istrinya sudah menangis sangat lama.


"Mengapa kau menangis? Aku sudah pernah bilang kalau aku tidak suka melihat wanita menangis," tegas Reno.


Ara masih tidak menjawab.


"Kau bisu?" tanya Reno. "Cepat jawab sebelum aku hilang kesabaran!" Reno mulai membentak Ara karena mulai marah.


Sontak air mata Ara semakin deras setelah mendengar bentakan Reno.


"Ara jangan pancing emosiku. Terakhir kali aku tidak memiliki salah padamu, mengapa sekarang diam seperti ini? Jawab!"

__ADS_1


"Kau jahat! Kau sangat jahat Reno! Kau mencintai wanita lain!" teriak Ara setelah sejak tadi memendamnya.


Tentu saja Reno bingung sekaligus tidak mengerti. Dari mana sejarahnya ia mencintai wanita lain sedangkan ia tidak pernah dekat dengan wanita manapun selain Ara. Ia mengerutkan kening, tidak mengerti. "Apa yang kau bicarakan?"


Ara menunjuk meja yang ada di ujung kamar. "Kau mencintainya! Bahkan kau menyimpan fotonya di kamar ini dan memberikan bunga segar di sana. Kau menulis kata 'i love you' dan terlihat romantis sekali padanya. Sedangkan padaku, kau selalu dingin dan sering kali marah dan membentakku."


Selesai Ara bicara, Reno menoleh ke arah belakangnya. Matanya langsung tertuju pada foto yang ada di sana. Reno melongo sejenak, tak lama kemudian ia kembali menghadap Ara.


"Kau marah karena foto itu dan mengira dia wanita yang aku cintai?" tanya Reno.


Ara mengangguk. "Kau mencintai nya, kan? Jawablah dengan jujur!"


Reno menunduk dalam, menunjukkan ekspresi bersalah. "Aku minta maaf. Aku tidak pernah menceritakan tentang hal ini sebelumnya."


Ara semakin sesak.


"Ya kau benar. Dia adalah wanita yang aku cintai. Tidak ada satupun wanita di dunia ini yang mampu menggantikan posisinya di dalam hatiku," lanjut Reno.


Ara ikut menunduk, ia menangis sambil menunduk. Hatinya tiba-tiba hancur berkeping-keping.


"Aku mencintainya dari dulu dan untuk selamanya. Maafkan aku, Ara." Reno memegang tangan Ara, namun istrinya menepis tangan itu.


"Sudahlah, aku tidak bisa ada di sini jika masih mencintainya, Reno. Aku memang tidak mencintaimu, namun aku berharap kita bisa menjalin rumah tangga yang baik dan akhirnya bisa saling mencintai. Akan tetapi semuanya tidak akan terjadi, di hatimu ada dia." Ara semakin terisak.


Reno mengangguk dagu Ara dengan jari telunjuknya. "Ya Ara. Maafkan aku. Aku terlalu mencintai ibuku hingga membuat kau cemburu."


Seketika tangis Ara berhenti, ia menatap lekat pada mata Reno. "Maksudmu?"


"Dia ibuku, ibu kandungku dan ibu kandungnya kak Vano, dan dia ibu mertuamu. Dia wanita yang paling aku cintai di dunia ini. Posisi seorang ibu tidak akan bisa terganti di hati ini. Apakah kau masih mau mencemburui ibu mertuamu sendiri?" Reno tersenyum geli di akhir kalimatnya.


"Jadi ...." Ara diam sejenak. Beberapa detik kemudian tangannya memukul-mukul dada bidang Reno. "Reno, kau benar-benar menyebalkan."


Tak sadar Reno tertawa melihat tingkah Ara yang malu karena telah salah mencemburui. Setelah merasa cukup Ara memukuli nya, ia pun mencekal tangan itu. "Makanya kau jangan asal marah tanpa bertanya dengan jelas. Aku tidak pernah mencintai wanita lain. Jangankan untuk mencintai wanita lain, wanita yang dekat denganku hanyalah dirimu, Ara."


Mendengar nada bicara Reno yang kali ini sedikit lembut berhasil membuat pipi Ara merona. Ditambah lagi rasa malu yang teramat sangat. Bagaimana tidak malu? Ia menangis setengah jam dan ternyata ia menangisi hal yang salah.


"Ciee, pipimu merona," goda Reno.


"Jangan seperti itu, aku malu." Karena malu, refleks saja Ara menyembunyikan wajahnya di dada bidang Reno. Dan Reno pun refleks memeluknya. "Berhenti membuat aku semakin malu."

__ADS_1


__ADS_2