
Gerbang besar dibuka selebar-lebarnya oleh security. Bersamaan dengan itu, mobil putih memasuki halaman luas rumah keluarga Ravaldi. Dua petugas membukakan pintu belakang mobil tersebut.
Yang pertama keluar adalah Hanna, kakak sepupu ipar Nirmala. Wanita itu memakai kebaya pink yang anggun. Dari dalam keluar lagi seorang wanita cantik, imut dan anggun yang memakai kebaya putih. Ada siger indah di atas kepalanya. Ara kesulitan meraih ujung kebayanya yang menjuntai hingga ke tanah. Beruntung ada Hanna yang sigap mengambilnya dan membawakannya.
Di depan teras sudah ada Nirmala, Vano, Farhan, dokter Tio, serta Afid. Dan di belakang mereka ada Reno yang sudah rapi dengan setelan jas putih dan peci putih. Matanya Reno terus menatap ke lantai, ia masih belum sadar bahwa calon istrinya sudah datang dan sedang berjalan ke arahnya.
"Reno, sambutlah pengantinmu."
Suara Nirmala membuyarkan lamunan Reno. Reno mengangkat kepala dan matanya langsung tertuju pada calon ratu bidadarinya. Untuk sejenak ia tidak bisa berkedip. Tanpa berdandan saja Ara sudah cantik, apalagi dengan riasan pengantin seperti ini. Sungguh ia tidak bisa melepas pandangan dari calon istrinya.
"Hei, sabar. Belum apa-apa kau sudah terpesona. Tunggu nanti malam." Afid menyenggol lengan Reno.
Reno berdeham pelan. Malu? Tidak juga, ia hanya gengsi saja.
Dengan langkah lebarnya Reno maju ke depan. Setelah ia sudah berhadapan dengan Ara, tangan kanannya terulur untuk menyambut calon istrinya.
Ara tersenyum saat menerima uluran tangan calon suaminya, ia ingin memberikan kesan bahagia di hari pernikahan yang sama sekali tidak pernah ia pikirkan. Walaupun ia tidak mencintai Reno (Alias belum sadar), tapi prinsipnya adalah menikah satu kali seumur hidup. Maka dari itu hari ini ia ingin terlihat bahagia.
Semua orang bertepuk tangan saat Ara dan Reno berjalan berdampingan. Di antara banyaknya yang berbahagia atas kebersamaan mereka, ada juga yang patah hati, terutama para pelayan yang masih gadis dan janda. Sudah bertahun-tahun mereka menyukai seorang pria yang dulu mereka ketahui adalah sopir pribadi misterius Vano. Tapi pada Akhirnya Reno jatuh pada seorang pengawal pribadi Nirmala yang baru bekerja dua bulan.
Pasangan pengantin digiring ke dalam rumah. Ijab kabul akan dilaksanakan di dalam rumah, sedangkan untuk pesta diadakan di halaman depan. Ara dan Reno yang biasanya tidak pernah akur, untuk kali ini mereka terlihat seperti pasangan yang saling mencintai. Ya walaupun Reno tidak tersenyum sama sekali.
Ara sangat terpesona dengan kemewahan dekorasi yang ada di luar dan di dalam rumah. Ia yakin uang yang dikeluarkan untuk dekorasi saja bisa lebih dari 500 juta. Dekorasi yang bernuansa putih dan gold itu benar-benar terlihat seperti dekorasi pernikahan keluarga kerajaan. Sedangkan di luar dekorasi didominasi warna putih, hijau dan pink.
"Ini terlalu mewah," bisik Ara pada Reno.
Reno diam sejenak. Dalam hati ia pun berpikir mana mungkin ia mau pesta pernikahannya biasa saja. Apa kata orang jika keluarga Ravaldi yang terkenal kaya menggelar pesta seadanya?
"Aku menikahi seorang gadis, bukan janda tua," jawab Reno dengan nada seperti biasanya.
Sampailah mereka di ruang tengah. Di sana ada permadi bulu berwarna merah. Di sana sudah ada pihak KUA dan juga saksi. Mereka tersenyum ke arah Reno dan Ara. Mungkin mereka kagum melihat pasangan yang sangat tampan dan sangat cantik.
"Langsung saja di mulai?" tanya penghulu setelah kedua mempelai duduk di hadapannya.
__ADS_1
Karena Ara sudah tidak memiliki ayah, hak wali jatuh pada pamannya. Karena pamannya tidak ingin berurusan dengan Ara, pamannya mengangkat wali hakim dari KUA.
"Langsung saja, Pak," ucap Vano.
Penghulu dan Reno pun berjabat tangan. "Rareno Ravaldi, saya nikahkan dan kawinkan Nara Shakira binti Awlan Faudi kepadamu dengan maskawin uang sepuluh ribu rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Nara Shak-Shak ...." Reno memejamkan mata karena lidahnya sulit sekali untuk digerakkan.
Semua tamu yang menyaksikan akad pun mulai tegang, apalagi Vano dan Nirmala. Vano pikir adiknya akan sekali lancar seperti ia saat menikahi Nirmala dulu. Walaupun gagal di kali pertama, namun Vano yakin adiknya akan bisa menyelesaikan akad dengan baik.
Vano menepuk punggung Reno dan mengusapnya. "Tenangkan dirim, tarik nafas perlahan, dan santai lah."
Reno mengikuti saran kakaknya, setelah ia merasa jauh lebih tenang, ia memberi isyarat pada penghulu untuk mengulang lagi.
"Rareno Ravaldi, saya nikahkan dan kawinkan Nara Shakira binti Awlan Faudi kepadamu dengan maskawin uang sepuluh ribu rupiah dibayar tunai."
Sekarang giliran Ara yang tegang. Kedua tangannya yang sudah dihena saling re mas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nara Shakira binti Awlan Faudi dengan maskawin uang sepuluh ribu rupiah dibayar tunai."
"Sah."
"Alhamdulillah." Semua orang bernafas lega, terutama Reno.
Setelah penghulu membacakan doa dan diamini oleh semua orang, Ara mengalami tangan Reno. Di saat itu air matanya jatuh mengenai punggung tangan putih Reno. Mengetahui Ara menangis, Reno jadi bingung.
"Mengapa kau menangis?" tanya nya. Ia pikir Ara tidak bahagia dan merasa menderita dengan pernikahan mereka.
Ara menggeleng. "Aku bahagia, hanya saja aku tidak memiliki anggota keluarga satupun yang menyaksikan pernikahanku. Aku merasa sedih karena tidak ada anggota keluarga yang turut bahagia dengan pernikahanku." Ara malah mulai menangis tersedu.
Melihat Ara bersedih bahkan sampai terisak, Reno tidak diam saja. Diraihnya Ara ke dalam pelukannya. "Aku adalah keluargamu, bahkan kepala rumah tangga. Ada kak Vano dan kak Nirmala, ada Afid dan kak Hanna. Ada pak Farhan dan pak Tua. Mereka adalah keluargamu juga. Mereka bahagia untukmu." Entah otak mana yang bergeser ke posisi yang benar, Reno tiba-tiba mengatakan hal menenangkan untuk Ara.
Vano dan Nirmala berpelukan saat melihat pengantin baru berpelukan. Mereka ikut bahagia sekaligus merasa lega. Akhirnya Reno menikah juga. Vano merasa tugasnya sudah selesai. Sekarang giliran Reno yang memiliki tugas dan kewajiban baru, yakni membina dan menjaga keluarga kecilnya.
__ADS_1
* * * *
"Tapi Kak, aku masih ingin duduk bersama kalian." Reno menahan laju kakinya, sedangkan Vano terus mendorong adiknya mendekati pintu kamar.
"Kau sudah menikah, tidak baik begadang di luar, lebih baik begadang di dalam bersama istrimu." Vano terus mendorong adiknya hingga sampai di depan pintu kamar. "Ingat, kau harus romantis. Usir jauh-jauh wajah dingin dan sangarmu ini. Dia hidup sebatang kara, hanya dirimu tempat dia bersandar."
Reno diam saat kakaknya mengucapkan kata itu. Semua yang diucapkan oleh kakaknya memang sangat benar. Tapi untuk sekarang ia masih belum bisa berubah. Sikap dinginnya masih begitu lekat dalam dirinya.
"Cepat masuk, istrimu pasti sudah menunggu. Jangan lupa baca doa suami-istri dan setelah selesai, kau harus mandi besar. Niat mandi wajib yang ku ajarkan waktu itu masih ingat, kan?" ucap Vano lagi.
Reno mengangguk saja. Setelah itu Reno membuka pintu kamarnya. Percuma saja melawan kakaknya.
Ia menutup pintu dengan rapat. Dilihatnya Ara sedang tertidur lelap di atas tempat tidur tanpa melepas satupun dari apa yang ia pakai saat pesta tadi. Ia menghampiri tempat tidur lalu duduk di samping Ara.
"Apakah tidak lelah memakai riasan seperti ini?"
Reno membayangkan bagaimana rasanya menjadi Ara. Seharian ini ia terus berganti gaun dan merapikan riasan wajah. Ia saja yang hanya berganti-ganti jas sudah kelelahan, apalagi istrinya.
Mengingat kata istri, jantungnya berdegup kencang. Tidak menyangka dirinya sudah memiliki istri dan sekarang ia sudah menjadi seorang suami.
Diusianya yang terbilang muda ia sudah memiliki istri. Ya dia memang memiliki kedewasaan dalam pola pikir dan dalam bersikap, namun tidak dapat dipungkiri bahwa ia masih berusia 21 tahun, dan akan menginjak usia 22 tahun di minggu depan.
"Kau? Mengapa kau ada di sini?"
Suara serak khas bangun tidur terdengar. Reno menoleh pada Ara. Ternyata istrinya baru saja membuka mata.
"Ini kamarku, apakah aku tidak boleh ada di kamarku?" Reno membuka jasnya dan melemparnya ke sembarang arah. Setelah itu membaringkan tubuhnya di samping Ara. "Aku lelah."
Reno berbaring, giliran Ara yang bangun. Ia merasakan pegal di seluruh badannya. "Badanku terasa sangat pegal. Bisakah kau pijat sebenar?"
Reno menatap ke arah Ara yang sedang duduk. Yang bisa ia lihat hanyalah punggung istrinya. Ia tersenyum miring. "Tentu bisa. Aku bisa memijat semuanya tanpa terkecuali. Apakah kau mau aku pijat seluruhnya?"
Ara belum sadar, ia mengangguk. "Hmm." Tapi tak lama kemudian. "Apa?!" Ia membulatkan matanya dan menoleh cepat ke arah Reno. Dilihatnya Reno sedang tersenyum licik sambil mengangkat satu alisnya.
__ADS_1
"Mesuuummm!!"
Hmmm masa sih si Reno bisa tiba-tiba mesum🤔. Ada apa ya? Pura-pura atau karena udah jatuh cinta? Ah kita tunggu besok lah di episode selanjutnya 😁.