Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 16 (S2)


__ADS_3

Nirmala tidak menggubris ucapan Vano. Ia lebih antusias pada apa yang akan ia tanyakan. "Bagaimana? Apakah berjalan lancar?" tanya Nirmala dengan penuh harap.


Vano tersenyum kemudian mencium kening Nirmala. "Berhasil dong."


Mendengar jawaban Vano, Nirmala langsung berjingkrak senang.


Beberapa waktu sebelumnya ....


Vano membantu Nirmala duduk di sofa. Sampai kini Nirmala belum juga bisa berhenti menangis. Vano sendiri juga bingung harus bagaimana. Mungkin jika masalah lain ia bisa membantu. Tapi ini tentang kehidupan orang lain, tentang publik figur sekaligus penyanyi, mana mungkin ia bisa ikut campur untuk membantu Nirmala.


"Sayang, sudah jangan menangis lagi ya." Vano ikut duduk di samping Nirmala. "Jika kau menangis, anak kita akan ikut sedih," lanjut Vano.


Suara tangis yang sedari tadi mengganggu telinga tiba-tiba lenyap. Nirmala menunduk kemudian mengusap perutnya. "Ya ampun, maafkan ibu ya Sayang. Ibu tidak bermaksud membuat mu ikut bersedih."


Vano tersenyum senang. Akhirnya ia bisa mengendalikan Nirmala.


Beberapa saat kemudian, Nirmala sudah tidak bersedih lagi. Bahkan ia sempat bersenda gurau dengan Vano. Dan mereka sempat membahas tentang persiapan persalinan nanti. Sampai kemudian Vano ingin mandi karena tubuhnya terasa lengket. Memang sejak pulang kantor tadi, ia belum mandi.


Nirmala menyiapkan pakaian Vano saat Vano masih mandi. Beberapa menit kemudian Vano keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang. Nirmala memberikan pakaian yang telah disiapkan pada Vano.


"Terima kasih, Sayang." Vano mengecup kening Nirmala kemudian berjalan menuju walking closet.


Tangan Vano sudah memegang gagang pintu, akan tetapi gerakkannya terhenti ketika Nirmala memanggilnya. Ia pun menoleh dan berbalik. "Ada apa?" tanyanya.


Nirmala mendekati Vano. Kedua matanya memperhatikan sesuatu dengan lekat. Dan beberapa detik kemudian Vano sadar bahwa Nirmala sedang memperhatikan bahu kanan dekat leher. Segera ia menutupi bagian itu.


"Ada apa?" tanya Vano lagi.


Nirmala menatap mata Vano. "Setelah setahun lebih aku menikah denganmu, mengapa aku baru tahu bahwa kau memiliki bekas luka di sana?"


(Hayo, siapa yang masih ingat sama episode yang sempat menyinggung sedikit soal luka itu? Ada di season satu loh. Masa udah lupa,🤦‍♀️)


"Luka?" Vano pura-pura tidak tahu.


Nirmala mengangguk. "Iya, bekas luka yang sekarang sedang kau tutupi dengan telapak tangan," jawab Nirmala.


Awalnya Vano menolak untuk menceritakan tentang luka itu pada Nirmala. Namun ia berpikir sudah waktunya Nirmala tahu tentang kisah hidupnya yang sebagian masih disembunyikan. Apalagi sekarang Nirmala adalah istrinya, istri yang akan menemaninya hingga maut memisahkan.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan ceritakan setelah aku selesai memakai pakaian."


Nirmala mengangguk saja. Ia pun menunggu hingga Vano kembali.


Beberapa menit kemudian, Vano sudah kembali dengan pakaian lengkap. Langsung saja ia duduk di samping istrinya. Ia sudah siap untuk menceritakan semuanya.


"Sebenarnya, setelah aku melihat ibuku bunuh diri di danau ...."


"Tolong! Tolong!" Vano kecil meminta tolong sambil menangis. Ia sudah tidak bisa melihat ibunya karena sang ibu sudah tertelan habis oleh air danau.


Vano terus meminta tolong sambil menangis. Tidak ada yang bisa ia perbuat selain berteriak minta tolong. Beberapa menit kemudian, datanglah Farhan dan beberapa orang bodyguard yang memang sejak tadi berkeliling mencari keberadaan Vano serta Viana.


"Tuan Muda, apa yang terjadi?" Farhan menggendong Vano kecil yang masih berusia 7 tahun.


Vano kecil menangis tersedu-sedu sambil menunjuk ke arah danau. Ia tidak sanggup untuk berbicara lagi.


Mata Farhan mengikuti arah tunjuk yang Vano berikan. Namun saat itu ia tidak melihat apa-apa selain air danau yang tenang. Ia pun kembali menatap tuan muda kecilnya.


"Ada apa, Tuan Muda? Tidak ada apa-apa di san--"


"Tuan Farhan! Itu nyonya besar!" teriak salah satu bodyguard yang tadi datang bersama nya.


Sungguh Farhan tidak dapat mempercayai apa yang ia lihat. Namun ia yakin ini bukan mimpi. Ia menurunkan Vano dari dalam pangkuannya kemudian langsung terjun ke dalam danau. Dua bodyguard menyusul, sedangkan satu lagi menjaga Vano kecil.


Setelah jasadnya berhasil dibawa ke tepi, Farhan kembali memeriksa detak jantung, denyut nadi, nafas, dan juga pupil mata. Semuanya sudah berhenti berfungsi kecuali pupil mata yang sepertinya masih bekerja walaupun sudah sangat lambat. Sepertinya otak Viana masih belum mati.


"Cepat bawa ke rumah sakit!"


* * * *


"Maaf, Tuan Farhan. Kami tidak dapat menyelamatkan nyonya Viana. Namun dengan keajaiban Tuhan, masih ada satu nyawa yang mungkin masih bisa diselamatkan."


Mendengar ucapan dokter itu, Farhan bingung tak mengerti. Sedangkan Vano kecil masih menangis sambil mendengarkan ucapan dokter.


"Apa maksud Anda?" tanya Farhan.


"Nyonya Viana sebenarnya sedang mengandung enam bulan. Anaknya masih hidup di dalam kandungan."

__ADS_1


Vano langsung berdiri dan jantungnya berdetak kencang.


"Akan tetapi, saya tidak bisa melakukan operasi ini. Kemungkinan hidup bayinya hanya 2 persen. Sedangkan operasi harus dilakukan sebelum otak nyonya Viana mati juga."


Farhan memegang kedua bahu dokter itu. "Dasar dokter tidak berguna! Lalu apa gunanya kau menjadi seorang dokter jika tidak bisa melakukan operasi pada perut nyonya Viana!"


"Maafkan saya, Tuan. Anda harus mendengarkan penjelasan saya sampai selesai," ucap dokter tersebut.


Farhan langsung melepaskan dokter tersebut. "Cepat jelaskan," ucap Farhan tegas.


"Jika saya yang mengoperasi, kemungkinan bayi selamat hanya 2 persen. Namun jika dokter Tio yang menangani nya, kemungkinan selamat akan lebih besar. Beliau adalah dokter yang sangat ahli," ucap dokter tersebut.


"Pak Tio?" Farhan langsung mengingat nama orang yang diceritakan oleh Vano.


Vano pernah menceritakan pernah bertemu dengan pria yang sangat baik padanya. Pria itu yang pernah mengobati luka dilutut Vano saat ia sedang bermain di taman. Pria itu mengatakan bahwa namanya adalah Tio. Pria itu berkhayal seandainya Vano bisa menjadi anaknya, maka ia akan senang sekali. Sudah bertahun-tahun ia menikah, namun belum di karuniai seorang anak pun.


Farhan menunduk untuk melihat Vano kecil yang berdiri di sampingnya. "Tuan Muda, bukankah Anda pernah bercerita tentang dokter Tio?"


Vano mengingat-ingat sesuatu. "Ya," jawab Vano.


"Saat ini, dokter Tio sedang berada di rumah sakit S. Mungkin ...." Ucapan dokter itu terhenti saat ia melihat Vano berlari cepat pergi dari sana.


"Tuan Muda!" panggil Farhan. "Kejar!" perintah Farhan pada tiga bodyguardnya.


Karena langkah kaki Vano lebih kecil, maka para bodyguard dengan mudah menyusul tuan muda mereka. Saat ditanya, ternyata Vano akan menemui dokter Tio di rumah sakit S. Setelah itu para bodyguard mengantarkan tuan muda mereka ke rumah sakit S.


* * * *


Anak kecil mengamuk di luar ruang operasi. Bahkan security rumah sakit tidak bisa menghadangnya karena harus berurusan lebih dulu dengan tiga pria berwajah sangar dan bertubuh tegap.


Anak kecil itu tidak bisa menunggu lagi. Dengan sekuat tenaga ia mendobrak pintu ruang operasi menggunakan kursi.


'Brak!'


Anak kecil terjatuh ke lantai bersamaan dengan pintu yang terbuka.


Dokter dan suster yang sedang melakukan operasi pada seorang pria pun terkejut, mereka menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


"Vano?" Dokter itu terkejut.


Vano dari kecil udah bar-bar ya. Masa ruang operasi didobrak. Bakal gempar dunia perumah sakitan 🤣🤣. Oh ya, hari ini Sely mau up dua episode loh. Yuk dibaca lagi.


__ADS_2