Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 37 (S2)


__ADS_3

Reno terkekeh pelan. Sungguh ia bukan tipe pria mesum, namun entah mengapa rasanya menyenangkan saat menggoda Ara. Ia melipat tangan di belakang kepala lalu menghela nafas. Matanya menatap langit-langit kamar yang diberi dekorasi bunga.


"Teriak lah sekuat yang kau bisa. Khusus malam ini kak Vano sudah mengatur kamar ini menjadi kedap suara." Reno berbicara dengan nada santai.


Ara menghela nafas dan mengatur diri agar kembali santai. Kemudian ia tersenyum. "Terserah padamu, Tuan Muda Reno. Yang jelas aku tidak mau kau sentuh sembarangan."


Reno melirik pada Ara. "Dan yang jelas kau adalah istriku, Nyonya Muda Ara. Melayani suami adalah kewajiban."


Bulu roma Ara berdiri semua. Cepat-cepat ia bangkit lalu berjalan menuju meja rias. Ia tidak ingin lama-lama berada di dekat Reno. Entah mengapa walaupun Reno menyebalkan, namun jantungnya selalu berdebar kencang. Apalagi saat Reno berbicara melantur seperti tadi. Rasanya jantungnya akan loncat keluar.


Ia memutuskan untuk mencopot segala macam riasan yang ada di kepalanya. Ia juga menghapus make-up sebelum membersikan diri di kamar mandi.


Dari belakang Reno yang masih berbaring memperhatikan punggung istrinya yang memakai gaun punggung terbuka. Sungguh putih dan mulus, padahal Ara adalah bodyguard kuat yang dulu dimiliki oleh Raisa.


"Apakah kau melakukan perawatan kulit?" Tiba-tiba Reno bertanya tentang kulit.


Ara cukup melihat Reno dari pantulan cermin. "Tidak juga. Aku hanya luluran seminggu dua kali," jawab Ara.


"Pantas saja kulit punggungmu mulus. Mengapa aku tidak menyadarinya sedari tadi?"


Mendengar ucapan Reno, otomatis Ara membalikkan tubuhnya agar suaminya itu tidak dapat melihat punggungnya lagi. "Kau diam-diam memperhatikan punggungku ya? Kau memang mata keranjang," gerutu Ara kesal.


Reno bangun dan duduk di tepi ranjang sebentar. Kemudian ia berdiri dan berjalan ke arah istrinya. Ara sudah siap siaga saat jarak mereka semakin dekat.


Tangan kekar Reno melingkar di pinggang Ara. Hal tersebut sukses membuat Ara terkejut. Ditambah lagi tangan Reno yang tiba-tiba mengusap lembut pipi putihnya yang sekarang sudah bersih dari make-up.


"Jaga mulutmu itu, Sayang. Jangan lupa bahwa aku ini adalah Reno. Dalam sedetik nyawamu bisa lenyap. Mengerti?"


Tak dapat disangkal bahwa Ara bergidik ngeri, akan tetapi ia tidak habis tertelan ketakutan. Sebagai wanita tangguh, ia memiliki keberanian tingkat tinggi. Untuk menutupi rasa takutnya, Ara mendapatkan suatu ide, ia tidak ingin diinjak-injak oleh Reno dengan mudah.


Ia tersenyum manis kemudian mengalungkan kedua tangannya ke leher Reno. Ia dekatkan wajahnya ke wajah Reno. "Dan harus kau tahu, Sayang."

__ADS_1


Reno tersenyum.


"Aku bisa melumpuhkanmu sekarang juga sebelum kau membunuhku," lanjut Ara dan ....


'Ceter!' (Ada yang pecah, tapi bukan kaca)


"Akh!" Reno langsung terkapar di lantai.


Dengan cepat Ara meraih handuk dan baju tidur, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Arrraaaaa!!!!"


* * * *


'Ceklek'


Ara membuka pintu kamar mandi. Ia telah selesai mandi dan sudah berpakaian lengkap. Yang pertama ia masukkan ke dalam kamar adalah kepala. Ia memeriksa situasi kamar terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar mandi.


Di sofa ada Reno yang sedang duduk bersandar. Lengan kanannya berada di wajah, tepatnya di atas mata. Jika dilihat dari posisinya, sepertinya suaminya itu sedang tertidur atau sekedar memejamkan mata.


Selesai menyisir rambut, Ara melirik ke arah jam dinding. Ternyata sekarang sudah pukul 01.10 pagi. Matanya beralih pada Reno. Ia pikir ia harus membangunkan suaminya agar suaminya pindah tidur ke ranjang.


"Hei, bangun." Ara menyentuh lengan Reno.


Reno menepis tangan Ara. Alisnya mengerut tapi matanya masih terpejam. "Jangan sentuh aku. Jika kau ingin tidur, tidurlah sana, jangan ganggu aku."


Ara terdiam. Jika diperhatikan dari nada suaranya, sepertinya Reno sedang kesal dan marah. Ia pun memutuskan untuk bertanya.


"Mengapa kau kesal padaku?" Ara merasa tidak nyaman jika Reno bersikap seperti ini. Lebih baik pria itu marah-marah, sangar, dan tajam, dari pada diam seperti ini. Sama sekali tidak seperti biasanya.


"Sudahlah jangan ganggu aku." Reno menutup matanya dengan lengan kembali.

__ADS_1


"Apakah karena yang tadi aku lakukan padamu? Apakah masih sakit?" tanya Ara.


Reno tidak menjawab.


"Jawablah," pinta Ara.


"Lalu apakah masih penting sakit atau tidak setelah kau menendangnya dengan lutut dengan sangat kuat?" jawab Reno dengan pertanyaan lagi.


Ara menghela nafas. Ia bingun harus bagaimana. Ia juga tidak mengerti mengapa Reno menjadi sensitif seperti ini. "Jika aku sudah keterlaluan padamu, aku minta maaf."


Reno diam lagi.


"Kau jangan seperti ini! Aku sedang merasa bersalah dan kau bersikap seolah kesalahan yang aku buat ini tidak pantas untuk dimaafkan. Jangan diam saja! Aku salah aku minta maaf. Jawablah permintaan maafku!" Ara menjadi kesal.


Entah mengapa sekarang ia merasa tidak suka dan merasa sedih saat Reno dingin padanya, padahal dulu ia tidak peduli dan hanya kesal saja.


Reno membuka mata dan menoleh ke arah Ara. "Kau berisik sekali. Sudah cukup kau membuat 'dia' hampir pecah, jangan kau buat telingaku pecah juga."


Ara cemberut. "Oh, jadi kau pikir suaraku ini bisa menbuatmu pecah? Kau pikir aku ini pengganggu. Lalu mengapa kau meniduriku malam itu dan mau menikahiku? Kau ini keterlaluan sekali. Sekarang aku adalah istrimu! Kau boleh bersikap dingin pada orang lain, tapi pada istrimu itu tidak bisa dimaklumi! Kau itu--"


'Cup'


Reno melepas Ara. "Tidurlah. Aku sedang tidak ingin berdebat. Aku masih menahan sakit."


Ara diam seribu bahasa. Kecupan singkat di bibir yang Reno berikan langsung membuat emosinya turun mendadak.


"Mengapa masih diam? Ini sudah hampir pagi, kau harus tidur. Aku sudah terbiasa tidur tiga jam dalam sehari semalam, jadi tidak usah memikirkan aku," ucap Reno lagi.


Karena otaknya seakan tidak bisa berpikir, apapun yang diucapkan oleh Reno ia turuti. Ia naik ke tempat tidur lalu menarik selimut dan memejamkan mata. Posisi tidurnya membelakangi Reno. Hal itu membuat ia tidak tahu apa yang sebenarnya Reno rencanakan.


Reno tersenyum lebar. "Aku tidak yakin apakah ini akan berhasil untuk meluluhkan hatinya. Tapi arahan dari Afid kurang lebih seperti ini. Tarik ulur akan mempercepat dia luluh walaupun akan banyak pertengkaran di dalamnya."

__ADS_1


Reno berdiri tanpa menunjukkan ekspresi kesakitan. Pada kenyataannya ia tidak merasa sakit lagi. Memang sempat mati rasa, namun sekarang sudah baik-baik saja. Ia berjalan ke kamar mandi untuk memberikan diri.


Sebelum menutup pintu, ia melihat ke arah Ara. "Aku tidak memahami perasaanku. Tapi aku sedang berusaha memahami ucapan ibuku kemarin dan membuktikannya."


__ADS_2