Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 19 (S2)


__ADS_3

"Bajing*n! Lepaskan aku!" Ara berteriak dengan marah.


Melihat Ara mengeluarkan air mata dan sangat marah, Reno melepaskan tangan Ara. Kemudian ia mengambil piring yang ada di tangan kiri Ara.


"Kau sering berpura-pura, jadi aku ingin memastikan bahwa kali ini kau tidak berpura-pura." Reno melihat ke arah butiran air mata Ara yang hampir jatuh. "Hapus air mata itu. Aku benci air mata."


Ara menatap tajam pada Reno. Walaupun ternyata Reno hanya mengetes saja, tapi ia benar-benar marah. Pasalnya sampai sekarang tangannya masih sakit, bahkan lebih sakit dari sebelumnya. Sambil mengusap air mata, ia tetap menatap tajam pada Reno.


Reno tidak menanggapi hal itu. Bahkan sampai keluar pisau dari mata tajam Ara, ia tidak akan takut sama sekali. Baginya, Ara hanya seorang anak kucing yang sedang berusaha menunjukkan taring harima. Tentu saja mustahil.


"Tataplah aku sepuasmu, aku tidak takut," ucap Reno datar. "Buka mulutmu," perintahnya tegas.


Jika bukan karena cacing-cacing menabuh genderang perang di dalam perut, ia tidak mungkin mau disuapi oleh Reno, secara ia sedang marah pada pria itu.


Begitu Ara membuka mulut, Reno memasukkan sesuap nasi beserta sayur sop ke dalam mulut mungil Ara. Saat Ara mengunyah, tentu saja Reno melihat bagaimana wajah Ara saat mengunyah makanan.


Pipi gadis itu menggembung, bibir mungilnya moncong dengan bulat, hidungnya yang kecil seakan-akan hampir tertelan oleh pipinya yang bulat. Tanpa sadar Reno terpaku oleh wajah imut itu. Ia sampai lupa menyendok makanan lagi.


"Hei! Cepat, aku sudah sangat lapar."


Suara Ara menyadarkan Reno. Cepat-cepat ia menyendokan makanan dan memasukkannya ke mulut Ara.


"Sial, bagaimana bisa aku terhipnotis oleh wajahnya." Reno merutuki dirinya sendiri. Untung saja ia mengenakan topi, dengan begitu Ara tidak akan tahu bahwa tadi ia memperhatikan wajahnya.


Cepat-cepat Reno menyelesaikan kegiatannya. Ia tidak ingin kembali terhipnotis oleh wajah imut Ara.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kamar lama Vano. Lia masih membersikan kamar. Ia tersenyum lebar melihat pakaian kotor Reno yang berada di dalam keranjang pakaian kotor. Diambilnya kemeja hitam Reno, kemudian ia hirup aroma pakaian tersebut.


"Hmmm, ternyata ini harum tubuh sopir pribadi tuan Vano. Sungguh maskulin sekali. Bagaimana jika tubuh itu memeluk ku? Aaa, aku sampai tidak sanggup untuk membayangkannya." Lia memeluk baju itu.


Diletakkannya kemeja tersebut, sekarang ia mengambil celana Reno. Tiba-tiba senyuman di wajah Lia menghilang. "Apa ini?"


Lia merogoh saku celana Reno. Alisnya mengerut ketika melihat cairan berwarna biru di dalam botol kecil menyerupai botol parfum. Awalnya ia pikir itu parfum. Akan tetepi saat ia tidak menyium bau harum sama sekali, ia menjadi sangat penasaran.


"Cairan apa in--"


'Ceklek'

__ADS_1


Lia berbalik badan dan menyembunyikan cairan tersebut di balik tubuhnya. Sedangkan celana Reno ia lemparkan ke dalam keranjang.


"Apa yang kau lakukan?" Suara mematikan Reno terdengar.


Lia tersenyum kaku. "A-a-aku tidak melakukan apapun. Aku hanya merapikan dan membersikan kamar ini." Sebisa mungkin Lia menetralkan wajahnya yang terkejut dan takut ketahuan.


Reno diam, dari balik topinya ia menatap tajam pada Lia. Ia mengamati gerak-gerik wanita itu. Kemudian ....


"Serahkan yang ada di tanganmu," perintah Reno dengan nada dingin dan tegas.


Lia melihat ke kiri dan ke kanan seolah-olah tidak ada apapun di tangannya. "Aku harus menyerahkan apa?" tanya Lia. Mungkin ia pikir mudah untuk membohongi seorang Reno.


"Jangan membuat aku yang mengambilnya," ucap Reno memperingati.


Lia menelan saliva dengan susah payah. Ia tidak menyangka bahwa Reno bisa mengetahui ada yang ia sembunyikan dengan mudah. Dengan perasaan takut, Lia menunjukkan tangannya yang memegang botol kecil berisi cairan biru.


Melihat apa yang sedang digenggam oleh Lia, Reno semakin menatap tajam pada Lia. Tiba-tiba kamar itu terasa dingin seperti di kutub Utara, udaranya sesak seperti tidak ada oksigen. Siapa lagi yang membawa hawa itu jika bukan Reno.


"Letakkan," perintah Reno dengan dingin dan tajam.


"Semakin hari aku semakin ngeri melihat nya. Tapi mengapa aku semakin menginginkannya?" Lia melihat ke arah pintu kamar yang kini sudah ditutup dari dalam.


Sedangkan di dalam kamar, Reno berjalan menuju meja. Diraihnya botol tersebut. Ia merasa bersyukur karena ia tidak datang terlambat. Jika botol itu diambil oleh Lia, entah apa yang harus ia lakukan. Untuk membuat cairan sebotol kecil itu, pak tuanya membutuhkan waktu satu bulan lebih.


"Aku tidak boleh ceroboh lagi. Pelayan itu memiliki niat buruk dan lumayan licin." Reno memasukkan botol tersebut ke dalam saku celananya.


* * * *


Dua hari sudah berlalu, kini kondisi Ara sudah mulai membaik. Ia sudah bisa berjalan, perbannya juga sudah dibuka. Sekarang hanya menunggu bekas luka itu menghilang. Dan karena Ara sudah mulai pulih, Reno meminta izin kepada Vano untuk pulang ke rumahnya. Sudah tiga hari ia tidak pulang, banyak pekerjaan yang terlalaikan.


Vano pun mengizinkan, Reno sudah dinyatakan bertanggung jawab karena sudah membantu merawat Ara selama tiga hari. Walaupun Reno sudah pulang, tapi Ara belum diperbolehkan pulang oleh Nirmala. Nirmala ingin Ara tinggal untuk beberapa hari lagi. Dan tidak ada yang bisa dilakukan oleh Ara selain menurut.


"Saya permisi," ucap Reno sambil mundur untuk pergi dari ruang tamu.


Vano hanya mengangguk. Sedangkan Farhan sedari tadi hanya diam tanpa berbicara.


Begitu Reno sudah hilang dari pandangan, Farhan berdeham untuk menetralisir suasana yang sangat hening. Setelah itu ia mulai membuka percakapan.

__ADS_1


"Tuan Besar, besok Anda harus datang ke kantor. Ada rapat penting yang tidak bisa saya gantikan. Jika Anda tidak hadir, maka kolega bisnis kita akan menganggap kita tidak peduli pada pembahasan saham di PT Nuansa Indah."


Vano mengangguk lagi. "Baiklah, siapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk rapat besok. Jangan lupa bawa flashdisk yang waktu itu. Aku ingin membahas soal kerugian yang tidak masuk akal dibulan lalu."


"Baik, Tuan Besar," ucap Farhan.


Beberapa menit kemudian, di tempat lain, tepatnya di kediaman Reno. Reno meletakkan telapak tangannya di atas kulkas.


'Kling'


"Sistem keamanan aktif, mohon verifikasi sidik jari Anda."


Reno menempelkan telapak tangannya di kolom kotak yang menyala.


'Kling'


"Selamat datang di rumah Anda."


Bersamaan dengan itu pintu terbuka. Reno melangkah masuk dan menuruni anak tangga. Secara otomatis pintu kembali tertutup saat Reno menuruni anak tangga.


Reno mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan besar itu. Di ruang tamu ia tidak menemukan keberadaan pak tua. Ia menoleh ke kanan, kamarnya tertutup. Reno menghela nafas panjang, mungkin pak tua sedang beristirahat di kamar.Tak ingin menganggu istirahat pak tua, Reno langsung berjalan menuju kamarnya.


'Cklek'


Reno masuk ke dalam kamarnya kemudian menutup pintu kembali. Ia menarik nafas panjang kemudian berjalan menuju ranjangnya. Sudah tiga hari ia tidak tidur di ranjang yang besar dan seempuk tempat tidurnya. Ia juga sudah lama tidak melihat kamarnya yang sudah semewah kamar raja.


Ia melepas earpiece yang sedari tadi terpasang di telinga. Kemudian ia membuka laci nakas. Diletakkannya earpiece berwarna hitam itu, kemudian ia mengambil earpiece yang berwarna putih. Entah apa yang ia tekan, kemudian ia sudah terhubung dengan seseorang.


"Ada pergerakan apa?" tanya Reno dengan nada yang seperti biasanya.


Reno mendengarkan dengan serius.


"Hmm, awasi terus. Jangan sampai ada pergerakan yang terlewat dari pengawasanmu. Jika tidak, kau tahu sendiri apa yang akan kau terima." Setelah itu Reno mematikan sambungannya.


Ia menarik nafas dalam kemudian melepaskan topi putihnya. Dipandanginya topi pemberian Vano beberapa hari yang lalu. Ia tersenyum kecil.


"Walaupun kita tidak seakrab pasangan saudara di luar sana. Namun percayalah, aku menganggapmu layaknya malaikatku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, dan keluargamu. Itu adalah sumpahku seumur hidup."

__ADS_1


__ADS_2