
"Kalau begitu, berapa tarif harga jika meniduri mu?" tanya Reno masih dengan tatapan dan nada bicara yang sepertinya biasanya, dingin dan menyebalkan.
Ara membulatkan matanya, dan ....
'Plakk!'
Reno tersenyum sinis saat pipinya terasa sangat panas dan dibuat menoleh ke kanan akibat tamparan Ara yang sangat kuat.
"Jaga bicaramu!" bentak Ara.
Reno kembali ke posisi awal. Ia melepaskan tangan Ara yang terluka, akan tetapi ia masih duduk di samping Ara.
"Harusnya kau yang jaga bicaramu. Kau adalah wanita. Jika kau membuat tarif harga sepertiku, maka semua orang akan menganggap bahwa kau sedang menjual diri." Reno berdiri. "Sepertinya kau masih kurang pintar."
Setelah itu ia meninggalkan Ara yang masih terbakar oleh emosi. Namun ia tidak sadar bahwa sebenarnya niat Reno adalah mengingatkan dirinya agar tidak sembarang berbicara. Jika dirinya ikut-ikutan membuat harga atas tubuhnya, tentu saja itu artinya kehormatan Ara hanya sebatas uang kertas.
Sedangkan Reno, ia menarifkan harga hanya pada Ara agar ia bisa membuat Ara berhutang padanya. Jika pada orang lain yang berani menyentuh kulitnya, sudah pasti ia akan mematahkan tangan yang sudah berani menyentuhnya.
Di lain tempat, Nirmala sedang makan dengan lahap. Sedari tadi pagi ia belum makan karena terlalu mengkhawatirkan Ara. Entah mengapa ia merasa sudah sangat dekat dengan gadis itu. Ia ingin Ara menjadi temannya, bila perlu menjadi adiknya.
Selesai makan, ia meletakan piring kotor di atas meja. Ia meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Niatnya ingin mengusir rasa suntuk dengan melihat-lihat berita yang ada di internet. Matanya langsung membulat ketika melihat tranding topik hari ini.
"Mana mungkin ini terjadi?"
Nirmala membaca semua artikel itu dengan cepat karena ingin memastikan apakah judul berita itu benar atau salah.
Nirmala memegang jantungnya. "Tidak, ini tidak mungkin." Terlihat mata Nirmala berkaca-kaca.
"Ara harus tahu masalah ini juga."
Ia segera bergegas keluar dari kamar dengan cara berlari. Tidak lupa ia membawa ponselnya yang masih menampilkan laman berita.
Saat sedang turun dari tangga, Nirmala berpapasan dengan Reno yang beberapa detik lalu baru keluar dari kamar tamu. Nirmala tidak menghiraukan keberadaan Reno, ia sibuk menangis.
__ADS_1
Melihat nyonya besarnya menangis sambil berlari cepat ke arah kamar tamu yang ditempati oleh Ara, Reno menjadi bertanya-tanya.
"Mengapa nyonya besar menangis seperti itu dan terburu-buru ke kamar Ara? Apakah Ara mati mendadak?" Reno langsung kembali ke kamar Ara, menyusul Nirmala.
Sesampainya di sana, ia melihat Nirmala menangis sambil menunjukkan layar ponsel pada Ara. Terlihat Ara juga membulatkan matanya sambil menutup mulut dengan telapak tangan.
Melihat kondisi yang sepertinya tidak beres, Reno langsung menghampiri kedua wanita itu.
"Maaf Nyonya Besar, ada apa? Mengapa Anda menangis?" tanya Reno.
Nirmala tidak berbicara, ia malah memeluk Ara. Walaupun Ara tidak menangis, tetapi sepertinya gadis itu juga cukup terpukul. Mereka berpelukan sambil meratapi sesuatu.
Karena tidak mendapatkan jawaban, Reno memilih menghubungi Vano saja. Ia sama sekali tidak berpengalaman dalam menghadapi wanita. Apalagi wanita yang sedang menangis. Dan kali ini tidak hanya satu, tapi dua wanita.
"Halo Tuan Besar, maaf menggangu Anda ... Ya, Tuan Besar ... Nyonya Besar Nirmala menangis. Beliau berlari terburu-buru ke kamar Ara. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya bertanya pun, Nyonya Nirmala tidak mau menjawab ... Baik Tuan Besar, saya akan menunggu sampai Anda tiba."
Reno menutup telepon. Karena Vano meminta dirinya tetap bersama Nirmala sampai ia tiba, maka ia berdiri di sana dengan setia.
Sudah sepuluh menit berlalu, tapi Nirmala masih menangis saja. Sesekali Ara mengusap punggung Nirmala dan mengatakan bahwa mereka berdua harus bersabar menghadapi kenyataan pahit ini. Tentu saja Reno bingung, akan tetapi tangisan Nirmala membuat ia ingin menutup telinga.
Sepuluh menit berikutnya, Reno mendengar suara langkah kaki mendekat. Dari suara langkah yang menurutnya memiliki ciri khas tertentu, ia yakin orang tersebut adalah Vano. Dan benar saja, Vano membuka pintu kamar.
"Sayang." Vano terengah-engah, mungkin ia berlari dari halaman depan samping ke dalam rumah.
Nirmala yang melihat ke datangan suaminya masih tidak peduli. Ia memilih untuk terus berpelukan dengan Ara. Akhirnya Vano mendekati dua wanita tersebut kemudian duduk di samping Nirmala. Sedangkan Reno tetap setia berdiri di sana.
"Sayang, ada apa? Mengapa kau menangis? Apakah ada yang masalah?" Vano bertanya dengan khawatir.
Mungkin ada suatu masalah besar yang membuat Nirmala sampai menangis seperti itu. Ia juga melihat Ara yang sepertinya ikut terpukul juga.
Reno memijat pangkal hidungnya. "Aish, aku sangka tuan besar dapat menangani wanita ini dengan cepat. Ternyata sama saja. Wanita benar-benar membuat pusing."
Vano menarik bahu Nirmala dan memeluk istrinya. "Sayang, katakan padaku. Ada masalah apa?" tanya Vano lembut.
__ADS_1
"Sayang, aku sangat sedih, hiks." Nirmala memeluk erat suaminya.
"Katakanlah Sayang, siapa tahu aku dapat membantumu," ucap Vano sambil mengusap kepala Nirmala dengan lembut.
"Kau tidak akan bisa membantuku kali ini. Takdir tidak bisa diubah," jawab Nirmala masih dengan tangisnya yang tersedu-sedu.
"Apa? Takdir? Jangan-jangan ada yang meninggal atau kecelakaan. Tapi siapa yang meninggal atau kecelakaan sehingga membuat Ara dan Nirmala terpukul seperti ini?"
Setelah berpikir dapam hati, Vano sedikit terkejut dengan pikirannya sendiri. "Jangan-jangan Rafan! Dia kan mantan Nirmala dan juga mantan tuan kedua untuk Ara. Karena itu mereka berdua merasa terpukul."
Vano memeluk Nirmala dengan erat. "Mungkin aku tidak bisa mengubah takdir. Tapi kita bisa mendo'akan agar dia bisa tenang dan bahagia di--"
"Kau jahat sekali!" Nirmala melepaskan pelukannya. Hal itu tentu saja membuat Vano kebingungan.
"Aku merasa tidak rela jika dia bahagia." Nirmala cemberut.
Vano mengerutkan keningnya. Sedangkan Reno masih mencerna arah pembicaraan masing-masing dari mereka.
"Kenapa tidak ingin dia bahagia. Orang yang sudah mat--"
Lagi-lagi Nirmala memotong. "Kau tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi aku dan juga menjadi Ara. Kami sedih begitu mendengar berita yang seharusnya menjadi kabar gembira. Namun cara dia mendapatkannya tidak bisa kami terima. Sebagai fans, kami tidak menyangka bahwa mereka bisa melakukan hal itu!"
Vano dan Reno sama-sama mengernyitkan dahi. Mereka menjadi bingung bukan main.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Vano bingung.
"Kami sedih karena Rizky Milzan akan menikah dengan Aura. Mereka digerebek oleh fans mereka yang berasal dari Hawaii di salah satu hotel di Hawaii. Sekarang agensi keduanya menyatakan bahwa keduanya selama ini adalah sepasang kekasih, dan mereka sudah berencana melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini. Tapi karena kejadian ini, mungkin minggu depan mereka akan melangsungkan pernikahan," jawab Ara menjelaskan panjang lebar.
"Aku tidak terima. Dia adalah idolaku. Tapi mengapa dia bisa membohongi kami sebagai fansnya. Dan yang kedua, mengapa dia bisa melakukan hal menjijikan itu diwaktu istirahat syuting video musik yang sedang kami nantikan comeback-nya," sambung Nirmala.
Nirmala menunjukkan layar ponsel yang memampangkan wajah tampan penyanyi yang sangat terkenal di tanah air sebagai foto utama di laman berita tranding.
Vano melongo, sedangkan Reno menahan nafasnya. Lalu kedua kakak beradik itu menepuk jidat mereka secara bersamaan.
__ADS_1
"Dasar kalian ...." lirih Vano dan Reno secara bersamaan.