Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 26 (S2)


__ADS_3

'Duk'


Reno mendorong Lia ke dinding. Dan Lia semakin tersenyum senang. Ia mengalungkan tangannya ke leher Reno. Reno masih saja menatap Lia dengan tajam.


"Sayang, kau sudah tidak sabar ya?" Lia berbicara dengan nada sensual.


Dengan lembut Reno membelai wajah Lia. Saking lembutnya, Lia sampai memejamkan mata. Tapi ....


"Akh!" Lia membulatkan matanya.


Reno mencekik leher Lia dengan sangat kuat. Mata Reno memerah, urat-urat lehernya tampak jelas, nafasnya memburu karena emosi, dan aura pembunuh keluar dari dirinya.


"Berani-beraninya kau bermain denganku? Asal kau tahu, aku tidak akan segan-segan membunuh siapapun. Apalagi membunuh orang yang ingin menjebakku. Kau pikir aku akan tergoda oleh tubuhmu yang menjijikan?"


Ucapan Reno sangat dingin. Tubuh Lia sampai gemetar ketakutan.


"A-a-aku ha-hak-hanya ...."


Lia tidak bisa menyelesaikan ucapannya. Lehernya sudah terasa akan patah, ia tidak bisa bernafas, bahkan lidahnya hampir tidak bisa digerakkan. Wajahnya merah karena darah berhenti mengalir di wajahnya.


Melihat Lia seperti itu, Reno tidak ada tanda-tanda akan mengakhirinya. Mungkin ia benar-benar akan membunuh pelayan tidak waras itu.


"To-tolongg hakkh!" Sebisa mungkin Lia mengeluarkan suara. "Tolonghk, a-a-aku akan math-mati." Sekali lagi Lia meminta tolong pada siapapun yang mungkin mendengarnya.


Air mata Lia sudah keluar. Ia benar-benar pasrah jika tidak ada yang menolongnya.


'Ceklek'


"Siapa yang min--" Ara membulatkan matanya. "Hei! Apa yang kau lakukan!" Ara menghampiri dua orang itu dengan cepat.


"Lepaskan dia! Dia bisa mati!" Ara mengeluarkan tenaganya untuk melepaskan tangan Reno dari leher Lia.


Walaupun sulit, namun akhirnya Ara berhasil juga. Reno masih saja menatap tajam pada Lia. Sedangkan wanita yang ia cekik langsung merosot lemas.


"Cepat keluar dari sini. Dia bisa membahayakan nyawamu," perintah Ara.


Mengingat nyawa, Lia cepat-cepat berdiri dan berlari keluar sambil memegangi lehernya. Kali ini ia benar-benar jera, tidak akan pernah ia mengganggu pria dingin itu lagi.


Setelah Lia pergi, Ara menutup pintu, ia khawatir Reno akan mengejar wanita yang hampir mati tadi.


"Apa yang terjadi?" tanya Ara.


Reno menarik nafas setelah akal sehatnya kembali lagi. Tapi reaksi obat itu sama sekali belum hilang, dan semakin menjadi saat melihat Ara yang ada dihadapannya. Ia berbalik memunggungi Ara, ia tidak ingin melihat gadis itu untuk saat ini.

__ADS_1


"Lebih baik kau keluar sekarang," ucap Reno dengan tegas.


Ara yang tidak tahu apa-apa masih saja penasaran. Ia berjalan ke depan Reno. "Aku ingin tahu apa yang terjadi. Mengapa kau bisa mencekiknya seperti itu? Dan mengapa dia ada di kamarmu?" tanya Ara.


Reno memijat keningnya, dan keningnya masih berkeringat. "Kau tidak perlu tahu. Sekarang keluarlah."


Ara melipat wajah Reno memerah dan berkeringat. "Apakah kau sakit?" tanya Ara.


Tanpa tahu kondisi Reno yang sebenarnya, Ara menyapa pipi dan kening pria itu. Reno melihat wajah Ara, dan melihat mata indah itu. Jantungnya semakin berdetak tak karuan. Tangannya mulai bergetar.


"Tinggalkan aku sendiri, Ara," ucap Reno berusaha mengirimkan sinyal bahaya.


"Kau tidak demam, tapi kulitmu cukup hangat. Apakah kau sakit? Apakah aku keterlaluan dalam mengancammu dan akhirnya kau mendapat beban pikiran lalu sakit?" Ara masih belum peka juga. Mungkin ia tidak memperhatikan sesuatu.


"Arrraaa, cepatt keluarr ...." Reno menggeram frustrasi sambil memejamkan mata.


Ara mengerutkan kening. Ini tidak seperti biasanya. Ia tahu Reno kesal padanya, akan tetapi ia tidak menemukan Reno yang sangar dan dingin. Sepertinya Reno kesal karena peduli padanya.


"Ada apa denganmu?" tanya Ara.


Kali ini Reno benar-benar frustrasi. Ia meraih tangan Ara dengan sangat geram. Diletakkan tangan itu pada dadanya. "Tidak kah kau merasakan detak jantungku berdegup terlalu kencang? Tidak kah kau melihat kulitku memerah dan tubuhku berkeringat? Perhatikan semuanya!" Reno berbicara dengan nada tinggi karena sudah sangat frustrasi.


Ara masih belum mengerti.


Setelah dikatakan dengan jelas, barulah Ara mundur. "Ba-bagaimana mungkin?"


Reno melepas topinya dan membanting topi itu ke lantai. "Apakah masih penting mengetahui penyebabnya?! Cepat keluar sebelum aku hilang kendali!"


"Baiklah aku akan pergi!" Ara lari dengan jurus langkah sepuluh ribu. (Eh? Kebanyakan ya? Langkah seribu maksudnya.)


Setelah Ara pergi dari kamarnya, Reno menutup pintu dengan membanting pintu dengan keras. Ia benar-benar frustrasi dan tersiksa.


"Akhhh! Sial!" Reno meninju cermin rias hingga pecah berkeping-keping.


* * * *


Pagi-pagi sekali, Vano keluar dari kamarnya. Kelihatannya ia belum mandi, akan tetapi ia tetap berpenampilan rapi. Ia menuruni anak tangga dengan langkah lebar dan cepat. Matanya sudah tertuju pada pintu kamar yang akan dia datangi.


Semua pelayan yang memang sudah mulai bekerja sejak pagi buta saling berbisik. Mereka bertanya-tanya mengapa tuan besarnya sudah bangun sepagi ini. Ditambah lagi ia terlihat sedang kesal dan marah.


'Ceklek'


"Mengapa kau tidak menjawab telepon ... ku ...." Vano mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar. "Apa yang terjadi?"

__ADS_1


Vano terkejut melihat isi kamar yang sudah tidak terlihat seperti kamar. Tidak ada satu pun perabotan yang berada di posisi seharusnya. Meja kaca pecah, meja nakas hancur, lampu nakas juga hancur, cermin rias pecah, kursi rias patah, sofa terbalik, bahkan ranjang pun terbalik.


"Di mana dia?" Vano mencari sosok adiknya, namun tidak menemukan nya.


Ia ingin bertanya ada apa dengan adiknya itu. Mengapa kamar yang begitu rapi bisa menjadi hancur berantakan. Ia yakin semalaman adiknya mengamuk, akan tetapi ia belum tahu apa penyebabnya.


"Mungkin dia ada di kamar mandi." Vano berjalan ke kamar mandi.


Begitu membuka pintu kamar mandi, Vano terkejut melihat Reno yang tertidur di dalam bathtub yang berisi air dingin. Adiknya itu berendam tanpa melepas pakaiannya.


"Bodoh." Cepat-cepat Vano menghampiri bathub.


"Hei, bangun." Ia menepuk pipi adiknya.


Melihat adiknya tidak bereaksi, ia yakin bahwa adiknya bukan sedang tertidur lagi, melainkan pingsan. "Merepotkan saja," gerutu Vano saat ia melingkarkan tangan Reno di bahunya.


Terpaksa ia menggendong Reno dipunggung nya, kemudian membawa adiknya keluar dari kamar mandi.


Sesampainya di kamar, ia melihat kondisi kamar. Tidak ada tempat untuk membaringkan tubuh adiknya. Ia pun memutuskan untuk membawa Reno ke kamar lain. Saat baru keluar dari kamar lamanya, ia melihat Ara akan naik ke lantai atas.


"Hei, kau."


Merasa ada yang memanggil, Ara pun berbalik. "Tuan Besar?" Ara melihat Reno yang tak sadarkan diri. "Dia?"


Ara terkejut melihat kondisi Reno yang basah kuyup, ditambah lagi wajahnya yang sangat pucat. Segera ia berlari menghampiri Vano.


"Ada apa dengan nya?" tanya Ara.


"Jangan banyak bertanya. Cepat bantu aku bawa dia sebelum ada yang melihat wajahnya," ucap Vano yang sudah kewalahan mengangkat tubuh Reno.


"Baiklah, Tuan. Agar tidak terlalu jauh, bawa saja ke kamar saya." Ara pun membantu Vano menggotong tubuh Reno.


Beberapa saat kemudian. "Letakkan di sini saja, Tuan."


Ara dan Vano membaringkan tubuh Reno di tempat tidur Ara. Vano menghela nafas panjang sambil memandang wajah pucat adiknya. Baru kali ini ia melihat adiknya dalam kondisi tak berdaya.


Walaupun ekspresinya biasa saja, namun di dalam hatinya ia merasa sakit. Ia tidak pernah ingin melihat adiknya sakit seperti ini. Alasan yang membuat dulu ia semangat hidup adalah adiknya. Dulu ia terus menjaga adiknya dengan sepenuh jiwa sampai adiknya masuk ke bangku sekolah. Setelah itu ia hanya memperhatikan adiknya dari kejauhan.


"Ada apa dengan nya? Mengapa dia bisa seperti ini?" Ara memperhatikan Reno dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Vano kembali menghela nafas. "Aku juga tidak tahu. Tadi aku pergi ke kamarnya untuk mengingatkan jadwal berangkat pagi hari ini. Yang aku lihat di kamarnya hanyalah kamar yang hancur berantakan. Dan aku menemukan dia berendam di dalam bathtub, ia sudah tidak sadarkan diri."


Ara berpikir sejenak, kemudian ia mengingat kejadian tadi malam. "Apa jangan-jangan karena obat perangs**g itu?"

__ADS_1


Vano menoleh cepat ke arah Ara sambil membulatkan matanya. "Obat perangs**g?"


__ADS_2