
Tanpa mereka ketahui, ada pria yang sedang memperhatikan mereka dari sela-sela pintu yang tidak tertutup rapat. Melihat dan mendengar interaksi mereka, orang tersebut tersenyum lebar.
Orang itu memutuskan untuk pergi, tidak ingin mengganggu dua orang yang sepertinya sudah saling jatuh cinta tapi masih belum menyadari hal itu.
Orang itu berjalan ke dapur, menghampiri kepala pelayan yang sedang sibuk mengawasi para pelayan yang sedang memasak untuk makan malam.
"Nanti malam bawakan dua porsi makanan ke kamar lamaku. Dan sebelum masuk ketuk pintu terlebih dahulu."
Kepala pelayan mengangguk hormat. "Baik, Tuan Besar."
Waktu makan malam pun tiba. Vano, Nirmala, dan Afid makan di meja makan. Suasana makan malam di ruang tengah lebih hangat dari malam-malam biasanya. Pasalnya Afid yang merupakan sosok pria yang ceria selalu berhasil membangun suasana yang menyenangkan. Sejak tadi tidak henti-hentinya ia menceritakan kisah lucu dan kisah yang menyenangkan.
Saat ketiga orang itu sedang asik di depan meja makan, di belakang mereka ada Ara yang baru keluar dari kamarnya. Ara tidak berjalan menuju meja makan, ia malah berjalan menuju kamar Reno.
Nirmala yang menyadari ada orang yang berjalan di belakang pun menoleh. "Ara, mari makan bersama," ucapnya menawarkan.
Vano memegang bahu Nirmala. "Tidak perlu, aku sudah memintanya menemani sopirku makan." Vano tidak mengucapkan nama Reno karena di sana ada banyak pelayan.
Nirmala membentuk huruf 'O' dengan bibirnya. Kemudian ia memberikan senyum dan dua jempol pada Ara.
Ara mengangguk saja. Kemudian permisi ke kamar Reno.
'Ceklek'
Reno yang sedang fokus di depan laptop langsung menoleh ke arah pintu. Sambil melihat, tangannya langsung mematikan laptopnya.
"Mengapa kau datang kemari?" tanya Reno sambil meletakkan laptop di atas nakas.
Ara menutup pintu. Ia tidak menjawab, hanya suara helaan nafas yang terdengar. Dengan langkah malas ia berjalan menuju sofa lalu duduk di sana. Melihat Ara tidak bersemangat, Reno jadi penasaran. Akan tetapi ia gengsi untuk bertanya pada Ara.
Hening menyelimuti ruangan itu. Reno sibuk memperhatikan Ara, dan Ara sibuk menatap lantai. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan dari luar. Ara pun mempersilahkan orang yang ada di luar untuk masuk.
"Aku membawakan makanan untuk kalian berdua." Kepala pelayan meletakkan makanan di atas meja kaca. Tanpa lama-lama, ia pun langsung keluar dari kamar itu dan menutup pintunya lagi.
"Kau diperintahkan tuan Vano untuk menemani ku makan?" tanya Reno.
Ara mengangguk.
__ADS_1
Reno menghela nafas. Entah mengapa saat Ara diam seperti ini, ia menjadi tidak nyaman dan kesal. "Kau ini mengapa jadi pendiam?" tanya Reno.
Hening lagi, tidak ada jawaban dari Ara.
"Jika kau tidak mau menjawab pertanyaanku, lebih baik kau keluar dari sini." Reno berbicara lagi.
Terdengar Ara menghela nafas berat. Gadis itu menghadap ke arahnya. "Jika kau ingin aku berbicara denganmu, maka tolong jelaskan mengapa tuan Vano memukuli mu sampai babak belur begini? Atau kau bisa jelaskan mengapa kau bisa dengan tega membunuh orang dengan mudahnya?"
Mendengar ucapan Ara, Reno langsung terdiam. Sungguh ia tidak menyangka Ara akan bertanya tentang itu. Hal yang paling tidak ingin ia bicarakan adalah tentang kehidupan pribadinya.
"Kau tidak perlu tahu," ucap Reno dingin.
Ara berdiri dengan tegak. Ia menatap lurus pada Reno. "Kalau begitu, aku keluar sekarang."
Saat Ara akan meraih gagang pintu ....
"Akh!"
Ara menghentikan gerakannya lalu berbalik. Dilihatnya Reno sedang memegangi perutnya sambil meringis kesakitan. Rasa kesal dan marahnya langsung menghilang entah ke mana saat melihat Reno kesakitan. Ia langsung menghampiri Reno.
"Ada apa? Apakah lukamu sakit lagi?" tanya Ara khawatir.
Ara bingung harus bagaimana. Kalau hanya luka luar ia masih bisa mengobati, tapi ini luka di dalam, ia tidak tahu apa-apa.
"Bagaimana ini? Apakah aku harus memanggil tuan besar Vano dan memanggil dokter?" Ara kebingungan sambil melihat ke arah Reno dan pintu kamar secara bergantian.
Reno menggeleng. "Tidak, tidak perlu. Tuan besar Vano tidak mungkin mengurusku. Dia sengaja melakukan ini agar aku mendapatkan pelajaran atas apa yang telah aku lakukan."
Ara merasa iba melihat kondisi Reno, dan tidak ada satupun yang bisa membantunya karena dilarang oleh Vano. Ya terkecuali dirinya.
"Tapi ini sudah keterlaluan! Kalau kau yang akhirnya mati bagaimana? Sebagai kakak seharusnya dia memiliki rasa simpati sedikit saja!" ucap Ara dengan nada tinggi.
Reno menggeleng lagi. "Jangan marah-marah, semuanya tidak ada gunanya. Lebih baik kau bantu aku berbaring."
Yang dikatakan oleh Reno memang benar. Untuk apa marah-marah sedangkan ia sama sekali tidak bisa melawan keputusan Vano. Ia pun menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.
"Baiklah, sekarang aku akan membantumu berbaring."
__ADS_1
Dengan lembut dan penuh kehati-hatian, Ara membaringkan tubuh Reno. Sesekali Reno meringis karena punggungnya terasa semakin perih. Saat punggungnya benar-benar menempel pada kasur, Reno merintih kesakitan.
"Shh! Sakiitt!"
Ara mengangkat punggung Reno sedikit. "Lalu harus bagaimana?" tanya Ara bingung.
"Coba kau selipkan tanganmu diantara punggung dan kasur. Aku rasa itu akan mengurangi tekanan lukaku pada kasur," ucap Reno.
Ara pun menurut saja, yang penting Reno tidak merasa kesakitan.
Dengan perlahan Ara meletakkan tangannya di punggung Reno. Setelah yakin pria itu tidak kesakitan, kemudian ia lanjutkan membaringkan tubuh pria itu. Dengan posisi tangan yang ada di punggung Reno, otomatis ia pun ikut berbaring. Sekarang mereka berbaring di satu kasur yang sama.
"Ini baru tidak sakit." Reno menoleh ke samping. Wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
Jantung Ara berpacu diluar batas normal saat merasakan hembusan nafas Reno. Pria yang sangat tampan, maskulin dan berkharisma itu kini berbaring bersamanya. Sumpah demi apapun Ara ingin memeluk Reno. Akan tetapi ia tahu diri dan tidak ingin menjadi wanita murahan.
Di saat keheningan mulai menguasai, suara rintik hujan mulai terdengar bersamaan dengan hembusan angin yang ringan. Mendung yang luar biasa tadi sore baru sekarang menjatuhkan butiran air.
"Hujan turun. Apakah kau kedinginan?" tanya Reno.
Ara tidak menjawab, ia belum tersadar dari lamunannya. Matanya masih terpaku pada sosok pria tampan yang ada dihadapannya.
Melihat Ara yang sibuk memandanginya, Reno pun memberikan senyum yang belum pernah ia tunjukkan pada siapapun. Senyuman yang mampu membuat orang mabuk kepayang. Tangannya meraih selimut lalu ia tutupi tubuh mereka berdua.
"Apakah masih dingin?" tanya Reno.
Entah apa yang Ara pikiran, ia hanya mengangguk.
Reno ingin sekali tertawa melihat Ara yang sepertinya sudah terhipnotis oleh ketampanannya. Tapi jika ia tertawa, mungkin ia akan menyadarkan gadis yang ada di sampingnya. Ia pun teringat akan ucapan seseorang tadi sore.
Dengan menahan rasa perih pada punggungnya, ia memiringkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Ara. Setelah berhadapan, Reno mengangkat satu tangan ke pinggang Ara kemudian ia melingkarkan nya di sana.
"Sudah tidak dingin lagi, kan?" tanya Reno.
Ara mengangguk saja. Ia merasa sangat nyaman dalam pelukan Reno hingga tidak dapat memikirkan hal apapun lagi.
Reno tersenyum kemudian memejamkan mata. Teringat ucapan Afid tadi siang.
__ADS_1
Tadi siang saat Afid masih di kamar Reno ....
Penasaran kan sama flashback nya? Kira-kira apa ya yang diomongin sama si Afid tadi siang ya? Yuk injek tombol like pake jempol kaki dulu, biar si Reno mau ngasih tau Author.