Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 11


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, di dalam mobil milik Vano, baik Nirmala maupun Vano tidak ada yang berbicara. Begitu pula dengan sang sopir yang sama sekali tidak berbicara, matanya terus fokus ke depan.


Beberapa menit kemudian mobil Vano memasuki halaman rumah sakit dan kemudian parkir dengan mulus.


Tanpa berbicara Vano melepaskan sabuk pengamannya lalu turun dari mobil. Menurutnya Nirmala bukan anak kecil yang harus diajak turun baru turun. Begitu Nirmala sudah keluar dari mobil, dua mobil hitam menyusul dan parkir dengan posisi menghimpit mobil Vano.


Dan yang terakhir datang mobil putih dan parkir sedikit jauh dari tiga mobil itu. Farhan turun dari mobil dan berjalan cepat menghampiri Vano.


"Biarkan saya yang mendaftar pemeriksaannya." Farhan masuk ke dalam lebih dulu, barulah Vano dan Nirmala menyusul.


Setelah tuan dan nyonya masuk, para bodyguard turun dari mobil hitam. Dua masuk ke dalam rumah sakit, dan enam lainnya menunggu di sekitar mobil. Dari dalam mobil Vano, turunlah sang sopir pribadi.


Salah satu bodyguard langsung bertanya. "Apakah kau tau apa yang terjadi pada nyonya muda?"


Sang sopir hanya mengangkat bahu. "Tidak." Setelah itu sang sopir pergi ke bagian belakang mobil untuk mengecek kondisi ban belakang mobil.


"Apakah sopir itu titisan dari tuan muda? Irit bicaranya sama seperti tuan muda." Salah satu bodyguard menggosipkan sang sopir pribadi Vano.


Terkadang mereka kesal dengan sopir pribadi yang dimiliki Vano. Mereka yakin sopir pribadi itu mengetahui banyak informasi rahasia, mengingat banyaknya obrolan pribadi antara Farhan dan Vano di dalam mobil. Namun, setiap mereka bertanya untuk mengorek informasi, sopir itu hanya menjawab dengan menggedikkan bahu atau mengatakan 'tidak' dan 'tidak tahu'.


Walaupun kesal, tapi mereka tidak bisa mengusik sopir pribadi itu. Vano pernah memperingati mereka untuk tidak mengusik sopir pribadinya. Bahkan saking tidak boleh diganggu, mereka sampai tidak tahu nama dari sopir itu. Jikapun ditanya, sopir itu hanya diam membisu, seperti tidak pernah mendengar apapun.


Kembali pada Vano, tuan muda keluarga Ravaldi itu duduk menunggu bersama Farhan. Beberapa menit menunggu, seorang dokter pria keluar dari ruang pemeriksaan. Ia meminta Vano untuk ikut ke ruangannya.


"Begini Tuan Muda."


Dokter tersebut memanggil Vano dengan sebutan tuan muda karena ia sangat mengenal keluarga Ravaldi.


"Kalau boleh tahu, nona tadi itu siapa?" tanya dokter itu dengan hati-hati, takut mengusik ketenangan hati tuan muda Vano.


"Istriku," jawab Vano singkat.


Dokter tersebut tercengang, bagaimana mungkin Nirmala bisa menjadi istri Vano. Satu tahun yang lalu ada seorang pengusaha muda yang membawa istrinya ke rumah sakit ini untuk memeriksakan diri dan juga istrinya.


Kedua pasangan itu divonis sulit memiliki anak. Lalu pasangan suami-istri itu selalu rajin ke rumah sakit demi cepat mendapatkan keturunan. Dan wanita yang dibawa itu adalah Nirmala.


"Bagaimana mungkin, Tuan? Dia adalah istri--"

__ADS_1


"Katakan saja bagaimana kondisinya," tegas Vano hingga membuat dokter tersebut terdiam seketika.


"Baiklah." Dokter itu memperbaiki posisi jas putihnya. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kondisi nona Nirmala. Dia muntah dan pucat karena nona Nirmala sedang mengandung. Usia kehamilannya sudah tiga bulan."


'Deg'


Vano tidak menunjukkan ekspresi terkejut, hanya buah jakunnya yang menandakan ia kesulitan menelan ludah. Kepalanya tidak tertunduk, hanya bula matanya yang bergerak ke bawah. Ia sedang memikirkan sesuatu yang sulit.


Suasana di dalam ruangan dokter menjadi sangat hening. Baik Vano maupun sang dokter tidak ada yang berbicara. Hingga akhirnya Vano berdiri dan keluar dari ruangan dokter tanpa berbicara apapun.


Vano berjalan menghampiri Nirmala yang sudah keluar dari ruang pemeriksaan dan kini sedang duduk dan disampingnya berdiri Farhan. Sama seperti biasanya, Vano memang jarang sekali menatap wajah Nirmala, ia tetap menatap lurus ke depan.


"Mari pulang." Vano berjalan mendahului Nirmala.


Nirmala menatap Farhan dengan tatapan bertanya. Mengetahui apa yang ingin ditanyakan oleh Farhan, pria itu tersenyum saja. "Mari pulang, Nyonya Muda. Tuan muda akan membicarakan masalah ini di rumah."


Nirmala pun berdiri dan berjalan di depan Farhan.


Sama seperti waktu berangkat, saat pulang ini pun Vano dan Nirmala sama sekali tidak berbicara. Nirmala sebisa mungkin tidak bertanya karena mengingat ucapan Farhan yang mengatakan Vano akan membicarakan semuanya di rumah.


Sesampainya di rumah, Vano dan Nirmala disambut oleh banyak para pelayan. Vano berjalan mendahului Nirmala dan langsung masuk ke kamar. Nirmala pun langsung menyusulnya.


"Vano, ada apa?" tanya Nirmala.


Terdengar suara helaan nafas Vano. "Kapan terakhir kali kau datang bulan?" Tentu saja Vano bukan bertanya, ia hanya ingin memberikan kode pada Nirmala agar Nirmala mengetahui jawabannya tanpa harus dijelaskan.


"Mengap ... pa ...."


Pupil mata Nirmala membesar. Ia baru sadar bahwa sudah tiga bulan ia tidak datang bulan. Terlalu sedih karena harus berpisah dengan Rafan, ia sampai tidak ingat tentang datang bulan.


"Jadi aku ...." Nirmala segera mencari sofa untuk ia berpegangan. Tiba-tiba kakinya lemas, tangannya gemetar. Ia duduk di sofa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ya. Kamu sedang mengandung anak Rafan."


Suara Vano lebih berat dari sebelumnya. Entah ekspresi seperti apa yang ia sembunyikan dari Nirmala. Posisinya yang membelakangi Nirmala membuat Nirmala tidak dapat melihat ekspresi wajah suaminya.


Vano berbalik, ia tetap berdiri tegap seolah-oleh tubuhnya itu tetap akan tegak walaupun tertabrak karang kehidupan. "Sudah tidak ada alasan lagi untuk aku mempertahankan dirimu. Pulanglah, Rafan pasti akan bahagia dengan kabar gembira ini."

__ADS_1


Entah mengapa, nada datar Vano membuat hati Nirmala terluka. Dan kata 'pulanglah' diucapkan oleh Vano dengan nada yang menggambarkan pria itu meminta Nirmala kembali pada sumber kebahagiaannya.


Nirmala diam seribu bahasa, sungguh ia belum siap untuk kembali pada mantan suami yang sudah tega menjadikan dirinya sebagai jaminan.


"Apakah kau tidak ingin mempertahankanku lagi, Vano?" tanya Nirmala. Bersamaan dengan pertanyaan itu, buliran air mata jatuh melewati pipinya.


Mata Vano fokus pada sebutir air mata yang mengalir lamban di pipi istrinya. "Ya, aku sudah tidak memiliki alasan apapun. Anakmu membutuhkan sosok ayahnya dan --"


"Apakah kau tidak ingin menjadi sosok ayahnya?" Baru kali ini Nirmala berani memotong ucapan Vano. Dan pertanyaan berhasil membuat Vano diam.


"Apa maksudmu?" tanya Vano dengan kerutan di keningnya.


"Jujur, aku tidak ingin kembali pada Rafan. Aku tidak ingin kembali pada suami yang sudah menjadikan aku jaminannya. Walaupun aku masih mencintainya, aku tidak ingin kembali."


"Tapi Nirmala, Rafan mencintaimu, dia melakukan semua ini demi dirimu juga," ucap Vano agar Nirmala tidak memandang buruk temannya itu.


"Jika dia mencintaiku, seharusnya dia tahu bahwa kebahagiaanku bukan dari harta," balas Nirmala. "Sungguh Vano, jika kau mengembalikanku padanya, maka aku tidak akan bahagia lagi."


"Tapi Nirmala, aku tidak bisa selamanya bersama dirimu jika kau tidak mencintaiku dan aku tidak mencintaimu. Kita punya jalan masing-masing," ucap Vano menegaskan.


Nirmala terdiam, kemudian ia menunduk. Dengan tangan kanannya ia mengusap air mata lalu tersenyum walaupun hatinya sakit.


"Ya, kau benar. Kau tidak bisa bersama selamanya denganku. Kau pantas memiliki istri yang kau cintai. Sekarang aku bisa menerima ucapan ibu, kau tidak mungkin memiliki istri bekas orang lain."


Raut wajah Vano sedikit berubah.


"Jika aku terus berada di sini, keberadaan aku dan anakku hanya akan menjadi beban untukmu. Kau masih lajang, sedangkan aku janda menyedihkan yang dijadikan jaminan oleh suaminya. Kau pasti butuh mencari cinta dan--"


"Hentikan." Vano berbicara dengan nada tegasnya. "Itu yang nyonya besar ucapkan padamu?" tanya Vano.


Nirmala mengangguk. "Ya."


"Jangan dengarkan ucapannya," ucap Vano dengan tegas. Vano berbalik lagi menghadap jendela besar.


"Jika kau tidak akan bahagia bersama Rafan lagi, maka tetaplah di sini selamanya."


Vano berbalik dan berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Nirmala yang diam membisu begitu mendengar ucapan Vano.

__ADS_1


"Apa maksudnya? Apakah dia akan menjadikanku istrinya dan akan menjadi ayah untuk anakku?"


__ADS_2