Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 22


__ADS_3

"Cukup!" Nirmala berteriak.


Rafan mengalihkan pandangan pada Nirmala. "Nirmala ...." Suara Rafan hampir tidak terdengar.


Nirmala berjalan menghampiri dua pria yang berdiri diambang pintu. Nirmala menatap Rafan, kemudian menatap Vano. Vano sendiri hanya menatap sekilas pada Nirmala.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Rafan. "Nirmala, mengapa kau setuju dengan resepsi pernikahan ini?"


Nirmala menatap Rafan dengan butiran air mata yang terus mengalir. "Apakah aku salah? Kami sudah menikah, lalu apa salahnya dengan resepsi pernikahan ini?"


Vano melirik Nirmala saat mendengar ucapan itu.


"Nirma, aku sudah berjanji akan mengambil mu dari Vano setelah hutangku lunas. Apakah kau tidak bisa menunggu untuk satu tahun lagi?" Rafan mencoba meyakinkan Nirmala bahwa ia benar-benar akan menjemput istrinya itu lagi.


Walaupun menangis, tapi Nirmala masih bisa tertawa masam. "Kau pikir aku ini barang? Yang bisa kau jadikan barang jaminan, lalu mengambilnya lagi? Tidak Rafan, aku masih memiliki hati, aku masih memiliki perasaan. Aku seorang wanita, aku pernah menjadi istrimu. Istri mana yang tidak sakit hatinya ketika sang suami menggadaikan dirinya?"


Rafan cukup terkejut dengan ucapan Nirmala. Kurang lebih tiga bulan yang lalu, Nirmala masih mengharapkan dirinya untuk datang menjemput. Lalu ini apa? Dari kata-katanya, Nirmala berucap seolah tidak ingin kembali lagi padanya.


"Nirma, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Aku melakukan ini demi kehidupanmu yang layak, aku tidak ingin kau hidup sengsara dan--"


"Aku lebih sengsara saat kau menjadikan aku jaminan!" Nirmala mengucapkannya dengan emosi. Air mata semakin turun dengan deras.


"Kau tidak mencintaiku, kau tidak mengerti aku. Jika kau mencintaiku, seharusnya kau tau bahwa aku tidak membutuhkan uang, aku tidak membutuhkan harta. Yang aku butuhkan hanya dirimu, tapi kau tidak mengerti itu!"


Rafan turun dan berdiri dengan kedua lututnya, ia sedang memohon. Air mata mulai menetes. "Nirmala, aku mohon, kembalilah padaku. Aku akan menyerahkan semua hartaku pada Vano. Aku mohon, anak kita butuh seorang ayah."


Nirmala mengusap air matanya dengan kasar. "Anakku sudah memiliki ayah, dan ayahnya adalah Vano. Apakah kau mengerti?"


Rafan terkejut bukan main. Hatinya langsung hancur begitu mendengar ucapan Nirmala. Bagiamana mungkin wanita yang dicintainya dan mencintai sanggup mengucapkan kata yang bisa menghancurkan hidupnya.


"Nirma, apa yang kau ucapkan? Dia anakku, bukan anak Vano."


Vano tersenyum tipis, sangat tipis hingga tidak ada yang menyadari bahwa ia sedang tersenyum.


"Dia memang bukan anak kandung Vano, tapi Vano lebih pantas menjadi ayahnya dibandingkan dirimu yang sudah menggadaikan ibunya."


Rafan meraih tangan Nirmala lalu menggenggamnya erat. "Aku mohon, Nirmala. Jangan seperti ini. Kau sangat mencintaiku, dan aku sangat mencintaimu. Kita sudah sama-sama berjanji untuk sehidup semati, apapun yang terjadi. Mengapa kau berubah jadi seperti ini?"

__ADS_1


Nirmala menarik tangannya dengan kasar. "Kau yang lebih dulu mengingkari janji itu. Dengan menjadikan aku jaminan, apakah kita bisa sehidup semati dengan apapun yang terjadi? Kau yang sudah merubahku. Aku membencimu Rafan!"


Di ucapan terakhir Nirmala berbalik dan pergi dari sana. Dua bodyguard langsung mengikutinya menaiki anak tangga.


Rafan berdiri, berdiri tegak berhadapan dengan Vano. Ia menghapus air mata kemudian tersenyum kecut. "Kau berhasil menghasutnya."


"Aku tidak menghasutnya. Apa yang dia katakan memang benar adanya." Vano menepuk bahu Rafan. "Tenang saja, aku akan menjadi ayah yang baik untuk bayi yang ada di dalam kandungan Nirmala."


Rafan mengepalkan tangannya. Vano sudah tahu pria dihadapannya akan segera melayangkan tinju. Dan bertepatan dengan tangan Rafan yang melayang di udara, tangan Vano menepisnya dan balas memberikan satu pukulan. Satu pukulan saja sudah berhasil membuat Rafan jatuh ke lantai.


"Pergi dari pestaku, teman sialan!" Akhirnya Vano mengeluarkan amarahnya yang sedari tadi ia tahan. "Kau sama sekali tidak pantas untuk Nirmala!"


Vano berbalik. "Bodyguard! Urus dia." Setelah itu ia melangkah cepat menaiki anak tangga.


Setelah Vano menghilang dari pandangan, Farhan langsung meminta WO mengambil tindakan karena mungkin pesta akan ditutup, atau mungkin hanya ditunda sejenak.


Vano tidak kembali ke kamar tempat ia bersiap-siap, ia mendatangi kamar Nirmala. Dibukanya pintu lalu masuk ke dalam. Suara isak tangis terdengar menyayat hati, tapi ekspresi wajah Vano tetap datar.


Nirmala terduduk di lantai di samping ranjang, ia menangis tersedu-sedu. Mungkin sekarang hatinya tengah tersakiti dengan luka yang sangat parah.


Vano masih berdiri di dekat pintu, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia menatap punggung Nirmala yang sedang menangis membelakangi dirinya. Sebelum berbicara, ia menarik nafas panjang.


Nirmala masih menangis tersedu-sedu, tapi ia berusaha menjawab. "Mengapa kau membiarkan dia masuk?"


Vano tersenyum sinis. "Bodoh sekali jika aku membiarkan dia datang ke pesta ini."


Vano menatap punggung Nirmala cukup lama. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.


"Pergilah."


Nirmala langsung menghentikan tangisannya. Ia berbalik dan menatap Vano dengan mata yang banjir. "Apa maksudmu?"


Vano berjalan beberapa langkah, lalu berdiri membelakangi Nirmala. Ia menatap dirinya sendiri di depan cermin.


"Bukan kah kau sangat mencintai nya? Jika kau ingin kembali padanya, maka pergilah. Aku tidak akan menyiksa batinmu lebih dari ini."


Setelah mengucapkan itu, Vano kembali berjalan ke pintu kamar. Ia membuka pintu namun sempat berhenti untuk mengucapkan sesuatu. "Jangan ragu, tadi kau mengatakan bahwa kebahagiaanmu adalah dia. Maka berbahagialah." Setelah itu pintu benar-benar ditutup.

__ADS_1


Vano membuka pintu kamar dengan sangat kasar.


"Akh!"


Ia membanting pintu sampai tertutup dengan kuat. Entah apa yang sedang merasuki dirinya. Meja kaca ia tendang hingga terbalik dan pecah. Ia juga menendang sofa hingga sofa terlempar jauh.


"Sialan!" Lagi-lagi ia berteriak tidak terkendali.


Ia kembali mengamuk dengan mengacak semua benda yang ada di kamar, termasuk tempat tidur dan lemari. Terakhir ia berdiri di depan cermin rias.


"Mengapa aku merasakan perasaan ini? Perasaan yang sangat menjijikan. Perasaan yang menghancurkan ibuku, perasaan yang mengambil semua kebahagiaanku. Mengapa perasaan itu datang!"


'prang!'


Cermin itu pecah ketika Vano melayangkan satu pukulan. Tidak hanya cermin saja yang pecah, tangannya pun terluka parah hingga mengeluarkan banyak darah. Tapi semua itu tidak ada apa-apanya dengan sesuatu yang ada dihatinya. Sesuatu yang membuat emosinya ter-ekspresikan. Selama ini ia selalu menyembunyikan emosi lewat wajah dinginnya. Sebelumnya ia tidak pernah mengamuk seperti ini.


Di lain tempat, sebuah kamar sudah acak-acakan tak karuan. Di sudut dinding kamar ada seorang pria yang merosot ke lantai dengan air mata yang sudah membasahi pipi. Hatinya sama terlukanya dengan sang mantan istri.


"Mengapa jadi begini? Mengapa ini terjadi?" Mata Rafan mengekspresikan betapa sakit hatinya saat ini.


"Istri mana yang tidak sakit hatinya ketika sang suami menggadaikan dirinya?"


"Kau tidak mencintaiku, kau tidak mengerti aku. Jika kau mencintaiku, seharusnya kau tau bahwa aku tidak membutuhkan uang, aku tidak membutuhkan harta. Yang aku butuhkan hanya dirimu, tapi kau tidak mengerti itu!"


Air mata Rafan semakin mengalir deras.


"Anakku sudah memiliki ayah, dan ayahnya adalah Vano. Apakah kau mengerti?"


"Dia memang bukan anak kandung Vano, tapi Vano lebih pantas menjadi ayahnya dibandingkan dirimu yang sudah menggadaikan ibunya."


"Kau yang lebih dulu mengingkari janji itu. Dengan menjadikan aku jaminan, apakah kita bisa sehidup semati dengan apapun yang terjadi? Kau yang sudah merubahku. Aku membencimu, Rafan!"


"*Aku membencimu, Rafan!"


"Aku membencimu, Rafan!"


"Aku membencimu, Rafan*."

__ADS_1


Rafan semakin lemas. "Tidak Nirmala, kau salah. Aku sangat mencintaimu." Rafan menengah. "Ini memang salahku, apakah aku tidak bisa memperbaikinya?"


Tiga orang yang dalam kebimbangan terlihat sangat kacau. Nirmala menangis di kamarnya, Vano menatap marah pada kaca yang pecah, dan Rafan bersandar pada dinding sambil menyesali apa yang terjadi.


__ADS_2