
Ara baru sampai di rumah pada pukul 08.30 malam. Nirmala dan Farhan yang mengantarkan nya sampai rumah. Hari ini ia sangat senang karena bisa berbelanja keperluan bayinya nanti. Ya walaupun masih lama, namun alangkah baiknya jika dipersiapkan dari sekarang. Walaupun tidak bisa berbelanja dengan Reno, ia tetap merasa senang.
Ia menoleh pada jam dinding yang menempel di dinding rumah barunya. "Hmm, sepertinya Reno belum pulang."
Ara meletakkan belanjanya di atas meja ruang tamu. Ia duduk di sofa karena kakinya mulai terasa pegal. Akhir-akhir ini ia sering merasa cepat lelah. Ia pikir hal ini wajar terjadi pada ibu hamil. Apalagi tiga hari ini ia disibukkan dengan merapikan rumah barunya.
Ya, Reno telah membeli rumah baru. Ia pikir ia harus membeli rumah biasa agar mereka bisa berbaur dengan lingkungan sosial. Sedangkan rumah lamanya tetap ditempati oleh pak Tua. Dan ia akan sesekali mengunjungi rumah tersebut jika ada pekerjaan atau sesuatu yang perlu diurus.
"Sayang, apakah kau lapar?" Ara bertanya pada perutnya, pada bayi yang masih 4 bulan di dalam kandungannya. "Ah, sepertinya kau sudah lapar ya." Ia menjawab pertanyaannya sendiri. Padahal sejatinya dirinya lah yang lapar.
Ara bangun dari sofa. Rencananya ia akan pergi ke dapur untuk memasak. Dan ia meninggalkan belanjaannya di ruang tamu untuk sementara.
Ia berjalan melewati ruang tengah. Namun baru beberapa langkah dirinya melangkah, ia menghentikan langkahnya itu. Kepalanya tertunduk karena melihat sesuatu.
"Apa ini?" Ia memungut selembar kertas yang terbalik.
Setelah ia balikkan kertasnya, senyum lebar terlukis di wajahnya. Bagaimana tidak tersenyum, ternyata kertas itu adalah foto hasil screenshot dari video yang dulu ia ambil di kamar lama Vano untuk menjebak Reno dan mengancamnya.
Ada tulisan kecil di foto tersebut. 'Masih ingat, kan?'
Ara terkekeh kecil sendiri. Ia melangkah lagi dan menemukan selembar kertas lagi. Lagi-lagi ia tersenyum.
Kertas itu menuliskan nominal uang. 'Rp 70.000.000-00, hutangmu padaku masih belum lunas, Sayang'
__ADS_1
Setelah membaca itu, Ara mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu. Ia yakin masih ada sesuatu yang suaminya letakkan di ruangan itu. Dan ternyata benar, di meja ruang tamu ada selembar kertas besar. Segera ia menghampiri meja ruang tengah.
Ia mengambil kertas tersebut lalu dibalik. Ara tersenyum semakin lebar. Kertas tersebut adalah kumpulan foto-foto di hari pernikahan mereka.
'Di hari pernikahan kita, sayang sekali dulu kita tidak menikmati resepsinya dengan rasa bahagia. Bagaimana kalau kita menikah lagi dan mengadakan pesta yang lebih meriah?'
Saat Ara akan melangkah, tiba-tiba lampu mati. Ara tidak bisa melihat apapun. Tapi tak butuh waktu lama, seluruh pilar di dalam ruang tengah mengeluarkan cahaya warna merah. Cahaya itu berhasil menerangi ruang tengah walaupun hanya remang-remang. Bersamaan dengan itu, balon berbetuk love turun dari atas bak hujan yang turun dari atas langit.
Ara takjub melihat semuanya, sungguh kejutan yang luar biasa.
Selesai balon love, giliran kelopak mawar yang turun dengan indahnya. Senyum Ara semakin melebarm tidak disangka suaminya bisa menyiapkan kejutan yang sangat luar biasa indahnya.
"Happy anniversary to us ...." Nyanyian selamat ulang tahun mengalun merdu dari arah belakang. Ara berbalik dan dilihatnya Reno berjalan ke arahnya sambil membawa kue berbentuk love.
Reno sudah berdiri tepat di depannya. "Selamat ulang tahun pernikahan kita, Ara Sayang. Tidak terasa usia pernikahan kita sudah satu tahun. Rasanya baru kemarin aku menikahimu, setiap hari terasa pengantin baru."
Ara tersenyum bahagia. Saking bahagianya, ia sampai menitikkan air mata. "Kau romantis sekali, Reno. Selamat hari ulang tahun pernikahan juga, Reno Sayang." Kemudian Ara meniup lilinnya.
Reno menuntun Ara untuk duduk di sofa. Ia letakkan kue ulang tahun pernikahan mereka di atas meja. "Kita potong kuenya dulu." Reno memegang pisau kue.
Selagi suaminya sibuk memotong kue, Ara sibuk memandangi keindahan ruang tengah yang disiapkan oleh suaminya.
"Berapa lama dan berapa banyak uang yang kau keluarkan untuk mendekorasi ruang tengah ini?" tanya Ara.
__ADS_1
Sambil memotong kue, Reno menjawab, "Hampir setengah hari. Aku meminta izin pulang pada kak Vano. Setelah itu aku meminta bantuan Afid dan pak Tua. Kalau soal uang, tidak perlu tahu. Yang jelas aku tidak peduli seberapa besar uang yang aku keluarkan untuk memberikan kejutan ini padamu. Apakah kau suka?"
Ara mengangguk. "Sangat suka."
'Cup'
Ara mengecup pipi Reno.
Reno menoleh pada istrinya. "Kau membuatku tidak sabar untuk menagih 70 jutaku."
Ara terkekeh. "Aku lapar, jadi habiskan dulu kuenya, setelah itu aku akan membayarnya plus dengan bonusnya."
'Cup'
"Aku mencintaimu, Istriku."
Ara tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Suamiku."
* * * *
Maaf ya, bonus episodenya cuma segitu. Soalnya Sely lagi sibuk ke sana kemari untuk bantu mamah Sely mempersiapkan pernikahan kakak laki-laki Sely. Sekalian Sely minta doanya, semoga pernikahan kakak laki-laki Sely lancar sampai selesai.
Oh ya, kan Sely mau ngeluncirin novel baru yang rencananya Sely luncurkan beberapa bulan lagi. Hmm lama banget kan nunggu beberapa bulan lagi? Nah, sebab itu sekalian nunggu, Sely punya novel spesial nih. Novel bonus dari novel istri jaminan ini. Rencananya tanggal 25 July Sely luncurkan. Kok lama banget? Sely mohon pengertiannya, kepala Sely juga butuh istirahat sebentar 🤭😁.
__ADS_1
Judulnya apa? Iyups, judulnya adalah 'PLAYBOY INSAF'. Hayo tebak siapa pemeran utamanya? Oke, pantengin terus ya novel-novel Sely.