
"Apa? Nirmala sedang mengandung?" Suara Raisa yang paling menguasai seisi ruang tamu.
Mendengar suara ibunya dari belakang, Vano masih berdiri tanpa berbalik badan. Di depannya berjejer seluruh pekerja di rumah besar itu. Sedangkan Farhan, pria itu setia berdiri di samping Vano walaupun posisinya satu langkah di belakang.
Raisa sudah berhadapan dengan Vano. "Kalau begitu, pulangkan dia pada suaminya."
"Mantan suaminya," ucap Vano meralat ucapan ibunya dengan nada dingin.
Raisa tersenyum kecut. "Mau dia suaminya atau mantan suaminya, aku tidak peduli. Yang jelas, dia harus dikembalikan. Aku tidak sudi menerima anak dari pria itu sebagai cucu. Aku tidak ingin ada darah lain di rumah ini selain darah dari keluarga Ravaldi."
Ada hening sejenak. "Anda pikir Anda berdarah Ravaldi?"
Raisa langsung terdiam. "Kurang ajar, mudah sekali dia menyudutkanku hanya dengan satu kalimat saja."
Vano mengalihkan pandangannya dari sang ibu menuju para pekerja di rumahnya. "Apakah kalian mengerti dengan tugas tambahan kalian?" tanya Vano.
Para pelayan serentak mengangguk. "Mengerti, Tuan Muda."
Vano berbalik. "Pak Farhan, tolong urus sisanya." Kemudian ia berjalan menaiki tangga menuju ruang kerjanya.
Setelah Vano pergi, kini semuanya diambil alih oleh Farhan. "Tolong bekerjalah sebaik mungkin dan tetap setia. Dengan adanya tugas tambahan ini, tuan muda telah memutuskan untuk menambah gaji bulanan kalian."
Mendengar penyampaian Farhan, para pelayan terlihat senang. Mereka semua membungkuk dan mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Tuan Farhan."
"Sama-sama, sekarang kembalilah ke perkerjaan kalian masing-masing."
Para pelayan maupun para penjaga, semuanya kembali ke tempat masing-masing. Sedangkan Raisa, ia masih tetap berdiri di sana sambil memangku tangan. Farhan menatap sekilas untuk melihat ekspresi seorang nyonya besar yang ucapannya sama sekali tidak berarti di hadapan tuan muda. Seharusnya ucapan nyonya besar yang tidak boleh dibantah, tapi kali ini sebaliknya.
"Apa tugas tambahan bagi para pelayan?" tanya Raisa dengan nada ketus.
"Tidak terlalu banyak, Nyonya Besar. Para pelayan harus memastikan nyonya muda makan dengan teratur, memastikan nyonya muda tidak kelelahan, memastikan tidak bosan, dan memperhatikan segala keinginan nyonya muda selain kebutuhan pokoknya. Jika ada masalah menyangkut nyonya muda, mereka harus segera menghubungi saya agar saya memberitahu tuan muda. Sementara untuk penjaga, mereka hanya perlu memperketat penjagaan. Dan dua bodyguard terpercaya yang selalu mengawasi tuan muda, kini diperintahkan untuk menjaga nyonya muda."
Raisa menatap tajam pada Farhan. "Semuanya hanya tentang nyonya muda yang sebenarnya sama sekali tidak pantas dijadikan seorang nyonya?" tanya Raisa sinis.
"Untuk sementara memang hanya itu saja. Apakah Nyona Besar ingin ada tugas tambahan mengenai Anda?" tanya Farhan dengan senyum tipis.
Raisa berdecih. "Tidak perlu. Yang ada hanya membuatku susah saja."
Tanpa ingin banyak bicara dengan sekretaris Vano yang ia pikir sangat menyebalkan, Raisa memutuskan untuk naik ke kamarnya saja.
* * * *
Hari ini Vano berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya. Bahkan sebelum Nirmala bangun, pria itu sudah menghilang dari kamar. Keberangkatan tuan muda yang aneh ini sukses membuat para pelayan dan juga bodyguard bertanya-tanya.
__ADS_1
"Apa yang menyebabkan tuan muda berangkat sepagi ini?" tanya salah satu pelayan yang melihat mobil pribadi milik Vano perlahan menghilang dari pandangan, tertelan remang-remangnya pagi.
"Aku juga tidak tahu. Sudahlah, untuk apa kita ingin tahu. Itu semua urusan tuan muda."
Sedangkan di kamar Vano, Nirmala membuka matanya. Melihat ke kanan tidak ada Vano, Nirmala cukup keheranan, biasanya mereka akan bangun bersamaan, bahkan terkadang ia dulu yang bangun.
'Tok-tok-tok'.
"Nyonya Muda, apakah Anda sudah bangun?" Suara pelayan membuat Nirmala benar-benar bangun lalu duduk di tepi ranjang.
"Masuklah," perintah Nirmala.
Pintu terbuka dan masuklah dua pelayan. Pelayan itu adalah pelayan yang biasanya melayani Nirmala.
"Nyonya Muda, izinkan saya untuk menyiapkan air hangat untuk Anda mandi," ucap salah satu dari mereka.
Nirmala menyingkap selimut lalu turun dari ranjang. "Tidak perlu repot-repot, saya bisa mandi dan menyiapkannya sendiri."
Pelayan itu saling berpandangan. "Nyonya, kami mohon. Tolong izinkan kami melayani Anda dengan baik. Ini perintah tuan muda."
Mendengar julukan suaminya disebut, apa lagi yang bisa ia lakukan selain mengizinkan pelayannya itu melakukan tugas. Sudah cukup Vano berbaik hati menjadi suaminya. Jangan sampai ia membuat Vano kecewa dengan membantah perintahnya.
"Baiklah."
Para pelayan tersenyum, mereka lega tidak jadi di potong gaji. Jika mereka tidak melayani Nirmala dengan baik, maka Vano akan memotong gaji mereka sesuai kelalaian yang dilakukan.
Nirmala menggeleng cepat. "Tidak, tidak mungkin. Vano orang yang sangat baik. Dia juga tidak main-main dengan ucapannya. Jika dia mempertahankan aku, itu artinya memang itulah keinginannya."
Nirmala menghela nafas lagi, lalu duduk di sofa sambil menunggu air hangat siap.
* * * *
Rafan, sejak terakhir kali bertemu dengan mantan istrinya, ia jadi lebih giat dalam mengurus perusahannya. Hampir setiap hari ia lembur di kantor bahkan sampai menginap di kantor. Para karyawannya sampai geleng kepala. Mereka berpikir Rafan adalah manusia robot yang tidak akan pernah berhenti bekerja.
Sama seperti hari ini. Dari kemarin ia tidak pulang ke rumah, ia memilih untuk diam di kantor. Pagi ini ia kembali meneruskan pekerjaannya setelah merasa cukup dengan tidur tiga jamnya.
"Nirmala, secepatnya aku akan menjemputmu."
Hanya itu yang ia ucapkan setiap hari, walaupun ia tahu Nirmala tidak akan mendengarnya.
'Tok-tok-tok'
Rafan sudah bisa menebak bahwa orang yang mengetuk pintu adalah sekretarisnya, Syita.
__ADS_1
"Masuk."
Orang diluar mendorong pintu dan masuk ke dalam. "Selamat siang Tuan. Maaf mengganggu."
"Ada apa? Silahkan duduk." Rafan mempersilahkan, tapi sekretarisnya itu hanya mengucapkan terima kasih.
"Maaf Tuan, ada yang ingin bertemu dengan Anda. Dia mengaku ibunya tuan muda Vano."
Raut wajah Rafan langsung berubah begitu mendengar sesuatu yang berhubungan dengan tuan muda es kutub itu. "Mau apa ibunya datang ke mari?"
"Baiklah, persilahkan beliau masuk."
Syita kembali menutup pintu. Tak butuh waktu terlalu lama, pintu diketuk. Kembali Rafan mempersilahkan orang di luar sana untuk masuk.
"Selamat siang, Rafan."
Rafan berdiri untuk menyambut nyonya besar keluarga Ravaldi. "Selamat siang juga, Nyonya. Silahkan duduk." Rafan mempersilahkan Raisa duduk di sofa ruangannya.
"Terima kasih." Raisa duduk dan meletakkan tas tangannya di sisi tempat duduknya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Rafan sambil duduk berhadapan dengan ibu dari Vano.
Raisa tersenyum, seperti senyum tulus. "Wah, kau terlalu bersemangat Rafan. Seharusnya kau membiarkan tubuhmu beristirahat, nanti kau bisa sakit."
Rafan tersenyum. "Terima kasih atas perhatiannya, Nyonya. Saya merasa sangat tersanjung."
Raisa berdeham pelan. "Ehkm, bagaimana dengan perkembangan perusahaanmu?" tanya Raisa basa-basi.
"Baik Nyonya. Perusahaan ini berkembang cukup pesat," jawab Rafan alakadarnya. Menurutnya pertanyaan dari Raisa tidak penting sama sekali.
Walaupun demikian ia tetap bersabar untuk mendengarkan isi pokok pembicaraan yang membuat Raisa repot-repot datang ke kantornya.
"Setahun lagi kau harus membuat ruangan bermain untuk anakmu," ucap Raisa tiba-tiba, ya sebenarnya untuk mengkode saja.
"Hahahah, mungkin itu akan saya pikirkan nanti," jawab Rafan santai karena belum menyadari apa yang dimaksud oleh Raisa.
Raisa memasang wajah serius. "Tidak bisa nanti, anakmu akan lahir dalam enam bulan lagi."
Mendengar ucapan Raisa, wajah Rafan berubah. Antara bingung, tidak percaya, dan ingin tahu.
"Apa maksud Anda, Nyonya?" tanya Rafan serius.
"Oh? Apakah Vano dan Nirmala tidak memberitahumu bahwa sekarang mantan istrimu itu tengah mengandung anakmu?"
__ADS_1
'Deg'
"Anak ... ku?"