Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 43


__ADS_3

"Bagaimana? Apakah kau berubah pikiran dan akan memberikan syarat lagi?"


Nirmala meneruskan gerakkannya dan menyisir rambutnya. Rasanya mulutnya sangat berat untuk digerakkan. Jantungnya sudah berdetak sangat kencang.


"Nirmala, aku sudah menunggu dirimu sangat lama. Aku sudah menepati janjiku, sekarang giliran dirimu yang menepati janji."


Nirmala selesai menyisir rambut. Rambut indahnya tergerai indah. "A-a-aku, malu." Kemudian ia menunduk dalam.


Vano tersenyum. Ia merubah posisi menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang. "Untuk apa malu? Aku adalah suamimu. Jika kau malu-malu, kapan kau akan biasa dengan hubungan kita."


Nirmala terdiam. Yang diucapkan oleh Vano memang benar, tapi ia tidak bisa menyingkirkan rasa malunya begitu saja.


Vano melipat tangan di depan dada sambil menatap punggung istrinya dari belakang. "Aku tidak meminta kau yang memulai duluan. Tetap aku yang mengambil kendali, kau tinggal memberikan hakku saja."


Pipi Nirmala semakin memerah. "Vano, jangan bicara lebih dalam."


Vano terkekeh. "Baiklah, Ratuku. Kemarilah." Vano menepuk kasur di sampingnya. "Kita mengobrol sebentar."


Nirmala menggeleng. "Aku masih malu." Nirmala masih menunduk. Ia tidak berani menatap cermin karena dari cermin itu terdapat pantulan Vano juga.


Vano menarik nafas, ia harus lebih bersabar sedikit. "Kemarilah, ini perintahku. Kita berbicara dulu, aku jamin tidak akan membuat mu malu."


Mendengar Vano mengatakan perintah, Nirmala tidak bisa menolak lagi. Ia tahu jika tidak menuruti perintah Vano, maka sifat dingin suaminya akan timbul lagi.


"Baiklah."


Nirmala jalan ke arah tempat tidur setelah itu naik dan duduk di samping Vano. Ia menunduk, rambut yang menjuntai menutupi wajahnya tidak berani ia perbaiki karena terlalu malu. Sungguh jantungnya akan melompat keluar dari rongga dada karena debaran yang begitu kencang.


Vano tersenyum. Ia mengulurkan tangan untuk menyelipkan anak rambut istrinya ke belakang telinga. "Rambutmu ini sangat indah, aku suka memandangnya, akan tetapi aku lebih suka melihat wajah cantikmu."


Pipi Nirmala kembali merona.


"Lihatlah, pipimu sudah berwarna alami tanpa harus diberi makeup. Bibirmu pun sudah ping alami."


Nirmala mengalihkan pandangan ke arah berlawanan dengan keberadaan Vano. "Jangan menggoda ku, Vano. Aku malu."


Vano tertawa kecil. Istrinya ini sangat cantik, baik, pemalu, sekaligus penurut. Hal ini yang mampu membuat hati Vano cepat luluh.


"Baiklah, jika kau malu. Sekarang kita tidur saja."


Vano menarik selimut lalu berbaring.

__ADS_1


Nirmala menoleh pada Vano, dilihatnya suaminya tidur sambil membelakangi nya. Ia pikir Vano marah karena ia belum siap lagi.


"Vano, apakah kau marah? Ini masih jam 7.30 malam, apakah kau akan tidur di jam segini?"


Vano tidak berbalik. "Sudahlah, tidur saja. Ini perintah," jawab Vano.


Nirmala menunduk, ia merasa sangat bersalah. Seharusnya ia tidak perlu membuat Vano menagih janjinya. Ia sudah berjanji, maka harus ditepati.


Ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sepertinya ia sedang mengumpulkan sebuah keberanian. Dengan perlahan dan sedikit ragu, ia memegang bahu Vano yang tertutup selimut. Ia tidak tahu apakah suaminya menyadari tindakannya, atau sedang berusaha untuk tidur sungguhan, akan tetapi ia akan tetap berusaha.


Tangan kanannya ia gunakan untuk mengusap kepala Vano. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya pada Vano. 'Cup' Nirmala mengecup pipi Vano.


Masih belum ada respon, Nirmala tidak putus asa. Ia memang harus membayar harga jual mahalnya selama ini. Ia kembali mengusap kepala Vano.


Setelah beberapa detik, ia menyingkap selimut Vano. "Vano, apakah kau marah padaku?" tanya Nirmala.


Vano masih diam.


Nirmala kembali mengusap pipi Vano kemudian mengecupnya sekali lagi. Tapi kali ini ia mendapatkan respon. Vano berbalik lalu mencekal tangan Nirmala.


"Aku tidak marah. Hanya saja ini adalah cara agar kau mau." Vano menarik Nirmala lalu menciumnya.


"Apa? Jadi ini adalah teknik nya untuk mendapatkan aku? Dia tidak marah sungguhan? Ah, tapi syukurlah jika dia tidak marah," ucap Nirmala dalam hati.


"Aku mencintaimu, Nirmala," bisik Vano.


Nirmala tersenyum, ini adalah kali pertamanya Vano mengungkapkan rasa cintanya dengan kata-kata. Nirmala merasa sangat bahagia dan ingin cinta itu abadi selamanya.


* * * *


Nirmala membuka matanya perlahan. Hal yang membuat ia langsung membuka mata tanpa rasa kantuk lagi adalah melihat sepasang mata yang tengah memandanginya.


"Vano?"


"Selamat pagi, Ratuku."


Vano tersenyum cerah walaupun suasana pagi itu tidak cerah karena mendung. Nirmala melirik ke arah jam dinding. Ternyata sudah pukul 8.37 pagi. Ia tidak mengerti mengapa Vano masih bersantai di atas tempat tidur.


"Sejak kapan kau bangun?" tanya Nirmala sambil mengucek matanya.


"Sejak pukul tujuh tadi," jawab Vano tanpa mengalihkan pandangan dan tanpa menghilangkan senyumnya.

__ADS_1


"Dan sedari tadi kau hanya memandangi ku?" tanya Nirmala dengan alis terangkat.


Vano mengangguk. "Iya karena aku sangat senang sejak tadi malam sampai hari ini. Aku sangat bahagia, akhirnya hubungan pernikahan kita memang nyata secara batin dan fisik."


Nirmala menahan senyum malunya lalu berbalik agar wajah meronanya tidak dilihat oleh Vano.


Vano membalikkan badan Nirmala agar kembali menghadapnya. "Jangan sembunyikan wajahmu, aku sangat suka melihat wajah merona itu."


Tidak tahan menahan malu, akhirnya Nirmala memilih untuk masuk ke dalam pelukan Vano dan menyembunyikan wajahnya di sana. "Jangan berkata seperti itu. Aku sangat malu."


Vano tersenyum miring. "Aku tahu kau malu. Tapi apakah kau tahu bahwa dengan memelukku seperti ini tidak akan aman bagimu?"


Nirmala melepaskan pelukannya dengan segera lalu duduk. Ia memegang selimut dengan sangat erat. "Kau ini mengapa mulai berpikiran ke arah sana terus."


"Wajar saja, aku merasa seperti baru menikah denganmu," jawab Vano santai.


Melihat Nirmala sangat malu, akhirnya Vano memilih untuk berhenti menggoda istrinya. "Baiklah, cepat ambil handuk di laci nakas yang paling bawah, setelah itu mandi. Aku akan mandi setelah kau selesai mandi."


Nirmala tidak menjawab dengan kata-kata, cukup dengan mengangguk.


"Apakah kau tahu tata cara mandinya serta niatnya?" tanya Vano sambil melirik Nirmala yang sedang mencari handuk.


"Tentu saja aku tahu. Apakah kau pikir aku masih belum tahu setelah hampir memiliki anak?"


Vano terkekeh mendengar jawaban Nirmala yang terdengar kesal. Sepertinya istrinya itu ingin marah, akan tetapi berusaha untuk menahannya.


"Baiklah-baiklah itu bagus. Aku tidak perlu memberitahumu dan membimbing cara mandinya. Tadinya jika kau tidak tahu, aku akan membimbingmu dengan cara mandi bersama."


Nirmala melotot ke arah Vano. "Jangan macam-macam."


Vano mengangkat sebelah alisnya. "Waw, istriku ini sudah berani melototi aku ya. Ingin aku kasih hukuman?"


Nirmala cemberut kesal. "Hukuman apa? Aku tahu yang dimaksud dengan hukuman yang diucapkan oleh pria mesum seperti apa. Jadi tidak ada gunanya mengancam ku."


Vano tertawa kecil. "Kau pikir seperti itu? Aku akan memberikan hukuman seperti membersihkan kolam atau menjemur istri cantikku di halaman selama lima jam di terik panas matahari siang. Itulah hukuman yang akan aku berikan pada istriku yang berani melawan dan menyalahi aturan. Paham?"


Nirmala menelan ludah, ternyata hukuman yang Vano ucapkan benar-benar sebuah hukuman. Membersikan kolam besar itu sangat melelah, dan berjemur selama lima jam juga mampu membuat ia pingsan.


Nirmala menunduk. "Maaf."


Vano tersenyum kemudian mengacak rambut depan Nirmala. "Untuk kali ini aku maafkan. Sekarang pergilah mandi. Jika tidak, aku akan menerkam mu lagi."

__ADS_1


Hanya sekali kedip Nirmala langsung berlari ke kamar mandi.


__ADS_2