
"Maafkan aku." Rafan menatap Nirmala dengan matanya yang penuh genangan air. Bibirnya tersenyum manis, akan tetapi hati dan matanya menangis.
"Jika kau sudah mencintai Vano, maka berbahagialah bersamanya. Aku tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi."
Mendengar ucapan Rafan, Nirmala menoleh cepat dan menatap Rafan dengan tatapan bingung.
"Apa maksudmu?" tanya Nirmala tidak mengerti.
Rafan menatap Nirmala dengan tatapan lembut, namun setiap orang yang melihat matanya, semuanya akan tahu bahwa Rafan sedang merasakan kepedihan yang sangat nyata di dalam hatinya.
"Aku merelakan kau bersama Vano."
Hening menyelimuti seluruh ruangan. Perlahan air mata Rafan turun dari matanya. "Tapi sebelum itu, aku ingin memeluk dirimu untuk yang terakhir kalinya. Apakah kau mengizinkan?"
Nirmala diam tak menjawab. Ia masih bingung, jika Rafan merelakan dirinya, lalu mengapa harus menculik?
"Nirmala, percayalah. Aku sangat merindukanmu. Izinkan aku memeluk sebelum kita berpisah." Rafan memohon, air matanya semakin deras.
Melihat Rafan yang sudah sangat kepedihan, akhirnya Nirmala mengangguk. Langsung saja Rafan memeluk tubuh yang dulu selalu ia peluk.
Setelah memeluk Nirmala, bukannya mereda, air mata Rafan malah berjatuhan dengan deras. Akhirnya ia bisa memeluk wanita yang sangat ia cintai.
"Maafkan aku Nirmala. Aku sudah menjadikan dirimu sebagai jaminan." Rafan masih memeluk Nirmala. Ia memejamkan mata, ingin meresapi pelukan yang ia dapatkan untuk yang terakhir kalinya. "Berbahagialah bersama Vano."
Tak terasa air mata Nirmala juga ikut jatuh. Walau bagaimanapun, ia tidak tega melihat Rafan menangis seperti sekarang. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hatinya sudah mulai singgah pada pria yang bernama Govano Ravaldi.
"Aku hanya ingin kau ingat ini. Aku mencintaimu Nirmala. Selamanya akan selalu mencintaimu."
Tangan Nirmala terangkat untuk membalas pelukan Rafan. "Terima kasih atas cintamu. Akan tetapi, sekarang aku sudah tidak dapat mencintaimu lagi."
Rafan mengangguk sambil tersenyum walaupun air mata masih terus mengalir. "Tidak apa-apa. Aku sudah merasa bahagia bisa memeluk dirimu sekali lagi." Ya, akhirnya rindu yang sudah lama ia tahan kini bisa tersampaikan.
Rafan melepaskan pelukannya ketika sudah lebih dari sepuluh menit. Ia menghapus air matanya. Dilihatnya Nirmala juga sedang mengelap air matanya.
"Maafkan aku karena sudah menculikmu. Sebenarnya aku tidak ada niatan untuk memisahkan kau dan Vano. Aku cukup tahu diri, aku pantas kehilangan dirimu karena aku bukan suami yang baik. Aku menculikmu dan membawa mu ke sini karena aku ingin banyak berbicara dengan mu, ingin memeluk untuk terakhir kalinya. Jika aku tidak menculikmu dan datang secara baik-baik, mana mungkin Vano membiarkan aku melakukan itu semua."
Setelah mendengarkan penjelasan Rafan, kini Nirmala mengerti. Ternyata Rafan tidak memiliki niat buruk.
"Aku ingin sarapan bersama untuk yang terakhir kalinya. Apakah boleh?"
__ADS_1
"Mengapa kau selalu mengucapkan untuk terakhir kalinya? Kita bisa berteman setelah ini. Kita masih bisa mengobrol bersama, makan bersama," ucap Nirmala.
Rafan tersenyum lembut. "Setelah ini aku akan keluar negeri. Jika aku terus berada di negara ini, kenanganmu akan terus membayangi ku. Hal itu akan mempersulit diriku melupakan cintaku padamu."
Nirmala tersenyum kecil. "Baiklah."
* * * *
"Bagaimana?" tanya Vano.
Suara Vano mengejutkan Farhan yang hampir terlelap dalam posisi duduk. Sejak semalam mereka tidak tidur sama sekali. Bahkan sang sopir pribadi sama sekali tidak terlihat lelah mengutak-atik laptop dan meneleponi seseorang.
Sopir pribadi itu memperbaiki posisi duduknya. "Sudah, Tuan Muda. Kemungkinan besar nyonya muda di bawa ke vila di daerah * * * *."
Vano langsung berdiri. Sejak semalam wajahnya tidak menunjukkan rasa kantuk, begitu pula dengan sang sopir pribadi.
"Pak Farhan," panggil Vano.
Farhan langsung bangkit dan membungkuk badan. "Saya, Tuan Muda."
"Panggil seluruh pengawalku."
Walaupun tidak terlihat bekerja dan menemui Vano, sebenarnya mereka semua selalu bekerja. Seluruh kota dan cabang usaha milik Vano tidak pernah lepas dari pengawasan mereka. Dengan orang sebanyak itu, Farhan pikir ini terlalu berlebihan.
"Tapi Tuan Mu--"
"Berani membantah?" Nada bicara Vano langsung menusuk tajam.
Farhan menunduk. "Tidak, Tuan Muda. Baiklah, akan saya panggilkan."
* * * *
Rafan dan Nirmala baru sekarang makan. Sedangkan gadis yang semalaman menjaga Nirmala tetap berdiri untuk memantau.
"Bersiaplah, aku akan mengantarmu pulang," ucap Rafan sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
Nirmala menatap Rafan. "Apakah tidak apa-apa jika kau mengantar ku pulang? Aku Vano akan menghajarmu habis-habisan."
Ya, Nirmala sudah tahu bagaimana watak Vano. Jika dilihat dari sikapnya, sepertinya Vano berani membunuh orang lain jika ia orang tersebut berani macam-macam padanya. Ia tidak ingin Rafan dipukuli, padahal niat mantan suaminya sudah cukup baik.
__ADS_1
Rafan tersenyum. "Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja."
'Ting-tong'
Rafan melirik ke arah Nirmala. "Sepertinya aku tidak perlu mengantar dirimu. Dia sudah datang menjemput."
Wanita yang berjaga itu hendak membuka pintu, tapi Rafan melarangnya. "Biar aku saja."
Rafan berjalan ke ruang tamu. Setelah sampai di dekat pintu, Rafan menarik nafas terlebih dahulu. Ia harus mempersiapkan diri kalau-kalau Vano langsung melayangkan tinjuan.
Rafan menarik gagang pintu besar tersebut. Setelah pintu dibuka lebar, tampaklah Vano dengan dua pria di samping kanan kiri. Pria yang mendampinginya itu tidak lain dan tidak bukan adalah Farhan dan sang sopir pribadi. Kemudian mata Rafan berdalih pada banyak mobil dan juga banyak pria berbadan tegap yang mengenakan jas sedang berjajar rapi.
"Selamat datang, Taun Vano." Rafan tersenyum.
Berbeda dengan Rafan, wajah Vano dingin, tatapan membunuh keluar dari matanya. "Masih berani tersenyum ternyata."
Tanpa basa-basi lagi, Vano langsung mendaratkan tinju di wajah Rafan hingga Rafan tersungkur ke belakang. Aura pembunuh kembali keluar, sepertinya kali ini Vano lebih tidak bisa dikendalikan. Ia tidak akan membuang waktu dengan menghajar Rafan. Ia mengeluarkan pistol dari balik jasnya.
"Kau pantas mati."
Farhan membulatkan matanya, sedangkan sopir pribadi itu langsung mengambil tindakan.
Jari telunjuk Vano menekan pelatuk dan ....
"Akh!" Pistol di tangan Vano jatuh ke lantai bersamaan dengan jarum yang menancap di tangan kanan Vano. "Sialan!"
Semua orang terkejut. Mereka semua mencari sosok yang sudah berhasil menggagalkan tembakan Vano.
"Tidak semudah itu membunuh nyawa orang, Tuan Muda."
Para bodyguard membulatkan mata dengan sempurna, mereka sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang melemparkan jarum dan berhasil mengenai Vano hanyalah seorang gadis mungil.
Vano menatap tajam pada gadis itu. Karena tusukan jarum tersebut, tangan Vano jadi mati rasa, sangat sulit untuk digerakkan. "Gadis ini, lihat saja, aku juga akan membunuhnya," geram Vano dengan tatapan membunuh.
Mungkin tangan kanannya terluka, namun masih ada tangan kiri yang normal. Dengan tangan kiri itulah ia meraih pistol dan mengarahkannya kembali pada Rafan. Dan lagi-lagi ....
"Vano."
Vano mengangkat wajahnya.
__ADS_1