
Vano kembali lagi dengan membawa nampan berisi makanan. Ia langsung duduk di samping Nirmala. Nirmala bergeser sedikit karena jarak mereka terlalu dekat. Menyadari Nirmala menjauh, Vano menghela napas. Ia bergeser menjauh.
"Aku tau kau belum nyaman dengan keberadaanku." Vano meletakkan nampan di antara dirinya dan Nirmala. "Makanlah. Aku akan ke ruang kerja."
Vano berdiri dan mengambil laptop yang tadi ia letakkan di atas meja. Setelah itu tanpa menoleh sedikitpun ia pergi dari kamar.
Nirmala memandang nampan yang dibawa oleh Vano. "Aku bukan merasa tidak nyaman. Aku hanya takut padamu karena kejadian malam itu." Nirmala tersenyum. "Terima kasih, kau berusaha berlaku lembut padaku."
Ia tahu maksud Vano menjauh dan pergi ke ruang kerja. Pria itu pasti kesal karena dari semalam ia yang terus berusaha dekat, namun tidak mendapatkan tanggapan apapun dari istrinya. Dan siang ini ia malah menjauhi Vano.
"Dan mulai detik ini jangan pernah bertanya apakah aku akan menceraikan mu dan mengembalikan dirimu pada mantan suami yang tidak bertanggung jawab itu. Aku tidak akan pernah melepasmu. Mulai sekarang fokuslah pada masa depan dan kebahagiaanmu dan kelahiran anak kita."
Nirmala tersenyum, ia ingat dengan ucapan Vano di rumah sakit tadi malam. "Mungkin telah saatnya aku membuka hati untuk Vano. Walaupun dia dingin, dan kaku, apa pun kekurangannya aku akan berusaha mencintai dirinya."
'Tok-tok-tok'.
Vano melihat ke arah pintu. Baru kali ini ada pelayan yang ingin masuk ke dalam ruangannya. Sebelumnya tidak ada satupun orang yang berani mengetuk pintu ruang kerja kecuali Farhan. Dan ia tahu bahwa sekarang Farhan sedang berada di kantor.
Padahal jika penasaran ia bisa menyalahkan layar monitor dan melihat siapa yang berdiri di depan pintu, akan tetapi kali ini ia sangat enggan untuk banyak bergerak.
"Masuk."
'ceklek'
Pintu dibuka dan ternyata orang tersebut bukanlah pelayan ataupun Farhan, melainkan Nirmala. Wanita itu masuk dengan membawa nampan di tangan. Ia menutup pintu kembali lalu berjalan menuju Vano.
"Duduk di sofa saja," perintah Vano dengan nada biasanya.
Nirmala duduk di sana dan meletakkan nampan di atas meja. Vano berdiri dan ikut bergabung bersama Nirmala. Kali ini ia sengaja duduk dengan jarak yang cukup jauh karena tidak ingin membuat Nirmala tidak nyaman lagi.
"Apakah kau sudah makan?" tanya Nirmala.
"Belum," jawab Vano singkat. Sepertinya sikap dinginnya sudah kembali lagi.
Nirmala berdeham pelan untuk menghilangkan kegugupannya. Ia bergeser mendekati Vano, Sekarang mereka duduk berdampingan dengan jarak kurang dari dua jari. "Kalau begitu mari makan bersama."
__ADS_1
Vano mengerutkan keningnya. Tadi istrinya yang duduk menjauh, dan sekarang istrinya datang lagi, mengajak makan bersama dan duduk berdempetan. Ia jadi bingung sendiri. "Ternyata wanita sulit dimengerti."
"Apakah kau mau?" tanya Nirmala.
Vano mengangguk. "Baiklah."
Mereka berdua mulai makan bersama. Karena sendok dan garpu nya hanya ada satu, maka mereka menyuap secara bergantian.
Ditengah-tengah makan, Vano menyembunyikan senyum aneh. Ia mengambil sendok dari tangan Nirmala.
"Sopnya juga harus dicicipi, tapi masih panas."
Vano menyendokan kuah sop lalu meniupnya pelan. Setelah dirasa sudah dingin, ia menyeruput kuah tersebut. "Mmm, enak sekali. Coba kau cicipi."
Vano menyendokan kuah sop lagi lalu mengarahkannya ke mulut Nirmala. "Hati-hati, harus ditiup terlebih dahulu."
Nirmala mulai meniup kuah di sendok tersebut. Namun tanpa diduga Vano menarik sendok tersebut dan menggantinya dengan bibirnya.
'Cup'
Vano memundurkan kepalanya lagi dan tersenyum. "Itu ucapan terima kasih karena sudah mengajakku makan bersama."
Kesal dan ingin marah, tapi rasa malu dan degup jantung lebih mendominasi. Akhirnya Nirmala hanya bisa menunduk sambil tersenyum malu. Sungguh suaminya yang satu ini ada-ada saja. Ia tidak menyangka dibalik Vano yang dingin terdapat Vano yang pandai mencuri cium.
"Kita sedang makan, mengapa kau lakukan itu." Nirmala tidak berani mengangkat wajahnya.
"Apakah salah jika suami mencium istrinya?" tanya Vano sambil meletakkan sendok di mangkuk.
Nirmala menggeleng. "Tidak." Nirmala berdiri. "Aku sudah kenyang. Aku akan membawa piring kotor ke lantai bawah."
Sambil terus menunduk, Nirmala mengambil nampan dan meninggalkan ruang kerja Vano. Melihat istrinya sangat malu dan gugup, Vano tersenyum. "Seandainya dia yang menciumku lebih dulu."
Mungkin inilah yang disebut mabuk cinta. Vano sampai tidak sadar bahwa sedang senyum-senyum sendiri.
Vano merogoh saku celananya. Setelah ponsel ada di dalam genggamannya, ia segera menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Ya selamat siang juga ... gantikan posisiku selama seminggu. Aku tidak akan ke kantor untuk beberapa hari ke depan ... bagus." 'Tut-tut-tut' Vano langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Di kamar Vano. Nirmala sedang telentang di atas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar, bibirnya tersenyum, dan pikirannya terus memikirkan kejadian yang terjadi di ruangan Vano.
Berbeda dari sebelumnya, kali ini ciuman Vano mampu membuat hatinya gemetar. Bahkan sampai sekarang jantungnya terus berdetak kencang.
"Ada apa dengan diriku ini? Mengapa ingin sekali memeluk Vano."
Nirmala menutup wajahnya yang sudah memerah. Ini bukan kali pertama ia jatuh cinta. Ia memahami bagaimana rasa cinta itu. Tapi kali ini berbeda, semuanya lebih perlahan tapi pasti. Ia merasa nyaman saat berada di samping Vano, ia merasa mendapatkan tempat berlindung dan bersandar.
"Cinta? Apa mungkin aku mulai mencintainya? Tapi sejak kapan?" Nirmala membuka wajahnya lagi. "Tidak, mungkin ini hanya perasaan tersanjung atas perlakuan lembut Vano padaku. Aku masih mencintai Rafan ...." Ia merenung. "Mungkin," lanjutnya.
Ia baru ingat, sejak pertama kali ia menolak Vano kembalikan pada Rafan, ia sudah tidak merindukan mantan suaminya itu. Yang tersisa hanyalah kebencian.
Kembali lagi ia mengingat ucapan Vano. "Dan mulai detik ini jangan pernah bertanya apakah aku akan menceraikan mu dan mengembalikan dirimu pada mantan suami yang tidak bertanggung jawab itu. Aku tidak akan pernah melepasmu. Mulai sekarang fokuslah pada masa depan dan kebahagiaanmu dan kelahiran anak kita."
"Anak kita?" Nirmala mengusap perutnya yang mulai membuncit, kemudian tersenyum. "Dia sudah mengakui anak ini sebagai anaknya. Itu berarti dia benar-benar tidak akan melepasku lagi."
Nirmala bangun dan berdiri. Ia berjalan berhenti di depan jendela besar. Dari sana ia melihat pemandangan di luar.
"Apakah aku akan bahagia bersama Vano?"
Nirmala menghela nafas berat. "Jika tidak bahagia, apa yang harus aku lakukan?"
Tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Terasa dagu seseorang menempel di bahunya.
"Maka berusahalah untuk bahagia," ucap Vano lembut.
Hembusan nafas pria itu mampu membuat bulu lehernya meremang. "Va-vano?"
"Ya, ini aku." Vano masih tidak melepaskan pelukannya. "Mari kita bina rumah tangga yang sesungguhnya."
Nirmala tercengang dengan ajakan Vano. Hatinya sangat tersentuh. Air mata tak terasa telah jatuh. "Apakah dia baru saja melamarku?"
"Vano, a-a-aku."
__ADS_1