Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 18


__ADS_3

Tangan Vano memeluk pinggang Nirmala dengan erat, seolah-olah tidak akan pernah melepaskan istrinya itu. Tapi tak lama kemudian Vano membuka matanya.


"Apakah aku sudah gila? Tidak-tidak, ini tidak benar."


Vano melepaskan Nirmala lalu membiarkan istrinya bangkit. Matanya tidak lagi mau menatap Nirmala. Ia tahu istrinya itu pasti sedang melototi dirinya.


"Vano kau--"


"Maaf."


Hanya kata itu yang Vano ucapkan. Kemudian ia berjalan menuju kamar mandi dan menutup pintunya.


Di balik kamar mandi, Vano menyalakan shower lalu membiarkan seluruh tubuhnya yang masih terbungkus pakaian lengkap terguyur air shower. Ia bersandar pada dinding lalu memejamkan matanya.


"Tidak-tidak, ini tidak boleh terjadi. Apa yang terjadi padaku? Aku tidak boleh memiliki perasaan itu."


Vano menambah volume air, kemudian kembali memejamkan matanya. "Vano, ingat tujuan awalmu. Tujuanmu menjadikan dia istri hanya untuk mengetes Rafan. Apakah Rafan pantas menjadi temanmu. Jika Rafan menghancurkanmu, berarti dia bukan teman sejati."


Hal itu kembali ia tegaskan pada dirinya sendiri.


Ya, sedari awal niat Vano hanyalah untuk menguji hubungan pertemanannya dengan Rafan. Ia bukanlah tipe pria yang memiliki teman. Ia sangat sulit untuk mempercayai seseorang, kecuali pekerja yang bekerja dibawah kekuasaannya. Untuk memiliki teman, ia harus mencari teman yang benar-benar setia kawan. Maka dari itu dengan menerima Nirmala sebagai istrinya ia bisa menguji kesetiaan Rafan.


Jika Rafan tidak percaya padanya atas janjinya dan setelah itu memusuhinya, itu berarti Rafan tidak pantas menjadi temannya. Tapi ia malah menghadapi masalah. Pertama, saat ia ingin menyudahi semuanya dan mengembalikan Nirmala pada Rafan, Nirmala malah memohon untuk tetap tinggal. Yang kedua, entah mengapa ia mulai terbiasa dengan kehadiran Nirmala, dan sekarang ada perasaan aneh yang menjalari hatinya.


"Mungkin aku sedang lelah saja."


Vano melepas kancing kemejanya satu-persatu. Setelah terbuka semua, ia mulai melepaskannya dari kedua bahu. Tampaklah dada bidang dengan bahu lebar yang membuat badan putih itu indah dipandang mata. Dan tidak ada yang tahu, bahwa di bahu kanan dekat leher terdapat bekas luka. Luka yang menjadi sejarah hidupnya.


Selesai mandi, Vano mengambil handuk dan melilitnya di pinggang. Sebelum membuka pintu, ia diam sejenak. Entah apa yang ia pikirkan sebelum akhirnya memantapkan diri untuk membuka pintu.


Sedetik pun ia tidak melihat ke arah Nirmala. Ia juga tahu Nirmala tidak akan berani menatapnya jika dalam kondisi hanya memakai handuk. Setelah itu ia masuk ke dalam ruang ganti baju.


"Mengapa dia jadi lebih dingin?" Nirmala bertanya-tanya sendiri. "Dari pada memikirkan dia, lebih baik aku mandi saja."


Sebelum masuk ke kamar mandi, ia tidak lupa membongkar paper bag. Saat di butik ia melihat ada jubah handuk tali samping dan ada penutup kepalanya juga. Ia pikir ia perlu membelinya karena handuk yang biasa ia kenakan potongannya sangat pendek. Ia hanya ingin berjaga-jaga jika suatu saat Vano berada di kamar saat ia baru keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Nirmala sudah selesai mandi. Rambut basahnya ia tutup oleh penutup kepala handuk.


"Jikapun ada Vano, aku tidak akan malu jika handuknya menutupi lututku."


Dengan santai Nirmala keluar kamar mandi. Dan dugaannya benar, Vano masih berada di kamar dan sekarang sedang duduk di sofa sambil bermain ponsel. Kesempatan ini Nirmala gunakan untuk masuk ke dalam ruang ganti baju.


"Huh, untung dia sibuk." Nirmala mengatur nafas di balik pintu.


Baru bernafas lega, tiba-tiba lampu mati. Karena waktu hampir gelap dan di ruang ganti baju tidak ada jendela, tentu saja ruangan itu akan sangat gelap jika mati lampu.


"Vano!"


"Hm?" tanya Vano santai.


"Mati lampu!"


Nirmala memejamkan mata dan rasa takut sudah menyelimuti dirinya hingga keringat dingin keluar dari kening dan bercampur dengan air sehabis mandi.


"Aku tahu," jawab Vano masih santai.


"Vano cepat kemari, aku sangat takut pada kegelapan!" seru Nirmala hampir menangis.


"Van--"


Pintu didorong dari luar dan otomatis Nirmala harus maju untuk tidak menghalangi lajunya pintu. Tahu bahwa orang yang masuk adalah Vano, ia merasa sangat lega.


"Vano, itu kau?" tanya Nirmala.


"Hm," jawab Vano.


Entah dari mana ia mendapatkan dorongan hati untuk memeluk suaminya, mencari perlindungan. "Vano aku takut."


Nirmala merasa bahwa badan Vano kaku, tidak bergerak sama sekali dan tidak membalas pelukannya. Jangankan bergerak, berbicara pun tidak. Walaupun demikian ia tidak berniat untuk melepaskan suaminya. Ia akan tetap memeluk Vano sampai lampu kembali menyala.


Beberapa detik kemudian lampu kembali menyala. Nirmala mendongak untuk melihat orang yang sedang ia peluk.

__ADS_1


Ternyata Vano juga tengah menunduk dan tengah menatapnya. Mata Vano yang memiliki sudut tajam sungguh mampu menyihir mata Nirmala untuk tidak berpaling. Sedangkan mata Nirmala yang bulat dan bersinar, mampu membuat Vano tetap menatapnya tanpa bosan.


"Matanya, bibirnya, hidungnya, rahangnya, semua memiliki proporsi yang sempurna. Aku rasa semua pria ingin memiliki wajah seperti ini. Dan aku rasa setiap wanita ingin memiliki penambat hati seperti Vano. Dan tadi bibir itu yang menciumku. Akankah yang lain juga--"


"Apa yang kau pikirkan?"


Pertanyaan Vano mengejutkan Nirmala yang sedang melamun. Segera Nirmala melepaskan pelukannya lalu tertunduk malu.


"Maaf."


Vano langsung berbalik. "Cepat berpakaian, dan cepat juga saat berpakaian. Jangan sampai baru setengah jalan memakai pakaian, lampu kembali mati." Kemudian ia berlalu pergi.


Nirmala memikirkan ucapan Vano. Bagaimana jika itu benar terjadi. Belum memakai seluruh pakaian, tiba-tiba lampu mati dan ia meminta Vano untuk menemani. "Aaakh! Tidak-tidak, aku tidak bisa membayangkannya."


Nirmala buru-buru menutup pintu kembali segera mencari pakaiannya.


Selesai berpakaian, Nirmala keluar dari ruang ganti baju. Dan ternyata Vano masih setia berada di kamar sambil memainkan ponselnya. Nirmala yakin suaminya itu pasti menyadari kehadirannya di kamar, hanya saja Vano memang dingin dan tidak akan pernah menyapa lebih dulu.


"Ehkm." Nirmala berdeham pelan sebelum mulai berbicara. "Tumben sekali kau selalu ada di kamar?"


Vano diam tak berbicara. Mungkin Vano mengharapkan Nirmala dapat tahu maksud dari diamnya. Ia ingin Nirmala tahu bahwa itu merupakan pertanyaan konyol baginya dan seharusnya tidak Nirmala tanyakan.


"Tadi kau memaksaku untuk berbicara, lalu mengapa sekarang malah kau yang tidak mau berbicara?" Perlahan-lahan Nirmala yang sesungguhnya keluar.


Vano melirik sekilas kemudian kembali fokus pada ponselnya. "Apa perlu aku jawab?"


Nirmala melipat tangan. "Tentu saja, karena aku sedang bertanya."


Vano tersenyum miring. "Karena ini kamarku, jadi terserah aku ingin berada di sini sampai kapan."


Nirmala menghela nafas berat, akan tetap percuma jika berbicara dengan Vano. Baru akan naik ke atas tempat tidur, Vano memanggilnya.


"Mau apa?" tanya Vano.


"Tidur," jawab Nirmala singkat.

__ADS_1


"Ini belum malam, tidak beloh tidur dijam begini." Vano mengantungi ponsel ke saku celana kemudian berdiri. "Ayo makan malam di bawah. Sekalian aku ingin membahas soal resepsi pernikahan kita dengan nyonya besar."


Tanpa menunggu Nirmala, Vano berjalan lebih dulu.


__ADS_2