
Berjalan semakin dekat, Farahan semakin jelas melihat kedua pasangan itu. Mereka pasangan yang sangat serasi. Sang suami sangat tampan dan sang istri cantik. Keduanya juga terlihat sangat hangat, tidak seperti pasangan tuan mudanya dengan nyonya mudanya.
Setelah berdiri di depan pria itu, Farhan mengulurkan tangan. "Selamat datang di pesta pernikahan tuan kami." Farhan menyapa dengan ramah dan sopan.
Kedua pasangan itu berdiri kemudian menjabat tangannya yang terulur. "Terima kasih. Pesta ini sangat luar biasa," puji pria itu.
"Terima kasih," ucap Farhan. "Kalau tidak salah, Anda anak dari pak Vendi Alfiansyah?"
Pria itu tersenyum ramah. "Benar, Pak. Nama saya Alfan Alfiansyah. Dari mana Anda tahu?" tanya pria yang mengaku bernama Alfan.
"Wajah Anda terlihat mirip dengan beliau. Saya cukup mengenal baik pak Vendi. Dulu perusahaan Alfi Group masih dipimpin oleh beliau. Dan beliau merupakan salah satu teman tuan Yuda Ravaldi."
"Saya turut berduka cita atas kematian tuan Yuda Ravaldi." Pria itu memberikan ucapan belasungkawa walaupun sebenarnya sudah lama terlewat.
"Terima kasih. Dan mohon maaf, apakah nyonya ini adalah istri Anda?" tanya Farhan.
"Ya, dia adalah istri saya. Namanya Chika Nidya Ningsih," jawab pria itu.
"Senang bertemu dengan Anda, Nyonya." Farhan memberikan senyum hormat dan ramah.
"Senang bertemu dengan Anda juga, Tuan." Wanita itu membalas senyumannya.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Saya harap Anda bisa menikmati pesta ini," ucap Farham pada pada pasangan suami-istri yang terlihat sangat serasi.
Sebenarnya ia tertarik untuk mengobrol lebih lama, akan tetapi ia tidak memiliki banyak waktu.
"Terima kasih," ucap pasangan itu bersamaan.
Farhan berjalan meninggalkan kedua pasangan untuk melihat Vano yang sedang bersiap-siap di kamar yang terpisah dengan kamar Nirmala.
'Tok-tok-tok'
Vano baru selesai memakai dasi pita. Tanpa menoleh ke arah pintu, Vano mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.
"Masuk."
Pintu dibuka dan masuklah Farhan. Setelah masuk, Farhan kembali menutup pintu kamar.
"Ada apa?" tanya Vano.
Farhan membungkuk untuk memberikan hormat. "Acara akan segera dimulai, Tuan Muda."
__ADS_1
Vano hanya diam, ia tidak menjawab apapun. Di kamar itu hanya ada Vano. Biasanya pengantin pria juga didandani oleh perias, akan tetapi berbeda dengan Vano. Pria tak tersentuh itu tidak akan membiarkan sembarang orang menyentuh pakaiannya, apalagi kulitnya.
Farhan masih berdiri di sana dengan setia, ia menunggu perintah selanjutnya. Vano berdiri, semuanya sudah selesai dan ia sudah siap untuk turun.
Tanpa berbicara apapun, Vano berjalan melewati Farhan. Dengan begitu Farhan harus mengambil tindakan. Sambil berjalan menyusul tuan mudanya, Farhan berkomunikasi dengan para bodyguard melalui earpiece.
"Cepat berkumpul di ujung tangga. Tuan muda dan nyonya muda akan segera turun."
Setelah itu Farhan berjalan di belakang Vano. Mereka berdua berjalan ke kamar sebelah. Sesampainya di depan kamar itu, Farhan mengetuk pintu. Tak lama kemudian seorang perias membuka pintu.
"Apakah nyonya muda sudah siap?" tanya Farhan.
"Sudah, Tuan." Perias itu masuk lagi ke dalam.
Vano masih berdiri di samping Vano, matanya tidak mengizinkan orang untuk menebak apa isi pikirannya. Matanya itu selalu memancarkan rasa dingin, tidak pernah mengekspresikan suasa hati yang sebenarnya.
Tak selang beberapa detik, pintu kembali dibuka, kali ini lebih lebar dari sebelumnya. Bersamaan dengan itu, sesosok bidadari cantik yang mengenakan gaun pengantin keluar bersama dua perias. Rambutnya yang digelung ke atas menampilkan leher jenjangnya yang mulus.
Farhan tersenyum melihat Nirmala yang terlihat sangat-sangat-sangat cantik. "Mari turun ke bawah, Nyonya Muda. Saya harap Anda bersedia mengapit lengan tuan muda Vano dan tersenyum ceria di depan para tamu undangan."
Nirmala sudah menduga, ia memang harus berakting di depan pada tamu undangan. Begitu pula dengan Vano. Tidak mungkin pria itu akan menunjukkan wajah dingin dan tatapan tajamnya di depan para tamu undangan.
Nirmala melangkah dua langkah untuk berdiri di samping Vano. Setelah menarik nafas panjang, ia mulai mengapit tangan Vano. Vano menoleh selewat kemudian kembali meluruskan kepalanya. Mereka jalan dengan langkah santai.
Di lantai utama, delapan bodyguard sudah berbaris dengan rapi, semuanya memiliki wajah yang tegas dan sangar. Tak berselang beberapa lama, turun pasang pengantin yang sangat cantik dan tampan. Semua pandangan berfokus pada mereka. Di belakang mereka ada pria berjas yang sudah cukup tua.
Tak selang lama dari mereka menuruni tangga, Raisa dan juga Braksa turun menyusul.
Setelah menuruni anak tangga, kedua pengantin langsung berjalan ke singgah sana pengantin. Semua orang memuji kecantikan pengantin wanita dan juga memuji ketampanan pengantin pria.
Baru saja Vano dan Nirmala duduk singgasana mereka. Terdengar suatu suara keributan. Mata Vano dan mata Nirmala jadi beralih ke atah pintu.
"Govano Ravaldi!"
Rafan berdiri di ambang pintu dengan mata yang memancarkan emosi paling tinggi.
Sorot mata Vano langsung berubah lebih dingin dan tajam, sedangkan Nirmala terlihat sangat terkejut melihat mantan suaminya ada di acara resepsi pernikahannya.
"Kembalikan istriku!" teraik Rafan.
Tatapan Vano sangat dingin. Ia tetap tenang walaupun di dalam hatinya emosi sudah sangat bergejolak. Namun ekspresinya masih tetap tenang, sepertinya ia tahu cara mengatasi situasi ini. Ia berdiri dari kursinya. Ia berdiri tegak dengan sejuta ketenangan.
__ADS_1
"Siapa yang kau maksud istri?"
Suara dingin dan rendah itu memiliki arti tersembunyi untuk memperingati lawan bicaranya agar tidak memancing singa yang siap menerkam.
Semua tamu undangan terlihat bingung dan terkejut. Mereka tidak menyangka resepsi pernikahan seorang tuan muda Govano Ravaldi akan memiliki drama yang sangat dramatis.
"Nirmala istriku, kembali kan dia."
Nirmala meneteskan air mata, ia tertunduk dalam tanpa ingin menatap pria yang masih berdiri di ambang pintu.
Delapan pria berbadan tegap hendak maju, tapi langkahnya langsung berhenti ketika tangan tuan muda mereka terangkat tanda melarang mereka maju. Dengan langkah tegas Vano turun dari singgasana pengantin.
"Aku peringatkan untuk tidak mengacaukan pesta pernikahanku, Rafan." Kalimat itu keluar dengan nada ancaman yang sangat tajam. "Dia bukan istrimu lagi, kan?"
"Dia bukan istriku, tapi dia akan kembali padaku. Apakah kau akan mengingkari janji, tuan muda Vano?" Rafan juga berbicara tak kalah tajam, tapi tetap saja lebih tajam lagi seorang Vano.
Setelah mereka berhadapan, Vano menatap manik mata Rafan dengan tajam. "Apakah aku akan mengatakan semuanya di sini? Hal itu hanya akan membuat dirimu malu."
Nafas Rafan memburu, tangannya mengepal kuat, matanya memerah dan rahangnya mengeras. Tanpa aba-aba apapun, Rafan langsung melayangkan tinjunya pada wajah Vano.
Walaupun sudah mendapatkan pukulan kuat, Vano tidak sampai tersungkur ke belakang. Wajahnya berpaling ke arah kiri akibat pukulan itu. Para bodyguard naik pitam, terutama Farhan, akan tetapi mereka tidak jadi maju karena Vano menahan mereka dengan memberi kode lewat tangannya.
"Rafan, berani kau memukul temanmu sendiri?" tanya Vano dengan nada santai, tapi Rafan tahu itu adalah ancaman halus yang sangat tajam.
"Aku tidak peduli kau ini temanku atau bukan. Kau telah mengkhianati perjanjian kita. Teman macam apa yang merebut istri dari temannya?"
Semua orang tercengang mendengar ucapan Rafan.
"Merebut? Apakah aku tidak salah dengar? Yang menyerahkan dia padaku siapa? Kau, bukan?"
Vano tersenyum sinis. "Aku lebih waras dari pada dirimu, Rafan. Pria yang telah menjadikan istrinya sebagai jaminan tidak pantas menjadi suami untuk Nirmala."
Sekarang pada tamu undangan tercengang lagi dengan ucapan Vano. Yang tadinya mereka memandang buruk Vano, kini berbalik memandang buruk Rafan.
"Kurang ajar!"
Lagi-lagi Rafan lepas kendali. Satu pukulan berikutnya menghantam wajah Vano lagi.
"Cukup!" Nirmala berteriak.
Rafan mengalihkan pandangan pada Nirmala.
__ADS_1