Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 40


__ADS_3

"Raisa, aku tidak akan mengampuni nyawamu." Setelah mengatakan ucapan yang tajam, Vano langsung mengangkat tubuh Nirmala dan membawanya keluar dari tempat itu.


"Aku tau, cepat atau lambat aku akan mati ataupun gila. Maka dari itu, sebelum aku mati, sebisa mungkin aku menyingkirkan apa yang kau miliki. Ya agar hidupku tidak sia-sia."


Raisa merosot lagi ke lantai. Ia sudah ketakutan luar biasa. Dan sekarang ia harus menunggu cambukan lagi.


* * * *


"Maaf, Tuan Muda. Nyonya muda berhasil kami selamatkan, akan tetapi janinnya tidak bisa kami selamatkan."


Vano mengepalkan tangannya. Walaupun yang dikandung Nirmala bukan anak kandungnya, namun sedari awal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menganggap anak itu sebagai darah dagingnya. Sekarang anak yang dikandung oleh Nirmala sudah tiada. Ia bingung harus bagaimana menyampaikan berita ini pada Nirmala. Istrinya itu pasti akan sangat sedih.


Tanpa berbicara sedikitpun, Vano berjalan meninggalkan ruang dokter.


'Ceklek'


Vano masuk lalu menutup pintu kembali. Nirmala belum juga sadarkan diri sejak tiga jam yang lalu. Hati Vano sangat cemas, ingin rasanya ia sendiri yang mencambuki Raisa, namun ia tadi ia harus membawa Nirmala ke rumah sakit dengan segera.


Vano duduk di samping Nirmala. Dengan tangan kanan ia mengusap wajah Nirmala, sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan lembut Nirmala.


"Nirmala, bangun. Jangan buat aku khawatir." Vano mengecup punggung tangan Nirmala.


Beberapa jam kemudian, hari sudah hampir gelap. Vano berniat untuk mandi dan berganti pakaian lalu kembali menemani Nirmala.


Namun belum sempat ia berdiri, ia merasakan tangan Nirmala yang berada di dalam genggamannya bergerak.


"Vano ...." Suara lirih dan serak terdengar.


Vano kembali duduk. "Kau sudah sadar." Vano sangat bahagia sampai-sampai menciumi punggung tangan Nirmala berkali-kali. "Syukurlah, aku sangat-sangat khawatir. Sebentar ya, aku akan memanggilkan dokter untuk mu."


Nirmala mengangguk.


Beberapa saat kemudian, dokter melepaskan stetoskop. "Kondisi nyonya muda semakin membaik. Mungkin lusa sudah bisa dibawa pulang. Akan tetapi jangan sampai nyonya muda banyak gerak dan jangan lupa untuk mengganti perbannya secara teratur."


Vano mengangguk saja.


"Huh, tuan muda ini tidak pernah berubah, selalu saja dingin." Dokter tersebut tersenyum kembali. "Kalau begitu saya permisi."


Lagi-lagi Vano hanya mengangguk.


"Terima kasih, Dok," ucap Nirmala.

__ADS_1


"Akhirnya ada juga keluarga Ravaldi yang mengucapkan terimakasih. Ini harus dicatat dalam buku sejarah." Dokter tersebut bersorak dalam hati. "Sama-sama, Nyonya Muda."


Setelah dokter keluar, Vano kembali duduk. Ia menggenggam tangan Nirmala. "Nirmala, aku ingin memberitahu sesuatu, tapi aku mohon kau jangan syok."


Nirmala mengangguk.


"Karena kejadian ini, anak yang ada di dalam kandunganmu tidak dapat diselamatkan." Vano menggenggam tangan Nirmala lebih kuat. Ia berharap itu dapat menyalurkan kekuatan untuk istrinya.


Nirmala meneteskan air mata, tapi ia tersenyum. "Aku sudah dapat menduganya. Saat ib--"


"Jangan panggil dia ibu lagi," potong Vano.


"Baiklah. Saat wanita itu menusukkan pisau, pada saat itu juga aku berpikir, mungkin setelah itu anakku tidak akan selamat. Aku sudah menyiapkan mental. Anak adalah titipan, mungkin Tuhan tidak memperkenankan aku memiliki anak dari Rafan."


Hening, Vano menatap Nirmala tanpa kata-kata. Beberapa saat kemudian Vano mengecup kening Nirmala. "Kau memang orang yang sangat luar biasa. Kau selalu menerima semuanya dengan kesabaran. Bahkan Rafan yang menjadikan dirimu sebagai jaminan saja masih kau maafkan."


Nirmala tersenyum. "Aku bersyukur karena Rafan menjadikan aku jaminan. Jika tidak, mana mungkin kita bisa bersama."


Vano membalas senyuman Nirmala. "Ya kau benar, aku harus berterima kasih pada Rafan. Oh ya, nanti aku akan menghubungi Rafan. Aku akan memberitahu nya tentang keguguran ini."


Nirmala mengangguk sambil tersenyum.


* * * *


Nirmala menutup jendela kamar ketika hari sudah mulai gelap. Bersamaan dengan itu pintu kamar mandi terbuka. Vano baru saja selesai mandi.


"Cepat berpakaian, setelah itu kita turun untuk makan malam." Nirmala mengucapkan itu dengan sangat santai.


Vano berkacak pinggang lalu tersenyum sinis. "Istriku ini sudah pandai memerintah seorang tuan besar Govano Ravaldi ya?"


Nirmala yang baru menyalakan lampu utama langsung berhenti bergerak. Apa jangan-jangan ia telah salah bicara? Ya tentu saja, Vano bukan orang yang menerima perintah. Segera Nirmala berbalik menghadap Vano lalu memberikan senyuman.


Akan tetapi semuanya sudah terlambat, Vano sudah berdiri tepat di belakangnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Ekspresi datar itu adalah ekspresi yang paling Nirmala benci. Ia tidak tahu apakah Vano sedang marah atau sedang senang.


"Apa berhak kau memerintah seorang Govano?" tanya Vano.


Nirmala menelan ludah dengan susah payah. Sepertinya ia sedang berada di depan harimau yang siap menerkam. Nirmala menggeleng. "Tidak. Maafkan aku."


Dengan sekali gerakan, Vano bisa mendorong Nirmala ke aras ranjang, kemudian ia mengungkung istrinya. Tangan kanan mengusap pipi putih istrinya kemudian ia tersenyum.


"Tentu saja boleh. Di dunia ini, yang berhak memerintah seorang tuan besar Govano Ravaldi hanyalah Nirmala Diantri."

__ADS_1


Mata Vano menghangat, dengan begitu rasa takut Nirmala perlahan pudar. Tapi hal itu tidak bertahan lama ketika ia merasakan sebuah tangan menjalari kulit perutnya. Dan tatapan intens Vano menandakan suaminya itu butuh haknya.


"Va-Vano--"


"Ada apa? Apa tidak boleh? Kau istriku." Vano tersenyum miring.


Nirmala menggeleng. "Bu-bukan begitu, aku hanya masih ...."


Nirmala sungguh sulit mencari alasan untuk keluar dari situasi ini. Jika ia berkata belum siap, Vano pasti akan marah dam kecewa karena sedari dulu ia selalu tidak siap.


"Masih apa?"


Nirmala menelan ludah. "I-i-itu, perutku masih sering keram. Ya benar, masih sering keram, hehehe. Jadi kita lakukan lain waktu ya?" Mata Nirmala memelas. Ia memohon pada Vano untuk dilepaskan, dan ia memohon agar Vano tidak marah.


Mengerti arti tatapan istrinya, Vano mengecup kening Nirmala lalu bangkit. "Baiklah, untuk kali ini kau lolos. Besok kita periksa ke dokter untuk menanyakan kapan apakah sudah boleh atau belum."


Nirmala menghela nafas lega. Ia bangkit dan tersenyum. "Terima kasih."


Vano kembali menatap Nirmala dengan tajam. "Tapi jika dokter mengatakan sudah boleh, aku akan menebus malam-malam yang terlewatkan beberapa bulan ini."


Mata Nirmala membulat sempurna. "A-a-apa?"


"Ya, aku tidak akan mengingkari ucapanku ini."


Nirmala berpikir sejenak, kemudian kembali berbicara. "Baiklah, tapi aku memiliki dua syarat."


Vano mengangkat kedua alisnya. "Kau masih memiliki syarat ketika melayani suami adalah kewajiban?"


Nirmala langsung terdiam, ia menunduk sedih. Melihat istrinya bersedih, Vano malah tertawa kecil kemudian duduk di samping istrinya.


Ia menarik Nirmala ke dalam pelukannya. "Oke-oke, aku hanya bercanda saja. Apa syaratnya?" tanya Vano.


Nirmala mengangkat kepala. "Pertama, perbolehkan aku pergi ke panti asuhan sendirian tanpa penjagaan dan tanpa bantuan uang dari dirimu. Dan syarat kedua adalah bawa aku ke Raisa. Aku ingin melihat kondisi nya. Selama ini kau tidak mau menceritakan tentang kondisi nya padaku."


Vano tersenyum. "Jika aku memenuhi kedua syaratmu, kau akan menunaikan kewajibanmu padaku?" tanya Vano.


Nirmala mengangguk.


"Baiklah, itu syarat yang sangat-sangat mudah."


'Cup' Vano mengecup pipi Nirmala.

__ADS_1


Hai Kakak, sesuai yang tadi pagi Sely bilang, hari ini Sely udah up dua episode. Oh ya, nanti malam udah memasuki bulan Suci Ramadhan. Karena takutnya nanti gak sempat ngucapin, jadi bagi yang muslim, Sely mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga diberikan kekuatan, keimanan, umur panjang, kesehatan, serta rezeki yang melimpah ruah untuk menunaikan ibadah puasa tahun ini. Mohon maaf lahir dan batin. Mohon dimaafkan segala kesalahan dan kekhilafan Sely๐Ÿ™๐Ÿ™.


__ADS_2